Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Step Two


__ADS_3

Amora dan semua teman serta kakak kelasnya itu tengah menikmati barbeque nya. Sore itu setelah kekenyangan, mereka memilih berada di tepi kolam renang sambil bersantai di kursi santai yang berada di sekitar kolam renang. Cuacanya cukup cerah kala itu membuat suasana semakin meriah.


Amora sedang tiduran di kursi itu, sementara kakak kelasnya tengah asyik berenang. Della, Fani dan Fio juga memilih untuk tiduran sambil menikmati suasana sore hari yang cerah. Sementara itu Deri, Bondan dan Yuda saling pandang seolah satu ide terlintas dalam benak mereka.


Seketika itu pula semburan air dari kolam mengenai Amora dan ketiga temannya yang sedang khusyu menikmati suasana.


“Ih, apaan sih kak?! Basah tau!” ucap Fio tak terima bajunya menjadi basah karena ulah ketiga kakak kelasnya itu.


“Nyebelin banget ih!” gerutu Della melihat bajunya yang basah kuyup.


“Makanya ayo nyemplung aja sekalian. Tanggung udah basah loh.” Ucap Bondan merasa senang karena telah menjahili para adik kelasnya itu.


Namun mereka semua menyadari satu hal bahwa Amora sama sekali tidak menggubris kelakuan mereka.


“Itu anak kayaknya tidur beneran deh.” Gumam Deri melihat Amora tak berkutik sama sekali.


“Udah biarin aja, mungkin dia lelah,” tutur Yuda melihat ketenangan di wajah Amora. Sepertinya ia memang tertidur dengan pulas.


Tak lama tiba-tiba mang Ujang menghampiri mereka dengan membawa nampan berisi beberapa es kelapa muda dengan buah kelapanya yang masih utuh.


“Itu dari siapa, Mang?” tanya Fani menerima pemberian es kelapa muda itu dari mang Ujang.


“Ini dari…..”


“Hai,” ucap seseorang memotong pembicaraan.


Deri mengamati sosok laki-laki yang barusan menghampiri mereka itu. Ia mengingat-ingat kejadian saat dirinya masih SMP. Dan ia terkejut menyadari siapa yang ia lihat itu.


“Bryan?!” seru Deri dari arah kolam renang.


“Elo kenal cowok itu?” tanya Yuda pada Deri.


“Dia temen SMP gue.” Jawab Deri.


“Hey, Bro!” teriak Deri langsung bangkit dari kolam renang.

__ADS_1


“Eh, ternyata elo, Der? Gue kira bukan,” tutur Bryan dan langsung bersalaman ala cowok dengan Deri. Dalam hatinya yang paling dalam, ia sangat senang setidaknya ada dukungan dari salah satu teman SMP nya itu untuk mencoba bergabung dengan mereka, tentunya agar bisa dekat dengan targetnya.


“Elo ngapain disini?” tanya Deri pada Bryan.


“Temen-temen sekolah gue ngajakin liburan di villa ini. Gak sengaja gue lihat elo disini makanya gue samperin.” Tutur Bryan. Walaupun sebenarnya alasan ia adalah ingin dekat dengan Amora. Karena sejak awal ia memang sudah mengetahui bahwa Amora akan liburan di villa ini.


Della dan Fio, terutama Fani yang melihat percakapan mereka, perlahan dugaan bahwa Bryan adalah cowok yang tak baik mulai memudar.


“Menurut aku, he’s not bad.” Ucap Fio kepada Della dan Fani.


“Kalau kak Deri sampai kenal baik dengan si Bryan itu, nampaknya ia memang laki-laki baik deh.” Tambah Della.


“Iya juga sih. Gak mungkin kak Deri bisa nyapa kayak gitu kalau memang si Bryan itu laki-laki gak bener.” Timpal Fani menyetujui pemikiran Fio dan Della.


Setelah menyapa Deri, Bondan dan Yuda, Bryan melihat ke arah para cewek yang seolah tengah membicarakannya. Ia pun menghampiri mereka bertiga.


“Kalian pasti Fani, Fio dan Della kan?” tanya Bryan pada ketiganya. Ia masih ingat nama mereka bertiga ketika Amora memperkenalkannya saat acara pensi waktu itu.


“Iya betul,” jawab Fani.


