
Flashback On
Stella dengan sangat girang mengabadikan adegan di depannya melalui ponselnya. Ia merekam dan menyimpan video tersebut. Video detik-detik Amora dilucuti pakaiannya oleh Ari. Seringai Stella makin melebar saat mengirim hasil video tersebut pada Bara. Iya. Pada Bara.
Dendamnya seolah terbalaskan. Perkataan Bara yang terngiang di benaknya tak bisa ia hilangkan. Masih menggema. Bara pernah mengatakan bahwa dirinya tak layak menjadi kekasih hatinya karena dianggap sudah ternoda. Dan kini balas dendam Stella akan terlaksana. Orang yang merupakan kekasih Bara akan dibuatnya hilang kesuciannya.
"Mampus lo! Sekarang elo akan menyesal sejadi-jadinya karena pacar elo juga kondisinya akan sama kayak gue. Udah gak suci lagi!" teriak Stella menyeramkan. Ia tertawa dengan begitu keras dan nyaring.
Namun sebelum Amora sempat dirusak kesuciannya, Bryan muncul mengacaukan rencana jahat mereka. Dengan sigap Stella menyembunyikan ponselnya. Ponsel yang menyimpan video Amora.
Flashback Off
Di suatu negara nun jauh disana. Tampak seorang laki-laki berparas tampan dengan setelan jas yang membuatnya semakin menawan. Salah satu gedung yang ia tempati saat ini adalah cabang perusahaan Atmanaja Group. Dengan pewaris tunggal yang akan dia sandang nantinya.
"Tamu penting kita akan datang lima belas menit lagi. Kamu harus bisa menariknya untuk berinvestasi di perusahaan kita."
"Baik, Pah. Akan Bara usahakan." ucapnya. Iya, laki-laki tersebut adalah Bara. Ia sedang membantu perusahaan ayahnya itu yang sedang dalam masa pailit.
"Tamu yang ini sangat penting, Nak. Kita tidak boleh sampai gagal. Karena kedua orang ini sangat diinginkan oleh perusahaan-perusahaan lain. Tapi mereka hanya datang untuk menemui kita saja." ucap Arman, sang ayah dengan antusias. Bara hanya mengangguk.
Sebenarnya Bara sudah cukup lelah karena hampir setiap hari ia harus menemui orang-orang penting dan menggaet beberapa investor. Usahanya sangat keras membantu sang ayah.
Apalagi kondisi ibundanya yang masih tak sadar mendorongnya untuk melakukan segala upaya. Bara sekuat tenaga ingin secepatnya menyelesaikan dan membantu memulihkan kembali kondisi perusahaan ayahnya.
"Kalau gitu papah akan cek ulang persiapannya ke dalam. Kamu sambut tamu kita dengan baik."
"Iya, Pah." jawab Bara.
Sepeninggal ayahnya, Bara menunggu di ruangan itu seorang diri. Masih ada waktu 13 menit lagi. Ditengah ia menunggu, ponsel yang selalu ada di dalam sakunya itu sengaja dikeluarkan. Sudah lama ia tak menyalakan ponselnya yang satu ini.
Sebenarnya ia takut jika menyalakan ponsel tersebut. Takut akan rindunya pada sosok Amora makin menjadi dan bisa mengacaukan segalanya. Karena ia sudah memasang benteng pertahanannya untuk tidak memperdulikan orang yang ia sayang.
__ADS_1
Bara terdiam sambil menatap ponsel itu. Sosok manis dan imutnya masih terbayang dipikirannya. Tanpa sadar Bara tersenyum memikirkannya. Ia benar-benar tak bisa melupakan Amora. Namun tugas yang akan ia emban ini mengharuskannya untuk mengakhiri hubungan ini dengannya.
Berat. Sakit. Tak rela. Semuanya campur menjadi satu. Ia bingung dengan apa yang sudah terjadi dalam hidupnya. Rasanya baru kemarin ia merasakan kebahagian bisa berdua dengan Amora. Ah, rasanya sakit jika terus memikirkannya.
Dalam lamunannya itu, tanpa sadar Bara sudah menyalakan kembali ponselnya. Dan seketika notifikasi yang diterima sangat banyak. Terus bersahutan. Pesan yang masuk sudah tak terhitung lagi. Tak lama notifikasi itu kini sudah berhenti. Bara melihat siapa saja yang berkirim pesan padanya.
