Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Penyergapan


__ADS_3

Bara, Arman dan para pengawalnya sampai di lokasi penculikan Mona hampir tengah malam. Mereka sampai di suatu gedung bertingkat yang tampak terbengkalai. Semua orang tak ada yang berpikiran bahwa lokasi tersebut akan dipakai untuk menjadi tempat persembunyian musuh.


“Kita harus tetap bersama. Jangan sampai terpisah.” Titah Arman pada Bara.


“Baik, Pah.” Jawab Bara sambil menatap bangunan tersebut.


“Ambillah,” ucap Arman sambil menyodorkan sebuah pistol pada Bara.


Bara yang melihatnya tampak terbelalak. Ia ragu untuk mengambilnya. Tapi mau tak mau ia harus menerimanya melihat situasi saat ini. Kemungkinan senjata api tersebut akan dibutuhkannya. Ia pun menerima pistol itu dan menyimpannya di saku celananya.


Arman tampak memberi arahan kepada para pengawalnya untuk segera melakukan penyergapan.


“Apa kita tak sebaiknya lapor polisi, Pah?” tanya Bara melihat Arman yang tengah memberikan arahan.


“Sudah papah hubungi, tapi pihak polisi hanya akan bertindak jika laporan masuk sudah 24 jam.”


Bara hanya mendesah mendengarnya. Memang sudah tepat mereka melakukan penyerangan saat ini. Jika dinanti-nanti, ia takut ada hal buruk terjadi pada ibunda tercintanya. Dan itu adalah hal yang paling ditakutkan dirinya.


Penyergapan mereka pun dimulai. Sebelum itu, para pengawal dibagi ke dalam beberapa tim. Tim yang pertama memancing para penjaga di halaman depan. Tim yang kedua melawan penjaga yang berada di dalam gedung lantai pertama.


Sedangkan tim yang ketiga bertugas mencari keberadaan dan menyelamatkan Mona di lantai dua. Bara dan Arman berada dalam pengawalan tim ketiga yang memang paling tangguh diantara yang lainnya. Setelah semuanya dirasa sudah siap, akhirnya Arman memimpin dengan masuk terlebih dahulu.


Ketika memasuki halaman, para penjaga yang ada di sana semuanya langsung berhamburan menyerang ke arah gerombolan para pengawal Arman. Tim yang pertama dengan sigap langsung menghadang para penjaga itu untuk melindungi Arman dan Bara serta kedua tim lainnya.


Bara melihat gedung yang hanya terdiri dari dua lantai itu. Ia menangkap siluet orang yang memperhatikan ke arah mereka. Tampaknya dia adalah pemimpin dari penculikan ini.


“Kita akan segera masuk ke dalam,” ucap Arman memberikan aba-aba pada Bara.


Mereka pun bergegas masuk ke dalam bangunan tersebut meninggalkan tim satu untuk membereskan penjaga yang ada di luar. Setelah masuk, mereka langsung disuguhi oleh para penjaga yang memiliki postur tubuh dua kali lipat dari tubuh mereka.

__ADS_1


“Bara, awas!” teriak Arman memperingati satu penjaga yang hendak memukul Bara dari arah belakang. Dengan refleks Bara menangkis serangan tersebut dan menjatuhkan lawannya. Walaupun memiliki postur yang besar, Bara mampu untuk merobohkannya dengan sekali serangan menggunakan jurus yang selama ini ia pelajari.


“Kita harus segera ke atas,” titah Arman dan langsung mendapat anggukan dari Bara. Mereka berdua ditemani tim yang ketiga segera menuju ke lantai atas. Sementara itu, tim dua menangani para penjaga yang rata-rata bertubuh besar.


Ketika Bara menaiki anak tangga terakhir, perlahan-lahan ia melihat seseorang yang tengah duduk di kursi dan diikat dengan tali. Ia langsung mengetahui siapa orang tersebut walau hanya melihat dari belakangnya saja.


“Mah!” teriak Bara hendak menghampiri ibundanya, namun lengannya langsung dicekal oleh Arman.


“Jangan bertindak gegabah,” ucap Arman. Dan sesuai dengan dugaannya, seorang pria muncul yang diduga adalah bos dari semua kejadian ini serta para anak buahnya yang mengerubungi sang ibunda.


“Hahahaha,” tawa orang itu dengan suara membahana.


“Anda sangat gegabah sekali yah, tuan Arman,” ucap orang itu sambil menyulut rokoknya dan menghembuskannya dengan penuh keangkuhan.


“Siapa kamu?” tanya Arman.


“Saya adalah bos Yus. Kamu pasti tahu tentang perusahaan Noor Art.” Ucapnya menghembuskan asap rokoknya kembali.


