
Reno bersembunyi di balik meja dengan gerakan kilat. Seseorang itu tengah membuka handle pintu dan masuk ke dalam ruangan. Hening sejenak. Tak ada yang mengeluarkan suara. Reno menahan nafas sebisa mungkin agar tak ketahuan. Namun sedetik kemudian akhirnya kekhawatirannya tak terjadi.
“Pak Reno? Bapak di dalam?” suara tersebut sangat Reno kenali. Yoga. Ia pun bangkit dari tempat persembunyiannya di balik meja.
“Loh, pak Reno ngapain? Kok malah ngumpet disana?” tanya Yoga heran. Karena rencana awal mereka akan bertemu di ruang IT.
“Saya kira kamu orang lain. Ya, buat jaga-jaga saja makanya saya langsung sembunyi.” Ucap Reno dan Yoga pun hanya mengangguk menanggapinya.
“Bagaimana sudah dapat bukti, Pak?”
“Sudah. Ini saya mau pindahin datanya dulu. Kamu awasi keadaan di luar.” Titahnya.
“Baik, Pak.”
Dengan bermodal ilmu hacking yang dimilikinya, Reno dengan cepat memindahkan data tersebut ke dalam media penyimpanannya. Walau cukup sulit, namun kode-kode dan password yang mencegahnya mengunggah data tersebut dapat ia patahkan dengan beberapa kode-kodenya. Dan hanya dalam hitungan menit saja data itu sudah berhasil diunggah ke dalam flashdisk nya. Berhasil.
“Kita sudah dapat.” Ucap Reno menyimpan benda kecil itu ke dalam kantong bajunya.
“Sepertinya kita harus segera pergi, Pak. Kita berpencar lagi agar tidak ketahuan.” Usul Yoga.
“Tunggu, saya akan membuat CCTV nya tak berfungsi selama kita pergi dari sini. Saya juga akan menghapus jejak kita terlebih dahulu.” Ucapnya dan langsung mendapat anggukan dari Yoga. Atasannya itu memang sangat bisa diandalkan.
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya Reno dan Yoga meninggalkan ruangan. Namun karena kekurangan waktu, mereka berdua tak bisa saling berpencar. Alhasil Reno dan Yoga saling mengangguk memberikan kode.
“Gimana interviewnya tadi?" tanya Reno berpura-pura bahwa Yoga adalah anak karyawan baru.
"Alhamdulillah pertanyaannya bisa saya jawab semua, Pak." jawab Yoga mengikuti acting Reno.
Para staff karyawan yang melewatinya tampak memperhatikan mereka berdua. Ada yang memandang penuh tanya, ada yang memandangnya penasaran, bahkan ada yang mencurigainya walau hanya sedikit.
__ADS_1
"Eh, siapa itu? Karyawan baru yah?" tanya salah satu karyawan perempuan.
"Entahlah gue juga baru liat orang itu. Mungkin aja sih dia baru diinterview disini. Secara kan masuk ke perusahaan ini lumayan sulit." jawab teman di sebelahnya mengiyakan.
Reno dan Yoga yang sudah sampai di dalam lift langsung menutup pintu lift itu dengan tergesa. Akhirnya mereka berdua bisa bernafas lega walau hanya sejenak.
"Kita hampir aja ketahuan." ucap Yoga lega.
"Untung saya bisa acting juga ngikutin pak Reno." sambungnya.
"Kita harus pandai memahami situasi. Termasuk keadaan darurat seperti barusan." nasehat Reno. Dan mereka pun sampai keluar perusahaan dan masuk ke dalam mobil dengan selamat. Untung saja.
*
Amora dibawa oleh Bryan ke suatu tempat yang tak asing. Jalan yang mau menuju tempat kedua orang tuanya dimakamkan. Dahinya mengernyit heran. Dia mau ngelakuin apa padanya di tempat yang seperti ini? Batinnya bertanya-tanya.
Tak berapa lama mereka pun akhirnya sampai di depan makam kedua orang tua Amora. Kini makamnya sudah dipenuhi oleh berbagai macam tumbuhan hijau maupun berwarna. Sangat indah dipandang.
Amora berjongkok dan memanjatkan doa kepada kedua orang tuanya dengan khusyu. Bayangan ayah dan bundanya yang sedang tersenyum padanya seketika terbayang di pikirannya. Tiba-tiba air matanya mengalir.
