Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Flasback On


“Pak Bara, anda mau kemana?” tanya Paul melihat atasannya itu hendak pergi.


“Jam kerja kita sudah selesai. Jangan memanggilku dengan panggilan formal lagi.”


“Maaf, saya hanya ingin bekerja dengan professional.” Jawab Paul.


Jam kerja memang sudah usai, namun Paul tetap tak nyaman memanggil atasannya itu dengan sebutan namanya. Walau Bara selalu mengatakan untuk memanggil namanya saja, tapi Paul tidak bisa melakukannya. Ia merasa tidak sopan jika harus memanggilnya seperti itu.


“Bagaimana dengan hasil pertemuanmu?” tanya Bara.


“Saya sudah menemui beberapa firma hukum sesuai arahan anda. Semuanya tidak ada gelagat mencurigakan dan kontrak aliansi kita juga berjalan dengan lancar. Tapi ada satu firma hukum lagi yang belum saya temui.” Tutur Paul.


“Firma hukum milik keluarga Frishky.” Sambungnya.


“Maksudmu firma milik keluarga Bryan?” tanya Bara tak percaya. Entah mengapa instingnya mengatakan ada sesuatu yang tak beres.


“Betul. Saya cukup kesusahan untuk membuat janji dengannya. Tapi lusa saya akan mencoba kesana lagi.”


“Kalau begitu aku akan ikut menemuinya. Kita harus membuat rencana lain lagi jika rencana kita tak berhasil.” Tutur Bara.


“Baiklah.”


Tak lama perempuan yang sedang diawasi oleh Bara dan Paul itu terlihat masuk ke dalam sebuah klub. Sambil mengawasinya dari dalam mobil, Paul memberikan ide untuk masuk ke dalam klub tersebut agar mereka bisa lebih dekat untuk mengawasinya.


“Aku tak menyangka dia bisa se liar itu. Penampilannya kukira gadis desa, tapi di luar ternyata dia lebih terbuka.” Ucap Bara sambil memperhatikan.

__ADS_1


“Kita harus segera masuk ke dalam untuk mengawasinya. Sebaiknya anda berganti pakaian dulu.” Usul Paul sambil menyerahkan baju dengan style trendy kepada Bara.


Setelah berganti pakaian, Bara dan Paul pun masuk ke dalam klub tersebut dan memesan ruangan VVIP untuk mereka. Namun sesuatu yang tak diduga terjadi. Ketika Bara hendak ke toilet, ia tak sengaja menabrak seorang perempuan yang tampaknya sedang mabuk.


Bara terkejut tak menyangka dengan seseorang yang ada di hadapannya. Tubuhnya diam mematung, matanya menatap tajam memastikan apakah benar orang yang ada di depannya itu adalah pujaan hatinya? Cahaya lampu yang remang sedikit menyinari wajahnya. Dan benar dugaan Bara.


“Amora?” Bara langsung mendekat ke arahnya karena melihatnya yang hendak rubuh. Ia menangkap tubuh Amora yang limbung dengan kedua tangannya, menahan agar tubuhnya tidak terjatuh ke atas lantai. Bara langsung mendekap tubuh itu lalu membopongnya. Benar-benar tak menyangka dengan kejadian yang kebetulan ini.


“Apa yang terjadi?” tanya Paul melihat Bara membopong masuk seorang perempuan ke dalam ruang VVIP milik mereka.


“Bukankah itu nona Amora?” tanya Paul setelah melilhat wajah perempuan yang Bara bawa.


“Aku gak menyangka bisa melihatnya disini.” Ucap Bara sambil membaringkannya di atas ranjang yang ada di ruangan tersebut.


Paul yang mengerti akan hal itu langsung berinisiatif memberikan ruang untuk Bara. Ia menawarkan diri mengantikannya mengawasi perempuan yang menjadi target mereka untuk diselidiki. Ia tahu betul lewat sorot mata Bara, bahwa ia sangat merindukan sosok pujaan hatinya itu. Amora.


Bara mengelus wajah Amora dengan lembut. Matanya masih terpejam dengan bau alkohol yang begitu menyengat. Banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan padanya saat ini juga. Kenapa Amora bisa berada di tempat seperti ini? Apakah ia baik-baik saja? Apa yang membuatnya menjadi seperti ini?


