Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
66. Arka Sudah Tau?


__ADS_3

Arka yang biasanya selalu di ajarkan oleh Airin untuk berhati-hati pada orang asing yang baru dikenalnya, namun entah mengapa ia begitu nyaman mengobrol bersama orang asing yang tiba-tiba datang menghampirinya saat sedang menangis sendirian ditaman. Ia tak berusaha menjauhinya seperti yang biasa ia lakukan setiap kali bertemu orang asing.


"Oh iya, om rasa kamu sepertinya harus kembali ke sekolah, om yakin teman dan guru kamu pasti sedang mencari kamu sekarang."


"Arka nggak mau balik ke sekolah." Jawab Arka yang terlihat enggan untuk kembali.


"Kenapa tidak mau kembali? Nanti kamu dicariin lho."


"Soalnya, Arka masih mau mengobrol dengan om."


"...."


Ada senyum canggung yang diperlihatkan orang tersebut ketika Arka mengatakan hal itu padanya.


"Oh ya? Om jadi senang mendengarnya, tapi Arka tetap harus kembali ke sekolah, agar teman-teman dan guru Arka tidak khawatir lagi." Ujarnya mencoba membujuk Arka untuk kembali ke sekolahnya.


Arka tak langsung menjawab, ia sempat terdiam dengan ekspresinya yang sangat enggan untuk pergi.


"Apa om besok beneran akan datang ke sekolahnya Arka?" Ucapnya kemudian dengan sedikit ragu-ragu.


"Iya, ini karena om sudah terlanjur berjanji sama kamu, karena itu om pasti akan datang ke sekolahnya Arka besok."


"Beneran?" Arka tersenyum gembira mendengarnya dan mencoba untuk memastikan lagi apa yang di dengarnya itu.


"Iya, beneran." Jawab orang tersebut meyakinkan Arka pada janji yang dibuatnya.


"Jadi, besok om beneran bisa membuat Arka bertemu sama papanya Arka?" Ucap Arka penuh semangat.


"Iya, apa kamu senang?"


"Iya, Arka seeenaaang banget, karena akhirnya Arka bisa bertemu dengan papa." Ujarnya yang tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


Melihat ekspresi bahagia dari Arka, Orang itu hanya bisa mengamati ekspresi wajahnya dengan sesekali ikut tersenyum. Meski raut wajahnya terlihat tenang dan ikut tersenyum melihat Arka, namun ada hal yang ia sembunyikan dibalik senyumanya itu.


"Arka, dimana kamu sayang, ini mama." Panggilan suara dari Airin menghentikan obrolan keduanya.

__ADS_1


"Sepertinya itu suara mama Arka. Apa Arka tidak mau menghampirinya?" Ujar orang itu, pada Arka yang masih terdiam dan tak beranjak dari duduknya.


"Emm...." Arka lagi-lagi terlihat enggan untuk pergi, ia yang biasanya sangat senang saat mendengar suara Airin, namun entah mengapa kali ini terlihat berat untuk menghampiri mamanya.


"Bagaimana kalau Arka samperin mamanya Arka, nanti mamanya Arka khawatir lho!."


Karena Arka masih terdiam, orang itu berusaha membujuk Arka untuk menghampiri mamanya.


"Baiklah, kalau begitu Arka akan pergi. Tapi, om janji akan menemui Arka lagi, ya?" Arka, lagi-lagi mengingatkan janjinya pada orang yang sejatinya baru ia temui itu.


"Iya, om berjanji." Senyumnya mengembang melihat tingkah polos anak kecil di depanya.


Orang itu pun memberikan jari kelingkingnya untuk lebih meyakinkan Arka pada janjinya, dan Arka pun menyambutnya dengan mengaitkan janji kelingkingnya. Keduanya pun akhirnya saling membuat janji dengan saling mengaitkan jari kelingking bersama , membuat Arka akhirnya bisa pergi menghampiri mamanya dengan perasaan lega.


....


"Arka.." Airin segera berlari menghampiri Arka begitu melihat keberadaan anaknya. Ekspresi panik bercampur lega, ia perlihatkan begitu melihat wajah anaknya.


"Ya ampun, sayang, kamu dari mana saja. Kamu membuat mama khawatir tau." Ucap Airin langsung memeluk anaknya dengan penuh kelegaan.


