
Ke esokan harinya, Arka masih bungkam dan tetap tidak mau mengatakan apapun pada Airin waktu terbangun di pagi hari. Airin yang menunggu anaknya bicara, hanya bisa menghargai sikap anaknya yang masih belum mau mengatakan apa yang sedang terjadi padanya. Meski hatinya penuh dengan rasa penasaran dan segera ingin mengetahui apa yang sedang terjadi pada anaknya.
"Hari ini Arka akan di antar sama om Dava ke sekolah, nggak apa-apa, kan?" Ucap Airin saat memakaikan seragam pada tubuh anaknya.
"Iya, gapapa kok." Jawab Arka yang tak merasa keberatan.
"Pintarnya anak mama." Airin merasa bangga sembari mengusap lembut puncak kepala anaknya. Arka ikut tersenyum dengan sikap hangat dari mamanya.
"Arka masih tidak mau mengatakannya ya sama mama, soal apa yang terjadi disekolah?" Airin terlihat masih berusaha untuk mengaja anaknya bicara dan lebih terbuka dengannya.
Arka kembali diam dengan ekspresinya yang seketika berubah murung ketika Airin menanyakan kembali soal pembicaraan mereka kemarin malam.
"Baiklah, mama tidak akan memaksa Arka untuk menceritakannya sekarang, tapi Arka janji ya sama mama jika Arka sudah siap untuk bicara, maka Arka akan mengatakannya sama mama tentang apa yang terjadi. Gimana sayang, Arka bisa kan nanti mengatakannya sama mama?" Ujar Airin mencoba meyakinkan anaknya kembali.
"Iya." Dengan nada pelan dan sempat terdiam cukup lama, Arka mengangguk kecil menjawab keinginan Airin.
"Pintarnya, sekarang ayo keluar untuk sarapan sebelum berangkat sekolah." Airin menuntun anaknya keluar kamar. Pembicaraan mereka pun berakhir dan beranjak keluar dari kamar untuk sarapan pagi bersama.
Sepertinya memang benar ada sesuatu yang terjadi dengan anakku. - Batin Airin memikirkan kembali sikap anaknya.
Airin mencoba bertanya pada Dava setelah menyelesaika sarapannya. Ia menghampiri Dava yang ada dikamarnya dan menanyakan perihal sikap Arka yang sedikit aneh setelah pulang dari sekolah, mengingat Davalah yang menjemput Arka waktu pulang sekolah kemarin.
"Dav, kak Airin mau bicara sebentar sama kamu, soalnya ada yang mau kakak tanyakan sama kamu, bisa kan?." Ucap Airin menghampiri Dava yang sedang menyisir rambutnya dikamar.
Dava seketika menoleh ke arah Airin. "Bisa sih, memangnya kakak mau tanya soal apa sama Dava? Apa ini soal Arka?" Ucapnya kemudian.
"Iya, ini soal Arka. Kamu tau sesuatu nggak apa yang terjadi sama Arka kemarin?." Tanya Airin.
Dava mengernyitkan dahinya, mencoba memahami pertanyaan Airin.
"Sesuatu yang terjadi kemarin? Apa ya?" Ucapnya bingung.
__ADS_1
"Kemarin kamu yang jemput Arka waktu pulang dari sekolah, kan? Apa saat itu kamu nggak merasakan sesuatu, gitu?"
"Iya sih, memang Dava yang jemput Arka, tapi sepertinya nggak ada sesuatu sama Arka deh saat itu. Memangnya yang kak Airin maksud itu apa?" Jawab Dava yang masih sedikit bingung.
"Coba kamu ingat-ingat deh, apa kamu nggak merasakan sesuatu saat kamu menjemput Arka kemarin? atau ada perubahan gitu sama sikapnya Arka setelah dia pulang dari sekolah? Mungkin aja dia ada cerita sesuatu gitu sama kamu?"
"Emm.., apa ya? sepertinya nggak ada deh, cuma emang kemarin anaknya jadi lebih sensitif aja karena kak Airin nggak ada dirumah." Balas Dava setelah terdiam memikirkan jawaban dari pertanyaan Airin.
"Kalau pas saat Dava menjemputnya sih, Arka emang terlihat murung dan sedikit nggak semangat gitu, apalagi saat Dava tanya soal gimana kegiatan sekolahnya hari itu." Sambungnya lagi.
