Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
30. Pertemuan Yang Tak Diharapkan


__ADS_3

"Maaf, tapi tas dan make up anda tidak rusak atau pun terlalu kotor. Apa menurut anda ini tidak terlalu berlebihan, ya?" Balas Airin kemudian, dengan ekspresinya yang setengah tak percaya pada perempuan di depanya yang saat ini tengah memberikan ekspresi angkuhnya.


"Lagipula saya yakin kalau anak saya tidak sengaja melakukannya." Sambungnya lagi yang merasa apa yang dikatakan oleh perempuan itu tidak masuk akal.


"Hey, aku tidak perduli soal itu. Yang jelas anak kamu sudah membuat moodku rusak hari ini dengan tindakan cerobohnya itu. Jadi, kamu sebagai orang tuanya yang harus mengganti kerugianya." Balas perempuan itu yang tetap kekeh pada ucapannya dan mengabaikan protes dari Airin.


"Sepertinya aku baru menyadari satu hal, kalau ternyata ada orang dewasa yang begitu egois dan tidak dewasa seperti anda." Ucap Airin menatap tak percaya pada perempuan itu


"Apa kamu bilang?" Perempuan itu terlihat marah dan hendak menampar Airin, namun tangannya yang mengangkat itu dihentikan langsung oleh Airin.


"Anda juga mengangkat seperti ini pada anak saya tadi. Sepertinya tempramen anda buruk sekali, ya?" Ucap Airin menatap dingin perempuan di depanya tanpa rasa takut.


Perempuan berpostur tinggi menjulang layaknya seorang model, dengan wajahnya yang blasteran dan penampilannya yang begitu anggun memperlihatkan kecantikannya yang nyata. Siapapun yang melihatnya akan mengira ia seorang artis ataupun model, meskipun profesi sebenarnya adalah seorang desainer.


Saat ini, ia dihadapkan pada suasana yang tak menguntungkan dirinya. Ia terlihat semakin marah ketika mendengar perkataan dari Airin seputar tempramenya. Meski banyak yang melihat perdebatan antara dirinya dan Airin, namun ia seolah tak perduli akan itu, mengingat harga dirinya dipertaruhkan di depan orang yang telah membuat suasana hatinya menjadi buruk. Sepertinya ia tak begitu peduli jika citra dan imagenya yang akan jatuh karena perdebatan itu.


"Hey, kamu bakal menyesal sudah berurusan denganku hari ini, apalagi memperlakukanku seperti ini." Balas perempuan yang bernama Laura itu. Ia menatap tajam Airin di depanya dengan sedikit mengancam.


"Harusnya anda yang akan menyesal, karena anda sudah mempertontonkan diri anda sendiri. Tindakan buruk anda terhadap anak kecil, sudah memperlihatkan betapa buruknya anda sebagai orang dewasa dan manusia." Balas Airin tak merasa takut dengan ancaman itu, lalu melepaskan begitu saja tangan yang sedari tadi menahan tangan perempuan yang hendak menamparnya itu.


Airin lalu beralih merangkul anaknya untuk menenangkanya yang sedari tadi bersembunyi dibelakang tubuhnya.

__ADS_1


"Tidak apa, sekarang ayo pergi." Ucapnya pada Arka dan hendak pergi meninggalkan perempuan yang bernama Laura itu.


"Sialan, dasar manusia tidak tau diri." Laura menarik rambut milik Airin dengan keras ketika melihat Airin yang hendak pergi meninggalkan dirinya. "Beraninya kamu pergi setelah membuat moodku buruk. Aku bilang cepat ganti dan minta maaf padaku." Ucapnya menatap marah dan menunjukkan kekesalannya.


Airin terlihat terkejut ketika rambutnya ditarik oleh Laura, ia mencoba melepaskan tarikannya itu, namun Laura malah mengencangkan cengkramanya, hingga membuat dirinya mengernyit kesakitan. Arka yang melihat mamanya kesakitan karena tarikan itu terlihat ketakutan dan memegang tubuh mamanya dengan ekspresi wajah yang seperti hendak menangis. Airin yang melihat itu, mencoba menenangkanya dengan menepuk pelan tubuh anaknya dan memberikan isyarat untuk tetap tenang melalui kedipan matanya.


