
Di suatu tempat, dekat dengan sebuah danau yang luas, seorang detektif tengah mengamati lokasi kejadian dimana mayat kedua orang tua Amora ditemukan. Kedua mayat tersebut tampak sedang berpelukan di dalam mobil yang tenggelam. Dan setelah mobil itu ditarik untuk menuju ke daratan, banyak hal janggal yang ditemukannya.
Setelah dilakukan pemeriksaan, mobil tersebut tampak baik-baik saja. Tak ada mesin yang mati, rusak atau bahkan rem yang bermasalah. Semua mesin mobil dalam keadaan baik. Aneh. Dan yang lebih detektif itu tak menyangka adalah, ia menemukan jejak ban mobil lain yang mulai tersamarkan oleh jejak-jejak sepatu.
Kecurigaan detektif ini makin menjadi. Ia sudah yakin dari awal bahwa kecelakaan ini bukanlah kecelakaan tunggal. Tapi merupakan kasus pembunuhan berencana. Ia sangat yakin akan hal itu. Instingnya tidak pernah salah selama melakukan berbagai macam investigasi yang ditanganinya.
"Periksa cctv terdekat. Catat semua plat mobil yang terlihat melintas. Jangan sampai ada yang lolos satupun." perintah sang detektif pada anak buahnya.
"Baik, Pak." jawabnya takjim.
*
Sementara itu, Amora tengah menyaksikan Deri dan Bryan yang tengah beradu mulut. Kepalanya pusing tak mengerti. Sebenarnya apa yang membuat Deri segitu membenci Bryan? Padahal menurutnya Bryan tak melakukan kesalahan apapun. Justru dia malah membantu dirinya dan menguatkan Amora kala ia sedang berduka. Jadi, apa yang salah?
"Elo jadi berani kayak gini? Sebenarnya elo nantangin hah?" ucapan Deri membangkitkan amarah Bryan.
"Kenapa elo jadi berpikiran negatif gitu? Sebenarnya gue salah apa sama elo?" tantang Bryan tak terima dituduh seperti itu.
Amora yang melihat Fani hanya terdiam, menyenggol bahunya untuk menyadarkannya yang seolah sedang melamun.
"Fan, kamu tahu gak kenapa mereka jadi pada kayak gini?" tanya Amora dengan sorot khawatir.
"I..itu.. Em.." Fani terlihat gugup untuk menjelaskannya. Ia pun tak tahu harus bagaimana cara memberitahu Amora bahwa sebenarnya Bryan memiliki perasaan khusus pada Amora, namun ditentang oleh teman-teman dekat Bara, salah satunya yaitu Deri.
__ADS_1
"Apa, Fan?!" tuntut Amora lebih intens meminta jawaban.
"Mereka seperti itu setelah kejadian di villa." jawab Fani akhirnya. Amora tampak berfikir mengingat-ingat kejadian apa saja yang sebenarnya bisa membuat mereka jadi saling membenci seperti sekarang ini.
Namun hasilnya nihil. Ia sama sekali tak mengingat satupun kejadian yang dapat berdampak besar. Amora hanya ingat kesalahan Bryan ketika mencium pipinya saat acara truth or dare. Tapi setelah itu Bryan langsung meminta maaf padanya dan ia pun dengan berbesar hati memaafkannya.
Seharusnya masalah itu sudah selesai, pikir Amora. Tapi kenapa seolah Deri tak terima dengan kelakuan Bryan tersebut? Malah ia yang marah. Tapi atas dasar apa? Persahabatan kah? Untuk Bara? Amora sama sekali tak tahu bahwa sebenarnya ada masalah kompleks lainnya yang ia tak ketahui.
"Cepat pergi dari sekolah ini. Sebelum gue naik pitam." ucapan Deri terlihat santai namun sangat mengancam. Para siswa yang berada di dalam kelas tercekat menyaksikan adegan tersebut.
"Kalau gue gak pergi, elo mau apa?" jawab Bryan sama sekali tak gentar sedikitpun.
"Berarti elo memilih perang." seringai Deri. Aneh. Kenapa ia sangat marah sekali? Dan dengan refleks Amora langsung menghampiri mereka berdua dan berdiri di tengah-tengahnya.
