
"Kamu bisa terus membenciku, kalau bisa kamu juga bisa memukulku sepuas yang kamu mau, tapi.. aku mohon padamu, jangan memalingkan wajah padaku seperti ini." Ujar Darren tak ingin Airin menjauhinya.
Melihat ketulusan Darren, kembali membuat air matanya terjatuh. Ia yang saat ini harusnya begitu marah pada Darren, kembali menelan kepahitan yang membuat hati dan perasaanya kacau.
"Aku benci kamu, aku benar-benar benci kamu." Pukul Airin pada dada Darren dengan penuh kemarahan dan tangisan yang membuncah.
Darren diam membiarkan Airin memukulinya, ia tak protes ataupun berusaha mencegahnya karena ia tau hanya ini yang bisa ia lakukan pada Airin yang sedang marah padanya. Perasaan bersalahnya yang besar membiarkan tubuhnya kesakitan karena menerima amarah dari orang yang ia cintai itu.
"Aku masih bisa menahan rasa sakit ini, karena aku tau rasa sakit ini tidak akan sebanding dengan apa yang sudah kamu alami selama ini."
Darren tak menampik bahwa kata maaf darinya tak akan cukup membuat hati Airin merasa lega, karena ia sendiri yang dulu pernah mengucapkan kata janji pada Airin untuk melindunginya dan terus bersama apapun yang terjadi, namun karena amnesianya ia pun harus melupakan janjinya itu.
Meski hatinya sakit setiap kali melihat Airin terus berusaha menolak kehadiranya lagi, namun ia masih bisa mengerti dengan kondisi Airin saat ini yang terlihat begitu terluka karena kesalahan yang ia lakukan dulu dengan meninggalkannya tanpa kabar hingga membuatnya harus melawati masa sulit setelah kepergianya itu.
"Bagaiamana caranya aku bisa menebus semua kesalahanku padamu."
Menatap sedih pada Airin yang menangis histeris dan terus mengutuk dirinya. Darren melihat betapa marahnya perempuan yang ia cintai itu.
.....
Di bawah sinar rembulan yang mulai redup, keduanya masih berdiri dengan suasana yang begitu emosional dan rasa sakit yang sama. Malam yang kini mulai menghilangkan jejaknya, dengan sinar bulan yang perlahan tergantikan oleh matahari mengiringi kisah dua insan yang sedang terhanyut dalam masalah merumitkan.
"Aku tidak akan pernah memafkanmu." Ucap Airin disela tangisanya.
Wajah dan mata yang sudah terpenuhi oleh air mata itu kini menatap penuh amarah dan penuh kebencian yang ia tujukan pada Darren yang berdiri di depanya saat ini. Darren yang melihat itu hanya bisa diam, meski sudut hatinya terlihat terluka saat melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh perempuan yang ia cintai.
__ADS_1
"Ternyata sebegitu marahnya ya kamu padaku."
Begitulah Darren mengekspresikan diri saat melihat ekspresi Airin padanya saat ini.
Walau hanya samar-samar cahaya yang menyoroti mereka, namun Darren masih bisa melihat dengan jelas bagaimana ekpresi Airin yang menatapnya saat ini. Perasaan marah, terluka, kecewa hingga benci semua terlihat dengan jelas pada wajah dan sorot mata yang menatapnya.
"Padahal aku ingin melihat senyumannya lagi seperti dulu."
Ada sedikit perasaan kecewa darinya yang tak bisa melihat senyuman hangat yang pernah ia lihat dulu dalam diri Airin. Kehangatan itu membuatnya merindukan kembali momen saat dulu masih bersama-sama. Namun, saat ini yang terlihat dari wanita yang ia cintai justru ekspresi yang penuh kebencian. Membuatnya tersenyum getir pada kisah hubunganya saat ini yang terlihat penuh jalan terjal.
.
Suara yang mulai serak karena terus menangis, wajah yang menampakkan kelelahan karena situasi, dengan kondisi yang terlihat sudah tak lagi bertenaga, begitulah ia yang sedari tadi terus terjaga hingga menjelang pagi, yang kemudian membuatnya pingsan. Membuat Darren terkejut saat menangkap tubuhnya. Airin yang tak lagi bertenaga kini roboh dengan sendirinya.
Darren yang sama lelahnya denganya karena hampir tak beristirahat sekalipun, membawa tubuhnya yang pingsan ke dalam mobil miliknya dengan wajah penuh kepanikan dan rasa khawatir setelah melihat Airin tak sadarkan diri
"Apa kamu datang sendiri?" Tanya Darren masih menggendong Airin.
"Tidak, saya datang bersama Beni." Jawab Arsen yang ternyata datang bersama rekannya.
"Kalau kamu yang membawakan mobilku, siapa yang akan membawakan mobil milik Airin?" Ucap Darren.
"Saya akan bilang pada Beni untuk menelfon lainya untuk datang kemari dan mengambil mobil milik nona Airin." Jawab Arsen.
"Baguslah jika begitu, kalau begitu cepat bukakan pintu mobilnya dan segera kembali kerumah." Pinta Darren untuk segera dibukakan pintu mobilnya.
__ADS_1
"Baik." Arsen pun segera membukakan pintu mobilnya dan Darren yang langsung membawa Airin masuk kedalam.
Tak berselang, keduanya pun akhirnya kembali dan membawa Airin yang pingsan untuk dirawat.
"Apa kita akan kerumah sakit, pak?" Tanya Arsen dalam perjalanan.
"Tidak, kita kerumah saja. Aku akan memanggilkan dokter untuknya nanti." Ujar Darren yang memerintahkan untuk membawa Airin kerumah barunya.
Arsen mengangguk mengerti dan tak lagi bertanya untuk fokus mengendarai mobilnya.
.....
Sementara itu, sejenak Darren seolah melupakan hidupnya sendiri karena terlalu terfokus mencari Airin, hingga terus mengabaikan panggilan-panggilan Lucas. Ia menghela nafas lega setelah menemukan Airin, karena akhirnya ia bisa menepati janjinya pada sang anak dan juga pada keluarga Airin.
Sekarang ini, ia pun lagi-lagi harus mengabaikan pekerjaanya dan dirinya sendiri, karena fokusnya saat ini hanya untuk merawat Airin yang sedang pingsan.
"Apa alamat yang kamu berikan padaku itu kamu dapatkan dari keluarga Airin?" Tanya Darren pada Arsen.
"Benar, tapi kami juga mendapatkannya dari melacak ponsel milik nona Airin." Jelas Arsen.
"Saat kamu datang kerumahnya, bagaimana keadaan anakku? Apa dia menangis dan mencariku?" Kali ini giliran ia bertanya tentang kondisi anaknya selama ia tinggal mencari Airin.
"Saat saya bertemu dengan paman dan bibi nona Airin, saya tak melihat keberadaannya, mungkin sedang tidur." Jelas Arsen yang saat itu tak melihat keberadaan Arka.
"Begitu ya, syukurlah kalau begitu. Aku takut dia terjaga karena terus menunggu kedatanganku." Lega Darren ketika memastikan anaknya tak menangis.
__ADS_1
Suasana pun kembali hening, Darren pun juga tak bisa melepaskan pandangan pada Airin yang sedang pingsan disampingnya. Belainya dengan lembut pada pipi Airin yang basah karena air matanya.
"Aku berharap bisa melihat senyuman kamu lagi, dan tak lagi melihat air mata ini." Ujarnya dalam hati.