
Apa yang membuatnya begitu terburu-buru, hingga hampir saja melakukan kesalahan. Darren seakan di kejar oleh waktu, hingga terlihat tak sabaran dan terkesan ceroboh. Sikapnya juga tiba-tiba jadi berbeda setelah keluar dari rumah sakit.
"Lebih baik kita makan dulu, karena masih ada waktu sebelum jadwal keberangkatan, setidaknya kita mengisi perut dulu sebelum ke bandara." Ujar Lucas pada Darren setelah sampai dihotel tempat mereka menginap.
"Aku lagi tidak nafsu makan." Jawab Darren yang terlihat enggan.
"Duh, jangan keras kepala deh, kita pesan makan dulu baru setelah itu kita check out dari hotel dan berangkat ke bandara." Kata Lucas.
"Terserah, tapi aku tetap nggak mau makan, sana makan sendiri." Jawab Darren acuh tak acuh.
"Astaga ini anak, keras kepala banget. Segitu kesalnya, ya, lu nggak jadi pulang lebih cepat? Toh nanti juga pasti akan pulang, heran deh." Lucas menghela nafas tak mengerti pada sikap Darren yang terus bersikap keras kepala.
"Lagian kenapa sih sikapmu dari tadi begini? Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Coba katakan, jangan malah membuatku bingung begini?" Ujarnya lagi yang merasa heran dengan perubahan sikap Darren.
"Sudahlah, bangunkan aku kalau lu selesai makan. Aku mau memejamkan mata sebentar." Darren tak menjawab pertanyaan Lucas dan lebih memilih berbaring di atas ranjang tidurnya.
"Jelas ada sesuatu sama dia." Gumam Lucas saat melihat Darren yang bersikap aneh hari ini.
....
Setelah Lucas keluar dari kamar, Darren kembali membuka matanya. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu dengan ekspresinya yang seakan menembus sesuatu karena terlalu serius dan tajam.
"Hahaha..."
Tiba-tiba saja ada hal yang lucu dan membuatnya tertawa, namun tawa yang ia lakukan bukanlah tawa kebahagiaan, melainkan tawa yang disertai dengan memasang ekspresi sedang menahan kesedihan dan perasaan tak percaya. Seolah apa yang ia ketahui begitu mengguncangnya, terutama pada hati dan perasaanya.
Darren yang sebelumnya membaringkan tubuhnya di atas ranjang, sekarang memilih untuk bangkit dan kemudian duduk. Ia kembali tertawa kecil, dan kemudian menghela nafas panjang, seolah sedang menghibur dirinya sendiri.
"Jika sudah kembali, aku harus segera bertemu dengannya. Sebelum itu, aku harus bertemu Arsen lebih dulu sebelum menemuinya." Ujarnya kemudian.
Sesaat kemudian, Darren mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Arsen lewat sambungan telfon. Banyak hal yang ia katakan pada Arsen, yang juga asisten pribadinya melalui sambungan telfon.
"Selidiki hal itu, saat aku kembali nanti, aku ingin itu sudah ada di atas mejaku." Ujarnya memberi intruksi yang kemudian menutup telfonnya.
Waktu pun cepat berlalu, Darren dan Lucas pun akhirnya tiba di bandara untuk pulang ke jakarta. Masih menunggu jadwal keberangkatanya, Darren dan Lucas memilih menunggu dan duduk di salah satu bangku.
....
Di tempat yang berbeda, Airin tengah menemani anaknya bermain, meski diliputi rasa penasaran pada masalah anaknya, namun karena tak ingin membebani sang anak, ia pun hanya bisa mengamati sikap sang anak. Terlebih ia juga sedang menunggu Dava pulang dari sekolah, karena ingin mendengar penjelasan dari Dava seputar Arka.
__ADS_1
"Semoga Arka benar-benar menceritakannya pada Dava." Harap Airin.
Di tatapnya lagi wajah sang anak yang tengah asik bermain, ia tersenyum bahagia ketika melihatnya, namun ada raut kesedihan ketika menatap wajah sang anak.
"Arka." Panggilnya.
"Iya, ma. Ada apa?" Jawab Arka menghentikan permainannya.
Melihat anaknya yang sampai menghentikan permainanya dan menjawab segera setelah ia panggil, membuat Airin tersenyum bahagia.
"Sini, peluk mama." Ucapnya sembari merentangkan kedua tangannya pada Arka.
Arka menyambutnya dengan suka cita rentangan tangan Airin dan menghampirinya segera.
"Pintarnya."
Airin langsung mendekap tubuh sang anak dan kemudian mencium puncak kepala sang anak dengan lembut dan penuh rasa sayang.
"Arka sayang sama mama, kan?"
