Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Takdir yang Bersangkutan


__ADS_3

Amora turun dari mobil setelah pintunya dibukakan oleh Bryan.


“Thank you.”


“Sama-sama honey.”


Amora berjalan memasuki rumahnya yang kosong itu. Dingin ruangan menyapu wajahnya. Ia menyuruh Bryan untuk duduk di kursi ruang tamunya. Ia kapok mengajaknya ke kamarnya seperti waktu itu. Kejadian pertama dirinya dengan Bryan akibat kebodohannya sendiri.


“Kamu laper gak? Mau aku buatin makanan?” tawar Amora.


“Em, terserah kamu aja, Beb.” Amora mengerutkan keningnya. Aneh banget. Tadi dia memanggil dirinya dengan sebutan honey, sekarang malah dipanggil beb. Bener-bener gak konsisten.


Amora pun bergegas ke kamarnya untuk berganti pakaian dan meletakkan tasnya. Ia pun membuka pakaiannya dan hendak menggantinya dengan pakaian santai. Tiba-tiba terdengar suara berisik dari arah dapurnya. Ia pun bergegas menyelesaikan mengganti pakaiannya dan segera berlari ke arah dapur.


“Ya ampun, Bryan! Kamu ngapain di dapur?” tanya Amora, namun Bryan malah menatapnya sambil cengengesan.


“Aku takut kamu capek makanya aku aja yang masaknya.” Jawabnya sedikit gugup karena kondisi dapurnya kini sedikit berantakan karena ulahnya. Manis sekali, pikir Amora.


“Ya udah. Mau aku bantu?” tawar Amora mencoba mengambil panci yang tergeletak di lantai.


“No! Stop! Biar aku yang masak. Kamu tunggu saja di ruang makan.” Cegah Bryan membuat Amora tak jadi mengambilnya.


“Oh, oke.” Jawab Amora sedikit ragu meninggalkan Bryan yang menatapnya seolah ingin ia cepat-cepat pergi dari dapur agar Bryan bisa langsung membereskannya.


*


Setelah Bara selesai meeting dengan investor itu, ia berhasil mengambil hatinya agar terkesan dan tetap mendukung perusahaannya. Semuanya tampak berjalan dengan baik. Kini ada satu tempat lagi yang harus ia kunjungi. Tempat dimana ia bisa menyelidiki orang yang selama ini ia cari.

__ADS_1


“Apa kita jadi pergi kesana?” tanya Paul.


“Iya. Segera siapkan mobil.” Titah Bara mengganti setelan pakaiannya. Paul langsung bergegas keluar menghubungi sang sopir pribadi Bara. Tak lama ponsel Bara berbunyi tanda ada panggilan masuk.


“Halo, Pah?” tanya Bara melihat nama kontak ayahnya yang ternyata memanggil.


“Gimana meeting kamu sama pak Jaya?” tanya Arman pada Bara yang kini sudah resmi menggantikan posisinya.


“Berhasil, Pah. Tampaknya beliau cukup terkesan dengan perkembangan perusahaan ini yang cukup pesat.” Bara pun menceritakan mengenai hasil dari meeting tersebut.


“Syukurlah. Papah lega dengernya. Kamu memang sudah pantas memegang kendali perusahaan ini.” Ucap Arman bangga pada anak kesayangannya itu.


“Gimana kondisi Mamah?” tanya Bara karena sudah lama tak menjenguknya dikarenakan pekerjaannya yang cukup padat.


“Tenang saja, Mamahmu baik-baik saja.” Ucap Arman yang memang saat ini hanya fokus menemani sang istri tercinta. Dan berkatnya, perkembangan kondisi kesehatan Mona sudah kembali membaik dengan cepat.


“Setelah Bara menyelesaikan urusan disini. Bara akan segera kesana.” Ucapnya kemudian mematikan panggilannya setelah Paul memberitahukan bahwa mobilnya sudah siap berangkat. Ia bergegas pergi ingin segera menemui perempuan itu.


Namun hal itu tak akan pernah terjadi ketika siasat tersebut diketahui olehnya. Saat perempuan itu pergi ke kamar mandi, Bara langsung beraksi. Semua ruangan yang ada disana dibuat gelap oleh Bara. Lalu ia menyalakan infrared untuk mengecek keberadaan kamera tersembunyi.


