
Seseorang tengah berlari menghampiri Bara yang sedang berada di pinggir lapangan olahraga bersama kawan-kawannya.
“Bar!” Semua orang sontak melihat ke arah suara itu.
“Ngapa lo? Kayak orang yang lagi dikejar hantu aja.” Ujar Bondan.
“Si… Amora… lagi…” ucapnya terengah sambil menarik nafas.
“Lagi apaan maksud lo? Kalau ngomong jangan setengah-setengah.” Ujar Yuda yang mulai tak sabar.
“Ini.. gue mau ngomong… onta!” solotnya.
“Ada apa, Gus?” tanya Bara mulai tak enak karena teman sekelasnya itu menyebut nama Amora.
Agus menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya. “Si Amora dilabrak si Stella!” teriak Agus pada akhirnya. Dengan sekejap Bara langsung berlari ke arah gedung kelasnya. Ini tak bisa dibiarkan! Gerutunya. Dia lengah, karena selama ini Stella tidak menunjukkan gelagat aneh, namun ternyata itu semua diluar dugaannya.
Setelah sampai di sana, betapa terkejutnya Bara menyaksikan pemandangan yang ada di depan kedua matanya. Seketika itu juga ia langsung naik pitam.
“Stella!” teriaknya membuat semua pandangan menuju ke arah Bara berada. Ia menatap tajam pada Stella dengan emosi yang bisa meledak sewaktu-waktu.
Bara langsung menghampiri Amora. Ia membuka jaketnya dan memakaikannya pada Amora. Hatinya bagai tersayat kala melihat luka sudutan di tangan kanan Amora dan dengan kondisi seragamnya yang sangat terbuka.
“Jangan menangis.” Ucap Bara melihat Amora yang hanya menunduk sambil berlinang air mata. Bara memberikan kode pada salah satu teman kelasnya yang berada di situ untuk membawa Amora. Stella yang menyadari dirinya bisa dalam bahaya, langsung mundur dan hendak pergi.
“Ikut gue!” ucap Bara penuh penekanan sambil menarik tangan Stella yang hendak kabur. Tentu saja Sonia dan Siska yang melihat itu langsung bergidik ngeri karena Bara terlihat sangat murka dan tak ada yang berani melawannya.
*
“Kamu Amora, kan?” tanya seorang siswi menghampiri Amora setelah menerima kode yang diberikan Bara. Amora hanya mengangguk disela tangisannya.
“Nama kakak, Anna. Teman sekelas Bara. Ayo ikut kakak ke UKS dulu.” Ucap siswi yang bernama Anna sambil menuntun Amora pergi dari tempat itu.
Bondan, Deri dan Yuda yang baru datang, nampak kebingungan dengan apa yang sudah terjadi. Setelah mendengar cerita dari orang-orang yang berkerumun, akhirnya mereka bertiga menyusul Bara yang sudah pergi menyeret Stella.
*
__ADS_1
Bara menarik paksa tangan Stella hingga ke toilet laki-laki yang berada di ujung gedung tersebut.
“Guys, bisa keluar sebentar?” pinta Bara pada teman-temannya yang sedang berada di toilet. Tanpa berpikir panjang, mereka langsung menuruti permintaan Bara.
“Kenapa?” Bara mulai membuka suara. Stella perlahan mundur karena Bara yang terus menyudutkannya.
"Lihat gue." ucap Bara dengan amarah yang tertahan. Stella yang tengah berada dalam kungkungan Bara tak bisa bergeming. Lidahnya kelu.
Stella tak berani menatap wajah Bara yang sorot matanya penuh dengan amarah. Ia tak menyangka Bara akan semarah ini pada dirinya hanya karena perempuan itu.
Amora. Satu nama yang membuat Stella sangat membencinya karena sudah merebut perhatian Bara dari dirinya. Dan kini Bara tepat berada di hadapannya, dalam kungkungannya, namun jauh dari kata romantis seperti yang diharapkannya.
"Gue gak keliatan, hah?" tantang Bara melihat lawan bicaranya tak berkutik sama sekali.
"Bukannya ini yang lo mau?" sambung Bara.