"Stop!" teriak Amora merentangkan kedua tangannya berusaha menghalangi acara baku hantam yang hendak Deri dan Bryan lakukan.
Bryan yang hendak melayangkan sebuah bogem pun secara mendadak menghentikan aksinya ketika melihat Amora berlari ke arahnya. Deri pun yang dikuasai amarah langsung terhenti dengan refleks apa yang hendak ia layangkan pada Bryan. Sungguh sesaat ia merasa kalap.
"Tolong hentikan." pinta Amora dengan nada memohon. Ia tak mau ada perkelahian antara orang-orang yang ia kenal, termasuk Bryan dan Deri. Amora menoleh ke sebelah kanan menatap mata Bryan dengan pandangan memohon. Mau tak mau Bryan luluh oleh pandangannya itu dan berusaha menenangkan dirinya yang sebelumnya terpancing emosi.
Kali ini Amora menoleh ke sebelah kiri, menatap Deri dengan wajah meminta tolong.
"Tolong maafkan dia, Kak." ucap Amora memohon. Deri mengerutkan dahinya untuk mencerna ucapan Amora barusan. Tampaknya Amora dan dirinya memiliki kesimpulan yang berbeda mengenai masalah Bryan.
__ADS_1
"Ini bukan soal kata maaf, Ra. Ini soal..." kata-kata Deri menggantung ketika seorang guru masuk ke dalam kelas.
"Ada apa ini?" tanya Bu guru.
"Duduk di tempat kalian masing-masing!" perintah guru tersebut.
"Kamu, Deri. Kenapa kamu malah ada disini? Anak kelas tiga barusan sedang ada pembagian pembimbing di aula gedung. Segera kesana!" ucap sang guru sambil mengeluarkan buku paket untuk bahan ajarnya di atas meja.
"Baik, Bu." ucap Deri menurut dan segera meninggalkan kelas tersebut. Sebelumnya ia menatap tajam ke arah Bryan seolah sedang memberi peringatan kepadanya. Mata Amora menangkap kejadian itu. Ia masih bingung sebenarnya ada masalah apa yang terjadi diantara mereka yang belum terselesaikan? Ia malah jadi kesal sendiri dibuatnya.
*
"Bagaimana? Sudah kau catat kendaraan apa saja yang melintas?" tanya detektif itu.
"Sudah, Pak. Ini daftar plat nomor kendaraan yang melintas pada jam tersebut." ucap anak buahnya sambil menyodorkan beberapa bukti dan catatannya.
Sang detektif dengan fokus mengamati hasil dari catatan tersebut beserta foto dari beberapa kendaraan yang melintas sambil tetap memperhatikan rekaman cctv. Dari 9 kendaraan, terdapat 4 mobil dan 5 motor yang melintasi area danau. Namun setelah jam 12 ke atas, nampaknya tidak ada sepeda motor yang melintasi area.
Tersisa 4 mobil yang melintasi area tersebut. Mobil pertama yang melintas dapat dipastikan adalah mobil yang ditumpangi oleh kedua orang tua Amora, yaitu Gavin dan Anne. Tiga sisanya bisa jadi adalah pelaku pembunuhnya. Entah salah satunya, atau malah ketiganya.
Terlihat dari mobil yang awalnya beriringan, namun ketika sampai di pertigaan, ketiga mobil itu berpencar ke berbagai arah. Aneh. Dari sini detektif itu harus lebih teliti lagi dalam menganalisanya. Karena ketiga mobil tersebut tampak tak menunjukkan hal-hal yang mencurigakan.
Kasus yang benar-benar rumit. Jika memang benar dugaannya itu bahwa kecelakaan yang terjadi bukan kecelakaan tunggal, semua kejadian sangat bersih. Seolah pelaku sudah memikirkan ini dengan matang dan rapih. Tak ada jejak yang dapat terendus oleh instingnya saat ini.
__ADS_1
Sang detektif memutar otak untuk menemukan cara lain. Dan ketika ia melihat salah satu dari ketiga mobil yang mereka curigai, samar-samar ia seperti pernah melihatnya di suatu tempat.
***