Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Rahasia yang Mulai Terkuak


__ADS_3

Bryan masih merenung dalam kamarnya dengan masih menggenggam botol minumannya. Sudah beberapa botol ia menenggak kerasnya minuman beralkohol itu. Rasanya masih tak ikhlas untuk melepaskan Amora. Walau sudah membuat dirinya mabuk, bayang-bayang wajah Amora masih menari di pikirannya.


Tak lama terdengar kegaduhan dari arah luar. Bryan bangkit dan mencuri dengar. Sebenarnya ia sama sekali tak tertarik, tapi seperti ada magnet yang membuatnya untuk mendekati daun pintu.


“Kenapa kalian tidak becus hanya mengurus anak perempuan itu, hah?!”


“Maaf, Tuan. Perempuan itu dijaga oleh beberapa orang yang sangat terlatih.”


Bryan tidak mengerti dengan percakapan sang ayah dan bawahannya itu. Namun ia masih tetap mendengarkannya dengan seksama.


“Bunuh perempuan itu. Jika tidak, kau yang akan terima akibatnya,”


“Ba.. baik, Tuan,”


Bryan terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. Sosok sang ayah di matanya sangat baik dan bijaksana. Tapi sosok itu berubah 180 derajat setelah ia mendengar percakapan itu.


“Siapa yang akan dia bunuh? Perempuan?” Bryan tiba-tiba terpikir Amora. Tapi sepertinya tak mungkin jika Amora akan menjadi sasarannya. Mungkin itu hanya kegelisahannya saja.


*


Amora merasa sedang diikuti oleh seseorang sejak keluar dari mall. Kedua temannya sudah pulang, namun Amora ingin pergi ke minimarket. Saat itu ia benar-benar melihat jelas siapa yang sedari tadi mengikutinya. Dan ketika laki-laki itu sedang lengah, Amora langsung menarik lengannya dan membantingnya ke tanah.


“Siapa kamu?!” tanya Amora waspada. Laki-laki itu perlahan bangkit sambil meringis.


“Maaf, Nona. Kami hanya diperintah untuk menjaga anda.” Tuturnya.


“Kami? Jadi gak hanya kamu?” tak lama setelah Amora mengatakan hal itu, dari berbagai penjuru keluar laki-laki yang berbadan kekar. Refleks Amora memasang posisi siaga.

__ADS_1


“Siapa yang mengirim kalian? Apa kalian akan menyakitiku?”


“Tenang saja, Nona. Kami tidak akan menyakiti anda. Seperti yang saya bilang, kami hanya diperintahkan untuk melindungi anda,” jawab laki-laki itu patuh. Entah Amora harus mempercayainya atau tidak, tapi sepertinya mereka tidak berbahaya. Namun pertanyaannya mengenai orang yang mengirim mereka tak dijawab sama sekali.


“Kalian tak akan bilang siapa yang mengirim kalian?” laki-laki itu hanya menggeleng.


“Maafkan kami, Nona.” Ucapnya sambil menunduk. Amora sangat bingung harus bagaimana menanggapi hal ini. Disisi lain ia merasa tenang, karena ada seseorang yang melindunginya dengan mengirim banyak orang seperti ini. Tapi disisi lain ia merasa risih.


“Tenang saja, Nona. Kami akan menjaga anda dari jarak jauh sehingga anda tak akan merasa terganggu.” Amora sangat tenang mendengarnya. Akan sangat ribet kalau urusan menjaga seperti ini sampai diketahui orang-orang sekitar.


“Baiklah. Ucapkan rasa terimakasihku pada tuan kalian.” Ucap Amora kemudian pergi meninggalkan mereka.


Namun di tengah perjalanan pulang, Amora merasa risih mendengar suara langkah kaki yang mengikutinya terus. Dengan geram Amora berbalik.


“Kenapa kalian masih mengikutiku? Bukannya kalian bilang akan menjagaku dari jarak jauh?”


“Maafkan kami, Nona. Untuk malam ini kami harus mengantar anda sampai rumah dengan selamat. agar kejadian sebelumnya tidak terjadi lagi.”


“Ya sudah terserah kalian saja.” Balas Amora berbalik dan segera mempercepat langkahnya.


