
Setelah berkutat semalaman pada hal yang mengganggu pikiran dan perasaan, Darren dan Lucas menyambut kembali pagi yang sudah ada di depan mereka. Keduanya sudah bersiap kembali menjalani aktivitas sehari-hari yang biasa mereka jalani.
"Kenapa dengan mukamu?" Lucas melihat wajah Darren yang terlihat tak bersemangat di pagi hari.
"Masih tanya?" Darren melirik sekilas dan melanjutkan kembali memasang dasi pada lehernya.
"Lu gak bisa tidur ya semalam?" Tebak Lucas yang juga sudah berpakaian rapi, ketika melihat wajah Darren yang terlihat lesu.
"Terserah." Darren membalasnya cuek.
"Cuek amat, sih?" Gerutu Lucas dengan balasan Darren. Ia duduk ditepi ranjang milik Darren sambil menatap Darren yang tengah membelakanginya.
"Hari ini aku ada jadwal meeting apa, enggak?" Darren yang berhasil merapikan dasinya, mulai menatap ke arah Lucas yang berada tepat di belakangnya.
"Hari ini kamu tidak ada jadwal meeting, juga tidak ada agenda ketemu klien, cuma nanti ada jadwal ketemu sama dokter Heru." Lucas segera memeriksa jadwal milik Darren.
Darren mengernyit begitu mendengar harus bertemu dokter Heru, yang merupakan dokter pribadinya. Ekspresinya seperti enggan untuk melakukannya.
"Kenapa? Jangan bilang, lu nggak mau ketemu sama dokter Heru, lagi?" Ucap Lucas ketika menangkap ekspresi yang dibuat oleh Darren.
"Jam berapa aku harus bertemu denganya?"
"Nanti, jam 9 pagi. Jadwalnya sudah ku konfirmasi dan cocokan dengan jadwal milik dokter Heru. Jadi, lu harus datang kesana." Ujar Lucas dengan sedikit menekankan kalimatnya.
Meski terlihat enggan dan tak suka, namun Darren tak lagi bisa mendebat tentang jadwal yang sudah di susun oleh Lucas. Setelah mengkonfirmasi jadwalnya hari ini, ia bersama Lucas pun bergegas menuju ke kantor.
"Oh iya, ingat sama omonganku kemarin malam, nggak?" Lucas yang kembali mengendarai mobil bersama Darren, tiba-tiba mengatakan soal obrolan mereka semalam pada Darren yang tengaj duduk disampingnya.
"Yang mana?" Namun, Darren tampaknya tidak begitu tertarik dan hanya membalasnya datar dengan lirikan sekilas.
"Soal anak kecil yang waktu itu aku bilang terlihat mirip denganmu?"
Deg.., Darren yang sedari tadi terlihat cuek, memutar kepalanya untuk mentap ke arah Lucas yang duduk disampingnya.
__ADS_1
"Kenapa lagi dengan dia? Bukanya kemarin sudah kubilang untuk berhenti bicara omong kosong?" Ucap Darren yang terlihat memperingati.
"Tau, tau. Tapi, setelah kupikirkan lagi, ternyata anak itu datang bersama perempuan yang kita temui waktu di pesta Silvia, ingat kan?"
"Ingat lah, kan aku duluan yang bilang kalau dia perempuan itu."
"Iya benar juga, kenapa waktu itu aku malah tidak bisa mengenalinya, ya?"
"Wajar aja, kan kita baru bertemu dengannya sekali."
"Iya juga, ya. Tapi, apa hal itu nggak mengganggumu, gitu? Aku aja agak sedikit terganggu, terutama aku penasaran banget sama anak kecil itu."
Darren terdiam begitu mendengarnya, karena sejatinya ia juga begitu terganggu dan beberapa kali selalu kepikiran soal Airin. Namun, setelah bertemu dengan Airin, yang merupakan perempuan yang dia temui untuk kedua kalinya, tanpa ada fikiran sekalipun darinya yang juga akan kepikiran soal anak yang dia bawa saat itu, karena sejatinya ia tidak terlalu memperhatikan keberadaan anak kecil yang datang bersama Airin. Sampai akhirnya Lucas yang mulai membahasnya.
"Tunggu, kenapa lu malah jadi penasaran soal anak yang datang bersama perempuan itu?"
