
Nyeri, sakit, hingga sulit untuk di ungkapkan lewat kata. Berita yang baru saja ia dengar begitu menghuncam hatinya. Airin tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya mendengar orang yang selama ini ia tunggu ternyata telah mengumumkan pernikahanya. Namun bukan dengan dirinya, melainkan bersama dengan perempuan lain.
Tergolek lemas pada kenyataan yang baru saja ia dengar. Ia tak menyangka bahwa akan sesakit ini setelah mengetahui beritanya, bahkan ketika hatinya menolak untuk percaya, namun fakta di depanya terasa begitu nyata untuk di elak. Langkah pelan dan terlihat tak bersemangat telah memperjelas rasa kesedihanya, karena merasa telah mendapat penghianatan untuk yang kedua kalinya dari orang yang dulu sangat ia percaya.
"Apa harusnya waktu itu aku tarik kerah bajunya, ya!" Ucapnya ketika mengingat pertemuan pertamanya bersama Darren setelah sekian lama. Ia membuat ekspresi marah dan juga kesal ketika teringat akan hal itu.
Namun, karena terlalu terkejut, ia bahkan tak bisa menatap wajah Darren yang tiba-tiba ada di depanya dan yang bisa ia lakukan saat itu hanyalah menangis. Tubuhnya pun seolah terpaku pada kenyataan setelah mengetahui bahwa Darren tak lagi mengenali dirinya. Membuat hatinya semakin terasa sakit ketika mengingatnya.
"Aku bahkan belum bisa cerita sama bibi padan paman soal aku yang bertemu dengannya, dan sekarang apa yang harus aku lakukan?" Ucap Airin ketika mengingat soal bibi dan pamanya yang sangat berharap bisa bertemu dengan ayah dari anaknya.
Bola matannya kini terlihat basah karena tetesan air matanya, terus keluar hingga membasahi kedua pipinya. Namun, karena ia teringat akan Arka dan Rendi yang tengah menunggu dirinya di dalam, membuat Airin segera menghapus air matanya. Ia menatap wajahnya pada kaca di depanya, diam menatap dalam kesedihan yang tak lagi bisa ia bendung. Dengan sentuhan yang lembut ia mulai menghapus air matanya dengan sedikit basuhan air.
"Oh, kamu sudah keluar. Syukurlah, ku kira kamu kenapa-napa tadi." Nada kelegaan terpancar dari Rendi ketika melihat Airin, ia sejatinya hendak menyusul Airin bersama Arka, karena melihat Airin yang tak kunjung balik dari kamar mandi.
"Kak Rendi sama Arka mau kemana? Ke kamar mandi juga?" Tanya balik Airin ketika berpapasan dengan Rendi ketika ia balik dari arah kamar mandi.
"Iya, tapi bukan aku yang mau ke kamar mandi. Tadi tuh aku sama Arka mau nyusulin kamu, karena kamu lama disana, jadi takutnya kamu kenapa-napa tadi." Jelas Rendi.
"Maaf ya kak, tadi kamar mandinya agak penuh, jadi lagi nunggu gantian aja." Ucap Airin sedikit berbohong. Ia mengelus lembut pipi anaknya yang tengah digandeng oleh Rendi.
"Oh gitu, aku ikut lega dengarnya. Kamu beneran gak kenapa-napa, kan?" Tanya Rendi mencoba memastikan.
"Iya, mama gak kenapa-napa, kan?" Timpal Arka yang ikut menghawatirkan kondisi Airin.
Senyum Airin membuncah ketika melihat sang anak menghawatirkanya. "Iya, mama gapapa kok." Jawabnya menenangkan anaknya dengan sentuhan lembut dari tanganya pada puncak kepala anaknya.
__ADS_1
"Yaudah, kita pulang yuk.." Ucapnya lagi dengan melihat pada Arka dan juga Rendi.
"Yukk.." Jawab Arka dengan semangatnya, hingga membuat Airin dan Rendi tersenyum melihat tingkahnya.
...
Meski sejatinya hatinya belum bisa berdamai akan kenyataan yang baru saja ia dengar, Namun Airin nampaknya tak ingin memperlihatkan kesedihanya pada sang anak juga pada Rendi yang masih bersamanya saat ini. Ia tak akan sanggup untuk menceritakan masalahnya, karena sejatinya hatinya masih belum siap untuk mengungkapkanya.
