Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Nasib


__ADS_3

Dadanya masih bergemuruh. Emosinya masih meluap. Mengetahui apa yang baru saja ia dengar. Amora bersama dengan lelaki lain? Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Siapa lelaki itu? Hatinya dipenuhi banyak pertanyaan. Pikirannya dipenuhi rasa penasaran.


Ia harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Sedangkan ia masih terjebak disini dan tak bisa kemana-mana. Tiba-tiba terdengar suara ketukan. Lalu sebuah pintu terbuka dan seorang pengawal menghampiri Bara.


"Anda sudah ditunggu oleh pak Arman di ruangan." ucap sang pengawal tersebut. Bara menghirup nafas dan menghembuskannya dengan sangat berat. Semuanya terasa tak adil baginya.


"Apa jadinya jika saya kabur dan meninggalkan pertemuan?" tanya Bara menatap tajam sosok pengawal di depannya itu.


"Jika anda pergi, pak Arman tak akan membiarkan anda hidup dengan tenang." kata-katanya malah membuat Bara makin naik pitam. Marah. Ia mengepalkan kedua tangannya. Berusaha menahan gejolak emosi yang mendalam.


Kenapa harus seperti ini? Mengapa beban yang berat ini harus ia pikul secara bersamaan? Pertama, ibunya yang masih dalam kondisi kritis, membuatnya tak bisa jauh dari orang yang sudah melahirkannya itu. Kedua, ayahnya, ia hanya bisa patuh dan menuruti semua yang diperintahkan olehnya. Demi membangun kembali perusahaan yang diambang bangkrut.


Lalu sekarang, Amora. Orang yang sangat ia sayang. Dia harus mengorbankan perasaannya hanya untuk perusahaan yang entah sampai kapan ia akan dibuat sibuk olehnya. Apa ini adalah tuntutan yang harus ia jalani? Atau sebuah pilihan yang mana harus mengorbankan salah satunya? Pikiran Bara yang bergelut tak bisa dihindari.


Dengan pasrah ia hanya berjalan dituntun oleh pengawal sang ayah yang mengikutinya dari arah belakang. Coba saja ia tiba-tiba berlari pergi, pasti akan banyak pengawal ayahnya yang menghadang Bara. Rasanya sudah tak sanggup lagi. Satu-satunya jalan baginya adalah membereskan ini semua. Lalu setelah itu ia akan kembali ke sisi Amora. Dengan berlari lalu memeluknya.


*


Pagi hari pun tiba. Amora terbangun dan merasakan tubuhnya yang sudah enakan. Ia terkejut menyadari keberadaannya. Namun sedetik kemudian ingatannya kembali, bahwa ia masih berada di kamar Bryan.


"Good morning, my queen." Bryan masuk ke dalam kamar dan membawa semangkuk bubur ayam yang masih hangat beserta minumannya.


"Good morning juga Bryan." jawab Amora sambil tersenyum.


Ia merasa kembali fresh pagi ini. Karena sudah lama Amora selalu bermimpi buruk tiap malamnya. Namun kali ini ia tak memimpikan hal itu sama sekali sehingga tidurnya sangat nyenyak.


Bryan menyiapkan meja makan di atas ranjang dan menyimpan bubur serta minumannya di atasnya.


"Elo sarapan dulu aja. Untuk sementara istirahat yang banyak jangan masuk sekolah." tutur Bryan.

__ADS_1


Amora yang mulai menyantap sarapannya itu sontak terhenti.


"Enggak. Gue mau masuk sekolah." ucap Amora dan kembali menyantap buburnya.


"Elo yakin mau sekolah?" tanya Bryan memastikan.


"Iya." jawab Amora tanpa mengalihkan pandangan karena tengah khusyu sarapan.


"Oke kalau gitu. Gue siapin seragam lo dulu." kemudian Bryan keluar kamar meninggalkan Amora yang sedang menikmati buburnya. Ia tersenyum senang karena melihatnya makan dengan lahap. Ternyata bubur buatannya sukses dibuat dengan baik. Ia sama sekali tak melihat penolakan dari Amora.


Setelah kepergian Bryan, Amora mencari-cari ponselnya yang ternyata ada di atas nakas dekat ranjang tersebut. Ia pun langsung menyalakan ponselnya. Sambil menyantap buburnya, sesekali Amora mengecek isi pesan mau pun panggilan yang masuk.


Dan ternyata banyak isi pesan dari Fani, Della dan Fio. Sepertinya Bryan memberitahukan kondisi dirinya pada mereka. Sehingga mau tak mau semua sahabatnya mengetahui kondisi Amora.


