
Amora Yunda Mortis adalah keturunan dari Gavin Mortis dan Anne Kinsyahrani. Gavin Mortis adalah ayah kandung Amora dan Anne Kinsyahrani adalah ibu kandung Amora. Gavin Mortis yang asli Rusia menikah dengan Anne yang adalah asli Indonesia.
Gavin sudah berada di Indonesia dalam waktu yang lama dan bertemu dengan Anne yang sangat cantik dan selalu jadi rebutan kala itu. Gavin yang tahu bahwa Anne bekerja di perusahaannya, langsung mengangkatnya untuk bekerja sebagai sekretaris pribadi Gavin.
Sejak saat itulah Anne pun mulai tertarik dengan Gavin yang sangat tampan dan diidamkan oleh para kaum hawa. Keluarga Gavin pun sangat terbuka dan tidak menuntut anaknya untuk menikah dengan calon yang dipilihkan oleh kedua orang tuanya.
Pada akhirnya Gavin menikah dengan Anne dan dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik jelita bernama Amora Yunda Mortis. Kehidupannya kini berubah setelah lahirnya anak pertama mereka. Perusahaannya makin pesat dan para investor pun banyak yang mendukung serta ikut membantu mengembangkan perusahaannya. Cabang perusahaannya pun sudah berada dimana-mana.
Tentu saja hal itu membuat perusahaan pesaing maupun musuhnya berada dimana-mana. Sehingga sebisa mungkin Amora dijauhkan dari sentuhan bisnisnya serta membuatnya seolah tak terlihat oleh musuh. Maka dari itu Gavin jarang menemui putrinya agar tak ada yang mengetahui tentang keberadaan Amora.
Anne yang merupakan sekretaris Gavin sekaligus sang istri, selalu menemani Gavin kemanapun ia pergi untuk urusan bisnis. Sehingga mau tak mau dirinya pun tak bisa selalu menemui putri tercintanya. Karena ia yang sangat mahir dalam manajemen bisnis sangat bisa diandalkan oleh Gavin.
Bisa disebut mereka adalah perpaduan yang sempurna dalam urusan bisnis dan perusahaan. Hingga kini perusahaannya telah melebarkan sayapnya dalam berbagai jenis bisnis baru yang sedang berkembang pesat saat ini. Mereka pun disibukkan dengan urusan bisnis tersebut hingga terkadang melupakan anaknya.
Gavin dan Anne sampai harus pergi ke beberapa negara maupun wilayah Indonesia untuk mengurus perkembangan bisnisnya yang baru. Saat itulah hal buruk terjadi pada Amora ditengah kesibukkan kedua orang tuanya dalam mengurus bisnis barunya itu.
Amora masih berumur tujuh tahun saat hal buruk itu terjadi. Rumahnya yang sangat luas dan besar serta penjagaan yang ketat dari beberapa bodyguard, ternyata tidak seaman yang mereka pikirkan. Karena ternyata pelaku dari penculikan Amora itu dilakukan oleh para bodyguardnya yang ternyata adalah suruhan dari musuh bisnis Gavin.
Bi Siti saat itu disekap oleh salah satu bodyguard yang bertugas untuk menyekapnya agar tidak melaporkan tindakan mereka ke polisi. Sementara itu beberapa bodyguard yang lain telah membawa Amora dengan menggunakan mobil.
Hal yang lebih buruk pun terjadi. Di tengah perjalanan, mobil yang membawa Amora itu terguling dan tergelincir ke dalam jurang yang cukup dalam. Mobil itu masuk ke dalam danau membuat beberapa orang bodyguard tewas di tempat. Beruntung Amora masih bisa diselamatkan oleh seorang penolong untuk segera dilarikan ke rumah sakit.
Sejak saat itulah kedua orang tua Amora tidak pernah menyewa penjaga ataupun bodyguard di rumahnya lagi. Hanya bi Siti yang bekerja disana. Namun semua hal dalam pengurusan rumah, membersihkan taman, kolam dan masih banyak yang lainnya, mereka menggunakan jasa layanan servis harian untuk melakukan perawatan tersebut.
__ADS_1
Tak lupa juga pengamanan dari dalam, seperti CCTV yang banyak dipasang di beberapa tempat dan ruang lingkup halamannya yang luas. Sehingga Gavin dan Anne masih bisa memantau putrinya itu dari jauh. Terkadang mereka menemukan seorang laki-laki yang selalu mengantar dan menjemput Amora ke sekolah.
