Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Gangguan Mental


__ADS_3

Langkah kakinya terus menyusuri lorong sunyi serba putih. Tak ada siapapun di sana, hanya suara langkah sepatunya yang terdengar. Dan setelah sampai di depan pintu yang juga berwarna putih itu, ia pun langsung mengetuk pintunya.


“Masuk,” titah suara seseorang dari dalam ruangan tersebut. Ia pun memutar handle pintu dan masuk ke dalam.


“Amora? Raut wajahmu kali ini lebih baik dari sebelumnya.” Ujar wanita berpakaian serba putih.


“Dokter selalu bilang begitu setiap saya datang.” Jawab Amora kemudian duduk di depan meja di hadapan dokter wanita itu.


“Kali ini berbeda. Kamu sedikit lebih ceria.” Tutur sang dokter namun hanya dibalas senyuman lemah.


Amora sudah lama berkonsultasi dengan dokter psikolog beberapa tahun belakangan ini. Sakit kepala yang selalu ia rasakan pun menurut sang dokter disebabkan karena stress dan depresi yang dialaminya. Namun konsultasi ini sengaja Amora rahasiakan dari siapapun termasuk Bryan. Ia tak mau banyak orang yang tahu tentang kondisinya yang memprihatinkan.


Dan ternyata selama ini usaha Amora untuk menutupinya berhasil. Bryan tak pernah tahu tentang konsultasinya ini. Berharap ia tak akan pernah mengetahuinya hingga dirinya dinyatakan sembuh seutuhnya. Amora juga akan berusaha agar penyakitnya ini bisa sembuh dengan cepat.


*


Paul menyerahkan beberapa berkas hasil pemeriksaan pada Bara. Sementara itu Bara bingung saat menerima dokumen yang disodorkan oleh Paul padanya.


“Ini….”


“Itu adalah berkas laporan hasil konsultasi nona Amora dari dokter psikolog yang menanganinya selama ini.” Jawab Paul.


“Psikolog?” Bara sangat terkejut mendengarnya. Selama ini ia baru tahu tentang satu informasi penting ini.


“Iya. Sepertinya nona Amora memiliki penyakit psikolog karena dilihat dari hasil laporannya dalam beberapa tahun terakhir.” Tutur Paul dan Bara pun langsung bergegas membaca berkas tersebut.


Psikosomatis. Jenis gangguan mental ini memunculkan masalah fisik dari cara berpikir penderita sendiri. Gejala gangguan ini diawali dari rasa cemas, gelisah, stress sampai depresi. Masalah fisik yang muncul dari gangguan mental ini meliputi mudah lelah, nyeri pada otot, sesak nafas, hingga telapak tangan berkeringat. Terkadang juga mengalami cemas berlebih walau keluhannya itu sangat ringan.


Disosiatif. Jenis gangguan mental menghilangkan kesinambungan antara pikiran, tindakan, ingatan, hingga identitas dirinya sendiri. Gangguan ini sering dialami seseorang dengan pengalaman traumatis mendalam sebagai bentuk pertahanan diri dari trauma tersebut.

__ADS_1


Depresi. Gangguan mental ini membuat penderitanya merasa gelisah, resah, putus harapan dan tidak berharga. Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan bunuh diri karena perasaan putus asa yang berkelanjutan membuat penderitanya merasa sia-sia untuk tetap hidup.


“Astaga,” Bara langsung lemas setelah membacanya. Ia tak pernah menyangka terhadap apa yang sedang Amora alami saat ini.


“Psikosomatis, Disosiatif dan Depresi?” tanya Bara lebih kepada pernyataan tidak percaya.


“Benar. Sepertinya ada masalah yang membuat dia trauma pada satu kejadian bahkan beberapa kejadian yang membuatnya menjadi seperti ini.” Tutur Paul. Ia memang sudah diberitahu oleh dokter yang menangani Amora tentang penyebab penyakitnya itu.


