
Setelah selesai dengan semua belanjaannya, Amora segera pergi ke kasir untuk membayarnya. Bukan harga yang terbilang murah untuk membeli satu produk kosmetik ternama itu. Namun uang jajan Amora yang besar cukup untuk membeli semua produk yang ia beli.
Kasir itu menyebutkan nominal yang harus ia bayar dan Amora langsung menyodorkan kartu ATM nya. Ia sudah tak mau mengeluarkan credit card yang diberikan almarhum ayahnya padanya. Karena setelah kedua orang tuanya meninggal, ia mencoba untuk tak lagi menggunakan fasilitas yang diberikan kedua orang tuanya itu.
Perusahaan kedua orang tuanya yang kini sudah berpindah tangan pada pamannya itu sudah tak mau lagi menjamin credit card nya. Entah kenapa. Sehingga mau tak mau Amora hanya menggunakan uang tabungan yang selama ini selalu ditransfer oleh bundanya, dengan nominal yang tak sedikit tiap bulannya. Dan jumlah tabungannya, Amora pun tak pernah tahu karena ia jarang sekali mengeceknya.
Setelah selesai melakukan transaksi tersebut, Amora berbalik dan tak sengaja menyenggol seorang perempuan. Ia pun terjatuh sementara perempuan yang ditabraknya malah tidak. Aneh sekali. Seolah disengaja.
“Maaf,” ucap Amora sambil mengambil belanjaannya yang terjatuh. Bisa bahaya jika cushion atau lip balmnya patah. Namun perasaan lega terlihat dari wajahnya setelah memastikan semuanya aman.
“Cewek gak tahu diri.” Gumam perempuan itu. Refleks Amora menoleh ke arahnya dan betapa terkejutnya ia melihat siapa perempuan di hadapannya.
“Kak Stella?” Amora terkejut melihatnya. Seketika ia teringat kembali kenangan buruk saat Stella membuli dirinya.
“Syukurlah elo masih inget gue.” Matanya saling beradu. Sedetik kemudian Amora langsung menunduk.
“Kalau gitu, saya duluan ya, Kak.” Namun tanpa disangka, Stella langsung berdiri menghadangnya. Bahaya!
“Ada yang mau gue omongin sama elo. Ikut gue.” Perintahnya. Amora masih diam mematung, ragu dengan ajakannya. Apa ia kabur saja? Firasatnya tidak enak sama sekali.
“Ayo!” Stella menoleh ke belakang melihat Amora masih diam saja tak mengikutinya.
“I.. iya, Kak.” Akhirnya Amora mengikuti Stella dengan mengekornya di belakang. Celingak-celinguk Amora mencari sosok Bryan. Namun tak terlihat sama sekali.
Amora dibawa ke sebuah restoran yang cukup besar. Namun tak ada pelanggan sama sekali. Sepi. Hanya ada dirinya dan kakak kelasnya saja di dalam.
“Mau pesan apa?” tanya pelayan itu menghampiri.
“Gue cappuccino. Elo mau apa?” tanya Stella menoleh pada Amora.
“A.. aku jus strawberri aja, Kak.”
“Oke itu aja.”
__ADS_1
“Baik, tunggu sebentar ya.” Ucap pelayan itu segera menyiapkan pesanannya.
Amora masih kaku. Ia lebih banyak menunduk. Tak berani menatapnya. Rasa trauma itu masih melekat dalam ingatannya. Ia takut kejadian yang sama terulang kembali.
“Ehem!” Stella berdeham dengan cukup keras membuat tubuh Amora sedikit terguncang karena kaget.
“Sorry ya, waktu dulu gue udah kejam banget sama elo.” Ucap Stella sambil menyalakan rokok dan menghembuskan asapnya ke sembarang tempat.
Amora yang mendengarnya bingung. Antara lega atau malah harus takut. Kenapa rasanya permintaan maafnya itu terdengar tak tulus? Seperti tak memakai hati. Hanya asal ucap. Tapi lagi-lagi Amora hanya bisa berpikir positif. Mungkin kakak kelasnya itu memang punya perangai seperti itu.
Malah rasanya aneh kalau dia terlihat meminta maaf dengan tulus. Ketua geng cewek kelas tiga yang populer. Banyak adik kelas terutama siswi perempuan yang takut dan segan padanya. Jadi, merupakan suatu kehormatan bisa mendengar kata maaf darinya. Mungkin itu cukup untuk sekarang.
“Lo masih takut sama gue?” tanya Stella sambil menghisap kembali rokoknya. Kali ini Amora memberanikan diri menatap tepat ke arah Stella.