"Iya, Arka sayang dan cinta sama mama."
"Oh, ya? Sebesar apa?"
"Wow, banyak dong berarti." Airin tersenyum melihat gerakan anaknya.
"Iya, karena Arka sayang sama mama." Ujar Arka yang memberikan ekspresi penuh rasa sayang pada mamanya.
Melihat itu, membuat Airin kembali memeluk tubuh anaknya, namun entah mengapa ekspresinya terlihat sedang menahan rasa sedih.
"Arka tidak apa-apa hanya memiliki mama?" Masih memeluk tubuh anaknya, Airin mencoba menahan tangisnya.
"Iya, tidak apa-apa, karena Arka hanya ingin mama saja." Anggukan kecil dari Arka menjawab pertanyaan Airin, meski raut wajahnya memperlihatkan kesedihan.
"Benarkah? Mama senang mendengarnya, karena mama juga hanya butuh Arka di dunia ini." Airin tak lagi bisa membendung air matanya, dan akhirnya harus tumpah membasahi pipinya.
Tidak mungkin kamu baik-baik saja, kamu juga pasti mencari sosok ayah bagimu.
....
__ADS_1
Bagai sebuah ikatan yang erat, apa yang sedang dipikirkan oleh Airin, tentang anaknya yang suatu hari nanti pasti akan membutuhkan sosok ayah atau mencari keberadaanya, sedang di alami oleh Arka beberapa hari ini.
Arka yang tiba-tiba murung sepulangnya sekolah, merasa bingung dan sedih karena tak bisa pergi ke acara sekolah yang harus ditemani oleh ayah masing-masing, mengingat dirinya yang tak memiliki ayah. Hal inilah yang membuatnya tak bisa menceritakan pada Airin dan memilih memendamnya, karena Arka tak ingin melihat mamanya menangis lagi.
Percakapannya dengan Dava saat sebelum masuk kedalam sekolah adalah satu-satunya baginya menceritakan masalah yang telah menggangunya beberapa hari ini. Saat itu, Arka begitu lepas menceritakan kegelisahanya pada Dava, berbanding saat bersama Airin yang justru memilih terus bungkam
"Arka tidak bisa datang ke acara sekolah karena tidak memiliki ayah."
"Hah, gimana maksudnya?" Dava yang cukup terkejut saat mendengarnya, tanpa sadar sedikit teriak.
"Itu... ada acara disekolah yang harus datang bersama ayah, tapi Arka kan tidak punya ayah, jadi Arka tidak bisa datang ke acara itu." Jelas Arka dengan muka sedih.
"Begitu, tapi acara apa itu?" Tanya Dava.
"Katanya acara untuk ayah." Jawab Arka.
"Hah!, oh, apa maksudnya hari ayah gitu kali, ya?" Dava masih agak bingung dengan penjelasan Arka.
"Memangnya kapan acaranya di adakan? Mungkin om Dava bisa datang kesana." Tanya Dava lagi.
"Tidak tau, katanya sebentar lagi."
"Hemm.. sebentar lagi itu kapan, ya? Agak susah juga nih." Dava menghela nafas kesusahan mencermati penjelasan Arka.
"Ok, nanti om Dava bakal cari tau soal ini, dan datang ke acara Arka."
"Om mau pura-pura jadi ayahnya Arka?"
"Iya, nanti kita main sebuah drama disana, seperti di film-film yang biasa om Dava tonton, gimana? Bagus, kan?" Ucap Dava semangat meyakinkan Arka.
Arka yang tak mengerti maksudnya hanya bisa bengong melihat Dava.
"Nanti om ceritain lagi deh, ok. Sekarang Arka masuk ke sekolah dulu. Tapi, ini masih rahasia ya!" Ujar Dava sembari membuat gestur diam dengan jari telunjuk menyentuh bibir.
"Rahasia, syut.." Arka ikut membuat gestur itu dan membuatnya yang sempat murung dan sedih, kembali tersenyum.
"Yasudah, sekarang Arka masuk ke sekolah dulu. Nanti om cari ide dulu, ok."
"Ok." Arka pun menurut dan masuk kedalam sekolah. Dan, pembicaraan keduanya pun berakhir begitu saja.
__ADS_1
Tak hanya Arka yang terlihat enggan untuk menceritakan hal ini pada Airin, begitupun dengan Dava yang terlihat ragu untuk mengatakan kejelasanya pada Airin nanti saat telah pulang ke rumah.
"Ah, sudahlah, pikirkan saja nanti, sekarang mending aku pergi kesekolah dulu." Begitulah akhirnya Dava yang akhirnya pergi dari sekolah Arka setelah mengantarnya masuk kedalam sekolah.