Namun ketika mengecek log panggilannya, tampak ada yang aneh. Ia tak melihat ada satupun riwayat panggilan masuk maupun riwayat panggilan keluar. Semalam Bryan mengatakan bahwa bi Siti menelpon terus ke ponselnya, seharusnya minimal ada riwayat bi Siti di panggilan masuknya. Aneh sekali.


Feeling Amora mengatakan seperti ada yang sudah Bryan lakukan di belakangnya. Tapi tak tahu apa. Lagi-lagi Amora hanya menepis semua kegundahannya itu. Mungkin Bryan melakukan pembersihan log panggilannya karena sudah kebanyakan dan perlu dihapus.


*


Bryan dan Amora sudah berada di dalam mobil menuju sekolahnya. Sekolah yang sama. Bryan tampak senang sekali karena pagi itu ia bisa melihat Amora yang baru bangun tidur. Dalam benaknya, jika saja mereka berdua sudah menjadi pasangan suami istri, pasti akan sangat membahagiakan.


"Ngapa lo senyum-senyum mulu dari tadi?" tanya Amora melihat Bryan tengah tersenyum dalam lamunannya.


"Oh, enggak. Gak papa." jawab Bryan cengengesan.


"Kenapa lo harus masuk sekolah? Mending kan istirahat aja."


"Gue gak mungkin nyaman tidur di kamar orang lain." jawab Amora. Padahal semalam ia tidur dengan sangat nyenyak.

__ADS_1


"Terus semalem elo tidur dimana?" sambungnya.


"Di kamar tamu." ucap Bryan tanpa menoleh dan tetap fokus mengemudi.


Amora mengerutkan keningnya. Bukankah seharusnya ia yang tidur di kamar tamu? Karena yang jadi tamunya adalah Amora. Kenapa malah Bryan yang tidur di kamar tamu sedangkan dirinya tidur di kamar milik Bryan? Aneh. Pikir Amora.


Amora memainkan ponselnya dan tiba-tiba teringat sesuatu.


"Oh iya, elo yang hapus log panggilan di hape gue bukan?" tanyanya. Bryan terdiam sejenak namun tak lama menjawab.


"Iya, soalnya log panggilan elo udah penuh." jawaban tersebut sudah Amora duga. Sepertinya alasan Bryan memang masuk akal. Ia hanya manggut-manggut mengerti.


"Oh ya, elo nyari-nyari sesuatu gak?" tanya Bryan.


"Nyari sesuatu? Apaan?" Amora mengerutkan dahinya bingung.


Dan Bryan mengeluarkan sebuah paperbag ukuran kecil yang disimpan di dalam dashboard. Amora langsung terkejut melihatnya.


"Ini kan belanjaan gue waktu kemaren. Kok bisa ada di elo?" Amora melihat isi di dalam paperbag itu dan bernafas lega. Alat-alat kosmetik yang dibelinya ternyata masih selamat. Untung saja.


"Gue nemuinnya di restoran itu. Makanya gue ambil siapa tahu itu barang penting lo."


"Emang ini barang yang sangat penting, Bryan." ucap Amora sambil memeluk isi paperbag itu. Hampir saja ia melupakan hal yang penting ini ketika akan menemui para sahabatnya.


Sementara Bryan melihat Amora yang sepertinya sangat menyukai kosmetik. Apa ia harus membelikannya? Bila perlu ia akan menyewa toko tersebut agar Amora bebas mengambil apa saja yang ia suka tanpa ada orang lain yang mengganggunya.


Padahal Amora bukannya sangat menyukai kosmetik, tapi ia sudah berencana untuk memberikannya pada semua sahabatnya itu sebagai ungkapan terimakasih maupun ungkapan permintaan maafnya pada Fani. Jadi ia memang sangat membutuhkannya untuk sahabatnya, bukan untuk dirinya.


Tak lama mereka berdua tiba di gerbang sekolah. Bryan memarkirkan mobilnya di parkiran khusus untuk kendaraan roda empat. Setelah berhenti, ia pun membantu membukakan pintu untuk Amora. Senyumnya mengembang tatkala banyak pasang mata yang langsung melihat ke arah mereka.

__ADS_1


Sementara itu, Deri, Yuda dan Bondan melihat apa yang sedang terjadi di hadapannya. Bryan dengan Amora seperti sudah makin dekat. Mereka bingung. Disisi lain mereka ingin sekali menjaga Amora untuk Bara, namun disisi lain juga mereka tak memiliki hak lagi untuk melakukannya setelah apa yang sudah Bara jelaskan waktu itu.


***


__ADS_2