"Ma, nanti dirumah Arka juga mau dong dimasakin makanan yang seperti direstauran itu." Ucap Arka yang terlihat cukup gembira setelah pulang dari makan malam mereka.
"Arka suka ya sama makanan tadi?" Tanya Rendi yang menyahuti perkataanya dari bangku depan mobilnya.
"Iya, Arka suka, soalnya makanannya enak banget." Jawab Arka dengan antusiasnya, membuat Airin dan Rendi yang duduk di depanya tersenyum melihat tingkahnya.
"Yaudah nanti mama masakin deh, meski mama gak yakin sih bakal seenak makanan di restauran tadi." Timpal Airin menjawab permintaan sang anak.
"Wah, sepertinya Arka begitu menyayangimu ya? Sepertinya dia begitu suka sama masakan yang kamu buat." Timpal Rendi yang ikut memperhatikan kedekatan Arin dan Arka.
Airin tersenyum simpul mendengar perkataan Rendi. "Iya, aku sendiri kadang masih suka bingung melihat Arka yang hanya suka makanan yang aku buat." Ucap Airin yang masih heran dengan sikap anaknya yang begitu menyukai masakannya.
"Bagus dong, itu artinya masakan kamu enak sampai Arka selalu memuji dan membanggakan kamu begitu." Puji Rendi pada Airin.
"Entah kenapa aku jadi agak malu setiap kali dia memuji masakanku. Tapi, disatu sisi aku juga merasa senang." Ucap Airin tersenyum melihat anaknya yang kini tengah duduk dibelakangnya.
"Wah, sepertinya aku iri deh sama Arka, karena aku juga mau mencicipi masakan yang kamu buat." Ucap Rendi sedikit bercanda sambil terus fokus menyetir.
__ADS_1
"Jangan deh, aku gak yakin kalau kak Rendi bakal suka. Sebenarnya aku tidak percaya diri sama masakanku sendiri lho." Kata Airin sedikit tak percaya diri dengan masakanya sendiri.
"Kenapa begitu? Arka kan sudah bilang kalau masakan yang kamu buat itu selalu enak, berarti masakan kamu memang benar enak dong." Ucap Rendi yang mencoba menghibur Airin yang merasa tak percaya diri dengan masakanya sendiri.
"Emm.., gitu ya? Aku agak malu deh, tapi terimakasih lho kak sudah memuji masakanku, padahal kak Rendi kan belum pernah mencobanya." Kata Airin sedikit tersipu.
"Karena itu, lain kali aku harap bisa mencoba masakan kamu. Semoga kesempatan itu ada ya?"
"Ok deh, aku juga akan menunggu kesempatan itu datang."
Keduanya pun tersenyum bersama. Sejenak Airin melupakan rasa kesedihanya yang sempat melanda dirinya. Ia terlihat meikmati momen bahagianya bersama Arka dan Rendi.
...
Dari tempat yang berbeda, Darren tak bisa menahan rasa kesal dan amarahnya pada berita yang sudah terlanjur keluar. Meski beritanya sudah ditarik, namun masih ada yang berkomentar akan isu pernikahanya di komunitas online.
"Jadi gimana sekarang?" Tanya Lucas pada Darren yang tengah merengut kesal.
"Besok aku mau bertemu sama kakek dulu, jadi begini dulu saja, sekarang lu mending pulang sana, gue mau sendirian hari ini." Jawabnya dengan perasaan kesalanya.
"Main usir aja, padahal udah dibantuin juga." Kesal Lucas pada Darren. Namun, ia tak mempermasalahkanya lagi, mengingat posisi Darren saat ini yang sedang marah karena berita pernikahanya diturunkan tanpa sepengetahuannya.
"Yasudah gue pulang nih, kalau ada apa-apa telpon, ok!" Ucap Lucas yang kemudian beralih pergi dari apartment milik Darren, dengan meninggalkan Darren sendirian di dalamnya.
Suasana langsung berubah sepi begitu Lucas pergi, namun Darren tetap pada tempatnya.
__ADS_1
"Sial, kenapa dadaku jadi sakit begini?" Ucapnya yang tiba-tiba merasakan nyeri pada dadanya.