Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
82. Kesalahpahaman


__ADS_3

"Kalau begitu kenapa anda membelinya kalau pada akhirnya anda akan membuangnya?" Ucapnya pada Darren dengan sedikit menahan marah.


"Karena yang kubutuhkan itu kamu, bukan bunganya." Jawab Darren dengan raut wajahnya yang terus tertuju pada Airin.


Sedangkan Airin, nampak tertegun mendengar jawaban Darren. Ia nampak tak percaya pada kata-kata yang keluar dari mulut Darren bersamaan dengan ekspresinya yang tampak datar-datar saja seperti terlihat tak serius.


"Terserah anda ingin menerima atau tidak bunganya, karena bunganya sudah dibayar, maka kewajiban saya untuk mengantarkannya pada anda." Airin menaruh bunganya dilantai dan hendak pergi.


Namun, Darren menahan tanganya yang hendak pergi, dan menariknya untuk masuk kedalam apartemenya, meski Airin terkejut karena sikapnya dan sedikit memberontak untuk melepaskan diri dari genggaman tangannya, namun Darren tetap menariknya masuk kedalam.


"Apa yang anda lakukan? Tolong lepaskan tangan saya." Ucap Airin memberontak ingin dilepaskan genggaman tangannya.


"Akan kulepaskan kalau kamu diam sebentar. Duduklah dulu disini, aku mau mengambilkan plester untukmu." Darren menggiring Airin untuk duduk di sofa miliknya.


Airin yang mendengar Darren hendak mengambilkan plester untuknya langsung melihat ke arah tangannya dan mendapati jari kirinya yang sedikit terluka. Ekspresinya seolah sedang berkata bahwa bagaimana Darren bisa tau kalau jarinya sedang terluka, padahal ia sendiri tak menyadarinya.


"Aku tau kamu sedang terburu-buru, tapi apa kamu tidak bisa lebih memperhatikan kondisimu yang sedang terluka?" Darren kembali membawa sebuah plester dan hendak memasangkannya pada jari milik Airin yang sedang terluka.


Sikap manis yang ditunjukkan oleh Darren padanya, dengan nada lembut yang biasa ia dengar dari sosok Darren yang dulu pernah ia kenal, membuat mata Airin berkaca-kaca. Menatap dalam diam pada Darren yang sedang memasangkan plester pada jarinya yang sedang terluka, membuat hatinya terenyuh. Sosoknya yang ia rindukan sekarang berada tepat disampingnya.


"Apa anda sudah mengingat tentang saya? Makanya anda memperlakukan saya lebih lembut dari pertemuan sebelumnya?" Ucapnya pada Darren yang duduk tepat disampingnya.


Darren yang selesai memasangkan plester pada jari Airin yang terluka, nampak diam dan tak langsung menjawab pertanyaan Airin.


"Jadi anda belum mengingatnya?" Melihat Darren hanya diam, seketika meruntuhkan kembali harapanya dan membuat perasaanya sedikit terluka.

__ADS_1


"Apa kamu marah padaku?" Ucap Darren akhirnya.


Lidah Airin terasa keluh untuk sekedar menjawab, ia tak tau lagi apa yang harus ia katakan pada orang yang telah lama ia cari keberadaanya selama ini. Ia pun memilih berdiri dengan sekuat tenaga menahan tangisnya agar tak jatuh membasahi kedua pipinya.


"Iya benar, saya marah, saya kesal dan saya juga.. begitu membenci kamu yang baru muncul sekarang. Ingin rasanya aku memukulmu." Dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, Airin tampak tak bisa membendung kesedihanya di depan orang yang ia rindukan.


"Aku minta maaf." Darren menyadari rasa kesedihan yang dirasakan oleh Airin. Hatinya ikut terluka melihat kemarahan yang Airin lakukan.


"Sekarang bagaimana, kamu bahkan tidak mengingatku, haruskah aku memaafkanmu?" Ucap Airin yang berubah dingin.


Darren tertegun melihat ekspresi dingin yang diperlihatkan oleh Airin padanya, hatinya terasa sakit saat melihatnya, seolah kehilangan sesuatu darinya.


"Ternyata kamu begitu marah padaku." Darren bangkit dari duduknya dan mensejajarkan tubuhnya pada Airin yang tengah berdiri.


"Aku tau kesalahanku terlalu fatal untukmu, tapi, tidak bisakah kamu memberiku kesempatan? kesempatan untuk memperbaikinya?" Lanjutnya.


