Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Hujan


__ADS_3

Bara melepaskan perlahan kecupannya. Ia menatap wajah Amora yang merah padam. Bagi Bara, ini adalah hal pertama yang ia lakukan. Ia mengelus wajah Amora dengan lembut, mengingat setiap detail ekspresi wajahnya saat ini.


“Jangan diliatin terus, Kak. Amora malu,” ucap Amora tersipu.


“Kakak suka lihat kamu yang seperti ini. Merona,” bisik Bara tepat di telinga Amora dengan sensual.


"Apa sih, Kak." Amora berpaling menyadari wajahnya yang terasa panas.


“Oh iya. Sebenarnya ada yang mau kakak omongin,” ucap Bara mulai merangkai kata-kata.


“Mau ngomong apa, Kak?” tanya Amora dengan nada manja.


“Sepertinya besok kita tunda kencannya dulu. Kakak harus pergi. Maaf,” ucapnya sambil menunduk. Amora menatap Bara menemukan kesedihan dalam sorot matanya. Mengapa ekspresinya seperti itu seolah akan pergi jauh saja. Amora hanya menduga-duga dengan pemikirannya itu. Semoga feeling-nya salah.


"Apa kakak akan pergi jauh?" tanya Amora dengan sorot mata khawatir karena takut dugaannya itu benar. Bara hanya terdiam tak mampu menjawabnya. Dan saat itu juga Amora langsung menyadari bahwa Bara mungkin saja akan lama meninggalkannya.


"Amora ikut!" serunya saat melihat Bara hanya terdiam saja.


"Maaf, ini yang terbaik untuk kita." ucap Bara sendu.


"Enggak. Amora gak mau. Amora pengen ikut!" berontaknya. Hatinya terasa seperti menaiki roller coaster karena saat ia berangan-angan tinggi dengannya tapi langsung dihempaskan begitu saja.


Amora tak mau berpisah lagi dengan Bara. Ia sudah memilih untuk menunggunya namun mengapa saat ini Bara malah ingin meninggalkannya lagi? Ini tak adil! Ia tak mau!


Tak lama ponsel Bara berdering tanda panggilan masuk. Ia melihat selintas siapa yang menelponnya. Seketika itu juga Bara harus cepat memutuskan hal ini demi keselamatan Amora. Ia tak mau melibatkan Amora dengan dunia kejam yang seolah sedang mengejarnya.


"Kakak harus segera pergi." ucap Bara menatap sayu mata Amora yang mulai berlinang air mata.


"Amora gak mau ditinggal lagi. Amora mohon," pinta Amora dengan lelehan air mata yang mulai membasahi pipinya.

__ADS_1


"Ssuutt, jangan menangis." ucap Bara sambil menghapus air mata di wajah Amora dengan kedua ibu jarinya. Ia makin tak tega meninggalkan Amora.


"Kakak janji akan kembali bahkan sebelum kamu menyadarinya. Dan saat itu juga kakak akan berlari dan memelukmu." ucap Bara kemudian memeluk erat Amora untuk yang terakhir kalinya.


Namun tangisan Amora belum juga berhenti walau dalam dekapannya. Bara mengelus punggung Amora dan mengecup keningnya dengan lama.


"Kakak pergi yah. Jaga diri baik-baik." Bara berpamitan sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menjauhi Amora.


"Kak," panggil Amora namun Bara tetap berjalan tanpa menoleh.


"Kak Bara," suara Amora makin memberatkan langkahnya untuk pergi.


"Kakak," kali ini suara Amora terdengar menyayat hati dengan lelehan air mata.


Bara dilema antara harus meninggalkan Amora demi melindunginya atau tetap bersamanya namun Amora akan selalu berada dalam bahaya seperti yang terjadi pada ibunya. Bayangan ketika sang ibu tertembus timah panas tepat di jantungnya membuat tekad Bara yang hampir luntur kembali kuat. Dengan langkah pasti ia meninggalkan Amora yang berada di belakangnya.


Amora luruh saat Bara tidak menggubris panggilannya. Ia menangis sejadi-jadinya. Hatinya sakit bagai ditusuk duri. Ia tak akan sanggup untuk jauh darinya. Ia sangat merindukannya. Tapi kenapa takdir seolah ingin ia selalu berpisah dengannya.


