Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
76. Ikatan Batin


__ADS_3

"Airin nggak tau kalau Dava bakal ke sekolahnya Arka, Dava nggak bilang sama Airin bakal kesana, taunya juga waktu Airin sudah jemput Arka pulang. Lagi pula saat itu kan Dava juga masih ada jadwal sekolah, jadi Airin nggak terlalu berharap Dava bakal datang." Ujar Airin memberikan pendapatnya.


"Iya juga sih, yasudahlah sudah terlanjur juga, mending sekarang coba kamu ajak anakmu bicara dan tenangin dia gitu, supaya dia nggak ngambek lagi." Pinta bi Rahma.


"Iya, bi nanti Airin bakal samperin Arka dan coba ngajak ngobrol Arkanya." Balas Airin.


Bi Rahma yang tak tau soal pertengkaran Arka disekolah bersama teman-temanya, juga kejadian yang di alami oleh Arka, hanya menganggap Arka mengambek karena di ajak pulang sekolah lebih awal dari jamnya. Karena Airin sendiri belum menceritakanya pada bi Rahma soal kejadian yang anaknya alami, terlebih pada momen pertemuanya dengan ayah kandung dari anaknya.


Ketika mengingat momen pertemuan itu kembali, membuatnya jadi memikirkan sosok Darren yang telah mengetahui identitas anaknya. Harapan yang selalu ia tunggu, kini telah terjadi.


"Sekarang dia sudah tau, lalu apa yang akan terjadi kedepan setelah dia tau soal anaknya? Apa dia mau mengambil Arka dariku?"


Tiba-tiba saja pikiran buruk mengampiri dirinya, teringat pada status Darren yang lain dengannya membuat ia merasakan perasaan khawatir dan juga cemas.


"Dia berubah, semua yang ku kenal darinya sudah tak bisa kutemukan lagi dari sosoknya yang sekarang."


Melihat perbedaan karakter dan sikap yang dilakukan oleh Darren sekarang padanya, membuatnya yang dulu mengenal dia dan pernah bersama lebih dari satu tahun lamanya, tentu merasakan perbedaan itu. Airin tampak merasa dilema setelah Darren mengetahui dirinya dan juga anaknya.


"Harusnya kan aku bahagia, tapi kenapa aku merasa cemas begini?"


.....


Berjalan perlahan menuju kamar tempat anaknya tengah diam merenung sepulangnya dari sekolahanya, Airin sebagai orang tua tunggal yang telah membesarkan anaknya seorang diri, sedang merasakan pergolakan batin pada permasalahan yang mendatanginya, terlebih dalam menghadapi sikap anaknya yang tiba-tiba tak bersemangat dan jadi pendiam dari biasanya.


"Arka nggak lapar? Habis pulang sekolah Arka belum makan apa-apa lho!" Ucapnya begitu masuk kedalam kamar.


Airin menghampiri Arka yang masih berbaring di atas ranjang dengan ekspresi tak bersemangatnya. Ia diam dan tak membalas ucapan Airin yang merupakan mamanya sendiri.


"Arka, dipanggil kok nggak jawab, sih. Ayo sini menghadap ke mama." Ucapnya pada Arka yang masih diam membelakanginya.


Perlahan Arka menatap wajah Airin dengan ekspresi tampak murung dan tak bersemangat. Dan, Airin yang melihat ekspresi anaknya hanya bisa mengamatinya sembari mencari kata apa yang baik untuk membuat anaknya kembali ceria.

__ADS_1


"Apa Arka marah sama mama?" Tanya Airin pada Arka yang saat ini sudah duduk dan bertatap muka denganya. Namun, Arka menggelengkan kepalanya tanda ia tak membencinya.


"Kalau begitu kenapa Arka jadi tidak bersemangat begini? Apa ini karena mama meminta Arka pulang sekolah lebih cepat?" Tanyanya lagi, dan Arka lagi-lagi hanya menggelengkan kepalanya. Membuat Airin jadi semakin dibuat bingung karenanya.


"Kalau begitu apa alasan Arka jadi murung begini?, Arka bisa cerita sama mama, jangan diam saja, nanti mama jadi sedih lho." Ujar Airin meminta anaknya lebih terbuka dan jujur padanya.


Mendengar itu, Arka tampak ragu untuk mengatakanya pada Airin, dan yang bisa ia lakukan hanya menghampiri Airin dan memeluknya erat tanpa penjelasan.


