Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
47. Kenangan Masa Lalu


__ADS_3

Rendi yang mendengarnya hanya bisa diam, dan terlihat memikirkan sesuatu. Pandangan yang lurus membuatnya kembali terfikirkan kenangan masa lalunya dulu bersama Airin.


"Hari ini aku mau kita mengadakan rapat lagi, untuk membahas soal persiapan acara ulang tahun sekolah kita nanti, bagaimana menurut kalian?." Ucap Rendi meminta pendapat dari anggota osis lainya.


"Aku sih nggak ada masalah, kak. Tapi, menurutku lebih bagus kalau kita bahas soal ini setelah pulang sekolah nanti, kalau jam istirahat begini, waktunya terlalu singkat." Timpal Airin yang juga bagian dari osis, mencoba memberikan pendapatnya.


"Kamu benar, sebaiknya memang begitu. Kalau kalian gimana? Apa kalian setuju soal ini?" Rendi yang sebagai ketua osis, terlihat menyetujui pendapat Airin dan mencoba meminta pendapat dari anggota lainya.


"Kita sih setuju aja, apalagi pembahasan rapat kali ini bakal lebih panjang, jadi memang sebaiknya kita bahas sepulang sekolah saja. Lagi pula kita juga masih punya banyak waktu luang sepulang sekolah." Ucap seorang anggota yang ikut menyetujui usulan itu yang juga mendapat anggukan setuju dari anggota lainnya.


"Ok, kalau begitu kita kumpul lagi disini sepulang sekolah. Sampaikan juga sama anggota yang tidak bisa hadir sekarang." Rendi pun menutup pertemuan singkat itu dan membubarkan anggotanya.


Satu persatu keluar dari ruangan pertemuan, termasuk Rendi dan Airin yang juga ikut keluar bersama.


"Kamu sudah menyusun proposal buat acara nanti?" Tanya Rendi pada Airin yang berjalan beriringan denganya.


"Sudah kak, aku sudah menyusunnya. Apa kak Rendi mau lihat sekarang?" Ujar Airin yang hendak mengambil kertas yang kebetulan sedang dibawa.


"Nanti saja sekalian kita bahas dirapat nanti." Balas Rendi yang menolak untuk melihat isi laporan yang dibuat oleh Airin.


"Ok," Airin mengangguk mengerti dan memasukan kembali kertas laporan yang ia bawa.


"Kamu cepat juga ya menyiapkan susunan buat acara nanti? Padahal aku baru memintanya lusa kemarin lho." Puji Rendi pada Airin yang sedang berjalan bersamanya.


"Iya, soalnya Airin merasa kalau lebih cepat disiapkan, kedepanya jadi lebih mudah." Balas Airin.


"Kamu memang anak yang rajin." Puji Rendi dengan tersenyum ke arah Airin dan Airin pun ikut membalas senyuman itu.


....


Ingatan dan kenangan masa lalu itu kembali teringat pada Rendi yang kini sedang berjalan bersama papanya. Ia tersenyum simpul ketika mengingat kembali kedekatanya bersama Airin saat disekolah dulu.


"Padahal papa berharap bisa membuat Airin datang kerumah lagi." Ucap papa Rendi seperginya dari ruangan Airin.


Rendi menoleh ke arah papanya setelah sempat bernostalgia sedikit pada masa lalunya dulu dengan Airin.

__ADS_1


"Papa ingin mengajak Airin kerumah? Kenapa?" Ucap Rendi sedikit terkejut dan berbalik bertanya pada papanya.


"Ya gapapa, memangnya perlu alasan buat mengundangnya kerumah?"


"Perasaan dulu Airin cuma dua kali datang kerumah? Itu pun sudah lama banget, kenapa papa sampai sebegitunya?"


"Tiga kali, kamu lupa kalau yang terakhir dia datang lagi kesini sebelum kamu sekolah ke luar negeri?" Septian mengoreksi perkataan anaknya.


Rendi membuat ekspresi bingung dan mencoba mengingat kembali ingatan soal Airin yang datang kerumahnya sebelum dirinya pergi keluar negeri untuk lanjut kuliah.


"Oh, saat hari kelulusan itu?" Rendi yang sempat bingung, akhirnya bisa mengingat kedatangan Airin kerumahnya.


"Benar juga, dia sempat datang kesini lagi ya sebelum akhirnya kita berpisah lama dengannya." Rendi tersenyum mengingat kenangan itu.


