
Arka hanyalah anak yang baru berusia 5 tahun, namun kepekaan dirinya pada orang tuanya terlebih mamanya, yaitu Airin, membuatnya terlihat lebih dewasa dari usianya, meski tidak mudah bagi seorang anak kecil sepertinya untuk memahami permasalahan orang dewasa, terlebih orang tuanya sendiri.
Dengan diamnya Arka pada Airin yang tak lain adalah mama kandungnya sendiri, tentang hal yang akan membuat Airin sedih nantinya jika dirinya jadi mengatakan hal ini pada Airin, membuatnya terlihat sebagai seorang anak yang luar biasa di usianya yang masih anak-anak itu, karena sikapnya yang lebih mementingkan perasaan mamanya dibanding perasaanya sendiri.
Padahal ia baru berusia lima tahun, dan ia juga masih membutuhkan penjelasan yang lebih seputar ayah kandungnya, namun Arka yang masih kecil tak menanyakan kembali hal tersebut pada mamanya dan justru membuang rasa penasaran akan ayah kandungnya, meski ada kalanya ia merasa iri dan sedih ketika melihat teman-temanya bercerita dengan gembira seputar ayah mereka, apalagi saat melihat langsung teman-temanya di jemput oleh ayah mereka ke sekolah, terkadang membuatnya ingin merasakan hal yang sama.
Namun, karena ia besar dari orang tua tunggal, membuat seorang Arka hanya tumbuh dan menerima kasih sayang dari seorang ibu, hingga angan dan harapan tentang ayah yang ia bayangkan dalam imajinasinya tak bisa dengan mudah ia wujudkan, mengingat dirinya sendiri tidak mengetahui arti dari kata seorang ayah yang sesungguhnya, terlebih sosok aslinya.
Hingga suatu ketika, yang tanpa disadari oleh Airin, yang tak lain adalah mama kandungnya sendiri, bahwa setiap ada kesempatan yang tak Airin ketahui, Arka mencoba membuat diary tentang mimpi dan harapanya untuk bisa hidup bahagia bersama keluarga yang utuh.
Meski tak pernah melihat ayah kandungnya sendiri, dalam buku miliknya itu, Arka mencoba menggambar sosok ayah kandungnya, dan dalam imajinasinya ia bersama kedua orang tuanya tengah tersenyum dan tertawa penuh bahagia sembari bergandengan tangan bersama. Sebuah goresan kecil yang penuh makna dari anak yang baru berusia lima tahun.
Coretan-coretan kecil yang ia gambar dan tulis di dalam buku yang sudah seperti teman dekatnya sendiri, seolah tengah menghibur dirinya sendiri yang sedih karena tak bisa memiliki seorang ayah. Dengan mewujudkan mimpi harapannya melalui sebuah gambar yang ia tulis dan buat dengan tangannya sendiri, Arka yang polos dan baik hatinya, sudah merasakan kebahagiaan yang amat besar hanya dengan melihat hasil gambarnya sendiri.
"Semoga.. suatu hari nanti, Arka bisa bertemu sama papa dan kita bisa tinggal bersama-sama. Amin."
Dengan ekspresi polos dan harapannya yang tulus, Arka mengatupkan kedua tanganya sembari sedikit membuat harapan kecil untuk dirinya.
Arka yang tenang dan selalu menurut pada Airin, ternyata menyimpan perasaan yang tak Airin ketahui, terlebih perasaan tentang dirinya yang begitu ingin mengetahui dan melihat sosok ayah kandungnya. Meski selama ini terus menahannya dan bersikap cuek akan hal itu demi menjaga perasaan Airin, yang juga mama kandungnya, namun Arka tetaplah anak seusianya yang juga akan penasaran dan mencari sosok ayah kandungnya
....
Karena anaknya yang pendiam dan lebih tertutup soal perasaan pribadinya, Arka yang masih kecil tak pernah menceritakan hal ini pada mamanya, meski dalam kepalanya penuh berbagai pertanyaan seputar ayah kandungnya. Selama ini ia hanya memilih menahan untuk bertanya pada Airin, karena tak ingin melihat Airin bersedih, mengingat Airin selalu menahan tangisnya setiap kali akan bercerita soal ini, Arka yang peka dan pengertian pun tak lagi menanyakan seputar ayah kandungnya pada mamanya dan berakhir dengan hanya menerka-nerka sendiri di dalam fikirannya.
