
Bel istirahat pun berbunyi. Semua murid berhamburan keluar kelas.
"Masuklah." ucap Bu Sri pada Amora.
"Makasih, Bu."
"Sedangkan kamu ikut saya." titahnya pada Bryan.
Ia menatap Amora sebentar lalu mengikuti Bu Sri dari belakang. Kebersamaan Bryan dan Amora sudah selesai. Kini Bryan harus menjalani beberapa proses pembelajaran yang tertinggal guna menyamakan taraf pembelajaran di sekolah sebelumnya.
Amora yang berdiri selama satu jam lebih sangat kewalahan. Ia memang jarang sekali olahraga sehingga tubuhnya gampang lelah. Dulu ia pernah belajar bela diri beberapa saat dan tubuhnya terasa ringan. Namun setelah Bara pergi, ia sudah lama tak melatih tubuhnya.
Alhasil ia hanya bisa tertidur di dalam kelas tanpa menghiraukan yang lainnya. Rasa lapar pun seolah tak terasa sama sekali. Fani yang melihatnya malah menyumpal mulut Amora dengan roti.
"Ayo cepet makan." paksa Fani. Amora tak bersuara namun mulutnya terlihat sedang mengunyah roti tersebut.
"Ada-ada aja ini anak. Udah tau bu Sri itu gak suka sama murid yang ngobrol pas pelajarannya, eh kamu malah ngobrol sama si Bryan." omel Fani.
"Mau gimana lagi. Itu anak kalau didiemin justru malah makin ngelunjak." jawab Amora masih dengan posisi tertidur di atas meja. Namun ia tetap duduk di kursinya, hanya kepalanya yang bersandar di atas meja dengan kedua matanya yang terpejam.
Fani tidak bisa berkomentar apa-apa setelah mendengarnya. Ia malah terus menyuapi Amora yang walau matanya terpejam tapi mulutnya terus mengunyah roti yang dijejalkan Fani ke dalam mulutnya.
Amora merasa lelah. Entah fisiknya atau malah batinnya yang lelah. Ia tak tahu. Rasanya ia tidak memiliki semangat lagi. Beberapa hari kebelakang, tidur adalah hobi baginya. Merasa lelah sedikit saja rasanya ia bisa langsung tertidur.
Fani membiarkan Amora tertidur setelah disuapi roti. Ia melihat banyak perubahan pada Amora setelah kematian kedua orang tuanya. Namun Fani sangat mengerti kesedihan yang dialami Amora tidak main-main. Setelah ditinggal pergi oleh Bara secara tiba-tiba ia pun harus ditinggal oleh kedua orang tuanya untuk selamanya.
Kalau dipikirkan, rasanya ia tak akan sanggup jika membayangkan dirinya berada diposisi Amora. Pasti berat sekali. Orang bilang jika seseorang yang memiliki hobi tidur, ia memiliki kesedihan yang luar biasa dalam hidupnya. Dan tampaknya hal itulah yang sedang dialami oleh sahabatnya.
"Ra?" panggil Fani memastikan. Namun tak ada jawaban yang terdengar dari mulut Amora. Tampaknya ia sudah tertidur. Fani pun meninggalkan Amora agar ia dapat tidur tanpa terganggu. Di kelas pun tak ada siapa-siapa lagi karena semua murid tengah beristirahat di kantin.
Kini Amora tengah tertidur di dalam kelas seorang diri. Kesedihannya seolah berkurang. Beban dan pikirannya lenyap. Hanya mimpi yang menghinggapinya saat ini.
Namun ditengah lelap tidurnya, Amora tiba-tiba dibangunkan oleh dering ponsel yang tadi pagi lupa ia silent. Kepalanya terasa pecah mendengar dering ponsel tersebut. Dengan malas dan mata yang masih terpejam, jarinya dengan lincah menggeser pola dan menerima panggilan tersebut.
"Halo?" tanya Amora dengan suara parau. Khas orang yang baru saja bangun tidur. Serak dan lemah. Namun Amora tak mendengar jawaban dari sambungan tersebut.
__ADS_1
Mau tak mau Amora yang merasa aneh langsung membuka kedua matanya melihat ke arah layar ponselnya. Nomor yang tak dikenal. Siapa?
"Halo?" tanya Amora lagi. Namun tetap tak ada jawaban. Aneh. Tak lama terdengar jawaban dari seberang sambungan.
"Amora." sebuah suara yang membuat jantung Amora berdegup dengan kencang. Telinganya tidak salah dengar kan?
Suara itu adalah suara yang sangat ia rindukan. Air matanya tiba-tiba mengalir.
