
Dua bola matanya menangkap sesuatu yang mengejutkan, hingga tanpa sadar membuatnya terpaku karena saking terkejutnya. Dadanya berdebar cepat, seolah memberikan reaksi ketika melihatnya sekarang ada di depan matanya secara langsung.
Kenapa dia ada disini?
Benar, orang yang ia lihat tanpa sadar adalah Darren. Dengan tampilan khasnya yang selalu rapi, Darren yang baru turun dari mobilnya tengah berjalan menuju ke dalam rumah sakit bersama Lucas yang selalu ikut dengannya.
"Kenapa Rin? Apa kamu masih merasakan sakit?" Tanya Rendi melihat Airin yang justru terdiam.
"Kak, apa kak Rendi bisa tunggu disini dulu, soalnya saya mau masuk kedalam dulu." Ucap Airin pada Rendi.
"Eh, kenapa? Apa ada sesuatu yang tertinggal? atau kamu merasakan sakit disuatu tempat?" Tanya Rendi dengan nada khawatir.
"Itu, Airin mau menyusul bibi, soalnya dari tadi belum keluar juga." Ucap Airin yang sedikit berbohong.
"Yasudah kita masuk sama-sama aja." Rendi mengusulkan.
Airin yang hendak segera menyusul Darren, dibuat bingung pada Rendi yang justru memilih ikut dengannya masuk kembali kedalam rumah sakit.
Aduh gimana ini? - Batinya sedikit bingung.
"Itu.., Airin juga sekalian mau ke toilet sebentar, dan.. nanti kalau kita masuk kedalam bersama, takutnya kita malah bersimpangan sama bibi dan bibi malah nyari kita nanti. Jadi, kak Rendi tolong tunggu disini ya! Sebentar aja, Airin nggak lama kok." Ucapnya kemudian dengan sedikit memohon pada Rendi.
Rendi yang melihat Airin seperti sedang mengejar sesuatu dibuat bingung dan hanya bisa diam.
"Baiklah, tapi kamu janji satu hal ya, langsung kabari aku jika kamu merasa tidak enak badannya." Rendi yang sempat ragu, akhirnya membolehkan Airin masuk kembali kedalam rumah sakit dengan catatan untuk melaporkan kondisinya jika merasa tidak enak nanti.
"Iya, nanti pasti Airin akan langsung mengabari kak Rendi. Terimakasih ya kak, Airin mau masuk dulu kedalam." Kata Airin yang langsung masuk kedalam rumah sakit untuk mengejar Darrem yang ia lihat tadi.
__ADS_1
Anggukan kecil dari Rendi mengiringi Airin yang kembali masuk kedalam rumah sakit. Setiap sudut yang ia lewati, kedua bola matanya tak lepas mencari keberadaan orang yang tengah ia cari itu. Dengan langkah yang penuh tekad, ia mencari keberadaan Darren, dan tak memperdulikan kondisinya yang masih belum pulih sepenuhnya.
Dimana ya dia? Aku tidak mungkin salah lihat, kan tadi?
Dengan rasa yang sedikit frustrasi, Airin terus mencari keberadaan Darren. Mencari keberadaanya yang sangat ingin ia temui.
"Dimana aku bisa mencarinya? Rumah sakit ini terlalu luas dengan hanya aku yang terus mencari seperti ini." Ucapnya yang terlihat mustahil mencari keberadaan Darren ditengah rumah sakit yang luas dan penuh banyak ruang itu.
"Apa sebaiknya aku kembali saja?.." Ucapnya lagi yang mulai menyerah dan tak ingin membuat Rendi dan bibinya menunggu dirinya terlalu lama.
Dengan sedikit menahan kesedihan, ia pun melangkah kembali untuk menuju ketempat Rendi dan bibinya berada. Namun, seperti sebuah takdir yang sedang menghampiri dirinya yang sedang frustrasi, ia dipertemukan kembali dengan Darren, orang yang sedang ia cari keberadaanya sedari tadi.
Berdiri tepat di depannya ketika tak sengaja menabrak tubuh seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya, membuat Airin merasakan perasaan terkejut dan langsung meminta maaf karena tak sengaja menabrak orang di depannya. Namun, ekspresinya berubah terkejut begitu melihat wajah orang yang tak sengaja ia tabrak.
Akhirnya aku bisa bertemu denganmu juga. - Batinya begitu melihat keberadaan Darren.
