
Amora menerima jabat tangan Bryan yang mengajaknya berkenalan. Bryan merasa senang karena bisa berkenalan dengan perempuan tercantik di SMA ini.
"Oia gue pengen liat-liat sekolah ini. Ada yang mau nemenin? Soalnya gue butuh tour guide, nih." pinta Bryan dengan mimik wajah memohon.
Amora dan ketiga temannya seolah saling memberikan kode untuk menjawab permintaan Bryan.
"Baiklah biar Amora yang temenin." ucap Amora mencoba membaca kode yang diberikan teman-temannya.
"Oke, nice girl."
Amora pun langsung mengajak Bryan memperkenalkan sekolahnya yang luas. Di sekelilingnya sudah terlihat banyak stand yang mulai ramai didatangi para murid. Mulai dari stand makanan, kosmetik, fashion, alat olahraga, alat musik, perlengkapan camping, dan masih banyak lagi.
Sementara itu para murid sudah mulai mengisi lapangan, setelah salah satu host mulai membuka acara. Kursi yang ada di tenda juga mulai terisi penuh oleh para murid begitupun dengan kursi-kursi khusus para guru dan tamu undangan.
*
"Lo gak ke lapangan?" tanya Bryan yang merasa aneh karena orang di sebelahnya itu terus melamun.
"Oh.. em.. kalau gue kesana, terus yang nemenin elo siapa?" balas Amora ber elo-gue mengimbangi Bryan.
"Iya juga sih." Kekeh Bryan. Entah kenapa dia sangat tertarik dengan Amora. Pembawaannya sangat berbeda dengan perempuan-perempuan cantik yang pernah ia temui. Ada hal berbeda yang hanya dimiliki Amora, dan Bryan sangat menyukai itu. Pesonanya membuat Bryan tak bisa mengalihkan perhatian darinya.
“Lo kelas berapa?” tanya Bryan berusaha memulai percakapan.
“Kelas 11 IPA 2. Kalo lo?”
“11 IPS 1.” Jawabnya. Pembicaraan pun berhenti.
Bryan bingung harus bertanya apa lagi, karena sepertinya Amora tak tertarik bercakap-cakap dengannya. Hal itu terlihat dari raut wajah Amora yang nampak bengong, seolah pikirannya berada entah kemana.
“Ada yang lo pikirin ya?” namun Amora sama sekali tak mendengar pertanyaan Bryan.
Ia mengernyitkan dahinya mengetahui Amora tak merespon pertanyaannya. Sebuah ide pun muncul di kepalanya. Ia langsung mendekatkan wajahnya ke arah wajah Amora dan meniup telinganya. Seketika Amora tersadar dari lamunannya dan langsung membalikkan wajahnya ke arah Bryan.
Betapa terkejutnya ketika Amora berbalik, posisi wajah Bryan sangat dekat dengan wajahnya. Hampir saja bibirnya bersentuhan jika saja Amora tidak refleks menghindar.
__ADS_1
“Apaan sih, Kak!” refleks Amora, karena sedari tadi ia sedang memikirkan Bara.
“Sepertinya lo lagi mikirin seseorang ya?” tanya Bryan seolah sedang patah hati melihat perempuan di hadapannya itu tengah memikirkan orang lain. Karena pastinya yang Amora pikirkan adalah seorang laki-laki. Apalagi dia menyebutnya dengan panggilan kakak. Bryan yakin kalau laki-laki itu adalah kakak kelasnya.
“Em.. i.. itu.. enggak kok. Siapa juga yang lagi mikirin kak Bara.” Ucapnya refleks menutup mulut. Kebiasaan Amora yang tak pernah hilang.
“Oh jadi namanya Bara.” Ucap Bryan mengetahui satu nama yang disebutkan Amora.
“Haduh, kayaknya gue langsung patah hati di awal deh. Belum aja mulai, udah sakit gini.” tutur Bryan berpura-pura nelangsa.
Namun di hati Bryan, ia memang sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Amora. Namun ternyata pujaan hatinya itu sudah memiliki lelaki lain di hatinya. Haruskah ia menyerah? Atau melanjutkan perjuangannya? Toh perjalanan hidup masih panjang jika harus menyerah di awal.
“Waduh, belum apa-apa kayaknya gue udah patah hati duluan nih.” ulang Bryan. Namun Amora lagi-lagi tak mendengarnya, karena suara musik yang menggelegar dari arah panggung sudah menggema. Bryan mencoba menanyakan hal lain.
