Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Menyerah


__ADS_3

Tahun ini suasana di sekolah tampak ceria. Tak pernah lagi terdengar kasus maupun kabar kenakalan para murid. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Dan ketika hari graduation bagi murid kelas tiga tengah berlangsung, Amora dan para sahabatnya datang untuk mengucapkan selamat kepada Yuda, Deri dan Bondan.


“Selamat ya kak Bondan, kak Deri sama kak Yuda.” Ucap Amora sambil menyalami mereka satu persatu.


“Iya, thank’s ya udah pada dateng kesini.” Tutur Deri sambil melirik-lirik ke arah Fio.


“Ehem! Roman-romannya ada yang lagi jatuh cinta nih.” goda Bondan.


“Diem, ******.” Sergah Deri menyenggol bahu kawannya itu. Bondan malah ketawa melihat Deri yang terlihat panik.


“Em, gue boleh pinjem Fio nya sebentar gak?” tanya Deri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Berusaha menutupi kegugupannya.


Sementara itu Fio menoleh ke arah Amora dan ke arah yang lainnya memberikan sebuah kode. Dan setelah sebuah anggukan persetujuan dari Amora, Fio pun mengikuti arahan Deri untuk mengikutinya entah kemana. Sepertinya Deri hendak menyatakan sesuatu pada Fio, batin Amora.


“Ra? Aku mau nyamperin kak Bondan gak papa kan?” tanya Della malu-malu.


“Ya elah, Del. Kenapa mesti ijin ke aku dulu. Udah sana! Aku tahu kok kalau kamu emang udah ada hati sama kak Bondan.” Tutur Amora tersenyum menggoda.


“Uh, makasih Amora sayang,” tutur Della sambil memeluk Amora.


“Udah pergi sana.” Setelah itu Della berlarian kecil ke arah Bondan sambil membawa buket bunga yang sedari tadi dipeganginya.


“Terus, sekarang kita mau kemana, Ra?” tanya Fani masih dengan menggenggam buket bunga juga. Tampaknya Amora tahu kepada siapa buket bunga itu akan ia berikan. Dan sosok yang menjadi tersangka dalam dugaannya itu ternyata tengah menghampiri mereka.


“Boleh gue ngobrol berdua dulu sebentar?” tanya Yuda sambil menatap Amora.


“Iya, sana.” ucap Amora sudah tahu akan seperti ini.


“Sama elo, Ra.” Ucap Yuda membuat Amora kaget. Kenapa yang diajak ngobrol malah dirinya?

__ADS_1


“Gak papa kan, Fan?” tanya Yuda menoleh pada Fani yang diam mematung.


“Oh, ya udah silahkan. Gak ada yang ngelarang kok. Kalau gitu aku pergi dulu ya, Ra,” ucap Fani tanpa aba-aba kemudian pergi dengan tergesa mencoba berbaur dengan yang lainnya. Padahal Amora tahu bahwa Fani berharap Yuda akan bicara dengannya.


"Mau ngomong apa, Kak? Kak Yuda gak mau ngobrol sama Fani?" tanya Amora memancing.


"Ini penting. Ada yang mau gue jelasin soal Bara." tutur Yuda membuat jantung Amora berdegup kencang. Kak Bara?


Di sebuah taman tak jauh dari gedung, Amora dan Yuda duduk di kursi menghadap gedung sebelah Utara. Yuda tampak merangkai kata-kata terlebih dahulu sebelum memulai berbicara.


"Kak Yuda mau ngomongin apa?" tanya Amora membuka percakapan.


"Sebelumnya sorry waktu itu gue pernah nyembunyiin sesuatu sama lo." Yuda tampak mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.


"Bara. Sepertinya dia tak akan pernah kembali lagi kesini." sontak Amora terkejut mendengarnya.


"Ma.. maksud kak Yuda apa?" tanya Amora tak mau mempercayai apa yang barusan ia dengar.


Amora menunduk. Semakin menunduk. Merasakan sakit di hatinya yang tak bisa dicegah. Dadanya mulai sesak merasakan pedihnya kenyataan yang harus ia terima. Apa yang harus ia lakukan sekarang setelah mengetahui ini semua?


