
Beberapa minggu kemudian. Pagi itu suasana sekolah mulai sepi karena lagi-lagi Amora datang kesiangan. Hanya ada beberapa murid yang terlihat berlarian menuju gerbang sekolah yang sebentar lagi hampir menutup. Amora makin mempercepat larinya, namun ketika sampai di depan gerbang, security itu sudah menutup gerbang dengan rapat dan menguncinya dari dalam.
“Pak, tolong buka gerbangnya,” rengek Amora.
“Enggak akan. Saya disuruh pak Heru untuk tegas pada siapapun supaya lebih disiplin ke depannya.”
“Ayo lah, Pak. Kali iniiiiiiii aja. Pleaseee,” ucap Amora dengan sorot mata memohon. Karena hanya ada dirinya saja di luar gerbang.
Security itu balik badan meninggakan Amora yang dilanda rasa khawatir akan nasibnya. Benar-benar menyebalkan. Pokoknya dia harus bisa masuk! Tekad Amora. Sedetik kemudian sebuah ide melintas di kepalanya. Ia ingat saat dulu pernah terlambat sekolah bareng Bara. Tak berlama-lama Amora langsung berlari ke arah gerbang belakang memutari gedung.
“Haduh capek banget sih cuma lari segitu aja,” nafas Amora terengah-engah ketika sampai di hadapan gerbang belakang. Ia menatap gerbang tersebut yang setelah disadari ternyata cukup tinggi. Hampir tiga kali lipat ukuran tinggi tubuhnya.
“Gimana cara gue manjatnya ya?” tutur Amora mengingat bahwa dulu ia mudah menaikinya karena dibantu oleh Bara. Tapi sekarang ia hanya sendirian dan tak tahu bagaimana cara untuk memanjat.
Tak lama terdengar suara tawa seorang lelaki. Tawa yang sepertinya Amora kenal dengan suaranya. Ia celingukan mencari dimana asal suara itu. Dan tiba-tiba Bryan keluar dari tempat persembunyiannya lalu menghampiri Amora.
“Ngapain elo disitu?” tanya Amora terkejut melihat Bryan keluar dari balik pohon besar yang ada di sana.
“Lucu aja ngeliat lo mau manjat gerbang itu,” tawa Bryan masih belum berhenti.
“Ya mau gimana lagi.” Tutur Amora pasrah melihat keadaan.
“Ternyata elo barbar juga yah,” ucapnya tepat di telinga Amora. Suara sangat sensual didengar.
Seketika kejadian beberapa minggu lalu terlintas lagi di benaknya. Wajahnya tiba-tiba memerah dan jantungnya jadi berdebar. Sementara itu Bryan malah terlihat asyik menyaksikan perubahan wajah Amora yang sedang bersemu. Ia langsung tahu apa yang dipikirkannya.
__ADS_1
“Ehem kok tiba-tiba muka elo jadi kayak kepiting rebus sih?” goda Bryan.
“Apaan sih! Gak lucu tau.” Bantah Amora mencoba memalingkan wajahnya.
“Elo gak mikirin kejadian ‘itu’ kan?” godanya mengucapkan kata ‘itu’ dengan penuh penekanan. Membuat wajah Amora makin memerah. Wajahnya jadi terasa panas.
“Udah ih cepetan kita manjat gerbang itu. Emang elo gak mau masuk sekolah gitu?” ucap Amora mencoba mengalihkan pembicaraan. Bryan yang mendengarnya menggelengkan kepala.
“Ngapain elo manjat gerbang? Mending kita bolos aja sekalian.”
“Ih ogah banget.”
Dan tanpa aba-aba tangan Amora ditarik oleh Bryan untuk mengikutinya. Membawa ia ke balik pohon besar yang ternyata sudah terparkir motor besarnya. Amora kelimpungan menyadari dirinya akan diajak bolos oleh spesies di depannya itu.
“Bryan! Seriusan kita mau bolos?” tanya Amora bimbang. Ia sama sekali belum pernah melakukan itu. Tidak masuk sekolah dengan disengaja. Akan bagaimana jadinya jika keluarganya tahu. Ayah, Bunda, maaf Amora bolos sekolah. Satu kali ini aja. Boleh yah? Gerutunya dalam hati.
“Siap?” tanya Bryan.
“Enggak.” geleng Amora membuat seutas senyuman di bibir Bryan.
“Oke kalau gitu, pegangan yang kuat!” dan setelah nada itu motor Bryan dipacu dengan sangat kencang membuat Amora refleks memeluknya dari belakang.