Ekspresi Airin tidak bisa menyembunyikan perasaan lega dan juga senangnya karena akhirnya bisa bertemu dengan orang yamg memang sedang ia cari. Meski ada perasaan yang ia tahan dalam hatinya, ia mencoba untuk tetap tenang di depan Darren.
Dengan memasang wajah terkejut, ekspresi yang sama seperti yang pertama kali Airin buat ketika melihat keberadaanya, Darren menatap Airin dengan perasaan menerawang. Mencoba mengingat kembali siapa orang di depanya saat ini yang sedang mengajaknya bicara.
"Wah, benar juga ya." Balas Darren yang kini mulai teringat soal Airin. Ia pun tersenyum simpul dihadapan Airin yang tengah menatapnya serius.
"Jadi, apa sekarang anda mengingat saya?" Dengan harapan yang besar, Airin mencoba bertanya pada Darren yang berdiri di depannya.
Tatapan itu lagi?
Darren agaknya merasa terganggu pada tatapan yang diberikan oleh Airin padanya saat ini. Sebuah tatapan yang mengisyaratkan bahwa ia seolah mengenal akan dirinya.
__ADS_1
"Jawaban apa yang anda inginkan? Kalau saya mengingat anda atau tidak, maka apa yang akan anda lakukan?" Darren bertanya balik pada Arin di depannya.
"Jawaban ya?" Airin tersenyum menahan perasaan yang membucah dalam dadanya. ia pun kembali menatap lekat wajah Darren, menatapnya penuh tekad dan keyakinannya pada mata Darren yang ia tatap saat ini.
"Dengan begitu saya bisa memutuskan untuk membenci atau justru memaafkan anda! Karena itu, apa anda mengenali saya Darren Aditya Pratama?" Ucapnya menekankan kalimatnya pada nama Darren.
Darren memasang wajah terkejut ketika mendengar perempuan yang ada di depannya telah mengetahui nama lengkapnya dan terlebih pada kalimat yang ia ucapkan padanya, yang secara pasti menandakan bahwa perempuan itu mengenal akan dirinya.
"Siapa kamu sebenarnya? Apa maksud dari kalimat yang kamu ucapkan itu?" Darren menatap penuh selidik pada Airin, dengan ekspresinya yang meminta penjelasan.
"Padahal aku berharap ini hanyalah sebuah tipuan darimu yang ingin mengagetkanku. Tapi.. " Airin seolah tak bisa melanjutkan kembali kalimatnya karena terlanjur terluka.
"Ternyata kamu benar-benar tidak mengenaliku, ya?" Tangis Airin pecah mendengar jawaban dari Darren.
"Tunggu, kenapa kamu malah menangis?" Darren lagi-lagi dibuat terkejut oleh Airin yang kali ini malah menangis di depannya. Ia jadi teringat kembali pada pertemuan sebelumnya yang juga melihat Airin menangis di depannya.
"Apa dengan itu akan ada yang berubah?" Airin yang masih menangis menatap wajah Darren dengan perasaan kecewanya.
"Apa maksudmu?" Bingung Darren yang masih tidak mengerti maksud dari Airin.
"Kamu tidak mengenaliku, jadi untuk apa aku memberitahu kamu siapa aku sebenarnya?" Ucap Airin yang kini terlihat marah pada Darren dan hendak pergi dari hadapannya.
"Tunggu, jangan pergi sebelum kamu mengatakan siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu menangis seperti ini di depanku? Dan apa maksud dari tujuanmu melakukan ini padaku?" Darren menahan Airin yang hendak pergi dari hadapannya dengan sorot matanya yang tajam menatap Airin.
"Aku sudah memutuskan jawabanku sekarang. Membencimu adalah jawabanku saat ini." Ucap Airin menatap marah sekaligus kecewa pada Darren.
Darren terpaku menatap wajah Airin, ia tersenyum tak percaya begitu mendengarnya.
__ADS_1
"Kamu tau kalau hal ini begitu mengangguku, kan? Jadi, berhenti bermain teka-teki denganku! Katakan tujuanmu dan siapa kamu sebenarnya?" Ujar Darren yang sedikit memaksa Airin.
Air mata milik Airin kembali menetes membasahi kedua pipinya, seakan tak kuasa menyaksikan kenyataan yang benar-benar menyaikiti hati dan perasaanya.