Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Mimpi dan Kenyataan


__ADS_3

Amora berada di suatu hutan yang mana keseluruhannya berwarna putih, hanya menampakkan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Ia melihat kedua orang tuanya yang dari jauh tengah berjalan mendekatinya.


“Ayah? Bunda?” Amora mencoba memastikan bahwa mereka adalah kedua orang tuanya.


“Iya, ini kami sayang.” Gumam Anne setelah berada tepat di hadapan Amora. Ia menampilkan senyum yang sangat cantik, begitu pun dengan Gavin.


“Tapi kenapa kalian ada disini?” tanya Amora heran. Ia juga bingung kenapa mereka semua berada dalam hutan dengan sinar putih di sekeliling tempat tersebut.


“Kami akan pergi, Nak.” Ucap Gavin. Sepertinya Amora merasa suasana ini sangat tak asing. Alih-alih menolaknya, kali ini Amora tak mau salah dalam mengambil keputusan lagi.


“Amora ikut!” tegasnya. Anne dan Gavin hanya saling pandang.


“Tidak, Nak. Hidupmu masih panjang,” ucap Gavin dengan suara yang sangat ringan. Mereka mulai pergi meninggalkan Amora untuk masuk ke dalam pusaran cahaya putih yang berasal dari atas seolah hendak membawa kedua orang tuanya.


Amora hendak melangkah mengikuti kedua orang tuanya itu, namun tiba-tiba lengannya dicekal oleh seseorang dari arah belakang. Amora segera melihat siapa orang yang menarik lengannya itu.


“Kak Bara?” tanya Amora heran.


“Jangan pergi. Kakak mohon.” Ucap Bara dengan mata yang berkaca-kaca.


(Flashback On)


Di suatu tempat, dalam sebuah perjalanan, sebuah mobil melaju dengan cepat walau hujan besar menghalangi sebagian pandangannya. Suasananya sangat mencekam di tengah malam yang sepi tanpa ada penerangan sama sekali.


“Gavin, sepertinya kita masih diikuti oleh mobil itu lagi,” ucap Anne memberitahu suaminya saat ia melihat ke belakang mobil.


“Kita harus waspada dan jangan lengah,” tutur Gavin sambil terus mengemudi memecah derasnya air hujan.


“Sebenarnya siapa mereka?” tanya Anne mulai waspada.


“Sepertinya mereka adalah orang-orang suruhan. Kita harus bergegas,” tutur Gavin waspada dan langsung menginjak pedal gas.


“Bagaimana ini? Aku akan coba hubungi polisi,” usul Anne dan langsung memanggil panggilan darurat.

__ADS_1


Ia mencoba menelpon untuk meminta bantuan. Karena saat ini tidak ada yang bisa dihubungi di tengah jalanan hutan yang sedang mereka tempuh itu. Gavin mencoba menghindari mobil yang terus mengikuti mereka dengan mengambil jalur ke arah hutan. Berharap mobil itu tak mengikutinya lagi.


Namun tampaknya orang-orang itu terus mengikuti mobil Gavin dari belakang mencoba mengejarnya kemanapun ia berbelok. Gavin pun mulai panik ketika ia malah memilih jalur hutan yang tak ia hapal betul rutenya. Yang ia pikirkan saat itu hanya menghindar dan setelah tak diikuti, ia akan pergi ke jalur utama lagi. Tapi beribu sayang, ia masih terus diikuti.


“Bagaimana jika lampu mobilnya dimatikan saja? Untuk mencoba mengelabui mereka?” usul Anne.


“Tapi itu sangat berbahaya,” tolak Gavin menanggapi ide Anne yang menurutnya akan membahayakan mereka juga.


“Ini satu-satunya jalan. Kita berhenti di belokan sana dekat danau besar itu.” Tunjuknya.


“Matikan lampu mobil sekarang juga sebelum mereka mendekat!” Ucap Anne dengan nada yang sangat khawatir. Ia terus menerus melihat ke arah belakang mengawasi keberadaan mobil yang mengikuti mereka.


Akhirnya mau tak mau Gavin mengikuti saran dari Anne. Ia berharap sarannya itu berhasil. Mobil Gavin pun langsung menuju ke area danau yang sangat gelap gulita, hanya ada secercah cahaya dari langit yang mendung dan hujan. Cahaya dari lampu mobil pun dimatikan agar tak ada yang tahu bahwa mobil Gavin tengah bersembunyi diantara gelapnya hutan dan rimbunnya pepohonan.


Mereka terdiam tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Sayup-sayup terdengar deru mobil dari arah jauh. Perlahan makin terdengar jelas dan mendekat. Suara degupan jantung mereka saling berpacu merasa takut persembunyian mereka akan ketahuan. Saat deru mobil itu mendekat dan tepat di dekat mereka, ternyata mobil itu terus melaju tanpa menyadari keberadaan mobil Gavin.


Rasa lega langsung terdengar dari hembusan nafas mereka seiring suara deru mobil yang mengikuti mereka perlahan hilang dan hanya menyisakan gemericik hujan.


