
"Jam berapa ini?" Ucapnya yang kemudian menatap ke arah jam ditanganya.
Setelah berkutat pada pekerjaan yang melelahkan dan super sibuk, Darren mencoba menghentikan sejenak aktivitas kerjanya. Meminum kopi yang telah tersedia di atas mejanya, dan setelahnya mencoba untuk memijat leher dan punggungnya yang terasa kaku, karena terlalu lama dibuat untuk duduk.
Ia menyenderkan sejenak badannya yang mulai terasa kaku dan pegal, untuk sejenak melemaskan kondisi tubuhnya yang mulai terlihat kelelahan karena terus bekerja tanpa henti.
"Kenapa hari ini kerjaanya banyak banget!" Keluhnya yang menatap lurus pada hal di depannya.
Dalam istirahatnya, ia jadi teringat dengan perkataan Lucas yang ingin menginap di apartemen miliknya. Karena tanpa sadar ia jadi teringat akan memiliki sebuah rumah untuknya sendiri.
"Kira-kira aku perlu membeli rumah atau tidak, ya?" Ucapnya yang tiba-tiba saja memikirkan untuk memiliki sebuah rumah.
Karena lebih sering tinggal di dalam apartemen, ada sedikit keinginan bagi Darren untuk tinggal dirumah. Meski keputusan dirinya untuk tinggal di apartemen adalah karena benci suasana rumah, namun entah mengapa ia jadi lebih ingin tinggal dirumah yang lebih luas dengan memiliki banyak ruang di dalamnya.
"Mungkin aku harus memimirkannya lagi nanti." Tuturnya yang akhirnya mulai melanjutkan sisa pekerjaan yang masih ada di atas meja kerjanya dan melupakan begitu saja keinginannya untuk memiliki sebuah rumah.
Begitulah Darren akhirnya kembali pada aktivitas yang menyibukkan dan melelahkan bagi dirinya. Meski waktu terus berputar dan menunjukkan hari yang jadi semakin gelap, ia seolah tak perduli dan terus menyelesaikan sisa pekerjaan yang menumpuk di atas meja kerjanya.
...
Pukul 7 malam tepat, ia pulang dari kantornya. Bersama dengan Lucas, ia mulai berjalan keluar untuk meninggalkan kantor setelah berkutat pada pekerjaan yang melelahkan bagi mereka.
"Apa mau mampir ke apartmen dulu, baru bertemu klien?"
"Kalau pulang dulu, waktunya tidak akan terkejar, jadi kita langsung ke lokasi pertemuannya saja."
"Ok, akan langsung ku konfirmasi kedatanganmu pada mereka."
__ADS_1
Tidak ada waktu bagi Darren untuk istirahat, meski pulang sedikit terlambat hari ini, karena pekerjaan yang menumpuk, namun begitu pulang dari kantor, ia bersama Lucas langsung bertemu dengan seorang klien untuk membahas kerja sama mereka dalam urusan bisnis. Keduanya pun segera meninggalkan kantor untuk menuju lokasi pertemuan dengan menggunakan mobil bersama.
Kurang dari 30 menit dari waktu janjian, namun keduanya telah sampai pada tempat tujuan lebih awal. Meski masih ada sisa waktu yang cukup banyak, namun masing-masing telah sampai pada lokasi pertemuan, baik bagi Darren dan Lucas, maupun bagi klien yang juga rekan kerjanya itu sendiri.
Restauran jepang adalah yang mereka pilih sebagai tempat untuk berbincang masalah bisnis. Di samping berbicara seputar pekerjaan, mereka juga bisa berbincang secara santai, mengingat ada kedekatan di antara mereka, terlebih makanan jepang adalah hal yang sama-sama mereka suka.
"Apa anda tidak ada rencana untuk menikah kedepannya?" Ucap rekan koleganya ketika mencoba untuk berbasa-basi disela pembahasan urusan bisnis mereka.
"Menikah, ya? Hmm.. Sepertinya itu masih agak lama, soalnya saya masih senang hidup sendiri." Balas Darren.
"Oh, jadi berita yang sempat keluar itu tidak benar, ya? Saya kira itu memang dari anda sendiri?
