
“Halo, gimana tidurnya? Nyenyak?” sapa Bryan pada Amora. Amora hanya mengangguk bingung.
“Elo gak gabung sama anak sekolah lo?” tanya Amora mengalihkan pikirannya.
“Mereka udah happy tanpa gue.” Jawab Bryan sambil memberikan daging dan sosis yang sudah ia panggang ke dalam piring dan memberikannya pada Amora.
“Thank you.” Ucap Amora menerima makanan tersebut. Semuanya tampak mengambil daging dan sosis yang sudah matang ke dalam piring masing-masing.
“Tingkat kematangannya enak nih.” Ujar Fio sambil memakan daging yang ada di piringnya.
“Gak terlalu alot juga.” Sambung Fani setuju dengan Fio.
“Oh iya dong, siapa dulu yang manggangnya.” Tutur Deri dan seperti biasa mendapat toyoran dari Bondan.
“Kampret! Dari tadi kan kerjaan elo cuma makan doang,” sergah Bondan. Suasana pun tercipta penuh dengan kehangatan.
Setelah perut mereka kenyang, mereka beralih ke dalam ruangan karena cuaca di luar mulai dingin.
“Gimana nih kita mulai aja gamenya?” tanya Fio antusias dan langsung menyiapkan botol kaca yang akan digunakannya dalam permainan.
“Kita jadinya mau main truth or dare?” tanya Amora kemudian duduk di atas alas tebal yang disediakan villa.
“Ayo gue ikut.” Dan yang lainnya langsung duduk mencari tempat nyamannya masing-masing. Tentu saja Bryan tak mau melewatkan kesempatan untuk duduk berdekatan dengan Amora.
“Semuanya udah siap?” tanya Fio mulai memutar botolnya setelah melihat semua yang ada dalam ruangan duduk melingkar dengan rapih. Botol itu berputar dengan kencang sementara semua orang waspada takut botol itu mengarah padanya. Tak lama botol itu berhenti dan mengarah pada Yuda.
“Yes, si kampret harus gue tanyain sesuatu.” Ucap Bondan sumringah.
“Mau nanya apaan emang lo?” tantang Yuda namun jantungnya berdegup kencang menanti pertanyaan yang akan dilontarkannya.
“Siapa nama orang yang lo sukai sekarang?!” tanya Bondan sambil senyum-senyum menggodanya. Semua yang ada disitu menanti jawaban dari Yuda. Khususnya Fani, dia memasang telinganya lekat-lekat ingin mengetahui satu nama yang akan diucapkan oleh Yuda.
“Gue pilih dare aja deh.” Jawab Yuda sambil melirik ke arah Fani selintas. Ia ragu untuk menyebutkan namanya.
“Ah gak seru lo!” protes Deri.
__ADS_1
“Tenang, gue punya ide.” Bisik Bondan pada Deri yang duduknya memang saling berdekatan.
“Oke, gak papa. Tapi yang mau kita suruh lumayan beresiko loh.” Goda Bondan mengerlingkan matanya.
“Emang kampret punya temen,”
“Cium orang yang ada disini, yang elo sayang!” ucap Bondan puas dengan perintahnya itu.
“Sialan lo, Dan.” Gerutu Yuda.
“Ayo cepetan!” perintah Bondan membuat Yuda berdiri dan berjalan menghampiri orang yang akan dia cium. Yuda berjalan ke arah Fani, namun hatinya dipenuhi oleh kegalauan. Bagaimana kalau dia langsung ditampar karena menciumnya? Atau malah ia akan jijik melihatnya.
Sebuah pemikiran gila tiba-tiba melintas dalam kepala Yuda. Ia kini berjalan melewati Fani dan malah menghampiri Bondan.
“Ngapain lo malah kesini, Nyet?!” Bondan waspada melihat Yuda malah menghampirinya. Dan tanpa diduga Yuda langsung menerkam tubuh Bondan.
“Monyet! Ngapain elo malah mau nyium gue?!” ucap Bondan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Hal itu malah membuat semua orang tertawa.
“Kan kata elo cium orang yang gue sayang. Gue kan sayang sama elo,”
Setelah mengecup Bondan, Yuda mengedipkan matanya dengan kerlingan nakalnya.