“Papah kenal sama orang itu?” tanya Bara. Arman menggeleng pelan. Ia tak pernah melihat orang tersebut dalam hidupnya. Namun Arman mengetahui tentang perusahaan Noor Art, perusahaan pesaingnya di bidang seni.


“Atmanaja Group. Perusahaan besar yang sudah memiliki banyak investor. Kalian tidak akan mungkin memperhatikan perusahaan kecil kami.” Ucapnya sinis.


“Apa maksudmu?” tanya Arman mulai jengah dengan permainan katanya.


“Kau sudah mengambil para investor kami!!” teriaknya kencang sambil menggebrak meja yang ada di sampingnya. Arman yang mendengarnya langsung tahu apa yang sebenarnya jadi titik permasalahan disini.


“Perusahaanmu saja yang tidak bonafit sehingga para investor enggan berinvestasi di perusahaanmu itu.” sergah Arman.


“Diam kau! Kau tidak akan mengerti!” teriak bos Yus.

__ADS_1


“Jangan salahkan kami. Karena perusahaan kamu sendiri lah yang tidak layak mendapatkan seorang investor,” ucap Arman mengingat beberapa kasus yang pernah dialami oleh perusahaan Noor Art tersebut.


“Bacot kau! Serang mereka!” seketika semua anak buahnya menyerbu Arman dan Bara. Para pengawal langsung gerak cepat menghadangnya untuk membantu. Mereka berkelahi dengan penuh ketegangan, karena tak bisa dipungkiri bahwa anak buah bos Yus cukup terlatih.


Bara melawan lima pria sekaligus yang mengelilinginya. Ia menatap satu persatu lawannya tepat di manik matanya, mencoba fokus untuk membaca gerakannya. Satu serangan yang ditujukan padanya langsung ditangkis dan satu bogem Bara arahkan tepat di ulu hatinya, membuat satu pria itu terbujur di atas lantai.


Bara menatap kembali empat pria sisanya. Sementara itu mereka berempat menyerang Bara secara bersamaan. Dengan kesigapan maksimal, Bara menangkis satu persatu serangan yang paling fatal yang diarahkan kepadanya.


Sementara itu Arman melawan dua orang pria yang memiliki tubuh besar. Ia diserang dari arah berlawanan membuatnya cukup kesulitan mengambil tindakan. Namun Arman tetap bisa menahan serangannya.


Para pengawal Arman pun sedang sibuk menghadapi satu persatu anak buah bos Yus. Namun tampaknya sang bos itu menghilang dari ruangan tersebut dan tak ada yang menyadarinya. Ruangan itu penuh dengan darah yang berceceran dari lawan yang terkena hantaman maupun pukulan.


Bara terengah saat dirinya telah melumpuhkan kelima lawannya itu. Ia melihat ke arah Arman dan mencoba membantunya. Namun tampaknya sang ayah bisa menghandle kedua lawannya dengan baik. Tak lama Bara langsung menghampiri sang ibu setelah dirasa aman.


Ia membuka ikatan tali dan sumpalan yang ada di mulutnya. Perlahan tali itu terlepas dan Bara langsung berhambur memeluk sang ibu. Arman pun menghampiri mereka berdua dan langsung memeluk istri tercintanya itu bergantian.


“Maaf kami datang terlambat.” Ucap Arman penuh penyesalan, karena telah gagal mencegah penculikan ini terjadi. Arman memeluk Mona dengan sangat erat, seakan takut ia akan kehilangan istrinya kembali jika ia melepaskan pelukannya.


“Kau sudah datang tepat waktu.” Jawab Mona berlinang air mata sambil membenamkan wajahnya di dada suaminya itu. Ia sangat lega melihat Arman maupun Bara datang menyelamatkannya. Bara yang melihatnya pun merasa lega karena sang ibu tak ada luka sedikit pun.


Suasana berubah jadi penuh haru setelah perkelahian hebat yang dimenangkan oleh pihak Arman. Para pengawalnya pun ikut senang melihat suasana keluarga tersebut yang penuh dengan kehangatan. Bangga mempunyai atasan seperti Arman yang menyayangi keluarganya dengan sangat tulus.


Tak lama Mona menyadari satu hal yang sangat darurat. Seketika wajahnya menegang mengingat hal tersebut. Ia sangat ingat ketika dirinya pura-pura pingsan dan mendengarkan percakapan antara bos Yus dengan ajudannya.


“Ada apa, Mah?” tanya Bara melihat raut khawatir sang ibu.


“Kita harus segera pergi dari sini!” ucap Mona panik.


“Memangnya ada apa?” tanya Arman ikut khawatir.

__ADS_1


“Dia memasang bom di gedung ini!”


***


__ADS_2