
"Yaudah, kamu istirahat aja lagi. Aku juga mau balik tugas lagi. Maaf, ya jika ganggu istirahatmu." Ucap Rendi.
"Gapapa kok, kak. Airin juga nggak lagi tidur tadi." Balas Airin yang tak merasa keberatan, meski tubuhnya yang masih terlihat lemah.
"Aku lega mendengarnya. Kalau begitu, saya pamit dulu ya tante." Ucap Rendi yang beralih menatap ke arah bi Rahma dan juga Airin untuk berpamitan.
"Iya, nak Rendi. Bibi terimakasih sekali lagi karena sudah mau jengukin Airin." Ujar bi Rahma yang sangat berterimakasih pada kedatangan Rendi.
"Iya bi, sama-sama. Rendi pamit dulu, ya.."
Rendi pun pamit pergi dari kamar inap Airin. Melanjutkan tugasnya kembali sebagai seorang dokter.
....
Wajahnya yang rupawan, dengan tinggi 180 cm dan status sosial yang begitu mentereng membuat semua kagum pada sosoknya yang juga ramah. Rendi Aditya Purnama adalah anak dari keluarga yang cukup berada, dengan orang tua yang seorang dokter dan juga dosen. Tempatnya praktek untuk tugasnya sebagai seorang dokter, merupakan rumah sakit milik keluarganya sendiri, yang papanya sendiri menjabat sebagai kepala rumah sakit "Harapanku".
"Kamu habis dari mana? Papa tadi habis dari ruanganmu, tapi kamunya malah nggak ada." Seorang laki-laki paruh baya menghampiri dan juga menyapa Rendi ketika sedang menuju ke ruangannya sekembalinya ia dari kamar Airin. Orang tersebut adalah papa kandungnya sendiri, yang juga seorang dokter seperti dirinya
"Rendi tadi habis jengukin teman yang sakit." Balas Rendi. "Memangnya ada apa papa mencari Rendi?" Tanyanya kemudian.
"Papa mau bahas soal masalah kemarin.Tapi, teman kamu yang sakit itu siapa? Apa papa kenal sama dia?"
"Papa kenal kok sama dia."
"Oh ya? Siapa memangnya?"
"Airin, dia teman Rendi dulu saat masih SMA."
"Ah.. Airin, papa ingat soal dia. Bagaimana kondisi dia sekarang?
"Sudah agak membaik, cuma masih kelihatan pucat."
"Sakit apa dia, kok sampai dirawat segala?"
"Kecapean dan gangguan pencernaan." Kata Rendi menjelaskan kondisi Airin yang ia dengar langsung dari Airin tadi.
"Pasti dia terlalu memaksakan diri." Nada kekhawatiran anehnya terlihat dari papa Rendi yang seorang dokter.
__ADS_1
"Memangnya sejak kapan dia dirawat? Apa kamu tau sebelumnya kalau dia lagi dirawat disini?" Melanjutkan kembali langkahnya, keduanya berbincang ringan sambil menuju ruangan milik Rendi.
"Katanya sih sejak pagi tadi, dan Rendi juga baru tahu kalau Airin lagi dirawat disini setelah nggak sengaja melihat bi Rahma yang ada di rumah sakit ini, tadi Rendi kira beliau yang sakit, ternyata justru Airin." Jelas Rendi.
"Oh gitu, mungkin nanti papa mau tengokin dia. Hitung-hitung melihat kondisi dan kabarnya yang sudah lama nggak ketemu." Ucap papa Rendi yang ternyata sudah mengenal seorang Airin.
"Nanti saja, pa. Soalnya kan tadi Rendi baru saja jengukin Airin, jadi mungkin sekarang Airinnya lagi istirahat."
"Papa tau, kan papa tadi bilangnya nanti."
Obrolan ringan dengan menyapa sesekali pada para pasien yang tak sengaja mereka lihat mengiri perjalanan mereka. Sikap keduanya yang begitu ramah dan sangat hangat terhadap sekelilingnya, mendapat pandangan yang baik di mata para pasien dan penghuni rumah sakit lainnya.
....
Di tempat yang berbeda, tepatnya sekolah Arka berada. Dava yang mendapat telfon untuk menjemput Arka, terlihat senang hati untuk melakukanya, meski sejatinya ia juga masih ada jam sekolah. Walaupun Airin tak memaksanya untuk datang karena masih ada pamannya yang masih bisa menjemput Arka, namun dengan senang hati Dava mengiyakannya, karena akhirnya membuat dirinya punya alasan untuk tidak ikut pelajaran matematika yang begitu ia benci.