*
Reno tengah memantau seseorang dari jauh. Di dalam mobil tersebut ia sedang mengawasi gerak-gerik dari orang yang selama ini ia curigai. Namun sampai saat ini ia masih belum menemukan hal-hal yang mencurigakan. Seperti pertemuan ia dengan pihak lain, atau temuan saat ia melakukan kesalahan sekecil apapun akan menjadi perhitungannya.
__ADS_1
“Pak, apa kita hanya akan memantaunya dari dalam mobil saja?” tanya Yoga yang memang sedang ikut memantau bersama Reno. Tampaknya yang ditanya tengah berpikir dulu.
“Kita gunakan taktik penyamaran.” Tuturnya. Yoga pun langsung mengangguk menyetujui.
Setelah itu Reno menyamar sebagai salah satu staff IT di perusahaan tersebut. Sedangkan Yoga menyamar sebagai staff karyawan biasa. Semua name tag dan ID Card pun tersampir diseragamnya masing-masing. Penyamaran yang sempurna. Mereka pun berpisah dan mencoba berbaur dengan yang lain untuk menyempurnakan penyamaran mereka.
Reno menyelinap masuk ke dalam lift. Ia menekan lantai yang terdapat ruangan IT. Lalu dengan percaya diri ia langsung berjalan menuju ruangan khusus staff IT tersebut. Reno seketika menunduk ketika ada beberapa anak IT yang melewatinya. Namun tak ada satu orang pun yang mencurigai dirinya. Dengan sekejap ia berjalan masuk ke dalam ruangan CCTV dan menutup pintunya dengan segera.
Tak berlama-lama, Reno pun beraksi. Jari-jarinya tampak bermain di atas keyboard komputer. Ia mengamati beberapa lokasi di dalam CCTV tersebut. Dan beberapa menit kemudia ia melihat keberadaan Indera dalam CCTV yang tengah diamatinya. Orang itu berada di ruangan direktur utama. Nama tag besar yang ada di atas mejanya cukup jelas dilihat. Dirut Indera Kinsyahranu.
Tampaknya Indera sedang bercakap-cakap dengan seseorang di balik sambungan teleponnya. Sambil duduk dan berselonjor di atas meja. Reno yang melihatnya menggelengkan kepala. Benar-benar barbar sekali. Padahal saudara dan iparnya itu baru beberapa bulan meninggal. Sementara ia tanpa rasa malu langsung mengambil alih perusahaan milik Gavin.
Menurutnya, besar kemungkinan Indera termasuk dalam salah satu oknum yang membuat Gavin dan Anne meninggal. Entah dia sendiri pelakunya atau pun sebagai oknum dalam rencana tersebut. Saat ini Reno masih menyelidiki beberapa kemungkinan hal itu bisa terjadi.
Ia mencoba mendengarkan percakapan tersebut lewat CCTV karena penasaran dengan pembicaraan yang dilakukannya. Dengan menekan beberapa fitur dan menekan tombol enter, akhirnya percakapan yang dilakukan Indera terdengar dengan jelas.
“Jadi bagaimana? Kau sudah menyingkirkan duri itu?” Reno mengernyitkan dahinya. Duri? Apa maksudnya?
“Hahahaha. Kau salah besar. Rencanamu itu bisa menggagalkan segalanya.” Lalu hening sejenak. Tak lama lagi Indera pun kembali bersuara.
“Percaya saja padaku. Dari pada kita menyingkirkan duri itu, lebih baik kita diamkan saja hingga duri itu membusuk dengan sendirinya. Bukankah lama-kelamaan duri itu akan layu dan tak akan menyakiti kita sama sekali?” lalu hening kembali.
“Iya. Jika kita menyingkirkan duri itu sekarang, percayalah bahwa kita juga akan terkena tusukannya.” Sambungnya lagi.
“Rencana kita sudah sempurna setelah menyingkirkan mereka berdua. Jadi jangan sampai kesempurnaan itu berakhir sia-sia. Kita harus menikmati hasilnya bersama-sama.” Ucapan Indera tersebut membuat kedua mata Reno membelalak kaget. Dugaan dia tepat sekali. Indera pasti ada hubungannya dengan kematian Gavin dan Anne.
__ADS_1
Dengan kecepatan kilat Reno langsung menyimpan rekaman tersebut untuk dijadikan bukti yang kuat. Namun usahanya tersendat karena tiba-tiba terdengar seseorang yang tampaknya akan memasuki ruangan tempat ia berada. Ia mencoba berpikir dengan cepat seiring langkah kaki yang semakin mendekatinya. Bisa ketahuan penyamaran Reno kalau ada satu orang yang memergokinya.
***