Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
78. Sidang Keluarga


__ADS_3

"Aku pulang." Ucap Darren begitu masuk kedalam rumahnya.


Begitu ia masuk, semua keluarganya terlihat sedang berkumpul bersama diruang keluarga, seolah sedang menunggu kedatanganya.


"Dari mana saja kamu baru datang? Apa kamu sengaja membuat kakekmu ini menunggumu?" Ujar kakek Ferdi pada cucunya yang sedikit terlambat.


"Aku kan sudah bilang kalau hari ini akan terlambat, siapa juga yang menyuruh untuk menungguku." Balas Darren cuek.


"Kamu bisa nggak sih bersikap lebih serius, kita sudah menunggu kedatanganmu dari tadi, dan kamu malah datang terlambat seperti ini." Timpal papa Darren yang ikut berkomentar.


"Yang penting sekarang aku sudah datang, kan?" Ucap Darren dengan tenang, yang kemudian memilih duduk.


Sikap Darren yang tenang tentu membuat kakek dan juga papanya menatap tak percaya. Keduanya seakan merasa speechless dengan sikap Darren, mengingat bagaimana ekspresi keduanya yang cukup terkejut ketika melihat rumor yang beredar tentang dirinya.


Natalie, yang merupakan ibu tiri dari Darren hanya diam melihat obrolan mertua dan suaminya. Tak berbeda dengan adik Darren, Gloria yang tampak tak terlalu perduli dengan situasi yang ada, mengingat dirinya yang tak terlalu suka dengan masalah keluarganya sendiri.


"Kamu tau alasan kami memanggilmu kemari, kan?" Ucap Edward, papa Darren.


"Apa karena artikel itu?" Balas Darren masih bersikap tenang.


"Tentu saja karena rumor dan artikel itu, bagaimana kamu bisa setenang ini setelah mendapatkan rumor buruk seperti ini." Ujar kakek Ferdi yang terlihat mulai kesal.


"Lagian itu kan bukan sekali dua kali aku mendapat rumor seperti ini, kenapa kakek dan papa malah seheboh ini, coba?" Cuek Darren.


"Rumor kali ini jauh lebih serius karena berdampak pada perusahaan, apa kamu tidak memikirkan soal itu?" Ujar Edward.


"Papa lebih perduli dengan perusahaan dibandingkan denganku rupanya. Lagipula bukan Darren yang menyebarkan rumor atau artikel ini, harusnya kalian salahkan saja orang yang membuat rumor dan menyebarkan beritanya." Darren tampak menahan kesal karena terus disudutkan.


"Sudahlah, kita tunda dulu soal itu, lebih baik kita bahas soal rumor yang ditulis di dalam artikel itu. Apa berita itu benar?" Kata kakek Ferdi, bertanya pada Darren tentang kebenaran beritanya.

__ADS_1


"Bukanya kalian sudah menyelidiki rumor ini?" Darren balik melemparkan pertanyaan pada kakek dan papanya.


"Kita ingin mendengarnya langsung dari mulutmu sendiri. Apa susahnya tinggal mengatakannya saja." Kakek Ferdi mulai tak sabar dengan sikap tenang cucunya.


"Apa yang mau dikatakan, berita itu memang benar adanya."


Jawabanya itu sontak membuat semua keluarganya terkejut. Mereka tertegun mendengar jawaban dan ekspresi jujur yang diperlihatkan oleh Darren.


"kenapa kalian malah diam, aku kan sudah mengatakan dengan sebenarnya. Apa karena ini bukan jawaban yang kalian inginkan?" Seru Darren ketika melihat keluarganya terdiam.


"Tunggu..., coba katakan lagi." Kakek Ferdi yang merasa shock tampak mengatur nafasnya dan jantungnya yang mulai ikut terkejut.


"Tidak ada pengulangan, kalau nggak dengar ya.. terserah." Cuek Darren yang menolak untuk mengatakan lagi.


"Kamu jangan bercanda disituasi seperti ini, bicara yang sebenarnya." Timpal Edward yang ikut berkomentar.


Edward melihat jelas keseriusan dari wajah anaknya, ia merasa kehilangan kata-kata begitu berita tentang anaknya yang ternyata benar. Tak terkecuali Natalie dan Gloria yang sedari tadi hanya diam menyaksikan, ikut merasakan keterkejutan yang sama mendengar penjelasan Darren mengenai rumor tentangnya yang beredar saat ini.