"Kak Bara?" Amora tak tahan dan akhirnya tangisannya pecah.
"Maaf," jawab suara tersebut. Amora tak bisa berkata apa-apa lagi. Mulutnya kelu. Rasanya ia ingin sekali memeluk sosok Bara saat ini juga. Namun apalah daya, itu hal yang mustahil dilakukannya.
"Kakak kemana aja?" tanya Amora mencoba menguatkan diri.
"Maaf kakak baru bisa kasih kabar." ucap Bara lembut.
Amora merasa ini seperti mimpi. Ia sama sekali tak menyangka bisa mendengar suara sang kekasih hati setelah sekian lama. Rasa rindu itu menggebu-gebu di dalam hatinya.
"Begini, ada yang mau kakak sampaikan." ucap Bara.
"Kita akhiri saja hubungan ini."
Degh! Perkataan Bara barusan adalah pukulan besar bagi Amora. Ini gak mungkin nyata. Jantungnya berdegup kencang. Ia menggeleng kuat. Ekspresi Amora berubah menjadi sendu.
"Maksudnya apa, Kak? Kakak gak salah ngomong kan?" tanya Amora masih tak percaya dengan perkataan Bara.
"Maafin kakak, Ra. Maaf." tutur Bara berat.
"Amora gak mau, Kak." pinta Amora.
"Kenapa harus seperti ini? Amora bakal tunggu sampai kakak kembali."
"Enggak, Ra." ucapannya langsung dibantah Bara.
"Ini demi kebaikan kita." suara Bara pun terdengar sangat lirih saat mengucapkannya.
__ADS_1
"Kenapa?" suara Amora terdengar parau. Hatinya sakit. Sakit sekali. Rasanya ini tak nyata. Kenapa Bara ingin mengakhiri hubungan mereka? Apa salahku? Batin Amora meraung bertanya-tanya.
"Berikan satu alasan yang kuat." pinta Amora. Hening. Tak ada suara dari seberang. Namun tarikan nafas yang berat terdengar dari sana.
"Maaf," lagi-lagi hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Bara.
"Amora gak butuh maaf kakak." ia kini berubah jadi marah.
"Lalu ciuman itu," Amora sedikit merona mengatakannya.
"Ciuman itu apa tak ada arti apa-apa buat kakak?" lanjutnya masih dengan nada marah.
"Ciuman itu adalah yang pertama buat kakak." gumam Bara sambil menghela nafas.
"Dan juga untuk yang terakhir kalinya." sambungnya.
Amora menangis sejadi-jadinya. Hatinya sakit, rasanya sesak sekali. Entah apa alasan Bara untuk mengakhiri hubungannya. Tapi satu hal yang Amora tangkap, bahwa Bara mengatakan hal itu dengan nada yang tak biasa. Seperti keterpaksaan.
Amora mencoba menenangkan dirinya. Mengatur nafasnya dan menghapus bulir-bulir bening air mata di pipinya. Ia harus kuat menghadapi ini. Entah untuk dirinya atau untuk Bara. Amora pasrah.
"Jadi hubungan ini hanya sampai disini saja?" tanya Amora pada akhirnya. Ia mencoba tabah untuk yang kesekian kalinya.
"Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari kakak." ucapnya tertahan. Tampaknya kalimat tersebut sulit sekali diucapkannya.
"Baiklah." ucap Amora membuat Bara tercekat. Ia tak mau memaksakan hubungan ini untuk terus berlanjut. Baginya, sosok Bara penuh dengan perhitungan. Tak mungkin ia memutuskan begitu saja tanpa ada alasan yang jelas. Pasti ada hal yang membuatnya harus melakukan itu.
"Lanjutkan apa yang mau kakak lakuin." ucap Amora sudah mulai menstabilkan emosinya. Nadanya pun tegas tanpa ada keraguan lagi.
"Jaga diri kamu baik-baik." tutur Bara dan ucapan terakhirnya itu sukses membuat mata Amora menggenang kembali. Linangan air matanya tak dapat dibendung.
Sambungan itu terputus seiring isak tangis Amora yang semakin kencang. Semua sakit di hatinya adalah bukti nyata bahwa Bara benar-benar sudah meninggalkannya. Sakit memang. Namun hal ini lebih baik daripada ia menghilang tanpa berpamitan.
Kenangan itu terlintas kembali diingatan Amora. Pada malam sunyi, ciuman pertama yang dilakukannya dengan Bara. Hal yang baginya sangat membekas di hati Amora hingga kini. Ia tak habis pikir bahwa sekarang Bara bukanlah lagi kekasihnya.
***
__ADS_1