Mendegar jawaban Dava, Airin pun terdiam. "Kira-kira kamu tau nggak, alasan kenapa Arka jadi murung gitu?" Tanyanya lagi pad Dava.
"Nggak tau sih, cuma saat aku tanya gimana kegiatan sekolahnya sama Arka, wajah Arka tiba-tiba langsung berubah murung, dan kelihatan sedih gitu. Dan akhirnya Dava pun nggak tanya lagi soal itu sama Arka." Jelas Dava.
"Ini sih, benar-benar ada sesuatu yang terjadi sama Arka." Airin memilih duduk di atas ranjang milik Dava sembari memasang wajah panik.
"Memangnya Arka kenapa kak?" Tanya Dava.
"Memangnya Arka nggak cerita sama kak Airin alasannya?"
"Enggak, karena itu kakak kesini dan bertanya sama kamu sekarang, karena siapa tau kamu tau sesuatu soal ini."
"Tumben deh, biasnya Arka selalu jujur sama kakak." Ucap Dava merasa heran dengan sikap Arka.
"Itu juga yang kak Airin pusingkan, karena tidak biasanya Arka begini. Dia tetap diam meski kakak mencoba untuk menanyakanya berulang kali."
"Wah sulit juga ya, tapi, mungkin saja alasanya nggak mau cerita karena nggak mau kak Airin sedih dan kecewa."
"Maksud kamu gimana?"
"Emm... gimana ya jelasinnya. Mungkin saja dia ada berantem sama temannya, tapi nggak mau kak Airin sedih makanya nggak mau menceritakan sama kakak."
__ADS_1
"Dia juga bilang seperti itu kemarin, kalau dia mengatakanya, nanti akan membuatku sedih, makanya dia memilih diam sampai sekarang. Tapi, tetap saja apa sampai tidak mau bicara seperti itu, aku kan jadi khawatir kalau terjadi apa-apa sama dia. Apalagi ini yang pertama kalinya Arka bersikap seperti ini." Ungkap Airin yang merasa khawatir terhadap sikap anaknya.
"Wah, Dava juga nggak tau kak soal itu, mungkin nanti akan coba Dava cari tau deh soal ini, Dava juga akan coba tanyakan sama Arka waktu mengantarnya nanti ke sekolah." Kata Dava mencoba membantu Airin.
"Iya, tolong ya, coba kamu ajak bicara Arka, karena dia tidak mau mengatakanya sama kakak, waktu kakak bertanya sama dia. Jadi mungkin saja nanti dia bisa lebih terbuka sama kamu dan menceritakanya sama kamu soal ini." Ujar Airin yang penuh harap pada Dava.
"Ok, nanti Dava coba tanya sama anaknya. Semoga kali ini dia mau menceritakannya sama Dava."
....
Namun, kenyataanya Arka tetap memilih diam meski Dava sudah menanyakan dengan hati-hati dan berjanji tidak akan menceritakanya sama Airin.
"Arka sedang di ganggu sama teman Arka disekolah?"
Arka hanya menggelang kecil dengan ekspresinya kembali murung dan sedih.
"Terus kenapa dong, apa ada sesuatu disekolah? Ayo cerita sama om Dava, nanti om Dava bisa bantu lho."
"Seriusan om Dava bisa membantu Arka?" Akhirnya Arka memberikan suaranya.
"Ya.., iya dong, om Dava kan kuat." Meski agak ragu dengan kalimatnya sendiri, namun Dava mencoba meyakinkan Arka.
"Emm.., tapi om janji ya jangan bilang sama siapa-siapa?" Ucap Arka pada Dava.
"Sama mama juga?"
Arka mengangguk kecil menjawab pertanyaan Dava.
"Baiklah, om Dava janji." Ujar Dava yg membuat janji jari kelingking bersama Arka.
Arka pun lalu membisikan sesuatu ditelinga Dava untuk menceritakan cerita sebenarnya.
__ADS_1
"Ah... gitu ya. Kalau ini sih susah juga bilangnya ke kak Airin." Dava sedikit terkejut dengan bisikan Arka dan faham betul pada sikap Arka yang tak mau menceritakannya pada mamanya.