Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Tekad


__ADS_3

Amora bertekad untuk merubah hidupnya. Entah mendapat semangat darimana, ia ingin melawan ketidak adilan yang menimpanya selama ini. Bahwa ia harus merebut kembali apa yang menjadi haknya. Termasuk perusahaan milik kedua orang tuanya, Maurine Company. Ia akan merebutnya kembali dari pamannya.


“Jadi bagaimana, Pak? Apa ada judul skripsi yang bagus?” tanya Amora menemui dosen pembimbingnya.


“Judul yang terakhir ini bagus. Tapi apa kamu sanggup mendapatkan respondennya?” tanya sang dosen.


“Saya sanggup, Pak.” Ucap Amora mantap. Ia bertekad harus lulus dengan cepat agar rencana Amora selanjutnya bisa berjalan lancar.


“Baiklah. Buat proposalnya. Jika sudah selesai datanglah kembali.”


“Baik, Pak.”


Syukurlah ada satu judul yang bisa diterima. Kini ia harus bergegas menyusun dan membuat proposalnya. Semangatnya yang seperti ini seolah baru ia rasakan setelah kejadian mimpi itu. Mimpi yang cukup bergairah yaitu bertemu dengan sang kekasih hati. Dan Amora merasa bahwa Bara seperti sedang berada di sisinya, mengawasinya saat ini.


Tepat seperti yang Amora duga, tak jauh dari Amora berada, para pengawal tengah mengawasinya dari kejauhan. Ketua pengawal tersebut langsung memberitahukan kondisi Amora, sehingga sang tuan mereka, yaitu Bara bisa mengetahui kondisi Amora. Apa yang tengah dilakukannya, apa yang sedang dihadapi Amora, Bara tahu semuanya. Hal yang tidak Amora sadari bahwa selama ini Bara selalu menjaganya dan mengawasinya.


“Lagi ngapain lo? Serius amat,”


“Diem, gue lagi fokus.” Jawab Amora tanpa mengalihkan pandangannya dan terus fokus pada layar laptopnya. Sementara jari-jemarinya sibuk mengetik.


“Wah seriusan lo udah ngerjain proposal skripsi?” tanya Satria. Amora menjawabnya dengan tersenyum bangga.


Malam hari pun tiba. Amora masih bergelut di depan layar laptopnya. Sambil menikmati kopi cappuccino-nya, ia bertekad untuk menyelesaikan proposal tersebut malam ini agar besok sudah bisa diserahkan pada dosen pembimbingnya. Tak lupa juga ia membeli beberapa jurnal skripsi untuk bahan skripsinya. Amora juga mempelajari beberapa hal untuk mengetahui susunan yang benar dalam mengerjakan proposalnya.


“Apa yang sedang dia kerjakan?” tanya Bara melalui sambungan dengan pengawal yang sedang mengawasi Amora.


“Sepertinya nona Amora sedang sibuk mempersiapkan tugas skripsinya.” Tutur sang pengawal sambil melihat ke arah jendela kamar Amora.

__ADS_1


“Baiklah, kerja bagus. Jika tak ada yang mencurigakan kalian bisa pulang.” Titah Bara.


“Baik, Tuan.”


Tampaknya kini semangat seorang Amora perlahan kembali lagi. Entah karena siapa ia bisa seperti itu. Tapi yang jelas Bara sangat bersyukur melihat perubahan Amora. Ia kini terlihat lebih kuat dibanding sebelumnya. Tidak seperti dulu saat ia seolah kehilangan arah dan sering depresi. Jika mengingat hal itu, Bara merasa sangat bersalah padanya.


Pagi hari pun tiba. Amora terbangun dengan posisi tertelungkup di atas meja belajarnya. Semua badannya terasa remuk dan kepalanya berat. Tapi syukurlah proposalnya sudah selesai. Sambil menyiapkan hardcopy dokumen tersebut, Amora membersihkan tubuhnya terlebih dulu. Sepertinya air hangat bisa memulihkan kembali energinya.


*


Bryan menyelinap ke dalam ruangan ayahnya. Tampak tembok dengan ukiran aneh menyembul di pojok. Ia pun mendekatinya dan menyentuh tembok itu. Sesuatu yang aneh pun terjadi. Tiba-tiba terbuka sebuah ruangan di lantai membentuk tangga.


