
"Kak, apa gapapa nih kita makan berdua disini?" Ujar Airin yang merasa tak nyaman berada dalam sebuah restauran mewah bersama Rendi dan anaknya, Arka.
"Gapapa dong, kan aku yang mengajak kalian berdua kesini." Balas Rendi tenang.
Airin tampaknya masih tak bisa tenang meski sudah coba ditenangkan oleh Rendi. Ia berulang kali mencoba memberikan pengertian pada anaknya yang juga ikut bersamanya.
"Om dokter, kita mau makan ya disini?" Tanya Arka yang agaknya dari tadi merasa asing dengan tempat yang dia datangi.
"Iya, apa Arka tidak suka datang kesini?"
"Suka kok, tapi Arka lebih suka sama masakan buatan mama." Kata Arka polos.
Rendi tersenyum mendengarnya. "Oh ya! Kalau begitu lain kali ajakin om Rendi untuk makan masakan mama kamu, ya?" Ujar Rendi menimpali ucapan Arka.
"Ok, nanti Arka ajak. Iya kan, ma!" Jawab Arka dengan semangat sambil menengok ke arah mamanya yang duduk di samping dirinya.
"Iya." Airin menjawab ucapan anaknya itu dengan senyuman.
"Yeay.." Arka bersorak dengan senang mendengar jawaban dari mamanya.
Melihat energi semangat dari anaknya itu telah membuat perasaan tak nyamanya menjadi lebih tenang. Airin jadi bisa lebih santai menikmati makan malamnya bersama Rendi, meski sejatinya pikiranya tak berada dalam ruangan itu. Pertemuanya dengan Darren agaknya masih selalu membayangi pikiranya, karena itu ia masih tak bisa melupakan segala hal yang berkaitan dengan Darren.
Bagai sebuah kebetulan yang tak pernah ia duga sebelumnya, tempat yang saat ini ia datangi adalah tempat yang sama yang di datangi oleh Darren bebarapa waktu sebelumnya. Namun, karena bersilang jalan dan waktu, tak bisa membuat satu sama lain bertemu. Meski sekilabatan kecil Darren melihat sosok Airin yang masuk kedalam restauran dengan pengamatannya yang tak terlalu jelas.
"Kamu lagi gak ada masalah, kan?" Tanya Rendi ketika melihat ekspresi Kinan yang terlihat tak bersemangat.
Airin yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk makananya dengan tak bersemangat, tampaknya cukup terkejut mendengar pertanyaan dari Rendi, ia bahkan menghentikan tanganya yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk makananya dengan tak semangat. Airin menatap Rendi dengan agak canggung, meski senyuman tipisnya ia perlihatkan pada Rendi yang duduk di depanya.
"Ah, aku gapapa kok kak. Kenapa kakak bisa mikir aku lagi ada masalah?" Jawab Airin dengan agak canggung menatap Rendi, lalu mencoba meminum minuman yang ia pesan.
__ADS_1
"Habisnya kamu dari tadi diam dan tidak memakan makanan yang dipesan, seperti ada yang sedang difikirkan dari tadi." Ucap Rendi seolah peka dengan kondisi Airin yang terlihat ada sesuatu.
Airin terdiam mendengar perkataan Rendi, ia tak menyangka bahwa akan sekelihatan itu pada kondisinya yang memang masih belum baik-baik saja.
"Ah, itu.." Airin tampaknya kesulitan untuk mencari alasan yang tepat untuk menjelaskanya pada Rendi.
"Karena ada masalah sedikit sama toko bunga yang sedang aku kelola. Jadi aku terus kepikiran deh sama hal itu, karena itu aku jadi tidak bisa konsen. Maaf, ya kak!" Ujarnya kemudian mencoba membuat Rendi tak lagi curiga akan kondisinya.
"Kamu yakin? Kamu tidak lagi mencoba menyembunyikan sesuatu dariku, kan?" Tanya Rendi mencoba memastikanya lagi.
"Enggak kok, kak. Airin benar-benar gapapa kok." Kata Airin yang kembali meyakinkan Rendi.
"Yasudah kalau kamu bilang begitu, aku tidak akan memaksa kamu untuk cerita. Tapi, kalau kamu benar-benar ada masalah, ceritakan saja padaku, siapa tahu aku bisa membantu, kan?" Kata Rendi yang tak lagi memaksak Airin.