"Siapa suruh gurunya killer, aku kan jadi nggak betah buat ikut pelajarannya." Ucapnya yang sudah stand bye di depan sekolah milik Arka.
Tidak butuh lama bagi Dava untuk menunggu sekolah Arka membubarkan diri, karena baru 10 menit ia sampai disekolahnya, sudah terlihat anak-anak yang membubarkan diri dengan senangnya.
"Lho, kok om Dava yang jemput Arka? Mama mana?" Arka keluar dari sekolah memasang wajah bingung ketika melihat Dava yang menjemput dirinya.
"Yaudah deh, Arka ikut aja." Arka yang mendengarkan penjelasan Dava, terlihat mengerti dan tak lagi protes. Menggandeng tangan Dava kemudian, dan jalan bersama menuju rumah.
"Om Dava sudah pulang sekolah, ya?" Arka yang berjalan pulang bersama Dava mencoba bertanya pada Dava yang masih memakai seragam sekolahnya.
"Sudah kok, kenapa?" Meski sedikit berbohong pada Arka, Dava tetap menjawab pertanyaan yang Arka ajukan padanya.
"Gapapa, Arka hanya bertanya."
Dava tersenyum canggung mendengar perkataan Arka. Ia sedikit malu karena sempat berbohong padanya. Meski tak semua itu tak ia lakukan sepenuhnya, karena sebelum pulang ia sempat meminta izin pada wali kelasnya.
"Oh iya, Arka hari ini belajar apa saja disekolah?" Tanya Dava mencoba membuat adik sepupunya itu tidak bosan selama perjalanan pulang.
Namun, pertanyaan itu tiba-tiba saja membuat Arka menjadi murung. Dava yang melihat itu jadi terlihat bingung dan merasa ada yang salah.
"Kenapa Arka? Apa disekolah ada sesuatu? Ada yang mengganggu Arka?" Dava memberondong berbagai pertanyaan pada Arka yang masih terdiam.
__ADS_1
Arka yang sedari tadi diam menggelangkan kepalanya pelan.
"Cerita dong sama om, siapa tau om Dava bisa bantu Arka." Dava beralih jongkok di depan Arka yang menunduk.
....
Perasaan itu seakan sampai pada Airin, yang merupakan ibu kandung dari Arka. Ia yang saat ini masih berada di rumah sakit, merasakan perasaan yang tidak nyaman.
"Kenapa Rin?" Tanya bi Rahma pada Airin yang terlihat cemas.
"Nggak tau, bik. Perasaan Airin kok jadi nggak enak begini, ya?" Jawab Airin sembari memegang dadanya yang entah mengapa merasa tak nyaman.
"Minum air putih dulu, supaya kamu lebih enakan." Bi Rahma membawakan air putih dan membantu Airin duduk agar bisa meminum minumanya.
"Terimakasih, bi." Airin yang sudah menyenderkan tubuhnya memulai meminum air yang dibawakan oleh bibinya.
"Gimana? Sudah enakan sekarang?"
"Sudah lumayan, bi. Tapi perasaan Airin masih belum nyaman seperti ada yang mengganjal." Airin memegang dadanya yang merasakan firasat tak enak.
"Mungkin ini hanya perasaan kamu saja."
"Oh iya, bi. Apa Arka sudah pulang? sekolahnya?"
"Tadi bibi telfon pamanmu dan dia bilang kalau Dava yang jemput Arka ke sekolah, karena linunya pamanmu kumat lagi, jadi nggak bisa jemput Arka. Makanya minta tolong pada Dava, dan untungnya Dava bisa karena pulang cepat hari ini." Jelas bi Rahma.
"Oh gitu," Airin terlihat lega mendengarnya.
"Bi, apa bibi sudah ketemu sama dokternya?" Tanyanya kemudian.
"Sudah sih, kenapa?"
"Gapapa sih, aku cuma mau pulang saja dari rumah sakit, karena Airin menghawatirkan Arka yang ada dirumah, takut dia mencari Airin nanti." Ujar Airin yang ingin segera keluar dari rumah sakit.
"Kamu kan masih belum sehat! Tuh, wajah kamu saja masih pucat. Kalau pingsan lagi, gimana?" Bi Rahma tidak menyetujui keputusan Airin yang hendak keluar dari rumah sakit, mengingat kondisinya yang masih belum seratus persen pulih.
"Airin beneran sudah gapapa kok, bi. Meski wajah Airin masih pucat, tapi kondisi Airin jauh lebih baik dari tadi, jadi bibi tidak usah khawatir lagi."
__ADS_1
Bi Rahma hanya bisa menghela nafas panjang melihat kegigihan Airin yang sangat ingin pulang kerumah.