Seperti yang sudah diduganya, ada beberapa titik merah yang tertangkap dari kegelapan itu. Dan tanpa pikir panjang, Bara menghancurkan semua kamera tersembunyi itu. Semuanya. Ia tidak akan terjebak dengan trik murahan seperti ini. Bara langsung meraih gelas berisi air yang ada di atas meja dan membuangnya hingga setengah.


Perempuan itu pun keluar dari kamar mandi dan melihat Bara yang sudah terbaring di atas ranjang. Ia melihat ke arah gelas yang airnya sudah diberikan obat tidur olehnya. Senyumnya menyeringai. Dan kini airnya itu sudah habis setengah gelas. Sepertinya rencana ia sudah berhasil melihat Bara yang sudah terkapar.


Tanpa banyak basa-basi lagi ia pun langsung mendekati Bara. Ia memandangi wajah Bara yang sangat tampan. Sayang sekali ia tak mampu memilikinya. Namun saat ini hanya ada dirinya dan laki-laki tampan itu disini. Rasanya ia ingin sekali memilikinya walau dengan jalan yang salah ini.


“Kamu milikku saat ini.” Ucapnya dengan nada sensual tepat di telinga Bara. Ia pun menyentuh wajahnya dari dahi hingga ke bibirnya. Benar-benar ciptaan Tuhan yang sempurna, pikir perempuan itu.

__ADS_1


Ia pun mendekatkan dirinya untuk mencium bibir Bara. Bibir yang merah dan menggoda birahinya. Namun sebelum ia mendaratkan bibirnya di atas bibir Bara, sesuatu hal terjadi.


Ternyata Bara tidak tertidur seperti dugaan perempuan itu. Sebelum sesuatu hal terjadi lebih jauh, Bara menghentikan aksinya. Ia menangkap keterkejutan di mata perempuan itu.


"Ka.. kamu kok bisa sadar sih?" gagap sang perempuan. Bara hanya tersenyum menyeringai sambil bangkit dari posisi tidurnya.


"Siapa yang menyuruhmu melakukan trik murahan ini?" tanya Bara dengan sorot mata elangnya.


"Jawab!" sentaknya.


Perempuan itu malah memilih mundur perlahan untuk mencapai pintu keluar. Sosok laki-laki tampan itu ternyata bisa berubah menjadi seorang monster jika marah. Ia bergidik ngeri. Satu-satunya jalan jika hal itu tak berhasil adalah segera kabur dari tempat ini.


Namun ketika perempuan itu membuka pintu untuk segera melarikan diri, para pengawal Bara dan Paul ternyata sudah berdiri di depan pintu tersebut.


"Tangkap dia!" titah Bara dan perempuan itu pun langsung ditangkap hingga saat ini ia di tahan di sebuah sel tahanan khusus.


Sudah beberapa tahun ini Bara berusaha mengorek siapa dari dalangnya itu, namun tampaknya satu suara pun tak keluar dari mulut perempuan tersebut. Ia tetap bungkam seolah sedang mempertahankan sesuatu yang penting baginya.


Dan alhasil ia hanya terus mendekap dibalik jeruji besi ini tanpa bisa melakukan apapun. Semua kegagalan ini membuat perempuan itu takut. Takut akan akibat dari perbuatannya yang pasti dianggap gagal dan bisa membahayakan keluarganya.


"Sepertinya kamu masih belum mau buka suara. Baiklah selamat mendekam lebih lama lagi." tutur Bara bangkit dari duduknya hendak meninggalkan ruangan tersebut.


"Dia adalah seseorang yang kuat. Dia punya dukungan hukum yang besar." akhirnya perempuan itu buka suara. Seringai Bara pun muncul. Ia langsung balik badan dan mendekat ke arah sang perempuan.


"Namamu siapa?" tanyanya.


"Diva." ucap perempuan yang bernama Diva itu sambil menunduk.

__ADS_1


"Oke, thank you udah mau buka suara. Tenang aja, gak bakal ada yang bisa celakain kamu." ucapan Bara itu membuat Diva mendongak menatapnya. Bagaimana ia tahu bahwa selama ini ia memang sangat takut dengan hal itu.


***


__ADS_2