“Wah, aku baru tahu ada ruang rahasia di ruangan ini,” tanpa buang waktu Bryan pun menuruni tangga yang mengarah ke ruang bawah tanah. Dengan otomatis pintu di atas tertutup seperti semula ketika ia sudah menapak di lantai bawah ruangan tersebut.


Ia memandang takjub ke sekeliling. Lorong tersebut walau terbuat dari material kuno, tapi tampak elegan dengan sinar dari batu yang memancarkan cahaya. Namun setelah menelusuri lorong tersebut, Bryan dikejutkan dengan seseorang yang tengah berada di balik jeruji besi. Ia tampak tak sadarkan diri.


Ia melihat sang ayah yang dikawal oleh dua orang bertubuh besar dan kekar. Satu orang pria itu memukul jeruji besi sehingga membangunkan laki-laki yang tadi dilihat Bryan.


“Bangun!” teriak pria berotot itu.


“Halo pak detektif, bagaimana kabar anda?” namun pertanyaan sang ayah hanya ditanggapi dengan senyum mengejek dengan kondisi wajahnya penuh memar.


Karena tak mendapat tanggapan yang baik, ayah Bryan, yaitu Barda langsung menyuruh sang anak buah untuk mengeksekusinya. Pintu jeruji besi itu pun dibuka dan kedua pria kekar itu langsung menghajar sang detektif.


Di tengah keterkejutannya itu, Bryan sontak mundur menjauh dan tak sengaja menyenggol patung baju besi di belakangnya. Menghentikan sejenak penyiksaan yang diterima oleh sang detektif itu. Namun sekarang perhatian kedua pria kekar dan Barda beralih ke arahnya.


‘Mampus gue,’ gerutu Bryan dalam hati sambil berdoa ada suatu keajaiban terjadi. Bagaimana pun juga jika ia ketahuan menyusup, pasti ia akan bernasib sama seperti detektif itu. Dan tiba-tiba terdengar suara gaduh dari atas.

__ADS_1


Dugh! Bruakk!!


“Periksa di atas. Sepertinya ada penyusup.” Titah Barda, ayah Bryan.


“Baik, Tuan.” Kedua pengawalnya itu segera bergegas ke atas. Barda menoleh sekilas ke arah Bryan bersembunyi dan kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.


“Huhh.. syukurlah.” Bryan langsung bernafas lega. Ayahnya ternyata sangat menyeramkan. Berbeda sekali dengan sifatnya selama ini. Ia jadi ragu apa yang sebenarnya disembunyikan oleh sang ayah. Bryan bergegas menghampiri detektif yang dikurung di dalam jeruji besi.


“Apa anda baik-baik saja?” tanya Bryan. Tangannya mencoba membuka kunci jeruji tersebut namun tampaknya pola pengunci itu cukup sulit dimengerti.


“Kamu tak akan bisa membukanya. Karena aku sudah mencoba itu salama bertahun-tahun.” Bryan terkejut mendengarnya. Jadi laki-laki tersebut sudah dikurung selama bertahun-tahun disini oleh ayahnya?


Hatinya sangat teriris mendengar pernyataannya. Kenapa ayah yang selama ini ia kagumi, sifatnya yang penyayang ternyata bisa sekejam ini memperlakukan sesama manusia? Ia pun mencoba membuka kunci tersebut sekuat tenaga yang ia punya.


“Arrrrrgghh!!!” dengan frustasi, Bryan membanting alat kuncinya. Ia kesal tak bisa membantu membuka pintu tersebut.


“Tenanglah. Kamu akan ketahuan jika berbuat keributan disini.”


“Biarkan saja. Biar ayahku datang dan aku akan menghajarnya!” sang detektif terdiam dan mencerna perkataannya. Bryan. Satu nama yang tiba-tiba terlintas di benaknya.


“Kamu adalah Bryan, anak Barda?” pertanyaan itu membuat emosi Bryan cukup mereda. Ia mengangguk menanggapi pertanyaan tersebut.


“Jika benar kamu adalah anaknya, tampaknya kali ini aku beruntung.” Detektif itu lalu mendekati Bryan untuk mengatakan suatu hal yang penting. Walau diantara mereka terhalang jeruji besi, detektif itu memberikan Bryan sebuah foto.


“Tolong lindungi dia.” Ucap detektif itu. Dan betapa terkejutnya saat Bryan membalik foto itu dan melihatnya.


***

__ADS_1


__ADS_2