Ia jadi kesal dengan kesetiaan para pengawal itu. Padahal Amora ingin sekali tahu siapa orang yang begitu peduli padanya dengan mengirimkan mereka untuk menjaganya. Ia jadi memikirkan Bara. Tapi sepertinya tak mungkin, karena setahunya ia masih berada di luar negeri. Entah kapan kembali.


Setelah sampai di rumah, ia segera menuju kamarnya. Ia melihat langit yang penuh bintang dari balkon kamarnya. Tampaknya para pengurus kebersihan dan pengurus kebun sedang menyelesaikan tugasnya.


“Non, kami pamit pulang dulu yah.” Ucap Agus sang pengurus kebun dari arah bawah.


“Iya, hati-hati,” jawab Amora dari atas.

__ADS_1


Di tengah kesendiriannya di rumah yang besar ini, Amora cukup merasa hidup dengan kehadiran para pekerjanya. Hingga kini ia masih mampu untuk membayar mereka dalam mengurus rumahnnya dengan uang yang selalu diberikan seseorang setiap bulannya.


Sudah beberapa tahun ini ia sering menerima transferan ke nomor rekeningnya. Nominal yang ditransfer pun tidak main-main besarnya. Karena penasaran, Amora menanyakan hal tersebut pada pihak bank. Namun ia sama sekali tak diberi tahu siapa yang selalu mengirim uang itu padanya. Entah karena aturan dari sana atau memang sengaja dirahasiakan oleh seseorang.


Tidak mungkin paman Indera yang mengirimkannya setelah kejadian beberapa tahun lalu. Kejadian yang memanfaatkan keluguan Amora untuk mendapatkan perusahaan milik kedua orang tuanya. Jadi tidak mungkin paman Indera yang melakukan itu.


Tapi walau bagaimana pun juga, Amora merasa sangat terbantu dengan uang tersebut untuk membayar para pegawai di rumahnya. Ia juga tak enak jika harus memecat mereka karena mereka semua pasti membutuhkan pekerjaan ini. Amora harus memikirkan cara untuk mendapatkan uang demi para pekerjanya.


Hanya ada satu hal yang bisa ia lakukan. Yaitu merebut kembali perusahaan kedua orang tuanya dari pamannya. Walau sulit mengakui bahwa pamannya bisa saja terlibat dalam kasus pembunuhan kedua orang tuanya seperti yang dikatakan detektif waktu itu. Amora harus menghadapi kenyataan yang pahit ini.


*


Para pengawal yang mengikuti Amora masih berdiri mengitari rumah Amora untuk menjaganya. Sampai suara dering ponsel memecah kesunyian malam itu.


“Iya, Tuan?”


“Dua orang tetap berjaga, sisanya kembalilah. Ada yang perlu saya bahas.”


“Baik, Tuan.” Ucapan tersebut adalah perintah mutlak bagi mereka. akhirnya mereka pergi dan hanya menyisakan dua pengawal yang menjaga di depan rumah Amora.


“Pak Bara, sepertinya anda benar-benar peduli pada nona Amora. Tapi apa anda tak ingin menemuinya?” tanya Paul.


“Aku sudah menemuinya. Jadi jangan paksa aku untuk menemuinya, karena aku tak yakin bisa menahannya.” Kening Paul mengkerut.


“Jika pertemuan waktu di klub itu yang anda maksud, sepertinya nona Amora tidak menyadari bahwa itu anda. Apalagi dengan kondisinya yang tengah mabuk berat.”


“Besok kita akan menemui ketua mafia itu. Kau istirahatlah.” Ucap Bara mencoba mengalihkan pembicaraan. Keputusan Bara sama sekali tak bisa dibantah. Paul yang mengerti hanya mengangguk. Kemudian pergi dari ruangan tersebut.

__ADS_1


Setelah kepergiannya, Bara mengeluarkan ponselnya dan menatap layar tersebut dengan wajah sendu bercampur rindu. Foto Amora yang sudah bertahun-tahun ia setel menjadi wallpaper di ponselnya tak pernah ia ganti hingga kini. Rasa rindunya sedikit terobati oleh pertemuan singkat sedikit panas itu. Namun Bara sengaja menjauhinya hanya untuk melindunginya. Setidaknya untuk saat ini.


***


__ADS_2