
Beberapa hari pun telah berlalu. Liburan semester sudah selesai dan kini semua murid kembali pergi ke sekolah seperti biasa. Amora sudah mandi dan memakai seragam SMA nya.
“Neng Amora yakin mau sekolah? Apa gak sebaiknya istirahat aja?” saran bi Siti pagi itu.
“Gak papa, Bi. Amora mau sekolah aja,” jawab Amora sambil memakan roti selai kacangnya.
Amora hanya tak mau berlama-lama di dalam rumah. Hal itu justru mengingatkannya akan kehadiran kedua orang tuanya. Beberapa hari kebelakang, Amora terus kedatangan rekan kerja ayah dan bundanya itu untuk mengucapkan belasungkawa. Walau Amora tidak mengenali orang-orang yang berdatangan, untungnya paman Indera bisa membantunya.
“Selamat pagi, Amora,”
“Oh, selamat pagi, Paman.” Jawab Amora melihat pamannya itu sudah rapih dan ikut bergabung di meja makan dengannya. Sudah beberapa hari ini paman Indera menginap dan berkatnya, Amora masih merasakan kehadiran sosok orang tua dalam hidupnya.
Indera adalah adik dari Anne yang saat ini mengambil alih tanggung jawab perusahaan Maurine. Amora bersyukur paman mau membantu untuk menjalankan perusahaan kedua orang tuanya. Karena tidak ada lagi yang bisa kecuali pamannya itu.
Setelah sarapan pagi, Amora diantar Indera ke sekolah. Selama diperjalanan, suasana hening hanya terdengar suara radio dalam mobil pamannya itu. Ia agak sungkan untuk memulai pembicaraan dengannya.
“Oh iya, kamu kelas berapa sekarang?”
“Kelas 2 SMA, Paman.” Pembicaraan pun terhenti. Suasana kaku terasa kembali.
“Kamu boleh tanya apapun sama paman. Anggap saja paman ini adalah orang tua kamu sendiri.” Ucapan Indera mampu mengetuk pintu hati Amora.
“Apa boleh seperti itu?” tanya Amora dengan linangan air mata. Sang paman yang melihatnya langsung menghentikan mobilnya ke pinggir jalan.
“Apa paman membuatmu sedih?” Amora langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia menghapus air matanya yang terus mengalir di pipinya.
“A.. Amora hanya terharu,” ucapnya terbata.
“Dengarkan paman, Nak. Anggap saja paman adalah orang tuamu sendiri. Paman janji akan selalu menjagamu. Untuk sekarang, kamu fokuslah sekolah, oke?” Amora yang mendengarnya hanya mengangguk.
Sebenarnya baru kali ini Amora bertemu dengan pamannya karena kedua orang tuanya tidak pernah sedikit pun mengenalkan Indera padanya. Namun ia percaya bahwa pamannya itu adalah penolong di hidupnya.
Tak berapa lama, akhirnya Amora sampai di depan gerbang sekolahnya. Ia pun berpamitan kepada pamannya dan segera keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
“Amora!” teriak ketiga temannya langsung menyambut kedatangan dirinya.
“Kenapa kamu masuk? Kami kira kamu bakal absen.” Tutur Della.
“Iya, Ra. Padahal kamu istirahat aja di rumah. Kondisi kamu masih belum pulih,”
“Ah, kalian terlalu berlebihan deh. Aku gak papa kok. Aku kan kangen sama kalian,” ucap Amora dengan nada menggoda.
“Kayaknya ini anak setelah demam tinggi otaknya langsung geser deh,” ucapan Fani malah membuat Amora tertawa.
“Lah, kalau aku otaknya geser, terus kalian otaknya jongkok gitu?” pertanyaan Amora langsung mengundang serbuan dari ketiga temannya itu. Dan yang diserbu malah kabur menghindar.
Suasana pagi itu tampak ceria. Yang teman-temannya ketahui adalah kondisi Amora nampaknya sudah lebih baik dilihat dari cara bercandanya. Hal itu sangat disyukuri karena dirinya tak lagi dalam suasana duka. Ia sudah terlihat ceria dan lebih hidup dibanding terakhir kali mereka melihatnya.
Mereka berempat pun dipisahkan oleh kelas yang berbeda. Amora bersama dengan Fani sedangkan Fio dengan Della. Namun ternyata masih banyak murid yang berkeliaran di luar kelas.