__ADS_1
"Mama selalu menangis kalau bercerita soal papa, kenapa, ya?"
"Apa papa sudah berbuat salah sama mama?"
"Kenapa papa tidak menemui Arka? Apa papa tidak sayang sama Arka?"
"Aku ingin bertemu sama papa."
Banyak hal yang ia ucapkan dengan rasa penasaran. Arka terlihat murung ketika tak bisa menemukan jawaban dari rasa penasarannya dan hanya bisa membatin pada keinginannya untuk segera bertemu papanya.
Meski tak pernah melihat dan bertemu secara langsung dengan papanya, namun ada momen dimana Arka akhirnya bisa mengetahui sosok papanya meski itu hanya melalui sebuah foto yang tak segaja ia lihat. Dari foto tersebut, Arka bisa melihat untuk pertama kalinya wajah sang ayah.
Saat itu, ketika tak sengaja terbangun dari tidur malamnya, ia tak sengaja melihat sosok mamanya yang sedang menangis di depan sebuah foto yang sedang ia pegang pada kedua tangannya.
"Mama kenapa menangis?" Ucapnya pada Airin yang membelakangi tubuhnya dengan ekspresi wajah yang masih menahan kantuk.
"Ah, apa mama membuat Arka terbangun?" Balas Airin, yang segera menatap ke arah anaknya, dengan terlebih dahulu menyimpan foto yang sedang ia pegang dan juga menghapus air mata yang terlanjur menetes membasahi kedua mata dan pipinya.
"Mama kenapa? Apa ada yang membuat mama sedih?" Arka masih mencoba menanyakan keadaan Airin.
"Bukan apa-apa kok sayang, hanya masalah kecil. Lebih baik Arka tidur lagi, mama juga mau tidur." Airin tak menjawabnya dengan jujur dan justru mengalihkan pada Arka untuk segera tidur kembali.
Arka yang memang masih mengantuk pun tak lagi bertanya dan menuruti keinginan Airin untuk berbaring kembali, hingga akhirnya keduanya pun berbaring dan tidur bersama.
__ADS_1
Ma'afkan mama yang sudah berbohong.
Airin mengelus lembut rambut anaknya, dengan perasaan yang sedikit menyesal karena telah berbohong pada anaknya, dan ia pun akhirnya menutup kedua matanya untuk tidur.
....
Meski Arka telah menyaksikan Airin menangis ditengah malam, namun ia sempat melupakan kejadian itu sebelum akhirnya ia bertemu dengan sebuah foto yang tak sengaja ia jatuhkan saat sedang mengambil sebuah buku di atas laci.
Begitu ia mengambil foto yang tak sengaja jatuh kelantai, ia sempat terkejut ketika melihat foto mamanya yang tengah tersenyum bersama seorang laki-laki yang tak ia kenal.
"Ini kan mama." Ujarnya ketika melihat foto itu.
"Siapa yang ada disamping mama?" Ucapnya lagi dengan rasa penasaran.
Arka yang saat itu baru genap 5 tahun, terus mebolak-balikan foto, seakan sedang mencari jawaban dari hal yang membuatnya penasaran itu. Ekspresinya langsung berubah seolah teringat sesuatu.
"Ini foto yang biasa mama pegang sambil menangis." Ucapnya kemudian yang akhirnya teringat momen ketika melihat Airin menangis ditengah malam sembari memegang sebuah foto.
"Kenapa mama menangis? Apa karena fotonya yang sudah jelek?"
Dengan muka bingungnya, Arka yang masih polos terus mencari jawaban dari rasa penasaranya akan foto yang baru pertama kalinya ia lihat.
"Papa..." Celetukanya kemudian yang tiba-tiba memanggil papa, pada laki-laki disamping mamanya.
__ADS_1