Masih Berharap Dia Kembali?

Masih Berharap Dia Kembali?
70. Tampil Bersama


__ADS_3

"Itu.., ah tadi memang ada sedikit pertengkaran antara Arka dan teman-temannya." Dengan sedikit berhati-hati dan ragu, bu Citra pun akhirnya memberikan balasannya pada Darren selaku papa dari Arka.


"Kalau sampai membuat anak saya menangis seperti ini bukankah masalah ini cukup serius dan tidak boleh dibiarkan begitu saja?"


Bu Citra terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Bian yang sedikit tajam menatapnya. Ia jadi sedikit membeku ketika melihat ekspresi yang diperlihatkan oleh Darren.


"Maafkan kami pak, saya sebagai wali kelas Arka akan bertanggung jawab pada permasalahan ini dan akan mencari solusinya agar hal seperti ini tidak akan terjadi kembali dikemudian hari." Jelas bu Citra.


"Memangnya cara apa yang akan anda lakukan pada anak yang dengan sengaja membully anak saya hingga menangis seperti ini? Terlebih bagaimana cara anda menyikapi kejadian ini untuk para orang tua pelaku yang justru terlihat mendiamkan perilaku anaknya?"


Darren membuat suasana seketika hening dan tegang, teman-teman Arka yang tadi sempat mengganggunya pun ikut takut melihat kemarahan Darren, karena Darren menatap dingin pada semuanya, tak terkecuali untuk para orang tua teman-teman Arka yang sedari tadi hanya cuek melihat sikap anaknya yang tengah mengganggu anaknya, kini hanya biaa diam membisu karena kemarahan Darren.


"Maaf, kalau saya merusak suasana, tapi saya hanya tidak ingin melihat anak saya diperlakukan seperti ini lagi." Ujarnya sembari terus menggendong Arka di dalam pelukannya.


Acara pun sejenak tertunda dengan kemarahan Darren yang melihat anaknya terus menangis bahkan tak mau melepaskan pelukannya.


"Saya juga melihat hal ini kemarin, anda sebagai wali kelas harus bisa memberikan sanksi bagi anak yang tidak bisa menghargai temanya, teelebih pada orang tua yang justru mendiamkam sikap buruk anaknya." Ujar Darren yang masih terlihat marah.


"Baik, pak. Maafkan keteledoran saya sebagai wali kelas, saja berjanji hal seperti ini tidak akan terulang kembali." Bu Citra terus meminta kemurahan hati Darren yang terlihat masih marah.


"Saya terima permintaan maaf anda, tapi saya tidak bisa membiarkan permasalahan ini berlalu begitu saja, karena itu.. saya harus bertemu dengan kepala sekolah anda." Ucap Darren yang tak ingin melepaskan begitu saja permasalahn anaknya.


"Baik, akan saya antarkan anda pada kepala sekolah kami." Balas bu Citra yang hanya bisa menuruti kemauan Darren selaku wali murid yang anaknya sedang dirugikan dan disakiti.


....


Meski acara sempat tertunda karena kemarahan Darren yang tak terima dengan kondisi anaknya, namun acara tetap dilanjutkan seperti semula, bersama Darren dan Arka yang ikut bergabung setelah Darren berhasil membujuk Arka yang sejak tadi masih terus menangis dan tak mau melepaskan pelukannya.


"Arka tidak mau ikut teman-teman lainya naik ke atas panggung?" Ujarnya pada sang anak yang terus memeluk tubuhnya.


"Arka..., lihat papa deh, coba lihat teman-teman Arka yang saat ini naik ke atas panggung bersama ayahnya, apa Arka tidak mau naik ke atas panggung itu bersama papa?" Ujarnya mencoba membujuk Arka.

__ADS_1


Namun, Arka tetap diam dan tak merepon ucapannya, hingga membuatnya serba susah. Darren yang baru pertama kali mengalami kejadian seperti itu, sempat dibuat bingung dan merasakan perasaan sulit dalam menghadapi sikap anak kecil yang sedang mengambek.


"Apa Arka marah sama papa?" Masih dalam gendonganya, Darren mencoba mengajak Arka bicara.


Namun, Arka hanya meresponya dengan menggelengkan kepalalanya.


"Papa kan sudah ada disini, apa Arka tidak mau memperlihatkan wajah Arka pada papa? Padahal papa ingin melihat wajah Arka lho!"