"Gue tinggal ya, elo yang sabar aja," ucap Yuda sambil menepuk pelan bahu Amora memberikan semangat. Amora membalas dengan anggukan lalu Yuda pun berlalu. Dan setelah kepergiannya itu, barulah tangis Amora pecah. Air matanya berlinang membanjiri wajahnya.


*


Bryan berlari menuju gedung tempat graduation dilaksanakan namun tampaknya orang-orang sudah berhamburan. Ia pun mencari-cari keberadaan Amora. Ia celingukan kesana kemari. Dan pandangannya terhenti ketika melihat Yuda tengah berbincang dengan Fani.


"Bro, lo.. liat.. Amora, gak?" tanya Bryan terengah-engah.


"Dia ada di taman. Tapi.... dia...." Yuda tampak tak melanjutkan kalimatnya karena sesuatu hal.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara lagi Bryan langsung melesat pergi ke arah yang disebut Yuda. Dan setelah sampai disana, benar saja dugaannya. Amora tengah menunduk. Bahunya berguncang hebat. Ia pun berjalan menghampirinya. Lalu berjongkok tepat di hadapan Amora.


"Ada apa?" tanya Bryan lembut sambil mengusap air mata di pipinya dengan kedua ibu jarinya. Namun air mata Amora bukannya berhenti malah semakin mengalir dengan deras. Tangisnya pecah kembali. Ia seakan teringat perlakuan manis saat Bara tengah bersamanya. Dan hal itu membuat Amora makin tenggelam dalam tangisan.


Bryan langsung bangkit lalu duduk di sebelah Amora. Ia menarik bahunya lalu memasukkan Amora ke dalam pelukannya. Tampaknya ia memang sedang ada masalah besar. Karena Bryan merasakan tubuh Amora yang berguncang hebat.


*


"Makasih ya, udah nemenin gue." ucap Amora setelah mobil yang dikendarai Bryan berhenti tepat di depan gerbang rumahnya. Wajahnya masih merah dan bengkak setelah selesai menangis.


"Gue nyerah." ucap Amora tiba-tiba.


"Maksudnya?" tanya Bryan bingung.


"Gue gak mau berharap lagi sama kak Bara. Gue gak mau inget dia lagi. Gue benci!" tutur Amora dengan nada getir. Juga dengan nada terpaksa.


Bryan yang mendengarnya sontak kegirangan. Kini lampu hijau pasti akan segera tiba baginya. Namun kegirangannya tersebut langsung ia sembunyikan tatkala Amora tiba-tiba menatap mata Bryan dengan lekat.


"Tolong temenin gue." pinta Amora. Namun Bryan malah gugup ditatap dengan tatapan seperti itu. Menguji mentalnya saja. Salah-salah cewek di hadapannya ini bisa ia terkam.


"Te.. tenang aja gue kan udah bilang akan nemenin elo. Bila perlu gue temenin elo sampe malem deh. Bukannya kita juga ada janji buat kumpul di rumah elo kan?" pertanyaan Bryan mengingatkan Amora kembali akan rencananya untuk berkumpul di rumahnya setelah acara graduation selesai.


"Oh iya yah. Ya udah kalau gitu elo tunggu di rumah gue aja sampe mereka semua pada dateng."


"Oke gue sih ngikut kalian aja." jawab Bryan kemudian keluar dari mobil dan seperti biasa membukakan pintu untuk Amora.


Setelah sampai di dalam rumah Amora, Bryan pun duduk di ruang tamu tak mengikuti langkah Amora yang berjalan ke lantai atas menuju kamarnya. Namun Amora yang menyadari hal itu langsung berbalik menoleh ke arahnya.


"Ngapain elo di situ? Ayo di kamar gue!" ajak Amora kemudian berbalik dan melangkah kembali menuju kamarnya. Seketika Bryan diam terpaku. Ini benar-benar menguji imannya. Ia belum pernah masuk ke kamar cewek hanya berduaan saja. Tapi mau tak mau Bryan hanya mengikuti instingnya lalu mengekor Amora di belakangnya.

__ADS_1


***


__ADS_2