Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
32. Harus Bagaimana?


__ADS_3

Airin merasa kebingungan harus bersikap seperti apa dalam situasinya yang begitu menyulitkan dirinya itu. Ketika dipertemukan kembali dengan orang yang dicintainya, ia menjadi terpaku dan bingung harus berbuat seperti apa. Terlebih orang itu tak mengingat akan dirinya.


Perasaanya yang kini telah teriris karena kenyataan itu begitu menyulitkan dirinya sendiri. Jika tak ada Arka di depanya, mungkin saat itu ia akan menampar pipinya yang tengah berdiri di depanya. Perasaanya diliputi rasa amarah ketika melihat sosoknya lagi dan ekspresinya masih sama dengan tak mengenalinya. Meski sekarang dirinya mencoba menenangkan anaknya yang tengah menangis sedih dalam pelukannya, namun sejatinya hatinnya juga sedang merasa sedih.


"Arka masih mau beli sepatu baru, kan?" Ucap Airin kemudian pada sang anak dan mendapat anggukan kecil dari Arka yang kini mulai terlihat lebih tenang.


"Ok, kalau begitu kita pergi sekarang, yuk!" Ucapnya lagi dan lagi-lagi Arka hanya mengangguk setuju dengan mengusap pelan air matanya.


"Duh, masa jagoan nangis, sih! Sini, biar mama cium dulu." Ucap Airin mencoba menenangkan sang anak dengan mencium kedua pipinya, lalu mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya yang imut itu, dan kemudian menaruhnya kembali pada kursi disampingnya.


"Kita berangkat, ok." Ujarnya lagi setelah memasangkan sabuk pengaman buat Arka. Keduanya pun pergi dari tempatnya semula, dan menuju tempat selanjutnya untuk membeli sepatu buat Arka.


...


Di tempat yang sama, Darren yang menarik Laura untuk menjauh dari keramaian terlihat menahan rasa amarahnya pada perempuan yang selalu mengusiknya itu.


"Apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan sekarang, ha!" Marah Darren dengan ekspresinya yang sangat tak bersahabat.


Laura cukup terkejut dengan amarah Darren, hingga membuatnya memasang wajah ang sedikit taku. "Memangnya apa yang akau lakukan? Aku kan hanya meminta hakku pada anak dan perempuan itu yang sudah membuat tasku berantakan. Apa itu salah?" Jawab Laura yang merasa tak bersalah.


"Salah? Itu sangat kekanakan dan menyedihkan." Bentak Darren yang kini tak lagi bisa menahan rasa amarahnya pada Luara.


Laura terdiam dengan bentakan itu.


"Memangnya aku begini karena siapa, coba? Itu karena kamu!" Teriak Laura yang malah menyalahkan Darren.


"Sekarang kamu melemparkannya padaku, padahal sikapmu sendiri yang sangat tidak dewasa." Darren tersenyum tak percaya pada Laura.


"Tidak dewasa kamu bilang? Kamu yang sangat tidak dewasa sekarang dengan marah-marah seperti ini padaku." Laura tetap berpegamg teguh pada pendirianya.


"Kamu dan keluargamu benar-benar luar biasa, ya!" Darren berdecak tak percaya pada tingkah Laura yang tak mau mengaku salah itu.

__ADS_1


"Kenapa kamu malah membawa nama keluargaku? Ini kan, tidak ada sangkut pautnya dengan mereka?" Laura cukup terkejut mendengar perkataan Darren yang menyebut nama keluarganya dalam obrolan mereka dan meminta penjelasan padanya.


"Kamu benar-benar tidak tau kenapa aku mengajakmu kesini?"


"Bukanya kita hanya makan?"


Darren lagi-lagi menatap Laura dengan perasaan tak percaya.


"Baiklah aku akan jujur sekarang dan tidak mau membuang waktu lagi." Ucapnya yang kini mulai merasa tak nyaman dan menahan kesabaran.


"Aku hanya ingin bilang, kalau pertunjukan yang kamu lakukan dengan keluargamu kemarin begitu luar biasa, sampai aku merasa takjub melihatnya." Sambung Darren.


"Pertunjukan?" Bingung Laura pada perkataan Darren. "Pertunjukan apa yang kamu maks.." Ia terdiam ketika menyadari arah pembicaraan Darren sekarang.


