Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
27. Mencari Jawaban


__ADS_3

Pagi hari, pukul 07.00 di kediaman Ferdinan Agustinus Pratama, yang merupakan kepala keluarga Pratama dan juga kakek dari Darren Aditya Pratama. Seperti yang sudah ia bicarakan lewat telfon bersama sang kakek sebelumnya, bahwa ia akan datang ke rumah untuk menanyakan sesuatu padanya. Darren akhirnya bisa bertemu dengan sang kakek dan papanya dirumah hari ini. Untuk membicarakan kericuhan yang sempat terjadi setelah acara makan malam mereka kemarin bersama keluarga Laura.


Meski sedikit enggan untuk kembali datang ke rumahnya, namun Darren memutuskan untuk tetap datang. Egonya mengalahkan rasa keinginannya untuk segera menyelesaikan permasalahan kemarin.


"Apa harus dengan berita seperti ini dulu, baru kamu mau datang lagi ke rumah?" Sindir Kakek pada Darren yang telah lama meninggalkan rumah.


"Lalu aku harus datang kesini untuk apa? Bagiku sudah tidak ada lagi tempat untukku dirumah ini." Ucap Darren membalas sindiran sang kakek.


"Dasar ini anak, mau sampai kapan kamu ngambek seperti ini? Apa sampai kamu melihatku mati, ha!" Gerutu kesal kakek Ferdi pada sikap Darren yang dingin.


"Ya silahkan, kalau kakek maunya begitu. Dan tenang aja, nanti aku bakal datang ke makam kakek, kok." Cuek Darren tak perduli.


"Awh.. Awh.., aduduh ya ampun." Kakek Ferdi memegang kepalanya yang pusing karena perilaku sang cucu.


"Sudah pa, nanti papa jatuh sakit lagi." Cegah Edward menahan sang papa ketika hendak memarahi Darren.


"Gimana gak sakit, lihat saja kelakuan anakmu itu. Sudah umur berapa dia masih main ngambek-ngambekan begitu." Gerutu kakek Ferdi dengan ekspresi kesalnya.


"Kamu ini bisa tidak sih, sedikit lebih sopan. Kamu kan sudah lama tidak pulang ke rumah!" Ucap Edward pada Darren, anaknya.


"Papa mau aku lebih sopan seperti apa lagi? Karakterku kan memang seperti ini? Dan asal kakek tau juga nih, kalau aku tuh gak lagi ngambek, tapi aku memang sudah gak punya alasan lagi buat pulang ke rumah." Jawab Darren tak merasa bersalah.


"Darren, kamu ini.."


"Cukup, apa kalian berdua mau bikin aku mati di depan kalian sekarang?" Potong kakek Ferdi pada perdebatan ayah dan anaknya itu.


Edward dan Darren jadi saling diam begitu kakek Ferdi sedikit berteriak pada mereka.


"Langsung saja, katakan tujuan kamu datang kesini itu apa?" Lanjut kakek mengarah pada Darren dengan muka merengutnya.


"Ok, aku akan langsung saja kalau begitu. Apa papa dan kakek sudah tau soal berita pernikahan yang keluar kemarin?" Tanya Darren langsung pada inti tujuanya datang ke rumahnya hari ini.

__ADS_1


"..." Tak ada suara dari papa maupun kakeknya.


"Jadi papa dan kakek sudah tau soal itu?" Ucap Darren ketika melihat respon dari kakek dan papanya yang terdiam ketika dirinya membahas hal tersebut.


"Apa papa dan kakek yang melakukannya?" Tanya Darren kemudian.


"Bukan, yang jelas papa dan kakek juga tidak tau soal berita itu. Karena itu, hari ini papa sedang membicarakan hal ini dengan kakekmu." Jawab Edward yang berbicara apa adanya.


"Kalau bukan papa dan kakek yang melakukanya, lalu siapa yang melakukanya?" Tanya Darren.


Namun, kakek dan papa Darren kembali diam.


"Apa kalian juga tau soal ini?"


"Ya memang sudah tau, karena itu aku mau membereskanya sekarang." Ujar kakek Ferdi.


"Kakek serius soal ini?"


"Maksudku agak aneh aja, bukanya kakek harusnya jadi lebih senang ya dengan adanya berita seperti ini?"


"Yasudah aku cabut saja, tidak akan aku urus masalahmu." Kesal kakek sedikit mengancam.