Tentu saja hal itu membuat Stella tergoda melihat ketampanan Bara dari jarak yang sangat dekat. Imajinasi liarnya terus meronta-ronta menginginkan pemuasan atas hasratnya itu.
Saat Stella hendak mendaratkan bibirnya ke bibir Bara, tiba-tiba saja Bara tersenyum menyeringai. Ia sengaja mempermainkan Stella.
"Ternyata begini yang selama ini lo lakuin." ucap Bara dengan pandangan merendahkan. Stella terkejut dan seketika merasa sangat rendah diri di hadapan Bara. Perasaan yang selama ini tak pernah ia rasakan saat bersama dengan lelaki lain.
"Kenapa harus dia?" Stella mulai membuka suara bersamaan dengan Bondan, Deri dan Yuda yang baru saja datang.
"Apa kekurangan gue? Gue lebih menarik dibanding cewek itu!" teriaknya.
Bara langsung tertawa mendengarnya. Ketiga temannya yang menyaksikan Bara langsung ketar-ketir karena sepertinya Bara mulai menunjukkan taringnya.
"Sorry, selera gue bukan barang bekas." ucap Bara dengan sorot mata tegas.
"Emang menurut lo, cewek sok polos itu gak bejad juga? Asal lo tau aja, di luar sana banyak cewek sok polos tapi aslinya lebih bejad!" balas Stella tak mau kalah.
Bara yang mendengar itu langsung menghampiri Stella dan mendekati telinganya.
"Gue lebih tau mana cewek yang benar-benar polos, mana cewek yang sok polos." bisik Bara membuat Stella terkejut bukan main.
__ADS_1
"Maksud lo?" tanya Stella dengan wajah mulai memucat.
"Gue kalau mau lihat tanda lahir dia, terpaksa harus gue iket dulu itu cewek baru bisa. Tapi, gue tahu tanda lahir lo ada dimana aja, tanpa harus bersusah payah." ujar Bara mulai membuka kartu AS miliknya yang selama ini ia simpan rapat namun dengan terpaksa harus ia ungkapkan.
"Ternyata selama ini elo separah itu yah."
"E.. elo tau darimana?" tanya Stella mulai waspada.
"Gimana ya gue bilangnya? Mungkin dari lawan main lo?" ucap Bara mulai mengakhiri permainannya.
"Jadi mulai sekarang jangan ganggu Amora kalau aib lo gak mau sampai bocor."
Stella yang mendengarnya hanya menelan ludah.
"Gimana ya? Masalahnya gue gak pandai bikin gosip, tapi dengan satu kali klik di media sosial, itu akan menjadi hal buruk buat lo." ucap Bara final dan langsung meninggalkan Stella yang masih mematung. Ia tak percaya kenapa Bara bisa tau tentangnya.
*
Di ruang UKS, Amora sedang diobati lukanya oleh Anna, teman sekelas Bara.
"Kak Anna, kak Bara gak akan marah-marah sama kak Stella, kan?" tanya Amora khawatir. Anna hanya tersenyum membalasnya.
Ia berpikir kenapa Amora malah memikirkan orang yang sudah membuatnya seperti ini, padahal dirinya sendiri adalah korban.
"Amora gak mau kak Bara marah marahin orang karena Amora." ucapnya sambil menunduk.
"Tenang aja, kakak tahu bagaimana sifat Bara. Dia gak akan mungkin sampai berbuat sejauh itu." ucap Anna sambil tersenyum ramah.
Tak lama pintu UKS dibuka dari luar. Nampaklah Bara yang terengah menghampirinya.
"Gimana kondisinya?" tanya Bara namun pandangannya tetap mengarah pada Amora
"Tenang aja, dia udah gue obatin. Kalau gitu gue balik ke kelas yah."
"Thank's, An." ucap Bara dan dibalas anggukan oleh Anna.
__ADS_1
Sepeninggalnya Anna, di dalam ruangan itu hanya tersisa Amora dan Bara. Keduanya nampak canggung dengan pikirannya masing-masing. Dan tanpa mereka ketahui benih-benih cinta yang tumbuh diantara mereka mulai bersemi. Disatu sisi rasa ingin melindungi, dan disisi lain ada rasa nyaman terlindungi.
***