"Kamu sudah menyadarinya, kan sekarang?"


"A-apa? Aku benar-benar tidak mengerti dengan yang kamu maksud." Ucap Luara yang mencoba mengelak dengan pura-pura tak tau yang dimaksud oleh Darren.


Darren menatap dingin pada Laura. "Ini terakhir kalinya aku bilang padamu. Tolong bangunlah dari mimpi, dan berhenti bersikap kekanakan, atau kamu akan menyesal nanti." Ucap Darren dengan tajam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan Laura seorang diri.


......................


Sungguh hari yang begitu melelahkan dan begitu menguras hati, namun disisi lain juga sangat melatih kesabaran, baik untuk Airin maupun bagi Darren itu sendiri. Setelah berlari dan berkeliling untuk mencari keberadaan anaknya yang tiba-tiba menghilang, Airin juga harus dihadapkan pada pertemuannya kembali dengan orang yang sangat ia cari keberadaanya selama ini. Kebetulan yang sangat tak terbayangkan dan ia harapkan sama sekali.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Darren, rencana untuk mengakhiri masalahnya dengan Laura ternyata harus berakhir dengan sedikit diluar dugaanya. Terlebih kekacauan yang dilakukan oleh Laura bersama perempuan yang tak sengaja ia temui itu begitu memusingkan dirinya, apalagi banyak mata yang melihat mereka ketika berdebat bersama.


"Aduh, kepalaku jadi pusing." Keluh Darren begitu kembali ke mobil miliknya.


"Sakit banget? Apa perlu kita ke dokter Heru?" Tanya Lucas melihat keluhan Darren.


"Tidak usah, aku masih bisa menahanya. Kita kembali saja ke kantor." Ucap Darren.

__ADS_1


"Yakin?" Tanya Lucas mencoba memastikan kondisi Darren lagi.


"Iyalah, terus kita ngapain lagi disini?" Balas Darren yang merasa baik-baik saja.


"Kalau gitu, gimana dengan Laura? Apa kamu sudah selesai berbicara denganya."


"Setidaknya aku sudah memperingatinya."


"Ok, kita jalan kalau begitu." Lucas pun langsung mengemudikan mobilnya.


Keduanya pun hendak kembali menuju ke arah kantor bersama setelah bertemu dengan Laura sebentar.


"Eh, bukanya kita mau meninjau produk yang keluar baru ini, ya?" Kata Lucas yang tiba-tiba teringat akan peninjauan produk baru mereka.


Darren menghela nafas panjang karena melupakanya. Ia sedikit kehilangan fokus karena kekacauan yang disebabkan oleh Laura tadi.


"Kalau gitu, kita gak jadi balik ke kantor." Ucap Darren yang akhirnya menyadari kesalahanya.


"Duh, tuan Darren jadi kehilangan fokus nih." Ledek Lucas.


"Diam lu, kepalaku sudah pusing banget nih gara-gara masalah itu, jangan lu tambahin lagi." Kesal Darren melihat ledekan Lucas.


"Santai dong, anggap saja sebagai tantangan hidup." Ledek Lucas sembari tertawa.


Darren melirik tajam pada Lucas yang berada disampingnya, dan hanya mendapat senyuman damai dari Lucas yang tak berhenti untuk fokus pada menyetirnya.


...


Bergerak pada perusahaan yang mengatur makanan dan minuman dalam kemasan, membuat Darren kerap kali meninjau langsung ke lapangan untuk melihat langsung kualitas produk yang dihasilkan oleh perusahaanya, dan kali ini keduanya datang langsung ke supermarket terdekat, untuk melihat kualitas dari produk perusahaannya di jual.


"Ini beneran produk milik kita yang baru diluncurkan hari ini?" Tanya Darren ketika melihat minuman kemasan produksi perusahaanya yang telah tertata rapi dalam supermarket.

__ADS_1


"Iya, kan disitu ada nama perusahaannya." Jawab Lucas.


Ketika Darren dan Lucas tengah fokus mengecek kualitas produk perusahaan yang baru diluncurkan, tiba-tiba saja pandangan mereka teralihkan dengan suara benda yang berbunyi nyaring.


__ADS_2