"Sudah umur berapa kakek ngambek begini? Duh, ingat umur dong." Ledek Darren.


"Cucu kurang ajar, sini kamu ya..!" Ucap kakek hendak menghampiri Darren yang tengah meledeknya.


"Baiklah kalau sudah di urus masalahnya, aku pamit dulu kalau begitu. Hari ini hanya ini saja yang mau aku pastikan sama kakek dan juga papa." Balas Darren bangkit dari duduknya dengan sedikit merapikan jasnya dan berlalu pergi dari hadapan kakek dan papanya.


"Lihat anakmu, kamu itu gimana sih mengurusnya, kok dia bisa sampai jadi seperti itu?" Kesal kakek Ferdi melampiaskan rasa kesalnya pada Edward yang juga anaknya.


Edward hanya diam, karena ia juga tak bisa mengontrol sikap anaknya sendiri. Ia hanya menghela nafas ketika melihat kepergian anak tertuanya itu. Tanpa mencoba untuk mencegatnya atau pun mengejarnya keluar, seolah sudah pasrah dengan sikap Darren.

__ADS_1


...


Di samping itu, Darren yang tengah berjalan keluar dari rumah keluarganya terlihat senang. Ia memperlihatkan senyum simpulnya, karena sang kakek telah mengurus berita yang sempat menggangunya kemarin.


"Oh iya, aku lupa bilang kalau aku mau ke melbourne nanti." Ucap Darren menghentikan langkahnya ketika teringat akan rencana dirinya yang mau mengunjungi melbourne dalam waktu dekat ini.


Ia melanjutkan jalannya lagi dan memilih untuk keluar dari rumah tanpa memberikan kabar kepergianya nanti ke melbourne pada papa dan juga kakeknya.


"Gak usah dikasih tau lha, toh nanti juga bakal dilarang juga." Gumamnya.


Saat ia kembali melangkahkan kakinya, ia tak sengaja berpapasan dengan ibu tirinya, Natalie yang baru saja keluar dari arah dapur dengan membawa minuman di kedua tanganya. Darren tak menyapanya, dan melewatinya begitu saja dnegan cueknya.


"Lho, kamu sudah mau pulang? Padahal mama baru mau menyiapkan minuman lho buat kamu?" Ucap Natalie ketika melihat Darren.


Darren kembali menghentikan langkahnya, "Menyiapkan minuman?" Darren tersenyum tak percaya ketika mendengarnya. "Dimana bibi?" Tanya Darren yang kini menatap ke arah Natalie.


"Bibi? Kenapa kamu menanyakan dia? Apa kamu butuh sesuatu?"


"Tidak, aku sedang tidak butuh apapun. Aku hanya merasa heran, karena anda sendiri yang menyiapkan minumannya."


Seketika suasana di antara keduanya menjadi sedikit tegang dengan Darren yang menatap dingin pada ibu tirinya dan Natalie yang tersenyum canggung akan perkataan Darren.


"Bibi lagi ke pasar, lagian ini kan cuma minuman, jadi masih bisa aku buatkan untuk kamu." Kata Natalie mencoba tetap tenang.


"Lain kali tidak usah repot-repot." Balas Darren dan berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Natalie seorang diri dengan minuman yang masih dia pegang.


Ekspresi Natalie berubah ketika Darren memunggunginya. Ada sedikit perasaan kesal disana, namun ia tak bisa melampiaskanya.


......................


Meski berita pernikahanya yang sudah terlanjur beredar dan sempat menghebohkan media itu kini telah ditangani oleh kakeknya, namun Darren tetap tak bisa diam dan menunggu hasilnya saja. Ia mencoba menyelidikinya sendiri bersama Lucas, tentang siapa yang memulai menyebarkan beritanya, dan tujuan mereka melakukanya.Meski sebenarnya ia sudah ada gambaran tentang siapa yang melakukanya, namun karena belum adanya bukti yang kuat,membuatnya menahan diri sejenak.

__ADS_1


"Aku harus menyelesaikan masalah ini sebelum aku pergi ke melbourne nanti. Tapi sebelum itu, aku harus bertemu dengan Lucas dulu untuk mendiskusikan soal ini." Ucap Darren yang akhirnya keluar dari rumah keluarganya bersama dengan mobilnya.


__ADS_2