Tak ayal merekapun tersenyum melihat Amora dengan laki-laki tersebut.
“Jadi ingat masa muda.” Gumam Gavin melihat putri kesayangannya dari layar laptopnya.
“Ternyata putri kita sudah dewasa yah.” balas Anne yang saat itu tengah melihat Amora bersama-sama dengan Gavin. “Yeah, she’s our daughter.” Ucap Gavin memeluk Anne.
*
“Dia sedang apa, Bi?” tanya Anne ingin menanyakan kabar Amora di tengah kesibukannya.
“Neng Amora lagi sama teman-temannya di kamar, Bu.” Jawab bi Siti. Kamar Amora memang sengaja tidak dipasang CCTV sehingga Anne tak dapat melihat Amora di sana. Hal itu dilakukan untuk menjaga privasi Amora yang sudah mulai dewasa.
“Menurut bibi, neng Amora memang pacaran sama cowok itu deh, Bu. Soalnya tadi bibi denger percakapan di kamar neng Amora lagi ngomongin hubungannya sama cowok itu.” Papar bi Siti.
“Ya ampun, putri kita udah punya pacar, Sayang.” Ucap Anne pada Gavin yang diduga ada di sebelahnya. Terdengar gelak tawa dari seberang sambungan. Bi Siti pun hanya senyum-senyum mendengarnya. Ia turut bahagia jika majikannya bahagia.
“Oke kalau gitu, makasih ya, Bi. Tolong bantu jaga Amora kita. Kalau ada apa-apa langsung hubungi polisi, lalu hubungi kami.” Tutur Anne. Bi Siti hanya mengangguk mengiyakan.
“Oh iya uang gaji bibi akan kami naikkan tiga kali lipat.” Sambungnya membuat bi Siti terkejut.
“Masya Allah, itu banyak banget, Bu, Pak.” Bi Siti membulatkan matanya menyadari berapa digit yang akan diterimanya. Ia pun berusaha menolaknya karena yang ia lakukan pun sebenarnya memang keinginannya yaitu untuk menjaga Amora. Baginya Amora sudah seperti anaknya sendiri.
__ADS_1
“Sudah jangan menolak, ini adalah ucapan terimakasih kami.” Ucap Gavin dengan nada tegas. Mau tak mau bi Siti hanya menerimanya dan tak mampu menolak jika Gavin sudah buka suara. Nada dominannya sangat kentara sekali.
Sejak Amora mulai diawasi kedua orang tuanya itu, bi Siti bertugas sebagai mata-mata Amora hingga saat ini. Kabar Amora yang tidak diketahui oleh kedua orang tuanya pun diberitahukan oleh bi Siti kepada Anne yang memang selalu menelponnya untuk mengetahui kabar putrinya itu.
Tentu saja bi Siti pun melakukan hal itu karena rasa pedulinya terhadap Amora. Karena sejak kejadian tragedi penculikan waktu dulu, bi Siti sangat mengkhawatirkan kondisi mental Amora. Sehingga secara sukarela menjadi agen informan untuk kedua orang tuanya. Hal ini juga untuk memantau kondisi fisik maupun mental Amora dalam tumbuh kembangnya.
Syukurlah Amora tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, selalu ceria walaupun tentunya ada sifat ceroboh dan pelupa. Namun mereka bahagia karena kondisi Amora sangat stabil setelah kejadian penculikan itu. Hal itu sudah membuat kedua orang tuanya bersyukur karena tidak terjadi sesuatu yang tak baik pada Amora.
*
“Bibi?!” panggil Amora sedikit berteriak. Tak lama bi Siti pun menghampiri Amora.
“Ada apa neng Amora?”
“Bibi pesen paket bukan? Soalnya Amora gak pesen apa-apa hari ini.” Tutur Amora.
“Bibi juga enggak pesen apa-apa, Neng. Emangnya kenapa?” tanya bi Siti bingung.
“Itu di depan ada yang teriak-teriak bilang paket mulu dari tadi.” Ucap Amora menunjuk ke arah gerbang depan.
Mereka berdua pun berjalan menghampiri gerbang dan mengintip dari balik lubang kuncinya.
“Bryan?” gumam Amora melihat perawakan tubuh laki-laki di depan gerbang itu. Siluetnya membuat ia yakin seratus persen bahwa laki-laki itu pasti Bryan.
__ADS_1
***