Darren sedikit terusik pada sikap Airin yang menatap dingin padanya, berbanding terbalik saat bersama laki-laki yang kemarin malam berkunjung ke rumahnya.


"Aku ingin mengingatnya, dan aku akan berusaha untuk mengingatmu, karena itu aku akan terus membuatmu berada disisiku." Darren yang tiba-tiba marah karena teringat pada kedekatan Airin dengan laki-laki lain, mendaratkan kecupan manis pada bibir manis Airin, membuat Airin seketika dibuat terkejut oleh aksinya.


Tubuhnya seketika membeku, dengan kedua bola matanya yang membulat terpaku karena ciuman yang tiba-tiba itu. Begitu ia sadar, ia berniat melepaskan ciuman itu, namun Darren semakin memperdalam ciumanya dan mengunci tubuhnya yang terus memberontak, membuatnya akhirnya tak bisa berkutik dan hanya bisa menerima begitu saja Darren yang sedang mencium bibirnya.


Semakin dalam ciuman yang Darren lakukan, begitu membara dan terlihat begitu panas, hingga membuat Airin merasakan perasan tak nyaman karena terlalu berbahaya baginya. Ia terus memberontak dengan memukul dada milik Darren dengan harapan Darren melepaskan ciumanya, namun Darren justru terus semakin memperdalam ciumannya.


"Apa ha.. yang anda lakukan sebenarnya." Ucapnya begitu berhasil melepaskan ciumanya dari Darren dengan sedikit menggigit bibir milik Darren. Dengan nafas tersengal karena ciuman, Airin menatap kesal pada Darren yang justru terlihat tenang, meski bibirnya yang harus berdarah sekalipun karena gigitanya.

__ADS_1


"Sekarang aku tau bagaimana perasaanku sesungguhnya." Darren mencoba untuk meraih wajah Airin, namun Airin spontan mundur, membuat tanganya mengambang di angkasa dan tak sempat menyentuh wajahnya yang langsung menghindarinya. Namun, ia justru menyunggingkan senyumannya.


"Aku tak perduli pada bibirku yang berdarah, tapi kamu tidak boleh sampai terluka begini." Namun, kali ini ia berhasil menyentuh bibir Airin yang sedikit terluka dan mencoba menyeka darah yang terlihat pada bibirnya.


"Lepaskan, sebaiknya saya pergi saja." Airin menampel begitu saja tangan Darren yang menyentuh bibirnya, ekspresinya terlihat ketakutan melihat Darren yang tampak berbeda dari yang pernah ia kenal dulu.


"Aku ingin membesarkan anak kita, Arka."


Ucapan Darren membuat langkahnya terhenti dan kembali menoleh ke arahnya.


"Apa yang anda maksud dengan membesarkan Arka? Apa anda ingin mengambilnya dari saya, ibunya sendiri?" Ucap Airin menatap Darren dengan sorot mata tak suka.


"Aku tak mengambilnya darimu, tapi aku ingin lebih dekat denganya lagi. Karena aku juga ayahnya?"


"Ayahnya, ya?" Airin tersenyum getir mendengarnya. "Benar, anda memang ayah dari anakku, tapi, kamu tidak bisa mengambilnya dariku begitu saja. Apalagi setelah apa yang kamu lakukan selama ini padaku."


Darren terdiam, ia tau akan begini. Namun, ia tak menyangka Airin bahkan tak mau mendengarkan penjelasan darinya.


"Airin, aku tidak ingin mengambilnya darimu..."


"Jangan panggil namaku, karena aku tidak mau lagi terlibat dengan laki-laki yang hendak menikah. Karena itu, jangan pernah muncul dihadapanku lagi, terlebih mencoba mengambil anakku." Ucapnya marah dan tak mau terlibat dengan Darren yang ia ingat akan segera menikah.


Airin pergi begitu saja begitu mengatakan apa yang mau ia katakan, tanpa memberikan Darren waktu untuk menjelaskan maksud keinginanya membesarkan Arka.


"Dia tau berita tentang pernikahanku."

__ADS_1


Darren menghela nafas menyadari Airin telah salah faham padanya, ia pun berniat menyusul Airin, namun langkahnya terhenti ketika sebuahn telfon tentang pekerjaan yang telah menunggunya.


"Sial, kenapa harus sekarang." Umpatnya merasa kesal.


__ADS_2