“Najis lo, Yud,” gerutu Bondan mengelap pipinya. Yuda kembali ke tempat duduknya.
“Manis, Dan,” goda Yuda mengusap bibirnya yang telah mencium Bondan itu.
“Monyet! Bulu kuduk gue berdiri semua tau! Najis!” gerutu Bondan tak terima.
“Oke, kalau gitu kita lanjut putar botolnya ya,” ucap Yuda dan semua orang mulai menghentikan tawanya. Botol itu kembali diputar. Kecepatannya makin lama makin melemah dan kemudian botol itu berhenti dan mengarah pada Amora.
“Wah akhirnya pemeran utama kita nih. Siapa yang mau nanya?”
“Gue!” ucap Bryan berebut.
“Ada yang mau gue tanyain.” Ucap Bryan menatap manik mata Amora.
__ADS_1
“Mau tanya apa?” tanya Amora menatap Bryan yang memasang ekspresi serius. Ia jadi waspada.
“Siapa nama cowok yang ada di hati elo saat ini?” tanya Bryan serius.
“Wah, gue tahu tuh siapa.” tutur Bondan. Fio, Della dan Fani pun sudah menduga Amora akan menjawab apa.
“Em. Kak Bara.” Jawab Amora tersenyum malu. Namun hatinya seolah terasa sakit saat menyebut nama Bara karena rasa rindunya yang sudah sangat membuncah ingin bertemu dengannya. Sementara itu Bryan menatap nanar Amora. Walaupun begitu ia tetap berusaha untuk mendapatkan hatinya.
“Kalau misalkan suatu saat dia pergi jauh, apa elo akan terus mencintainya?” tanya Bryan memandang wajah Amora lekat-lekat. Ia tak mau melewatkan ekspresi Amora sedikit pun. Namun rasanya Amora ingin menangis mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Bryan. Bahkan membayangkannya pun Amora tak sanggup. Ia tak akan kuat untuk berpisah dengan Bara, sang pemilik hatinya.
Air mata Amora mulai menggenang di pelupuk matanya. Bibirnya bergetar menahan sakit yang dirasa bilamana hal tersebut terjadi.
“Wah elo parah, Bro. Ngerusak suasana aja,” ucap Deri melihat Amora yang hendak menangis.
“Iya nih. Ayo kita pukul si Bryan rame-rame!” seketika semua yang ada di situ langsung menghampiri Bryan dan memukul-mukul punggungnya. Amora yang melihatnya pun langsung tersenyum.
“Sorry yah, Ra. Gue udah nanya kayak gituh,” ucap Bryan tulus. Hampir saja ia membuat kesalahan dengan membuatnya menangis.
“Iya, gak papa.” Jawab Amora memaksakan senyuman. Ia juga tak mau merusak suasana dengan kesedihannya itu.
“Jadi, kita lanjut lagi yah,” ucap Amora dan mendapat seruan dari semuanya. Tampaknya semua orang terbakar lagi semangatnya.
Botol itu pun diputar kembali oleh Amora. Kewaspadaan menyergap semua yang ada disitu. Kali ini siapakah yang akan kena. Dan tak lama botol itu berhenti tepat di hadapan Bryan. Deri yang menyadari itu langsung membuat ide.
“Gue aja yang nanya.” Ucap Deri dengan gelagat nakalnya.
“Pede banget elo. Gue pilih dare,” ucap Bryan mencoba memilih tantangan.
“Sungguh berani anda,” ucap Bondan geleng-geleng kepala.
"Oke kalau gitu. Cium orang yang elo sayang disini." titah Bondan. Ia ingin melihat Bryan mencium Deri karena ia berpikir bahwa orang terdekat Bryan saat ini adalah Deri. Agar ia jadi korban cium seperti dirinya. Bondan mengerling nakal menatap Deri.
Namun tampaknya pemikiran Bondan tidak sesuai dugaan. Bryan masih diam di tempat. Ia terlihat menatap ke arah Amora. Dan tanpa diduga, Bryan mendekatkan wajahnya ke wajah Amora dan mengecup pipinya.
Betapa terkejutnya Amora menyadari hal itu. Matanya membulat sempurna menatap Bryan tak menyangka.
__ADS_1
***