Sementara itu Fani, Della dan Fio saling bertatap mencoba memberikan kode yang sama. Mereka pun mengangguk seolah sudah memutuskan apa yang akan diucapkannya.


“Silahkan kalau mau gabung. Kita sih boleh-boleh aja.” Ucap Fani mewakili keputusan Fio dan Della.


“Elo harus ijin sama yang punya tempat juga, Bro!” teriak Deri dari arah kolam renang. Semuanya langsung menatap ke arah Amora yang tengah tertidur lelap. Ia seolah tak terusik sedikit pun walau mereka sudah berisik sekalipun.


Bryan langsung berjalan menghampiri Amora. Betapa tenangnya ia saat sedang tertidur. Jantung Bryan menggebu-gebu melihat Amora yang sedang tidur itu.


“Untung elo tidur di tempat ramai. Kalau enggak, udah gue terkam deh elo.” Gumam Bryan dalam hati.


“Ra,”


“Sssuutt,” Bryan memberikan kode pada Fio yang hendak membangunkan Amora.


“Biarkan dia tidur.” Ucap Bryan dan mendapat anggukan Fio. Ia tak mau sampai membangunkan tidur nyenyak nya.

__ADS_1


Malam hari pun tiba. Amora baru selesai membersihkan diri. Kamar yang mereka tempati cukup luas. Terdapat empat kamar dengan empat tempat tidur terpisah. Satu lemari dan meja hias menyatu dalam ruangan. Sementara meja dan kursi santai terdapat di balkon.


“Fan, itu si Bryan kenapa tiba-tiba ada di sini?” tanya Amora sambil mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Fani pun menceritakan bagaimana awal mulainya Bryan ikut gabung dengan mereka hingga mentraktir mereka semua.


“Oh, gitu,” ucap Amora mengangguk-angguk.


“Kamu tidurnya pules banget, Ra. Udah kayak orang mati aja.” Ujar Fio disambut gelak tawa Della dan Fani. Namun mereka menyembunyikan satu hal dari Amora, bahwa sebenarnya yang membopong Amora untuk memindahkannya ke tempat tidurnya adalah Bryan.


*


“Kemana aja lo, Bro.” tanya Deri pada Bryan. Sedangkan Bondan dan Yuda, mereka berdua sedang membakar daging dan sosis untuk makan malam sambil menunggu para perempuan selesai membersihkan diri.


“Gue ada di SMA sebelah. Kapan-kapan elo maen ke sekolah gue.” Tawar Bryan. Deri hanya mengangguk.


“Gila elo makin cakep aja. Makin liar aja deh,” sindir Deri yang tahu kelakuan Bryan waktu SMP.


“Enak aja. Gue udah tobat, Der.” Ucap Bara dibalas gelengan Deri.


“Gak percayaan amat lo!”


“Kalau gak salah dulu lo sempet gak naik kelas ya?” tanya Deri dengan tawa mengejeknya.


“Kampret lo. Kayak gak tau aja masalahnya kayak gimana. Gue dituduh hamilin anak cewek, makanya gak naik kelas.”


Bondan dan Yuda yang mendengarnya saling pandang satu sama lain, kemudian tertawa terbahak-bahak. Bryan yang melihat mereka tertawa merasa senang karena kini step yang kedua untuk mendekati sang pujaan sudah terlaksana. Ia sudah merasa diterima oleh orang-orang yang berada di sekeliling Amora.


“Sorry ya, bukannya kita mengejek elo, tapi sumpah deh dituduh hamilin cewek tuh kayak gimana gitu ceritanya.” tutur Bondan.


“Santai aja lagi. Cerita gue hamilin anak orang emang udah tersebar kok.” Tutur Bryan santai.


“Emang elo gak risih digosipin kayak gitu?” tanya Yuda mencoba menghentikan tawanya.


“Gue kan gak ngelakuin itu. Jadi ngapain malu? Toh nanti juga orang-orang akan tahu kebenarannya.” Balas Bryan. Tak lama Amora dan ketiga temannya keluar dan menghampiri mereka di halaman. Bryan langsung bergegas mendekati Bondan dan Yuda yang tengah membakar daging dan sosis agar ia yang menggantikannya untuk bagian pembakaran.


***

__ADS_1


__ADS_2