"Berita?" Darren menatap bingung pada rekan koleganya itu.
"Berita pernikahan anda dengan tunangan anda yang seorang desainer itu."
"Soalnya meski anda sudah menghapus beritanya, ada yang sudah membaca dan merepost kembali beritanya, jadi saya kira berita itu benar."
"Emm, gitu. Ternyata cepat sekali menyebarnya ya, padahal setelah keluar saya langsung mencoba menurunkan beritanya."
"Era digital seperti ini, memang semua serba cepat. Meski sudah dihapus pun, akan susah juga buat kita menyembunyikannya, karena jejaknya masih ada. Tapi, kenapa anda menurunkan beritanya? Apa berita itu tidak benar?"
"Iya, beritanya tidak benar, karena itu saya mencoba menurunkan beritanya. Soalnya berita itu keluar tanpa persetujuan dari saya dan pihak keluarga saya. Terlebih hubungan saya dengan Laura, bukan seperti yang anda bayangkan, kita berdua tidak memiliki hubungan yang spesial, karena saya dan dia hanya sekedar kenal saja." Jelas Bian lebih lanjut.
"Oh gitu, saya kira anda berdua sedang menjalin hubungan yang serius."
"Itu hal yang tidak mungkin, soalnya saya sedang tidak tertarik menjalin hubungan dengan siapapun. Saya lebih suka hidup sendiri."
__ADS_1
Darren berbincang santai dengan rekan bisnisnya itu. Ada tawa yang ringan mengelilingi obrolan mereka. Meski berbicara santai, ada kalanya mereka membicarakan tujuan awal mereka bertemu, yaitu seputar kerja sama mereka dalam hal berbisnis. Meski begitu, pertemuan yang formal itu, ternyata bisa jauh lebih nyaman dengan obrolan-obrolan yang ringan dari mereka. Meski hanya 30 menit waktu pertemuannya, namun waktu terasa berjalan lebih cepat, mengingat santai dan ringanya mereka saling berbincang. Dalam pertemuan itu, banyak hal yang mereka sudah bahas, dan hingga keputusan akhirnya adalah bisa memuaskan kedua belah pihak dengan kerja sama mereka kedepannya.
...
Darren bersama dengan Lucas kembali ke apartemen setelah menyelesaikan urusan pekerjaan mereka. Karena arah tujuan mereka sama, langkah mereka jauh lebih ringan, mengingat rasa lelah yang mereka yang rasakan begitu terasa hingga sulit rasanya jika harus bolak-balik, terutama bagi Lucas itu sendiri.
"Gimana nih, jadi dibolehin kan aku nginep ditempatmu?"
"Kan waktu itu, lu udah tanya? kenapa sekarang malah tanya lagi." Kata Darren dengan memasang wajah sedikit kesal, karena menahan rasa lelah.
"Yaelah, nanya doang, soalnya kan lu suka berubah-ubah pikiran."
"Yaudah aku berubah pikiran sekarang."
"Ok, ok, gak akan tanya lagi deh. Duh, gitu aja ngambek."
Darren menatap dingin wajah Lucas yang bilang dirinya lagi ngambek, namun Lucas yang mendapatkan tatapan itu hanya bisa tersenyum.
Dan tepat pukul 10 malam keduanya sampai di dalam apartemen. Darren yang merasakan lelah, langsung menuju arah kamarnya. Lucas yang sedang ikut bersamanya, juga merasakan perasaan yang sama.
"Aku mandi duluan." Kata Darren pada Lucas.
"Ok," Lucas tak menolak, karena memang ia hanya seorang tamu, terlebih apartemen milik Darren hanya ada satu kamar mandi.
Lucas yang tengah sendiri mencoba menyusul Darren, setidaknya ia ingin mengganti bajunya dengan lebih ringan dan nyaman, mengingat pakaian yang sedang ia pakai terlihat sudah bau keringat.
"Duh, pengen langsung cepat mandi sebenarnya. Tapi, setidaknya ganti bagian atasannya aja deh, ini badan udah lengket semua." Keluh Lucas.
__ADS_1