"Benar, dan sebenarnya setelah itu, papa sedikit tertarik dengannya, mamamu juga berfikiran yang sama dengan papa. Berharap kamu bisa punya pendamping seperti dia, karena anaknya yang pintar, cantik, dan dia juga anaknya ramah, hanya saja sayang Airin terlanjur pergi dan sekarang juga sudah punya anak."


Lagi-lagi Rendi terdiam mendengar ucapan papanya.


"Papa sama mama yakin suka sama Airin?" Ucapnya kemudian.


"Rendi juga suka sama Airin, hanya saja.." Ia sedikit ragu untuk melanjutkan kalimatnya


"Kenapa? Apa ini karena Airin sekarang sudah punya suami dan anak?" Septian mengira anaknya memiliki perasaan lain dengan Airin yang sudah berkeluarga.


"Apa papa dan mama akan setuju jika nanti Rendi memilih bersama dengan seorang perempuan.. yang sudah memiliki anak?" Ujar Rendi menatap wajah papanya.


"Maksudnya?" Septian, menatap bingung wajah anaknya.


"Bukan apa-apa, sebaiknya kita lanjutkan saja perjalannya." Ucap Rendi yang justru tak menjelaskan maksud dari ucapannya sendiri dan memilih untuk segera melupakannya. Melihat reaksi papa dan keraguan dari pertanyaanya, membuatnya mengurungkan niatnya untuk berbicara jujur dan terbuka pada papanya.


....


Di tempat yang berbeda, sepeninggal Rendi dan papanya yang berkunjung kedalam ruangan inap miliknya, Airin yang kini memilih mendudukan tubuhnya terlihat memikirkan ucapan Rendi dan papanya soal dirinya yang harus terus dirawat di rumah sakit.


"Gimana ini, bi? Kalau Airin terus dirawat disini, pikiran Airin pasti akan terus ke Arka?" Ucapnya meminta pendapat pada bibinya.

__ADS_1


"Apa Arka kita ajak kesini saja? Tapi kalau membawa anak kecil ke rumah sakit, takutnya dia malah ikutan sakit lagi?"


"Kita bilang saja bi ke dokter, Airin ingin pulang dari sini." Ucap Airin.


"Kamu yakin soal itu? Mukamu masih pucat begitu?" Bi Rahma terlihat tak yakin pada keputusan Airin, mengingat kondisi Airin yang belum terlihat baik.


"Airin lebih baik memilih berobat jalan aja, bi. Kalau disini hati Airin tidak tenang terus, karena terus memikirkan Arka yang ada dirumah." Ungkap Airin.


"Yasudah, nanti kita bilang lagi saja sama dokternya. Nanti juga beliau bakal kontrol kamu lagi kesini." Ujar bi Rahma yang manut pada keinginan keponakannya itu.


"Iya." Airin menghela nafas lega.


Apa yang membuatnya terus merasa tidak enak? Perasaanya terus saja merasa gelisah dan tidak tenang sejak dirawat di dalam rumah sakit.


"Aku terus merasa tidak tenang sedari tadi, kali ini benar-benar tidak ada hal yang buruk, kan?"


Airin yang merasa tidak tenang, mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk tetap dalam kondisi yang jernih dengan tidak memikirkan hal buruk yang belum terjadi.


....


"Aku mau ketemu sama mama.." Arka menangis karena tidak melihat keberadaan Airin dirumah, hingga membuat kepanikan pada Dava dan ayahnya yang sedang menjaganya dirumah.


"Duh gimana ini?" Dava yang mendapat wejangan untuk menjaga Arka, dibuat kebingungan oleh sikap Arka yang merengek minta bertemu Airin.


"Arka kalau tidur siang, nanti mama pasti datang. Jadi, Arka sekarang tidur dulu, ya?" Dava mencoba membujuk Arka yang sedang menangis.


"Arka nggak mau tidur, Arka mau ketemu sama mama." Arka menolak ajakan Dava yang memintanya untuk tidur.


"Katanya kalau anak yang baik dan penurut, akan disayang sama mama lho, jadi kalau Arka tidur sekarang, mama pasti senang melihatnya, karena mama Airin bisa lihat Arka yang bisa tidur sendiri."


Arka yang sedang menangis sedikit terbujuk, membuat Dava yang sedari merasa bingung terlihat lega.


"Baiklah, Arka akan tidur." Ucap Arka yang kini sudah berhenti menangis.


"Ok, om akan temani sampai Arka tidur."

__ADS_1


__ADS_2