"Kamu kan sudah pernah berjanji sama mama untuk tidak menghilang seperti ini lagi, kenapa sekarang Arka melanggarnya?"


Sambil duduk berjongkok untuk mensejajarkan posisinya pada tubuh anaknya, Airin yang masih khawatir mencoba berbicara dengan menatap wajah sang anak dengan sedikit tegurannya.


"Maaf, Arka janji tidak akan mengulanginya lagi." Arka yang bersalah, hanya bisa menunduk dan tak berani menatap wajah mamanya.


"Membuat janji itu bagus, tapi juga harus bisa bertanggung jawab, artinya Arka harus menepati janji yang Arka buat sendiri, mengerti, kan?!" Ujar Airin kembali memberikan nasehatnya.


"Iya, ma, Arka mengerti."


"Lihat apa yang Arka lakukan, Arka sudah membuat semua orang panik lho, satu sekolah mencari Arka, tidak boleh seperti ini lagi, ya?"


"Iya." Arka mengangguk mengerti dengan ekspresinya yang hanya bisa pasrah mendapat nasehat dan teguran dari mamanya.


"Arka tau, hati mama sakit kalau Arka seperti ini, Arka tidak mau kan melihat mama sakit?" Ujar Airin sembari mengelus lembut wajah anaknya.

__ADS_1


"Iya, Arka tidak mau." Jawab Arka sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalau itu, Arka tidak boleh lagi menghilang seperti ini, biar hati mama tidak jadi sakit seperti ini, mengerti kan!"


"Iya, ma, Arka mengerti, maafkan Arka." Arka memeluk Airin dengan perasaan bersalah.


"Baiklah, mama akan maafkan, tapi mama harap ini yang terakhir kalinya Arka bersikap begini, kalau seperti ini lagi, mama bisa marah sama Arka lho!" Ujarnya memberi wejangan sembari memeluk tubuh anaknya dan mengelusnya lembut.


"Iya, ma." Arka yang berada dalam pelukan Airin, tertunduk lesu mendengar teguran dari mamanya.


"Sekarang apa Arka bisa menceritakaanya sama mama apa yang terjadi disekolah tadi?" Tanya Airin pada hal yang terjadi disekolah sebelum Arka menghilang.


"...." Namun, Arka justru diam dan tak menjawab.


"Arka.." Panggil Airin pada Arka yang diam di dalam pelukannya.


"Arka mengaku salah, nanti Arka akan meminta maaf sama Bima." Ucapnya yang tak menjelaskan kejadianya pada Airin, dengan air mata yang kembali tumpah, Arka hanya bisa mengatakan akan meminta maaf pada teman yang tadi berantem bersamanya.


Melihat anaknya yang tak ingin menjelaskan kronologinya, membuat Airin pun tak bisa memaksanya lebih lanjut.


"Baiklah, lebih baik sekarang kita kembali ke sekolah dulu, soal itu kita bahas nanti lagi, karena sekarang bu guru dan teman-teman Arka sedang mencari keberadaan Arka, jadi harus cepat kembali ke sekolah." Ucap Airin yang memilih mengalah dan tak memaksa anaknya untuk bercerita.


"Iya." Arka menurut dan mengikuti perkataan Airin untuk kembali ke sekolah.


....


Dari jauh, seseorang mengamati dengan jelas kedekatan ibu dan anak yang sedang mengobrol. Ekspresinya seolah merasa aneh ketika melihat kedekatan itu, hingga membuatnya tidak bisa memalingkan wajah pada mereka berdua. Orang tersebut adalah, orang yang sempat mengajak bicara Arka selagi berada ditaman. Ia tak pergi dan masih berada dekat dengan Arka sembari terus menggamatinya.


"Jadi, dia adalah ibu dari anak itu." Ucapnya ketika melihat Airin bersama Arka.


Menatap dengan tatapan serius pada ibu dan anak yang telah pergi, orang itu pun akhirnya memilih pergi dari tempat tersebut. Meninggalkan berbagai pertanyaan baginya, juga jawaban dari apa yang dia cari selama ini.


Meski bersikap sedikit tenang, namun ia tak bisa menyembunyikan rasa sakit dihatinya.


"Kenapa hatiku sakit begini?.." Ucapnya menahan rasa sakit pada hatinya.

__ADS_1


__ADS_2