"Ngapain masuk kelas?" tegur teman sekelas Amora.
"Emang kalian gak tahu? Hari ini kan semua guru pada rapat."
"Rapat apaan?"
"Katanya sih soal pembagian pembimbing untuk anak kelas 12 yang sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional." Amora dan Fani hanya ber-oh ria.
"Pantesan di luar banyak yang keliaran kemana-mana." ujar Amora.
"Kita ke kantin yuk, Ra. Aku pengen nyari jajan." tawar Fani.
"Tapi aku ke perpustakaan dulu sebentar ya. Mau pinjem novel." ucap Amora dan langsung mendapat anggukan dari Fani.
Amora pun langsung berjalan ke arah perpustakaan. Rasanya sudah lama ia tak membaca novel favoritnya. Walaupun ia sudah membacanya berkali-kali, tak ada kamus bosan dalam hidupnya untuk satu novel favoritnya itu.
Setelah sampai di depan pintu perpustakaan yang sudah terbuka, ia pun langsung masuk ke dalam. Suasana perpustakaan saat itu cukup gelap karena gordennya belum dibuka sebagian. Ia pun berinisiatif untuk membantu petugas perpus yang mungkin lupa untuk membuka gordennya.
__ADS_1
Namun sebelum ia membuka gorden tersebut, samar-samar ia melihat siluet orang yang tengah berdiri di pojok ruangan. Bukan hantu, tapi tampaknya sepasang sejoli tengah berdiri dan entah sedang melakukan apa.
Perlahan ia mendekati mereka dan betapa terkejutnya Amora melihat apa yang sedang terjadi tepat di depan kedua matanya. Sosok perempuan yang sangat ia kenali, Stella tengah bercumbu mesra dengan seorang laki-laki yang ia duga adalah kakak kelasnya juga karena Amora tak begitu jelas melihat wajahnya dalam kegelapan.
Tubuh Amora bagai kaku tak dapat bergerak melihat sepasang sejoli yang tampak tak menyadari kehadiran Amora dan hanya terus melakukan kegiatannya. Suara decapan, lenguhan dan rabaan yang Amora lihat membuatnya merinding dan tanpa sadar ia menyenggol rak buku yang ada di sebelahnya.
Brakk! Beberapa buku berjatuhan karena tersenggol oleh Amora. Dan hal itu membuat dua insan yang tengah bercumbu itu menatap ke arah suara tersebut. Amora langsung terkejut dan seketika berusaha kabur dari ruangan itu. Di tengah kegelapan ruangan, tak sengaja kakinya tersandung rak buku dan membuatnya terjatuh.
"Arg!" Amora mengaduh karena kakinya terkilir. Ia tak mampu untuk berdiri. Amora bingung harus berharap pada siapa lagi jika ia membutuhkan bantuan. Seketika ia teringat Bara dan air matanya tiba-tiba mengalir. Jika saja Bara ada disini, mungkin dengan sekejap mata ia akan melindungi Amora dan menghajar siapapun yang berniat jahat padanya.
"Ternyata elo. Gue kira siapa," ucap Stella masih dengan sisa nafas memburu.
"Siapa?" tanya laki-laki itu berlutut hendak membantu Amora berdiri. Amora menatap laki-laki yang berada tepat di depan wajahnya itu. Matanya langsung membulat menyadari siapa laki-laki tersebut.
"Ka.. kak Ari?" Amora tergagap. Gawat!
"Gimana ya rasanya kalau gue jilat dan hisap bibir lo?" ucap Ari memandang liat wajah Amora dengan kerlingan nakalnya.
Oh Tuhan, siapapun tolong aku! Teriak Amora dalam hati.
Tiba-tiba ada yang membuka pintu perpustakaan dan masuk ke dalamnya. Tanpa diduga Deri muncul membuat Amora bernafas lega.
"Sialan!" gerutu Ari ketika melihat Deri datang.
"Kami pamit dulu ya, Sayang," ucapan Ari membuat Amora menghindar ketika ia hendak menyentuh wajah Amora. Ari dan Stella tampak santai dan keluar lewat pintu belakang perpustakaan.
"Amora?!" Deri melihat Amora dan langsung membantunya berdiri.
"Kaki kamu kenapa?"
"Sepertinya sedikit terkilir, Kak." jawab Amora. Tanpa Deri tahu, Amora sangat berterima kasih atas kemunculannya. Entah apa yang terjadi jika ia tak datang.
***
__ADS_1