
"Arka? Siapa dia?" Septian yang tidak memahami obrolan dari anaknya dengan Airin, merasa bingung ketika mendengar nama yang baru ia dengar. Ia pun menatap keduanya dengan tatapan meminta penjelasan.
Di samping itu Rendi dan Airin, menghentikan obrolan mereka dan beralih menatap ke arah Septian, papa Rendi yang bertanya seputar Arka.
"Kok kalian malah diam? Siapa itu Arka? Kenapa kalian berdua begitu menghawatirkan dia?" Tanya Septian sekali lagi dengan ekspresi penasaran.
"Dia.."
"Karena Arka adalah anak saya, om." Ucap Airin yang akhirnya membalas pertanyaan Septian dan memotong ucapan Rendi yang hendak mengatakan soal Arka.
Ekspresi cukup terkejut diperlihatkan oleh papa Rendi ketika Airin mengatakan kebenaran dirinya yang sudah memiliki seorang anak.
"Lho, kamu sudah punya anak? Om baru tau?" Ucap papa Rendi dengan ekspresi terkejut.
"Iya om." Jawab Airin.
"Terus berapa usianya sekarang?" Tanyanya lagi.
"Lima tahun."
"Wah sudah besar juga ya!" Lagi-lagi Septian merasa takjub, karena Airin mempunyai seorang anak yang sudah besar.
"Iya." Dengan senyumnya yang canggung, Airin tetap menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh papa Rendi.
"Wah, om benar-bemar tidak menyangka kalau kamu sudah punya anak. Ternyata waktu berjalan cukup cepat, ya?" Ujar papa Rendi yang merasa waktu berlalu begitu cepat ketika melihat perubahan besar dari Airin.
"Iya, om. Sudah lama juga kita tidak bertemu kembali." Balas Airin.
"Kamu benar, kita sudah lama tidak bertemu lagi. Kalau nggak salah kita terakhir ketemu itu saat hari kelulusan, ya?"
"Iya, om, saat hari kelulusan."
Ada senyum yang hangat dipertemuan kembali antara Airin dan papa Rendi, ketiganya memberikan suasana yang menyejukkan di tengah-tengah kecanggungan mereka yang bertemu kembali.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong soal anak, semoga Rendi bisa segera menyusul kamu, ya!." Ucap papa Rendi mencoba melirik anaknya yang berdiri tepat disampingnya.
Baik Rendi dan Airin saling memberikan reaksi bingung dengan saling pandang satu sama lain pada ucapan Septian.
"Menyusul kamu menikah dan punya anak maksudnya.." Sambung papa Rendi.
Mendengar ucapan itu, tiba-tiba saja suasana mendadak hening, dengan Airin yang tersenyum canggung dan Rendi yang menjadi tidak nyaman pada Airin.
"Papa mulai lagi deh, kenapa jadi ngomongin itu disini, sih?" Protes Rendi yang sedikit tidak nyaman dengan ucapan papanya.
"Papa kan bicara apa adanya, lihat umurmu sekarang? Sudah tidak muda lagi dan harusnya kamu sudah menikah dan punya anak seperti Airin!" Papa Rendi menimpali perkataan anaknya dengan sedikit menyinggung Airin.
Mendengar itu, membuat Airin terdiam, sedangkan Rendi langsung melihat ke arah Airin dengan ekspresinya yang merasa tidak enak dan juga cukup canggung dengan suasana yang tidak nyaman karena celetukan papanya.
"Papa kan sudah melihat kondisi Airin, sekarang lebih baik kita keluar, agar Airin bisa istirahat dengan baik." Ujar Rendi yang menginginkan papanya untuk segera pergi dari ruangan Airin.
"Kamu benar juga, yasudah Airin om pamit ya. Semoga kamu cepat sembuh, dan segera pulang kerumah." Papa Rendi terlihat setuju pada ucapan sang anak dan mengiyakan ajakan itu.
"Terimakasih om sudah menjenguk Airin." Balas Airin dengan memperlihatkan senyum tipisnya.
Pertanyaan papa Rendi kembali membuat suasana menjadi tidak nyaman, terlebih pada Airin dan Rendi itu sendiri. Rendi yang lagi-lagi terkejut pada ucapan papanya, hanya bisa menahan perasaan canggung dan tidak nyamannya pada Airin. Ekspresinya menyiratkan perasaan tidak nyaman dan berharap segera membuat papanya untuk keluar.