Bryan pun berjongkok mengikuti Amora memanjatkan doa. Ia mendengar isak tangisnya. Isakan yang tertahan dan menyakitkan.
Tangannya mengelus pelan punggungnya yang sedikit berguncang. Tampaknya masih ada rasa tak ikhlas yang ia lihat darinya. Karena memang kedua orangtuanya itu meninggal dalam keadaan yang mencurigakan.
Setelah selesai mendoakan ayah dan bundanya, Amora dan Bryan pun bangkit hendak kembali.
"Ayah, bunda. Amora pamit yah. Semoga kalian tenang di alam sana. Amora bisa jaga diri sendiri dengan baik kok." ujar Amora sambil mengingat-ingat kembali mimpi yang pernah dialaminya. Mimpi saat bertemu dengan kedua orang tuanya namun masih samar-samar.
"Iya. Om sama Tante tenang aja. Saya yang akan jaga Amora mulai sekarang." ucap Bryan seraya memandangi makam kedua orang tua Amora seolah sedang berbicara langsung dengan mereka.
__ADS_1
Amora pun hanya tersenyum menanggapinya. Hari ini Bryan telah membuatnya kagum. Amora tak menyangka bahwa ia ternyata bisa melakukan hal selembut ini. Mengajaknya ke makam orang tuanya.
Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan tempat pemakaman. Amora hanya berdiam di jok belakang motor Bryan tanpa tahu tujuannya sekarang. Ia hanya bisa mengikutinya. Yang pasti selama ini pandangannya terhadap Bryan berubah.
Bryan mengemudikan motornya dengan santai sambil menikmati suasana kota kala ini. Cuaca pun cukup cerah namun tidak terlalu terik. Karena ia sudah membuat suatu rencana. Semoga rencananya itu berhasil. Doanya dalam hati.
Sesampainya di suatu tempat hiburan, Amora terbelalak. Pasalnya ia memang ingin sekali pergi kesini namun selalu gagal karena satu dan lain hal.
Tapi kali ini tanpa rencana apapun, ia dibawa ke suatu tempat hiburan ini. Dufan. Suara lagu itu terdengar di telinganya, mengingatkan dulu saat ia masih kecil bermain-main di wahana bersama kedua orang tuanya.
"Bryan! Demi apa? Gue emang pengen banget kesini!" Amora berkata dengan sangat antusias.
"Syukurlah kalau elo suka. Udah sedihnya ya. Sekarang saatnya kita menghibur diri." ucap Bryan sambil mengusap sisa bulir air mata di pipi Amora.
Amora pun langsung menyambutnya dengan suka cita. Ia berlari kesana-kemari layaknya anak kecil yang mengenang masa-masanya dahulu kala. Dengan wajah yang berseri dan senyum yang mengembang, ia memasuki dunia fantasi itu.
Bryan pun sangat bahagia melihat mata Amora yang penuh dengan binar kebahagiaan. Tak salah ia sudah mengajaknya kemari. Ini akan menjadi momen yang langka nantinya.
Persiapan yang sudah Bryan bawa pun sudah matang. Cincin dan kalung yang ia beli dan sudah di disain oleh orang ternama pun tak luput dari persiapannya.
Ada rasa yang masih terpendam. Menuntut untuk diungkapkan. Apapun yang terjadi, ia sudah siap menerima konsekuensinya. Walaupun semua persiapan yang ia buat sudah sempurna, hal itu tak akan menjadi penjamin bahwa dirinya akan diterima dan bahagia.
Cinta tak bisa memaksa, karena hati tak bisa dipaksa. Oleh karena itu Bryan akan mengungkapkan semua rasa di hatinya pada sang pujaan hati. Sang pujaan yang sudah mampu mencuri hatinya hanya dengan sebuah senyuman.
Saat pertama kali Bryan melihat Amora pun cinta itu sudah bersemi. Memang tak ada yang tahu bagaimana takdir cinta mereka bersemi. Namun hanya hati yang mampu merasakannya.
Sementara itu keputusan apapun yang ia terima nantinya, ia tak akan pernah menyesali rasa yang pernah tertanam dalam hatinya. Dan tak kan mungkin hilang walau hanya sekejap.
***
__ADS_1