Melihat anaknya yang tak bisa menjelaskan padanya dan hanya memeluknya, membuat Airin bertanya-tanya pada hal yang sedang dikhwatirkan oleh anaknya.


"Apa tadi disekolah Arka di ganggu lagi sama teman-teman Arka?"


Arka tetap diam tak menjawab, namun diamnya itu membuat Airin berpendapat demikian, dan semakin membuatnya menyesal karena sempat meninggalkan anaknya sendirian disekolah.


"Maafkan mama ya, tadi sempat meninggalkan Arka sebentar, nanti mama akan memarahi dan menegur teman yang mengganggu Arka tadi." Ujarnya pada sang anak dengan rasa sesalnya.


Arka yang sedari tadi hanya bersembunyi dari balik pelukan, kini mengeluarkan wajahnya dan menatap Airin dengan ragu.


Airin menatap diam sang anak, dan begitu terkejut mendengar ucapan anaknya yang menyebut sosok Darren. Ia tampak tak percaya soal Darren yang juga ikut mengetahui kondisi Arka sedang di ganggu oleh teman-temanya disekolah.


"Nama mau tanya sama Arka, bagaimana Arka bisa tau kalau itu papanya Arka, mama kan tidak pernah menceritakan soal ini pada Arka?" Ucapnya kemudian, yang penasaran pada anaknya yang mengetahui identitas ayahnya kandungnya.


"Arka.."


"Mama hanya ingin tau, bukanya ingin memarahi Arka."


Mengetahui anaknya tampak ragu untuk mengatakan penjelasanya, Airin mencoba memberikan pengertian pada sang anak.


"Arka melihat papa di foto mama." Ucap Arka menatap Airin ragu.


Terkejut mendengar penjelasan anaknya, Airin sampai terdiam karenanya.

__ADS_1


"Dari foto mama? Foto yang mana itu?"


"Itu, yang ada di dalam laci."


Melihat arah tangan sang anak, Airin menyadari foto yang dimaksud oleh Arka, dan membuatnya tersadar akan satu hal yang ia lupakan. Tentang foto lamanya bersama Bian di masa lalu yang ia simpan pada sebuah buku di dalam laci.


Mendengar penjelasan anaknya, membuatnya kini faham akan anaknya yang mengetahui sosok ayah kandungnya, meski ia belum pernah cerita sebelumnya pada Arka.


"Tapi, Arka kan hanya melihat dari foto, bagaimana Arka bisa yakin kalau itu papanya Arka?" Tanya Airin pada anaknya yang masih di atas pangkuanya.


"Tidak tau, Arka hanya hanya merasa senang bersama papa." Jawab Arka polos.


Jawaban anaknya membuat Airin tersenyum tipis, dan tak lagi bertanya karena merasa tak akan mendapat penjelasan lebih, mengingat anaknya yang baru berusia lima tahun.


"Apa ini karena ikatan di antara mereka, ya?" Batinya pada kedekatan anaknya dengan ayah yang baru ia temui pertama kalinya.


......................


Di tempat berbeda, Darren yang sudah menduga akan mendapatkan panggilan dari keluarganya, tampak cuek dan tenang dengan panggilan itu. Ia justru lebih mmeperdulikan soal rumah yang hendak ia beli dan bangun untuk anaknya.


"Rumahku harus besar dan punya halaman luas, nih." Ucapnya yang sedang memikirkan konsep rumahnya nanti.


Darren yang sebelumnya berbicara pada asisten kakeknya tampak tak perduli dengan perintah kakeknya yang menyuruhnya untuk pulang. Ia terus saja fokus pada hal yang sedang ia pikirkan.


"Apa lu mau mengabaikan perintah kakekmu?" Ucap Lucas pada Darren yang tampak tak perduli mendapatkan instruksi untuk pulang kerumah oleh kakek dan juga papanya.


"Terserah lah, sekarang aku lagi gak mood untuk berdebat sama mereka." Jawab Darren cuek.


"Ya masak lu mau mengabaikan mereka, sih? setidaknya samperin lha, jelasin gitu sama keluargamu, biar mereka nggak tanya-tanya terus, nanti yang ada malah ngerepotin gue lagi." Ujar Lucas yang ogah direpotkan.


"Entar, sekarang aku mau kesuatu tempat dulu." Balas Darren yang punya renca tujuan lain.

__ADS_1


__ADS_2