
Berjalan dengan perlahan, Bian mencoba menghampiri Airin sambil ditemani oleh cahaya kecil dari ponsel miliknya. Dengan langkah pelan, ia bergerak menuju rumah kosong yang ia yakini ada Airin di dalamnya.
"Semoga dia benar-benar ada disini." Ucapnya sambil melangkah ke arah rumah tersebut.
Namun, tiba-tiba ada keheningan yang menyeruak ketika ia sampai dan akhirnya bisa bertemu secara langsung dengan Airin yang kebetulan sedang keluar dari rumah kosong itu dengan cahaya senter yang ia pegang ditanganya. Ia yang merasa lega karena akhirnya bisa bertemu dengan Airin, tanpa sadar menyunggingkan senyuman ke arahnya, berbanding terbalik dengan Airin yang nampak terkejut dengan keberadaanya, seolah ekspresinya saat ini sedang berbicara bagaimana Darren bisa ada disini, hingga tubuhnya seketika membeku ketika melihat Darren yang saat ini tengah berdiri di depanya seperti ini. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung memilih pergi dari hadapan Darren.
Di tinggal pergi begitu saja oleh Airin, tentu saja membuat Darren terkejut dan seketika langsung mengejar Airin.
"Airin tunggu.." Panggil Darren ketika Airin memilih pergi dan menghindar darinya.
"Tolong dengarkan aku dulu." Ujarnya lagi yang kali inu mencoba meraih tangan Airin yang terus berlari darinya.
"Lepaskan." Airin menatap dingin pada Darren yang memegangi tanganya, dan langsung mengibaskan tangannya yang sedang dipegang olehnya.
Sejenak Darren terdiam karena itu, ekpresinya nampak sedikit terluka pada hal yang dilakukan oleh Airin, tanpa sadar membuat tubuhnya membeku pada penolakan Airin, namun tak lama ia pun langsung tersadar dan segera menyusul Airin yang lari meninggalkanya menuju arah mobil.
"Ku mohon dengarkan aku dulu." Ia berhasil meraih tangan Airin kembali dan kali ini mencoba membuat tubuh Airin menatap ke arah wajahnya.
Dengan ekspresi wajah yang nampak sendu dan memperlihatkan raut wajah penuh rasa sedih, Darren yang terus mendapat penolakan dari Airin mencoba untuk menguatkan dirinya dan mempertahankan Airin yang terus memberontak untuk dilepaskan.
"Aku tau kamu begitu marah padaku, tapi kumohon jangan seperti ini." Ucapnya dengan nada bergetar dan ekspresi wajah yang sedang menahan sakit dihatinya.
Darren menatap Airin dengan penuh harap, meski Airin terus memberikan tatapan dingin padanya.
"Lepaskan, tidak ada hal lagi yang perlu aku bicarakan denganmu." Ujar Airin mencoba melepaskan diri dari Darren yang tengah menahan kedua lenganya.
"Aku minta maaf, aku tau aku bersalah sudah meninggalkanmu bahkan melupakanmu dan anak kita, tapi.. apa benar-benar sudah tidak ada lagi ruang untukku dihatimu saat ini?" Ucap Darren sedikit frustrasi melihat Airin yang tak mau menatapnya lagi.
__ADS_1
Airin menatap diam pada Darren yang saat ini memberikan ekspresi wajah penuh kesedihan. Ia juga tertegun ketika melihat ekspresi wajah penuh rasa frustrasi yang ditujukan oleh Darren saat ini. Namun, ia yang sudah lepas dari genggaman Darren kembali memalingkan tubuh dan wajahnya, seolah tak ingin lagi membahas hal ini dengan Darren, terlebih tak ingin terbawa oleh suasana yang menyedihkan ini.
Ia menahan tangisnya ketika memalingkan wajahnya pada Darren, yang seolah ikut merasakan rasa sakit yang Darren rasakan, namun karena egonya yang tinggi untuk tak ingin memaafkanya begitu saja membuatnya tak sanggup untuk sekedar menatap matanya, hingga yang bisa ia lakukan hanyalah menghindarinya.
"Aku mohon jangan pergi." Darren kembali menahan tangan Airin yang telah melangkah menjauhinya itu.
Airin tak menoleh meski tanganya kembali ditahan oleh Darren untuk tak pergi, karena saat menoleh dan menatap wajahnya, ia takut tidak akan lagi bisa membendung air mata miliknya yang saat ini sedang ia tahan. Dengan sekuat tenaga ia pun kembali berusaha melepaskan genggaman tangan Darren, namun Darren justru menariknya kedalam pelukanya.