*


Bara memacu motornya dengan sangat kencang. Ia tak peduli dengan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi pada dirinya. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah untuk membalas orang yang sudah membuat semua ini terjadi. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menghancurkan orang-orang yang sudah menyusahkan hidupnya dan membahayakan orang-orang yang ia sayang.


Di tengah hujan yang mulai mereda, ia dan kedua orang tuanya akhirnya sudah berada dalam pesawat pribadi milik Atmanaja Group. Bara melihat-lihat sekeliling mencoba mengingat setiap detik kenangan yang mungkin saja akan ia tinggalkan. Ia menatap ponselnya yang memperlihatkan foto Amora yang tengah tersenyum manis di layar ponselnya. Mengelusnya seolah foto itu adalah wajah Amora.


"Maaf kali ini kakak akan pergi cukup lama. Bersabarlah. Kakak akan kembali setelah menyelesaikan semuanya. Kakak janji." ucapnya pada foto di layar ponselnya itu.


*


"Ya Allah neng Amora! Bangun, Neng!" teriak bi Siti saat mendapati Amora yang tengah terbaring pingsan di halaman rumahnya. Sudah berapa lama ia terbaring disini? batinnya. Bi Siti langsung membawa Amora ke dalam rumah dan menuju ke kamarnya.

__ADS_1


"Ya Allah neng Amora panas banget badannya," panik bi Siti saat menyentuh kening Amora yang sangat panas. Ia pun langsung bergegas membantu Amora mengganti bajunya yang basah dengan baju yang hangat.


Bi Siti langsung menyelimutinya dan mengompres Amora layaknya anak sendiri. Walaupun ia sendiri bingung kenapa Amora bisa sampai pingsan. Ia khawatir dan takut terjadi sesuatu dengannya.


"Jangan..."


"Jangan pergi..."


"Kak, jangan pergi..." ceracau Amora. Nampaknya ia benar-benar sedang demam. Bi Siti pun langsung menelpon dokter pribadi keluarga Mortis untuk segera datang. Karena ia tak tenang melihat Amora yang demamnya semakin tinggi.


Tak lama dokter itu pun datang dan langsung mengobati Amora.


"Biarkan dia istirahat dan jangan lupa minum obatnya." ucap dokter itu setelah memeriksa Amora dan memberikan obat pada bi Siti.


"Terimakasih, Dok." ucap bi Siti sambil mengantar dokter tersebut keluar rumah.


Pada keesokan harinya, Amora terbangun dengan wajah sembab dan badan yang tak karuan rasanya. Kepalanya terasa berat dan pusing dengan pandangannya yang sedikit kabur. Setelah ia mengerjapkan matanya beberapa kali, pandangannya mulai normal dan ia menyadari bahwa dirinya sudah berada di dalam kamarnya.


Tak lama bi Siti masuk ke dalam kamar dan membawakan bubur untuk Amora.


"Eh, neng Amora sudah bangun. Kebetulan bibi udah bikinin bubur. Dimakan ya, Neng. Apa mau bibi suapin?"


"Amora gak laper, Bi." ucap Amora dengan nada lemah masih dengan raut sedih mengingat kejadian semalam.


"Sedikit aja, Neng." pinta bi Siti. Namun Amora yang sudah tak memikirkan makan lagi langsung merebahkan tubuhnya kembali.


"Ya sudah kalau neng Amora mau tidur. Istirahat yang banyak aja yah. Buburnya bibi simpen disini kalau laper nanti neng Amora tinggal makan."


"Iya, Bi." ucap Amora sambil memejamkan matanya. Namun linangan air matanya itu kembali jatuh saat bi Siti keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Amora menangis dengan tersedu. Tubuhnya berguncang hebat karena tangisannya itu. Rasa sakit di hatinya seolah mengingatkan dirinya dengan kepergian Bara. Bagaimana ia bisa hidup tanpa dirinya? Sementara separuh jiwanya telah dibawa pergi oleh Bara.


***


__ADS_2