Rumor tentangnya yang sudah memiliki seorang anak, dan juga berita tentangnya yang datang dan bertemu anaknya di sekolahan TK.


"Aduh kepalaku langsung pusing." Keluh kakek Ferdi memegangi kepalanya, yang saat ini begitu terkejut mendengar kabar berita yang beredar seputar cucunya yang ternyata benar adanya.


"Apa yang salah dengan punya anak? Harusnya kalian senang dengan itu?"


"Senang katamu, apa menurutmu hal ini patut diselamatin? Kamu yang punya anak diluar nikah begini?" Sembur kakek Ferdi yang mulai kehilangan kesabaran.


"Kalau bukan karena kakek yang memberi perintah soal menjemputku, dan aku yang harus kecelakaan karena hal itu, mungkin saat itu aku tidak akan terpisah dengan anakku." Balas Darren yang tak kalah marahnya.


"Apa kakek tidak tau bagaiman perasaanku saat ini, begitu tau aku punya anak yang sudah besar yang aku sendiri bahkan tidak tahu keberadaanya, membuatku merasa sedih dan menyesal, karena harusnya aku bisa mengetahui keberadaanya sejak awal, dengan begitu aku bisa merawatnya." Lanjutnya yang seolah tengah melampiaskan amarahnya.

__ADS_1


Terpaku dan juga tertegun seketika, kakek Ferdi tampak tak bisa membantah perkataan cucunya yang saat ini terlihat begitu marah padanya.


"Kamu tau kalau itu bukanlah hal yang patut kamu jadikan alasan sekarang, kan?, karena bagaimanapun dengan kamu memiliki anak diluar pernikahan itu sudah salah, Darren." Ujar Edrward, papa Darren yang ikut memberikan pendapatnya.


Darren diam mendengar ucapan papanya.


"Ingatanku masih belum pulih sepenuhnya, karena itu aku tidak tau hubunganku dulu seperti apa dengan ibu dari anakku, tapi.. yang jelas aku tetap akan membesarkan anakku." Ucapnya kemudian.


"Lalu bagaimana dengan ibu dari anak itu? Apa yang akan kamu lakukan denganya? Menikahinya?" Tanya Edward.


Darren menatap wajah papanya yang saat ini tengah menatapnya tajam penuh ketegasan. Ia tampak ragu untuk memberikan jawabanya, karena sejatinya belum ada rencana untuknya ke arah sana, mengingat belum ada kejelasan pasti tentangnya dan Airin, terlebih belum adanya kemajuan yang ia lakukan pada Airin.


"Aku juga akan membuatnya kembali ke sisiku." Jawabnya kemudian.


"Kamu benar-benar seperti mamamu ya, selalu se enaknya sendiri dan bersikap seperti tidak ada masalah. Apa dengan ini kamu bisa menyelesaikan masalah?"


"Jangan hina mama, pa. Dia ibu yang luar biasa untuk Darren, dan sejak kapan papa perduli sama masalah Darren? Papa kan selalu sibuk dengan pekerjaaan papa? Mending papa urus hidup papa sendiri saja, biar urusan Darren, Darren yang akan selesaikan sendiri." Uajrnya yang kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan keluarganya.


Ketegangan antara Darren dan Edward tentu membuat keluarga lainya, terkhusus Natalie dan Gloria ikut merasakan suasana panas di antara meduanya.


"Ma, kita pergi sajalah, toh dari tadi kita diam aja disini." Ucap Gloria berbisik pada Natalie sang mama.


"Duh, kamu mending diam saja deh, jangan ikut berkomentar." Balas Natalie memberi isyarat diam pada Gloria.


"Dari tadi perasaan aku sudah diam, deh!" Keluh Gloria sedikit tak terima.


Natalie hanya melirik ke arah Gloria yang sedang mengeluh, mengingat dirinya terfokus pada permasalahan Darren, juga ketegangan yang sempat terjadi antara mertua dan suaminya.


"Duh, jadi dia benar-benar sudah punya anak?" Batinya, yang merasakan perasaan tak nyaman dengan fakta tentang Darren yang sudah memiliki seorang anak.

__ADS_1


__ADS_2