Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Serangan di Malam Hari


__ADS_3

Hari ini Amora masih berkutat di depan laptopnya mencantumkan hasil dari kuesioner yang telah dibagikannya. Walau cukup melelahkan dalam mengumpulkan data kuesionernya, namun usahanya tak pernah mengkhianati hasil.


Setelah itu, Amora langsung mengolah data tersebut melalui aplikasi pengolah data rekomendasi dari dosen pembimbingnya. Dan hasil dari pengolahan data tersebut cukup membuat Amora pusing sehingga memutuskan untuk berhenti sejenak. Bisa-bisa kepalanya pecah melihat hasil data serumit itu.


Perutnya sudah beberapa kali bersuara minta diisi. Namun isi di dalam kulkas sudah tidak terlihat berpenghuni lagi. Hanya ada beberapa air mineral, keju basi dan sayuran yang sudah layu.


“Kayaknya aku harus belanja bahan-bahan makanan lagi.” gumam Amora.


Karena tinggal seorang diri, ia jadi tak terlalu memperhatikannya. Walaupun malam ini cuaca tampak dingin, Amora tetap berniat untuk berbelanja sekedar membeli beberapa stok makanan di minimarket. Dan seperti biasa, Amora melihat lewat ekor matanya beberapa laki-laki berjas hitam sedang memperhatikannya lewat sudut-sudut tembok.


Minimarket yang paling dekat dengan rumahnya memang sedikit jauh dan masuk ke dalam gang lagi. Karena di perumahan elit tempat Amora berada tidak menyediakan minimarket. Dan alhasil ia harus berjalan 500 meter untuk sampai di minimarket tersebut.


Selain suara langkah Amora, ia mendengar langkah kaki dari arah belakangnya juga. Saat ia berhenti, langkah kaki itu pun ikut berhenti. Dan ketika Amora mulai jalan kembali, terdengar suara langkah lagi. Sebuah ide pun muncul. Amora tiba-tiba berlari dan para laki-laki berjas hitam itu pun ikut berlari dengan tak terduga.


Akhirnya dengan kesal, Amora berbalik badan dan mendapati mereka terkejut dengan hal tersebut. Tak menyangka orang yang diikutinya berbalik sehingga memergoki mereka, alhasil mereka langsung berhenti layaknya seperti patung. Tak bergerak sama sekali.


Ada yang hendak melangkah namun tiba-tiba berhenti dan alhasil ia pun terjatuh. Ada juga yang refleks memeluk rekannya sendiri. Amora yang melihatnya mulai jengah karena merasa risih dan tak nyaman karena selalu diawasi seperti itu.


“Cepat katakan. Siapa sebenarnya yang menyuruh kalian mengawasiku?!” tanya Amora sambil melihat mereka satu-persatu. Namun dari yang Amora tangkap, sepertinya pemimpin mereka tak ada bersama mereka.


“Maaf, Nona. Kami hanya ditugaskan untuk menjaga Nona saja.” ucap salah satu diantara mereka.


Amora memegang kepalanya mulai pusing. Apalagi badannya terasa lemah karena terus memforsil tubuhnya untuk menyelesaikan hasil skripsinya malam ini. Ditambah ia belum makan apapun dari siang. Ingin rasanya marah-marah namun tubuhnya sangat lemah saat ini.


Dan kali ini Amora tak ingin menggubrisnya. Ia hanya akan membiarkannya saja. Untuk kali ini terserah mereka, tapi ke depannya Amora akan memprotes sampai ia tahu siapa orang yang selama ini menyuruh mereka untuk mengawasinya.

__ADS_1


“Baiklah terserah kalian saja.” ucap Amora kemudian berbalik hendak melanjutkan perjalanan.


Namun tiba-tiba terjadi serangan mendadak. Amora sangat terkejut ketika sebuah pisau melesat tepat di depan wajahnya dan langsung tertancap di dinding persis di sebelahnya. Menancap dengan sempurna. Entah apa yang akan terjadi jika saja Amora melangkah satu langkah saja. Mungkin saat ini pisau itu akan menancap di tubuhnya.


“Lindungi Nona Amora!” teriak seseorang kemudian tiga orang dari mereka langsung menghampiri Amora dan membuat formasi lingkaran untuk melindunginya.