Bara yang tak menyangka dengan informasi yang baru didapatnya ini langsung rubuh. Pandangannya sayu dan nanar. Bagaimana mungkin ia meninggalkan Amora dalam kondisi yang parah seperti ini? Apa semua penyakitnya itu disebabkan olehnya? Jika benar seperti itu, Bara merasa sangat bersalah sekali kepadanya.


“Paul, apa yang harus kulakukan sekarang?” tanyanya dengan pandangan muram. Sosok Bara yang dilihat Paul kini berubah drastis. Sifatnya yang gagah, tegas dan berkharisma seketika menghilang berganti dengan sosoknya yang tampak lemah dan rapuh.


“This is not your fault, Bara. Semua ini bukan salah anda. Saya yakin kalau nona Amora pasti akan sembuh.” Tutur Paul berusaha menghibur Bara.


Paul memang sudah mengetahui kisah cinta Bara yang terpaksa harus kandas demi memperjuangkan perusahaan Atmanaja Group. Ia pun sangat memaklumi keputusan Bara untuk berpisah dengan kekasih hatinya. Namun ternyata dampak dari hal itu cukup besar mengguncang batinnya. Baik Amora maupun Bara. Keduanya memiliki luka yang cukup dalam di hatinya masing-masing.


*


“Jangan lupa sediain makanan yang banyak yah. Elo tau sendiri kalau perut kita itu melar banget.” Ucap Dimas cengengesan.


“Ye, itu mah perut elo doang kali.” Bantah Erin memukul bahu Dimas.


“Tenang nanti gue gofood aja ya beli makanannya.”


“Apapun yang penting ada makanan gue cus.”


“Ya udah ayo naik.” Tutur Satria menyuruh Amora, Erin dan Dimas menaiki mobilnya.


“Dim, elo aja yang bawa mobil gue yah,” pinta Satria sambil menyerahkan kunci mobilnya pada Dimas.

__ADS_1


“Bilang aja lo mau modus deketin si Amora. Dasar lo,” gerutu Dimas namun ia hanya mengambil kunci mobil itu dan duduk di belakang kemudi.


“Rin, elo duduk di depan yah. Gue mau duduk di belakang.” Pinta Satria pada Erin.


“Iye dah. Terserah elo aja.” Kini giliran Erin duduk di sebelah Dimas. Satria pun masuk dan duduk di sebelah Amora yang sudah lebih dulu berada di dalam mobil.


Sementara itu Amora hanya terdiam memandang ke arah luar jendela. Pikirannya kosong memandang lurus ke depan. Ia bingung dengan tujuan hidupnya saat ini. Apa yang ingin dia capai setelah kehilangan semua orang-orang yang ia sayang.


"Ra?!" panggilan Satria membuyarkan lamunan Amora.


"Eh, apa? Sorry gue lagi ngelamun." jawab Amora sambil tersenyum meringis.


"Lagi ngelamunin apaan? Serius banget." tanya Satria dengan raut wajah cemas.


"Hati-hati, Ra. Si Satria lagi modus tuh." goda Dimas sambil tetap fokus menyetir.


"Bukan apa-apa kok. Oh iya, gue yang beliin camilan ya buat nanti." tawar Amora berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Wah, mantep tuh." jawab Dimas kesenangan karena pemasok makanan untuknya semakin banyak.


"Ra, elo gak papa? Mukanya kayak pucat gituh." tutur Erin melihat ke arah Amora.


"Oh ini, gue lagi gak pake make up aja, jadi kelihatan kayak pucat." bantahnya sambil tersenyum tipis.


Erin pun tak bisa membantah lagi. Ia tahu mana wajah yang pucat karena make up dan mana yang wajahnya pucat karena kondisi badannya yang memang sedang drop. Namun ia hanya bisa diam dan mengawasi saja.


Sementara itu Satria pun yang duduk di samping Amora merasa bahwa wanita di sebelahnya ini memang seperti sedang kurang sehat.


"Kalau elo mau istirahat bilang aja yah," tutur Satria dengan nada lembut yang sarat akan kekhawatiran.

__ADS_1


***


__ADS_2