"Lho, ada anak Rendi toh." Bi Rahma yang baru masuk kedalam ruangan menghentikan suasana yang tidak nyaman itu. Membuat ketiganya menoleh bersama ke arah bi Rahma yang baru datang.
"Iya, bi. Saya datang menjenguk Airin lagi. Tapi, saya tidak sendiri, saya datang bersama papa saya." Ucap Rendi merasa sedikit lega ketika melihat kedatangan bi Rahma. Ia juga tak lupa menjawab pertanyaan dari bi Rahma dengan mengenalkan papanya juga.
"Oh begitu, wah terimakasih atas kedatanganya. Saya merasa direpotkan kalau begini." Ujar bi Rahma yang merasa terharu dengan kedatangan papa Rendi, meski sejatinya ia juga sedikit terkejut dengan kehadirannya menjenguk Airin.
"Saya sama sekali tidak merasa direpotkan. Kebetulan Airin sedang dirawat di rumah sakit ini, jadi saya menyempatkan diri untuk menjenguknya. Apalagi Airin ini teman dari anak saya." Ucap papa Rendi yang tak merasa direpotkan.
"Syukurlah, karena saya takut merepotkan anda yang sibuk, tapi saya ikut senang dengan anda ikut menjenguk Airin." Ucap bi Rahma merasa bersyukur.
"Bibi tadi habis dari mana?" Tanya Rendi pada bi Rahma.
__ADS_1
"Oh, tadi habis ketemu sama dokter yang merawat Airin." Balas bi Rahma.
"Apa ini karena Airin yang menginginkan untuk segera pulang?"
"Iya, karena Airin begitu menghawatirkan Arka."
"Apa Arka tidak bisa dibawa kesini saja, bi? Soalnya kalau melihat wajah dan kondisi Airin sekarang, tampaknya kondisinya masih belum baik sepenuhnya. Saya takut nanti dia malah makin drop." Ujar Rendi yang sedikit memberi saran, karena sedikit menghawatirkan kondisi Airin.
Bi Rahma menoleh ke arah Airin, meminta pendapat darinya. Airin yang juga bertatap muka dengan bibinya terlihat diam, karena masih cukup bingung.
"Meski tidak baik membawa anak kecil ke rumah sakit, tapi kalau anaknya tidak ada yang menjaga dirumah, mungkin sebaiknya dibawa saja, meski itu bukanlah saran yang baik juga." Kali ini papa Rendi ikut menimpali.
"Terimakasih atas saranya nak Rendi dan buat dokter juga, mungkin akan saya pertimbangkan lagi nanti bersama Airin." Bi Rahma memberikan pendapatnya pada saran Rendi dan papanya yang seorang dokter.
"Iya bi, Rendi mengerti. Yang penting Airin dan Arka tidak kesulitan nanti." Balas Rendi yang tak memaksakan diri.
"Terimakasih nak Rendi." Ujar bi Rahma yang merasa berterimakasih pada kebaikan Rendi yang menghawatirkan kondisi keponakannya.
....
Setelah obrolan yang cukup singkat namun hangat, Rendi bersama papanya akhirnya pergi dari ruangan Airin.
"Kamu sudah pernah bertemu dengan anaknya Airin ya?" Tanya papa Rendi disela perjalanan mereka kembali dari ruangan Airin.
"Iya, beberapa kali." Jawab Rendi.
"Kenapa kamu tidak pernah cerita soal ini ke papa? Kamu hanya pernah sesekali menceritakan soal kamu yang bertemu dengan Airin lagi."
"Itu kan tidak terlalu penting, buat apa Rendi membicarakan hal ini sama papa?" Rendi merasa tidak perlu membicarakan hal ini pada papanya.
"Penting dong, bagi papa yang berharap kamu bisa dekat sama dia, ini tuh penting banget." Perkataan papa Rendi membuat Rendi terdiam.
"Mending kita membicarakan hal lain." Ujar Rendi yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Sayang banget ya, padahal papa suka lho sama Airin." Ucap papa Rendi yang terlihat menyukai Airin dan sedikit menyayangkannya yang tidak bisa menjadikannya bagian dari keluarganya.
Rendi yang mendengarnya hanya bisa diam, dan terlihat memikirkan sesuatu.