Hal yang lebih parah dari itu, mengapa Amora memakai pakaian yang sangat terbuka seperti ini? Membangkitkan gairah tersembunyi Bara menjadi meronta-ronta. Ia melihat wajah Amora yang semakin dewasa semakin cantik saja.


Bara harus segera pergi dari sini mengikuti Paul untuk menjalankan misinya yang tertunda. Akan sangat berbahaya jika berada didekat Amora saat ini juga. Ia takut melepaskan setan-setan liar yang sedang menggebu-gebu di hatinya melihat kondisi Amora yang seperti ini.


“Tunggu disini, kakak akan pergi sebentar.” Ucap Bara sambil mengusap wajah Amora yang masih terlelap. Namun ketika Bara hendak meninggalkan ruangan, ia mendengar Amora tiba-tiba memanggil namanya.


“Kaaa..kk Ba..raa,” Bara yang mendengarnya langsung berhenti dan berbalik. Ia melihat Amora memegangi kepalanya. Apakah ia sedang kesakitan? Lantas Bara langsung menghampirinya.


Betapa Bara tak kuasa menahan rindu yang selama ini dipendam. Apalagi melihat Amora yang sepertinya masih memiliki perasaan juga padanya. Ia melihat Amora menangis, membuatnya hatinya terasa sesak. Tangannya yang lembut mengusap wajah Bara seolah ingin memastikan bahwa dirinya benar nyata.

__ADS_1


“Kak Bara, ijinkan aku memelukmu, Kak.” Pinta Amora sambil berlinang air mata pada Bara. Ia pun hanya mengangguk tak mampu berucap. Dan seketika itu juga Amora langsung berhambur memeluknya. Bara pun membalas pelukan hangat itu. Air matanya mulai menggenang, menyadari bahwa dirinya sangat menginginkan Amora untuk berada di hidupnya.


Bara mengecup puncak kepalanya sambil mempererat pelukan itu. Rasanya ia tak mau melepaskannya dan hanya ingin mendekapnya seperti ini. Ia berharap agar waktu bisa berhenti saat itu juga.


“Kak Bara?” tanya Amora memastikan sambil menatap wajah Bara dari jarak yang sangat dekat.


“Apa?” tanya Bara sambil menahan air matanya agar tidak jatuh. Berusaha tetap tersenyum.


“Andai mimpi ini adalah kenyataan, aku ingin sekali melakukan satu hal.” Jawab Amora sambil menatap mata Bara lekat-lekat.


“Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan.” Jawab Bara pelan namun dengan sorot yang penuh kasih sayang.


Dan saat itu juga Amora langsung menarik tengkuknya dan mendaratkan bibirnya tepat di bibir Bara. Hal yang sangat tak diduga membuat matanya membulat tak percaya dengan apa yang Amora lakukan padanya. Namun tak lama Bara pun ikut memejamkan matanya menikmati sensasi mendebarkan itu. Membangkitkan gairahnya yang sedari tadi ia tahan.


Dan semakin lama, rasa itu semakin menuntutnya. Gairah tersebut membuat tubuh Bara semakin panas. Ia pun melepas pakaiannya dan membuangnya ke sembarang tempat. Ia pun mencium bibir Amora dan mendorongnya pelan. Nafas Amora yang terdengar sensual menggoda Bara untuk melakukannya lebih lanjut lagi. Instingnya semakin liar dan tak terkendali.


Namun tak lama Amora terkulai lemas tak sadarkan diri. Mungkin efek dari mabuknya. Bara yang menyadari hal itu hanya tersenyum dan mengecup bibirnya sekilas. Bisa kalap kalau dia sampai melanjutkan perhelatan ini. Ia pun memakai bajunya kembali dan menelpon Paul.


“Paul, aku akan keluar sebentar. Aku akan mengantarnya ke hotel. Biar dia tidur disana.” Tutur Bara lewat sambungan.


“Baiklah. Saya akan segera menyusul dengan membawa informasi yang baru saja saya dapat.”


“Kerja bagus.” Ucap Bara dan langsung memutus sambungan ponselnya.


Tampaknya misi kali ini sudah menemukan titik terang. Semoga Paul membawa petunjuk apa yang harus ia lakukan ke depannya untuk mengungkap kasus dalam misi ini. Namun sebelum itu Bara akan memastikan terlebih dahulu keamanan Amora. Dia tak boleh terseret sedikit pun dalam misi ini.


***

__ADS_1


__ADS_2