“Tampaknya mereka tidak menyadari keberadaan kita.” Ucap Gavin mulai lega.


Mereka beristirahat sejenak dan mengambil nafas perlahan menenangkan hati dan pikirannya yang sedari tadi tidak berhenti waspada dan khawatir.


“Aku akan telpon bi Siti dulu,” ucap Gavin pada Anne yang tampak kelelahan dan mencoba memejamkan matanya. Anne hanya mengangguk tanpa membuka matanya sambil mengambil nafas menenangkan dirinya.


Gavin langsung menghubungi bi Siti. Ia khawatir dengan Amora yang saat ini sedang berada di rumah.


“Saya mau minta tolong. Amora ada di rumah kan?” tanya Gavin setelah mendengar suara dari seberang. Ia pun langsung menceritakan kejadian yang tengah menimpa mereka dan keberadaannya saat ini. Gavin meminta tolong pada bi Siti untuk berada di dekat Amora dan mengusahakan untuk mengunci ganda semua pintu dan gerbang rumahnya.


“Oh, baik, Pak. Maaf bibi ketiduran. Tadi neng Amora sedang di ruang tamu katanya belum ngantuk,”


“Tolong dicek. Saya khawatir ada yang berniat jahat padanya seperti pada kami saat ini,”


“Ya udah, Pak. Kalau gitu bibi mau cari neng Amora dulu,” ucap bi Siti dengan nada khawatir.

__ADS_1


“Bapak sama Ibu juga hati-hati disana.” Setelah ucapan itu sambungan pun terputus.


“Ya Allah, semoga bapak sama ibu baik-baik aja,” doa bi Siti. Ia pun langsung bergegas bangkit untuk mencari Amora. Namun setelah sampai di ruang tamu, ia tidak melihat sama sekali keberadaan Amora.


“Neng?” teriak bi Siti namun ia hanya merasakan keheningan dan hanya mendengar suara gemericik hujan dari arah luar rumah.


“Neng Amora?!” panggil bi Siti lagi kali ini dengan suara yang cukup tinggi. Ia semakin khawatir karena tidak terdengar ada sahutan sama sekali. Dengan panik bi Siti langsung berlari ke kamar Amora. Setelah membuka pintu, kamarnya kosong dan masih rapih seperti sebelumnya. Ia pun mencari ke setiap sudut rumah, namun nihil. Ia tak menemukan Amora sama sekali.


“Ya Allah, gimana ini? Dimana dia?” bi Siti sangat panik takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Dengan nafas tersengal, bi Siti mengecek kembali ke setiap ruangan dan tetap tak menemukan Amora. Ia langsung keluar rumah mencoba mencarinya di halaman belakang. Hasilnya masih tetap nihil. Udara dingin tak menyulutkan pencariannya untuk menemukan Amora.


Setelah itu bi Siti mencari ke area halaman depan. Tepat di dekat gerbang depan, ia menemukan Amora yang tengah tergeletak dengan air hujan yang membasahinya.


“Ya Allah neng Amora!”


*


Sementara itu disisi lain, Anne dan Gavin yang mulai lega harus dikejutkan kembali dengan suara deru mobil yang mulai mendekat. Kali ini suaranya tampak berhenti tepat di belakang mobil mereka. Suasana tegang saat itu langsung melanda kembali.


“Apa mereka menemukan kita?” ucap Anne dengan berbisik sambil menunduk. Begitu pun dengan Gavin, ia berharap mereka segera berlalu.


Dugh! Dugh! Mobil itu menghantam mobil dimana Anne dan Gavin berada. Mobil itu memaju mundurkan untuk menabrak mobil mereka.


Jalur persembunyin Anne dan Gavin memang sedikit curam dan menurun. Di depannya terhampar danau yang sangat luas. Mobil mereka seakan didorong untuk masuk ke dalam danau.


Dugh! Suara jeritan Anne makin keras merasakan mobil itu terus menerus membenturkan mobilnya.


Saat ini mereka seolah buntu, tak dapat melakukan apa-apa. Anne dan Gavin saling pandang, mulai pasrah dengan keadaan. Apakah ini akhir dari hidup mereka? Gavin langsung memeluk Anne yang sedang ketakutan seolah hanya hal itu yang bisa ia lakukan.


Dan akhirnya mobil mereka tenggelam ke dalam danau karena telah didorong paksa oleh mobil yang ternyata adalah suruhan dari perusahaan pesaingnya untuk melenyapkan mereka berdua.


“Target sudah tewas,” ucap seseorang yang telah menubruk mobil Gavin secara berulang hingga mereka masuk dan tenggelam ke dalam danau.


“Kerja bagus. Kembalilah sebelum matahari mulai terbit.”

__ADS_1


“Baik, Bos.” Dan mobil itu pun kembali ke dalam jalur meninggalkan Gavin dan Anne yang seolah ditelan danau beserta mobilnya.


***


__ADS_2