Sontak hal itu seketika membelalakan kedua matanya, air mata yang sekuat tenaga ia tahan perlahan turun karena tak lagi bisa menahan kesedihanya di dalam pelukan orang yang ia cintai itu. Perasaan marah, kesal, benci dan juga rindu tercampur dalam tangisanya.
Tak berbeda dengan yang dirasakan oleh Darren, ia juha ikut merasakan perasaan emosional saat memeluk tubuh Airin, seolah perasaan rindu yang selama ini ia rindukan kini telah terobati.
"Maafkan aku..." Ucap Darren dengan nada bergetar karena tangisanya. Peluknya dengan erat pada sosok yang ia rindukan itu.
Sejenak keheningan menyelimuti keduanya yang sedang berpelukan, seolah tengah melepas rasa kerinduan yang ada, keduanya terhanyut dalam emosi yang sama. Tak ada obrolan, yang ada hanyalah air mata yang menyelimuti mereka yang sedang bersedih dan saling meratapi masalah. Sama-sama merindukan sosok masing-masing, namun karena keadaan membuat keduanya berpisah hingga merenggangkan hubungan.
"Lepaskan, aku mau pulang." Tiba-tiba Airin tersadar dengan apa yang ia lakukan, dan mencoba melepaskan pelukan Darren. Ia beranjak pergi tanpa mencoba menatap wajah Darren.
"Lebih baik kamu pukul aku, kamu tampar akupun akan aku terima.."
Ucapan Darren menghentikan langkahnya yang hendak pergi. Meski begitu ia tak menoleh ke arahnya yang ada dibelakangnya saat ini.
"Dengan kamu memalingkan wajah dan memunggungiku seperti ini..." Sejenak Darren terlihat kesulitan untuk melanjutkan kembali kalimatnya.
"Hatiku dan perasaanku terasa sakit." Lanjutnya dengan perlahan melangkah sedikit lebih dekat pada Airin yang sedang berdiri membelakanginya.
Namun, Airin tetap diam membisu. Sekuat tenaga ia mencoba untuk tak terpancing dan menenangkan dirinya. Mata yang memerah karena menahan air mata, dengan ekspresi yang penuh perasaan berkecamuk membuatnya tak lagi bisa berfikir.
__ADS_1
Darren yang berdiri dibelakangnya saat ini, terasa begitu menyiksanya. Ia tak tau harus bagaimana menghadapi situasinya saat ini, karena dalam pikiranya saat ini hanyalah pergi dari sini dan menghindar dari Darren.
"Airin.." Panggil Darren pada Airin yang berada di depanya dan sedang membelakanginya.
"Setelah minta maaf lalu apa?" Airin yang sedari tadi bungkam, kini berbalik menatap Darren dan memberikan suaranya.
"...."
Ada keheningan yang terjadi saat Airin mulai mngatakan komentarnya.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah meminta maaf? Apa kamu ingin semuanya berakhir seperti apa yang kamu inginkan? Dengan kita bersama lagi, gitu?"
Darren diam tak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Airin yang saat ini menatapnya begitu marah.
"Apa kamu tidak tau betapa menderitanya aku selama ini.." Tangis Airin mulai pecah di depan Darren.
"Kamu tidak tau, kan? Benar, bagaimana kamu bisa tau soal ini."
Dengan nada bergetar menatap Darren, Airin yang tak lagi bisa memebendung amarahnya meluapkan emosinya di depan Darren, sedangkan Darren hanya diam menerima luapan amarah darinya.
"Maafkan aku, kalau saja aku tidak kecelakaan dan amnesia mungkin kamu tidak akan menderita seperti ini." Ujar Darren merasa menyesal.
"Benar, harusnya kamu tidak kecelakaan dan amnesia, dengan begitu aku bisa membencimu sepuasnya, tapi sekarang..." Airin menahan kalimatnya, ia tak sanggup untuk melanjutkan kembali kalimat yang hendak ia katakan, mengingat ia seperti ini karena merasa tak bisa menerima penjelasan dari Darren.
Setelah mengetahui apa yang terjadi pada Darren, saat itu perasaanya tampak kacau hingga akhirnya sampai bertindak seperti ini, mengingat penjelasan dari Darren terlalu mengejutkan untuknya dan membuat dirinya tak lagi mempunyai alasan untuk membencinya.
"Aku ingin memberi hukuman untuknya yang sudah meninggalkanku, tapi kalau begini..."
__ADS_1