“Elo gak mau lihat acara pensinya?!” tanya Bryan sedikit teriak di telingan Amora karena dentuman musiknya yang sangat kencang.
“Enggak tertarik!” Balas Amora sedikit teriak juga. Namun hal itu malah membuat Bryan tersenyum melihat keimutan Amora. Sedangkan Amora hanya fokus pada ponselnya.
“Makasih yah, udah mau nemenin gue!”
“Iya, sama-sama!” jawab Amora dengan pandangan yang tetap fokus pada ponselnya.
Amora tersentak kaget karena dari tadi ia sedang chatingan dengan teman-temannya, tiba-tiba lengannya ditarik Bryan. Ia lupa masih ada makhluk asing itu bersamanya. Tanpa basa-basi Bryan mengajak Amora untuk duduk di salah satu stand makanan Korea. Ia menduga semua perempuan akan suka makanan jenis itu.
Bryan mengajak duduk di salah satu meja paling pojok yang ada di stand tersebut. Ia pun memesan menu makanan yang tercatat dalam daftar menu.
“Pesan tteokbeokki satu, kimbab satu, kimchi, ramyun, sama lychee tea satu.”
“Lo mau makan atau mukbang? Banyak amat,” komentar Amora.
“Laper gue. Lo mau makan apa?” tanya Bryan.
“Tteokbeokki sama milkshake strawberry.” Balas Amora spontan. Karena makanan itu memang makanan favoritnya dari dulu.
“Wah, elo cewek asli atau bukan sih?” tanya Bryan membuat Amora bingung. Memang dirinya ada yang salah?
__ADS_1
“Ya biasanya kan cewek kalo ditanya mau makan apa? Pasti jawabnya terserah.” Papar Bryan. Amora hanya mengangkat kedua bahunya.
“Enggak semua cewek tuh.” Satu hal lagi yang menambah kekaguman Bryan. Baginya Amora adalah spesies cewek langka yang selama ini dia cari.
*
“Ri, siapa cowok itu?” tunjuk Stella dengan dagunya.
“Sialan! Itu kan si Bryan. Kenapa dia bisa ada di sini?”
“Bryan? Siapa sih? Gue gak kenal.”
“Anak sebelah. Sialan! Dia musuh gue.”
Ari sangat kesal melihat Amora yang selalu saja dijaga oleh orang-orang yang selama ini ingin ia hindari. Seperti Bara, sudah jelas ia tak mau berurusan dengannya, karena track record Bara dalam seni bela diri. Dan sekarang kenapa harus ada Bryan? Musuh bebuyutan Ari dari dulu. Alasan dia bersekolah disinipun sengaja untuk menghindarinya. Namun kenapa sekarang ia malah melihatnya ada di sekolah ini? Benar-benar hal yang menyebalkan baginya.
“Kayaknya rencana kita harus kita tunda dulu, Stel.”
“Loh kok gituh?” Stella nampak kecewa.
“Ck. Udah nurut aja kalo lo pengen selamat.” Dan mau tak mau Stella hanya bisa menuruti penuturan Ari.
*
“Lo asli mana?” tanya Bryan sambil menyantap pesanan makanannya.
“Asli bumi.”
“Elah, Ra. Serius napa.” Ucap Bryan seolah sudah akrab dengan Amora.
Entah kenapa di pertemuan pertama ini ia merasa sudah nyaman dengan Amora. Padahal dia adalah tipikal cowok yang susah akrab. Menurutnya semua orang yang dia temui selama ini hanyalah memanfaatkan kekayaan atau ketenarannya saja. Tapi rasanya berbeda sekali dangan orang yang ada di hadapannya ini.
“Lo mau ngapain dateng kesini susah susah beli tiket bukannya nonton acaranya, malah makan disini.” Tanya Amora sambil meminum milkshake strawberry nya.
“Buat ketemu sama elo." ucap Bryan mencoba memancing Amora.
__ADS_1
Namun Amora sama sekali tidak terhanyut oleh gombalan itu. Ia tahu bahwa hampir semua lelaki memang pandai merayu, tapi tidak untuk Bara. Karena baginya Bara adalah cinta pertama dalam hidup Amora. Tak ada yang lain lagi di hatinya.
***