Sedangkan sisanya menghadang gerombolan yang hendak mencelakai Amora. Pertikaian itu pun tak dapat dicegah. Mereka saling menyerang dan menghadang.


Sementara itu Amora terdiam kaku dan masih terkejut dengan pisau yang menancap itu. Tubuhnya mulai berkeringat dingin. Apalagi ia juga harus menyaksikan sendiri pertempuran antara orang-orang yang ingin melindunginya dengan orang-orang yang hendak mencelakainya.


“Nona, apa anda baik-baik saja?” Namun laki-laki itu tak mendapat jawaban dari Amora dan terkejut melihatnya. Tubuhnya bergetar hebat, membuat mereka saling pandang khawatir.


Pandangan Amora buram dan perlahan menggelap. Tubuhnya mulai limbung dan dunia seakan lenyap dari pandangannya. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. Ingin berusaha bangkit pun tubuhnya sama sekali tak bisa bergerak atau pun lari dari situasi tersebut. Dan akhirnya ia tak sadarkan diri.


*


“Untuk meeting malam ini kita akhiri sampai disini. Lanjutkan rencana yang sudah kita rancang. Besok pagi tolong persiapkan semaksimal mungkin.” ucap Paul dan menyusul Bara ke ruangannya.


“Apa yang terjadi?” tanya Paul ketika melihat Bara mengganti pakaian formalnya dengan pakaian serba hitam.


“Amora dalam bahaya.” ucapnya tanpa melihat Paul.


“Apa anda akan pergi begitu saja? Besok pagi akan ada pembukaan cabang baru di kota Surabaya. Jadi malam ini anda harus segera kesana. Di sana juga ada banyak relasi penting dan para investor kita.” ucap Paul mengingatkan.


“Paul, jika orang yang kamu sayang sedang dalam bahaya, apa kamu akan mementingkan itu semua?” pertanyaan Bara langsung membungkam Paul.

__ADS_1


“Tolong kamu gantikan peranku disana. Aku percaya padamu.” ucap Bara sebelum akhirnya pergi dari hadapan Paul. Dan Paul pun hanya bisa mengikuti perintahnya.


*


Beberapa waktu sebelumnya, di suatu ruangan. Barda, Indera dan Yudistira atau biasa dipanggil Yus sedang merencanakan sesuatu.


“Malam ini kita harus langsung membunuhnya sebelum pembukaan cabang itu berlanjut.”


“Tapi kita cukup kesulitan karena selama ini anak perempuan itu selalu dijaga oleh beberapa orang.”


“Gampang saja, kita kirim orang dua kali lipat dari jumlah penjaganya. Apa itu sulit?”


“Anda benar. Bila perlu kita kirim dalam jumlah tiga kali lipat.”


Dalam percakapan tersebut, Indera lebih banyak diam dan hanya menjawab setuju ketika keduanya menanyakan pendapat darinya. Hatinya benar-benar tak tega jika harus melihat keponakannya sendiri akan dibunuh dengan sangat keji. Namun ia pun tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menolongnya.


*


Bara pergi dengan menggunakan motor gede nya, memacu dengan kecepatan maksimal. Mengabaikan segala makian yang datang dari para pengguna jalan raya. Lampu merah pun ia terobos dan langsung memacu kembali motornya dengan sangat gila. Raungan motornya membuat para pengguna jalan terkejut dan hanya bisa mengutukinya.


Setelah sampai di lokasi, Bara langsung terkejut dengan jumlah lawan yang sangat banyak dibanding para pengawal yang ditugaskannya untuk menjaga Amora. Dan lebih terkejut lagi ketika melihat Amora jatuh pingsan. Tanpa basa-basi Bara langsung masuk ke dalam pertempuran tersebut.


Para pengawalnya mulai kewalahan karena jumlah lawan yang tidak seimbang, apalagi mereka hanya melawan dengan tangan kosong, berbeda dengan musuhnya yang bersenjata tajam. Bara memberikan kode kepada mereka untuk mundur dan memulihkan tenaganya melihat banyak luka yang mereka dapat.


Para musuh itu pun melihat Bara dengan tatapan remeh. Satu orang menghadapi puluhan orang? Itu sangat tidak mungkin, pikir mereka. Apalagi mereka adalah orang-orang yang sangat terlatih dan satu diantara mereka adalah seorang mantan prajurit.

__ADS_1


***


__ADS_2