"Beraninya kamu bilang tempramenku jelek, dan sekarang kamu malah mengabaikanku. Sifatmu dan anakmu sama jeleknya ternyata." Laura makin mengencangkan tarikanya, sedangkan Airin mencoba menahan rasa sakit karena tarikan itu dengan tanganya. Ia masih mencoba untuk melepaskan cengkraman Laura pada rambutnya.


"Bagaimana anda bilang tempramen anda baik, kalau anda sekarang sedang menarik rambut saya seperti ini?" Sindir Airin tersenyum menyeringai pada Laura.


"Sialan..."


"Apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan sekarang?" Ucap seseorang dengan wajah dinginya pada apa yang sedang dilakukan oleh Laura sekarang.


"Di depan banyak orang seperti ini, terlebih ada anak kecil di depanmu saat ini. Apa yang sebenarnya kamu lakukan?" Ucap Darren begitu sampai di depan Laura. Ekspresi wajahnya terlihat tak percaya dan rasa malunya pada kelakuan Laura saat ini.


"Apa maksud kamu, perempuan ini dan anaknya duluan yang sudah membuat masalah padaku." Balas Laura merasa tak bersalah dan malah melemparkannya pada Airin dan Arka yang berdiri disampingnya.


Saat keduanya tengah berbicara, Airin agaknya masih terkejut dengan kedatangan Darren yang tiba-tiba, apalagi di depannya langung seperti ini. Membuatnya diam terpaku hingga tak memperhatikan rambutnya yang kini sudah lepas dari cengkraman Laura dan sedikit berantakan karena tarikannya itu, bahkan saat namanya disebut pun ia masih tetap diam. Tarikan dari Arkalah yang membuatnya tersadar.


Airin langsung menoleh ke arah anaknya yang kini memeluk dirinya yang masih diam terpaku. Ia menatap sedih pada anaknya, karena tak bisa memberitahukan soal ayahnya yang kini sedang berdiri di depanya.

__ADS_1


"Arka, maafin mama." Sesal Airin menahan tangisnya.


"Apa anda tidak apa-apa?" Tanya Darren yang kini mengalihkan pandanganya pada Airin dan terlihat menghawatirkan Airin yamg sempat mendapatkan kekerasan dari Laura.


"Kamu kok malah menghawatirkan dia, sih? Kan dia yang salah?" Protes Laura tak suka.


"Kamu pikir aku tidak melihat kejadianya?" Ucap Darren dengan dinginya.


"Kamu menyalahkanku? Jelas-jelas dia yang salah karena sudah membuat isi tasku berserakan begini. Lihat, masih berantakan dan jadi kotor semua." Tunjuk Laura pada tas dan isinya yang masih berantakan dilantai.


Tiba-tiba Airin merapikan semua isi tas milik Laura yang berantakan karena anaknya. Ia mengembalikan segera pada pemiliknya setelah selesai merapikanya.


"Saya minta maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh anak saya." ucap Airin mengembalikan tasnya pada Laura.


"Aku kan sudah bilang ganti semua, aku tidak mau menerima barang yang sudah jatuh ke lantai." Ujar Laura tetap kekeh pada pendirianya.


"Terserah kalau anda tidak mau." Airin tetap memaksakan pada Laura dengan menaruh paksa pada tanganya.


"Hey, aku kan.."


Darren menahanya dengan segera ketika Laura hendak protes dan membuatnya diam karena merasa malu pada orang-orang disekitarnya. Ia beralih menatap ke arah perempuan yang bersitegang dengan Laura saat ini.

__ADS_1


"Maaf, apa anda tidak apa-apa?" Tanya Darren pada Airin di depanya dan sedikit terkejut ketika melihat wajahnya, karena merasa begitu familiar.


__ADS_2