Airin tersenyum tipis, "Iya, Airin janji." Jawabnya.
"Sepertinya itu sulit kak, karena masalah itu sendiri begitu menyulitkan bagi Airin sekarang." Batin Airin yang merasakan kesulitan menghadapi masalahnya sendiri.
...
Hal yang terus mengganggu pikiran Airin tampaknya juga menimpa Darren yang saat ini telah sampai dalam apartemen miliknya bersama Lucas.
Namun, hal yang mengganggu pikiran Darren terlihat berbeda dengan yang dirasakan oleh Airin, karena hal yang begitu mengusik pikiranya adalah tentang perjodohan yang dilakukan dengan sepihak oleh keluarganya sendiri.
"Ini benar-benar akan jadi yang terakhir kali aku datang ke acara semacam itu." Tekan Darren pada kalimatnya dengan ekspresi penuh ketegasan menatap Lucas.
"Apa maksudmu dengan acara seperti itu! Ini kan acara keluargamu sendiri?" Lucas agaknya tak begitu perduli dengan protes dari Darren.
"Bisa serius gak sih, kan lu juga tau kalau gue gak sedeket itu sama keluargaku sendiri!" Kesal Darren pada sahabatnya itu yang terlihat tenang-tenang saja.
__ADS_1
"Ok-ok, akan gue ingat. Tapi, mulai sekarang gue juga akan mundur jadi sekretarismu." Balas Lucas yang seolah tak lagi bisa jadi bawahan Darren.
"Enak aja kalau ngomong." Dengan cepat Darren menolaknya.
"Aku capek sama masalah keluargamu tau, jadi pecat gue sekarang!" Ucap Lucas setengah pasrah dengan sedikit harapan Darren mengabulkan permintaanya.
"Kalimat itu tidak akan pernah keluar dari mulutku, jadi buang jauh-jauh harapan itu." Darren tentu saja menghiraukan harapan Lucas.
"Mau sampai kapan lu nyiksa hidup gue?" Ujar Lucas frustrasi.
"Sampai gue mati." Jawab Darren tenang, lalu beralih ke arah kamarnya menunggalkan seorang diri Lucas yang terus memprotes padanya.
"Sialan.." Umpat Lucas begitu Darren menjauh dari hadapnya.
Ting.. Sebuah pesan tiba-tiba masuk kedalam ponsel miliknya, sesaat setelah ia baru duduk dalam sofa untuk menenangkan dirinya. Lucas mencoba membuka ponselnya untuk mencari tahu isi pesan yang masuk kedalam ponsel miliknya.
"Pesan dari mana ini?" Gumamnya sembari membuka kode ponselnya.
Matanya membulat lebar, begitu melihat isi pesan yang ia baca.
"Gila.." Ucapnya dengan nada yang tampak kaget, dengan ekspresi yang juga terkejut.
"Wah, parah." Lucas bahkan sampai bangkit dari tempat duduknya, begitu melihat isi berita yang ia lihat. Matanya beralih menatap ke arah kamar milik Darren dengan tatapan penuh simpati.
"Ini yang gue takutin dari tadi, gak mungkin si cewek itu tenang-tenang aja." Gumamnya mencoba menyelesaikan masalah yang di alami oleh atasanya, yang juga sahabatnya itu.
Tanpa menunggu arahan dari Darren, atau menunjukkan terlebih dahulu pada Darren. Lucas yang kebetulan adalah sekretaris Darren, dengan cekatan mencoba menyelesaikan permasalahan yang sedang di alami oleh Darren. Dan hal pertama yang ia lakukan adalah dengan mencoba menghubungi wartawan yang ia kenal, untuk memastikan beritanya benar apa tidak.
"Wah gila, langsung rame." Lucas terlihat kewalahan dengan berbagai tanggapan yang dilontarkan oleh orang-orang terdekatnya.
__ADS_1
Ia berkacak pinggang dengan ekspresinya yang terlihat tak tenang, mencoba mencari solusi yang tepat untuk meredam berita yang sudah terlanjur keluar itu.
"Ah.., gue samperin dia dulu aja, deh."