"Nah, itu dia. Aku sendiri juga nggak tau. Aku nggak sadar waktu lihat perempuan itu, tapi begitu aku lihat anak yang bersama perempuan itu, entah kenapa aku jadi teringat sama sesuatu yang menurutku begitu familiar. Dan ternyata dia sangat mirip denganmu waktu kecil setelah aku memastikanya sendiri saat melihat foto milikmu kemarin."
"Jangan lebay deh, wajahnya masih kecil jadi wajar ada kemiripan, kalau sudah dewasa juga tidak akan mirip. Lagian, wajah setiap orang terkadang juga bisa mirip, meski tidak ada hubungan apapun." Darren menghilangkan keraguanya dan kembali menyadarkan Lucas akan realita. Mengingat tidak adanya hubungan antara dirinya bersama anak yang baru pertama kali ia dengar itu.
"Em.., bener juga, ya! Mungkin akunya aja yang agak sensitif soal itu. Lagian, kan nggak mungkin dia ada hubungan denganmu."
"Hubungan denganku katamu?" Darren kembali menoleh ke arah Lucas.
"Iya, hubungan darah maksudku. Kan nggak mungkin dong! Lagian juga nggak mungkin itu adikmu, kan adikmu cewek?." Ujar Lucas yang masih terus fokus menyetir mobilnya, meski sesekali melirik ke arah Darren yang duduk disampingnya.
"Kalau itu anakmu, mungkin masih masuk akal, tapi hal itu kan juga tidak mungkin." Sambung Lucas yang merasa itu tidak mungkin terjadi.
Anak?
Darren yang mendengar kalimat itu keluar dari Lucas, entah mengapa perasaanya tiba-tiba jadi tersentuh dan merasakan getaran yang berbeda.
"Kalau ngomong yang masuk akal, dong!" Protes Darren pada ucapan Lucas yang terlihat omong kosong.
__ADS_1
"Ya.., kan cuma misalnya. Tapi, kalau beneran juga gapapa sih." Canda Lucas.
Namun, anehnya Darren tak menanggapi candaan Lucas dan justru terhanyut dalam lamunannya. Ia menatap kosong pada pemandangan yang berada pada samping jendela kaca mobil miliknya.
...
Keraguan yang sama juga dirasakan oleh Airin. Saat ini, ia sedang berada dalam rasa dilema ketika hendak menceritakan seputar ayah dari anaknya pada bibi dan pamannya.
"Bagaimana ini? Kenapa aku masih agak ragu untuk mengatakan pada bibi dan paman?"
Airin yang semalaman mencoba memikirkan cara berbicara pada bibi dan pamamya seputar ayah dari anaknya, kini terlihat masih galau dengan keputusanya.
"Kamu kenapa? Lagi ada masalah? Dari tadi kamu bengong terus, lho." Tanya bi Rahma ketika melihat Airin yang terlihat tidak fokus pada pekerjaanya.
"Ah, itu.., Airin gapapa kok, bi. Cuma agak sedikit lelah aja." Airin yang tersadar dari lamunanya menjadi sedikit tergagap ketika menjawabnya.
"Yasudah kamu istirahat dulu aja, biar nanti yang lainya yang lanjutin." Kata bi Rahma yang meminta Airin untuk beristirahat dan menyerahkan pekerjaan merangkai bunganya pada pegawainnya.
Airin manut, dan mencoba mengikuti saran bibinya.
"Bi, ada yang ingin Airin katakan sama bibi. Apa bisa Airin bicara sebentar?" Meski sempat agak ragu untuk mengatakanya, namun akhirnya Airin mengatakan keinginanya pada bibinya.
"Mau bicara sama bibi? Soal apa?"
Airin mencoba mengatur kembali perasanya.
"Ada hal yang ingin Airin bahas, jadi kita bicara di rumah aja." Ucap Airin yang tak ingin mengatakanya di dalam toko bunga yang ada pegawainya.
"Oh, yaudah." Meski masih bingung, namun bi Rahma mengikuti Airin yang hendak masuk kedalam rumah.
Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk melangkah kedalam rumah yang hanya butuh beberapa langkah itu. Di dalam rumah yang hanya ada dirinya dan sang bibi, Airin mencoba untuk berkata jujur pada sang bibi seputar ayah kandung anaknya yang telah ia temui.
Ini keputusan yang benar, kan?
__ADS_1