Arka yang sedari tadi terus menyembunyikan wajahnya, akhirnya mencoba memperlihatkan pada Darren, dan hal itu tentu saja membuat Darren tersenyum lega, karena berhasil membujuk anaknya.


"Jagoan kan harus kuat, kalau menangis begini kan jadi tidak terlihat keren." Ujar Darren sembari menyeka air mata pada kedua pipi anaknya.


"Papa beneran papanya Arka, kan?" Ucap Arka yang akhirnya memberikan suaranya.


"Iya, benar, papa adalah papa kandunya Arka." Balas Darren tersenyum menatap putranya itu.


"Apa papa akan pergi lagi dari Arka?" Tanya Arka.


"Tidak, papa tidak akan pernah pergi dari Arka lagi." Jawab Darren menatap wajah putranya dengan ekspresi penuh rasa sayang.


"Beneran? Papa tidak bohong, kan?"


"Iya, papa tidak bohong, kalau papa bohong Arka boleh marah atau memukul papa."


"Arka tidak mau memukul papa, Arka hanya ingin terus bersama papa saja." Ucapnya dengan muka polosnya.


"Baiklah, papa janji akan terus bersama Arka dan tidak akan meninggalkan Arka lagi."


Obrolan itu, membuat suasana Arka kembali ceria dan bersemangat kembali.


....

__ADS_1


Bersama teman-temanya, Arka pun kembali mengikuti acara sekolahnya yang mewajibkanya untuk tampil bersama ayahnya di atas panggung. Acara yang menampilkan penampilan bersama ayah masing-masing dia atas panggung, dan Arka memilih menyanyi dengan Darren di atas panggung.


Meski agak sedikit canggung saat melakukanya, Darren yang tak ingin membuat anaknya kecewa, mau tidak mau akhirnya ikut melakukannya.


"Apa Arka senang tampil bersama papa?" Tanya Darren setelah turun dari atas panggung.


"Iya, Arka senang banget." Jawab Arka yang kali ini sudah terlihat baik-baik saja dan tak bersedih lagi.


Darren mengelus lembut puncak kepala anaknya dan menatapnya dengan senyumnya yang mengembang. Di saat keduanya sedang mengobrol santai, kedatangan seseorang menghentikan obrolan keduanya.


"Arka, kami mau meminta maaf sama kamu." Ujar Bima, bersama teman-teman lainya menghampiri Arka dengan ekspresi sedikit takut.


"Apa Arka tidak mau memafkan teman-teman Arka?" Tanya Darren pada Arka yang terdiam.


"Tidak tau." Jawab Arka yang terlihat enggan untuk memaafkan mereka.


Darren yang mengerti akan hal itu, hanya mengamati dalam diam.


"Arka boleh kok kalau tidak mau memaafkan mereka, tapi.. memberikan maaf pada mereka sama dengan kita menolong diri sendiri." Ujar Darren, namun ucapannya itu tak dimengerti oleh Arka yang saat ini menatapnya bingung.


"Maksud papa, kalau Arka menerima permintaan maaf mereka, Arka jadi tidak punya dendam lagi sama mereka, dan juga Arka akan jadi orang yang baik kalau memafkan mereka." Ujar Darren lagi, yang ucapannya kali ini sedikit dimengerti oleh Arka, terlihat dengan ekspresi Arka yang merespon perkataanya.


"Baiklah, Arka memafkan kalian, kalau kalian menghina mama Arka lagi, Arka tidak akan memaafkan kalian." Ucap Arka kemudian, pada teman-temanya yang masih menunggu balasan darinya.


"Terimakasih, kami berjanji ti-tidak akan melakukan hal itu lagi, kalau begitu kami pergi dulu." Semua berlari pergi setelah mendengar jawaban dari Arka.


Darren hanya diam melihat kepergian mereka, karena ada hal yang begitu menarik perhatianya ketika mendengar jawaban anaknya.


"Arka marah bukan karena mereka sedang menghina Arka, tapi karena mereka menghina mama Arka, ya? Kenapa Arka lebih marah soal mama yang dihina dibanding soal Arka sendiri?" Tanyanya pada sang anak.


"Karena Arka sayang sama mama, dan Arka tidak suka melihat mama dihina oleh mereka." Jawab Arka penuh rasa sayang terhadap mamanya.

__ADS_1


Darren terpaku mendengar jawaban anaknya.


__ADS_2