“E..enggak kok, Kak.” Jawab Amora menyunggingkan senyumannya dengan canggung.
“Bagus kalau begitu.” Jawab Stella menyemburkan kembali asap rokoknya.
“Gue ke toilet sebentar. Elo tunggu disini.” Tutur Stella kemudian berlalu.
Tiba-tiba dering ponsel Amora berbunyi. Tanda panggilan masuk. Ia langsung mengangkatnya.
“Ra, elo dimana?” tanya Bryan dari seberang dengan nada yang terdengar khawatir.
“Gue lagi di restoran. Lumayan besar. Interiornya juga cukup bagus.” Amora menyebutkan ciri-ciri restoran yang dimaksud.
“Sama siapa?” tanyanya.
“Kak Stella.” jawab Amora.
“Ya udah gue kesana sekarang. Gue tahu restoran itu.” Ucapnya dan langsung memutus sambungan. Apa tidak akan terjadi masalah jika Bryan menemuinya saat ini? Entahlah Amora juga tak mau memikirkannya.
“Sorry ya lama.” Ucap Stella kembali menghampiri Amora dengan membawa minumannya.
__ADS_1
“Ini minuman lo.” Stella dengan pelan menyerahkan jus tersebut di depan Amora.
“Makasih, Kak.” Tutur Amora.
Namun ada keanehan yang ditangkap oleh feelingnya. Kenapa minuman itu harus kakak kelasnya itu yang antar? Bukankah biasanya diantar oleh pelayan? Tapi Amora langsung menepis pikiran buruk yang bersarang di otaknya. Mungkin kak Stella sengaja menawarkan diri untuk membawakannya. Batin Amora terus bergelut. Iya. Mungkin saja.
“Ayo diminum. Jangan diliatin aja.” Perkataan Stella membuyarkan lamunan Amora.
“Oh iya, Kak.” Kemudian gelas itu dengan sedikit ragu diambil dan hendak diminum.
“Elo masih jadian sama Bara?” pertanyaan Stella membuatnya menghentikan sesaat kegiatan minumnya.
Amora sedikit ragu untuk menjawab. Sepertinya hubungan dirinya dengan Bara sudah banyak diketahui orang. Tapi tak ada yang tahu bahwa ternyata hubungan mereka berdua sudah berakhir. Berakhir tepat hari ini.
"Em, itu..."
"Gak papa kalau elo gak mau cerita." potong Stella.
"Gue gak mau maksa. Karena sebentar lagi..."
Tiba-tiba fokus Amora menghilang. Pusing di kepalanya tak tertahankan. Pandangannya jadi buram. Bahkan perkataan Stella pun sudah tak bisa didengarnya lagi. Dan ketika pandangannya mulai gelap, seketika itu pula ia terjatuh di atas lantai. Amora pingsan.
Entah ada campuran apa yang ada diminumannya. Yang ia tahu, pasti ada sesuatu yang dimasukkan ke dalam gelas minumannya itu.
*
Bryan mengambil tiket nontonnya dan kembali menemui Amora. Ia mencarinya ke toko kosmetik sesuai arahan sebelumnya. Namun nihil. Ia sama sekali tak menemukan Amora di dalam sana. Langsung saja Bryan menghubunginya.
Setelah sambungan itu diangkat, Bryan langsung menanyakan posisi keberadaan Amora. Dengan modal daya ingat yang kuat, tentu saja Bryan tahu ciri-ciri restoran yang dimaksud oleh Amora. Dan ia pun langsung mematikan sambungan untuk segera menemuinya.
Namun ada satu hal yang aneh. Tampaknya Amora barusan menyebut nama Stella padanya. Tiba-tiba ingatan ia yang dulu saat Ari menawarkan Stella untuk dinikmati dirinya muncul. Tawaran yang membuat dirinya sangat benci dengan Ari hingga menjadi musuh bebuyutannya sampai sekarang.
Bayangkan saja, hal itu membuat Bryan kehilangan harga dirinya. Karena ia disangka sebagai lelaki hidung belang yang selalu tidur dengan banyak perempuan. Hal itu terjadi ketika gosip tentang dirinya tersebar. Gosip yang tidak benar sehingga Ari berpikir bahwa Bryan satu frekuensi dengannya. Sama-sama suka menikmati wanita.
__ADS_1
Semoga saja Stella yang dimaksud Amora bukanlah Stella yang dipikirkannya. Karena bisa jadi bahaya jika Amora dekat-dekat dengan perempuan itu. Entah kebawa gak bener atau malah dibawa gak bener. Ia pun segera mempercepat langkahnya.
***