Yang paling pertama ia lihat adalah pesan dari Amora. Ia mengabarkan bahwa kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Bara lantas terkejut. Bagaimana bisa ia sama sekali tak mengetahui hal tersebut?
Bara hendak memanggil pengawalnya untuk mengirimkan sesuatu ke kediaman Amora. Namun tingkahnya terhenti ketika pandangannya tertuju ke sebuah pesan yang tak diketahui nama pengirimnya. Ia membuka isi pesan itu dan ternyata adalah sebuah video.
Sebuah video yang samar-samar dari background nya terdapat sosok Amora. Tunggu, tunggu. Apa ia tak salah lihat? Matanya memicing tajam ketika mulai memutar tayangan video tersebut penasaran. Dan sedetik kemudian Bara langsung terkejut.
"Amora?" Dadanya bergemuruh menyaksikan orang yang sangat ia sayang tubuhnya digerayangi oleh Ari. Gak bisa. Ini gak boleh dibiarin. Bara yang emosinya sudah tersulut bergegas hendak meninggalkan ruangan.
"Mau kemana?" sang ayah mencegah Bara yang hendak pergi.
"Bara harus ke Indonesia sekarang juga." ucapnya dengan nada berat. Jelas sekali sedang menahan emosi yang hampir meledak.
"Kamu gak lupa sama tugas kamu kan?" ujar Arman berusaha membuat Bara tak pergi. Namun anaknya itu hanya terdiam seolah sedang menahan amarah.
Bara langsung bergegas mengambil ponselnya dan segera meninggalkan ruangan tersebut. Namun pengawal ayahnya lebih dulu menghadang Bara. Dengan pandangan yang tajam Bara melirik ayahnya.
"Bara, upaya kita tinggal satu langkah lagi. Apa kamu mau menggagalkannya begitu saja? Usaha kita sebelumnya hanya akan sia-sia." Bara yang mendengarnya hanya terdiam mencoba menenangkan degup jantungnya yang kencang.
"Apa kamu tega menghancurkan perusahaan ini yang dibangun sejak nenek moyang kamu hanya demi keegoisanmu semata?!" nada sang ayah mulai meninggi.
Kedua tangan Bara mengepal. Emosinya sudah tak tertahan. Namun ia tak tahu harus kepada siapa melampiaskannya. Amora. Oh Tuhan. Orang yang ia sayang sedang dalam bahaya. Bara tak mungkin hanya diam saja.
"Apa yang sudah kamu lakukan itu benar, Nak. Kamu sudah melindunginya dengan menjauh dari kehidupannya." ucap Arman kini dengan nada merendah. Ia tahu bahwa anaknya itu tengah dilanda kegalauan.
"Kamu ingat kejadian yang menimpa ibumu?"
__ADS_1
Degh! Jantung Bara kembali berpacu. Kenangan buruk yang terjadi saat ia melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri ketika ibunya tertembus timah panas tepat di dada sebelah kirinya kini menghantui pikirannya.
"Kamu gak mau kan dia bernasib sama seperti ibumu?" perkataan tersebut sukses membuat pertahanan Bara runtuh. Rasanya ingin berteriak dengan kencang. Melupakan segala sesak di dadanya. Mengeluarkan semua beban yang seperti tak ada habisnya.
Bara pasrah. Ia sudah menjadi lelaki yang kejam untuk Amora. Ia gagal. Gagal berada di samping Amora dan melindunginya. Ia hanya berharap bahwa Tuhan senantiasa melindunginya setiap waktu. Menjaga dia agar ia tidak berada dalam bahaya.
Seorang pengawal tiba-tiba datang menghampiri Arman mengatakan bahwa tamu kehormatannya sebentar lagi akan tiba di lantai tempat mereka berada. Bara langsung bergegas ke arah toilet.
Sang pengawal Arman yang cekatan hendak menahan Bara, namun segera dihentikan.
"Biarkan dia. Biar dia menata hatinya terlebih dahulu. Setelah tenang baru bawa dia masuk ke dalam." perintah Arman.
"Baik." jawab pengawal tersebut dan bergegas menyusul Bara untuk mengawasinya.
Tak lama tamu tersebut sampai dengan diiringi beberapa pengawalnya yang menemani. Tamu yang ternyata adalah sepasang suami istri.
"Hallo Mr. and Mrs. William. Nice to meet you. Please come in." sambut Arman dan saling berjabat tangan.
"Nice to see you again Mr. Arman." ucap Mr. William sambil menerima uluran tangan Arman dan menjabatnya.
Sementara itu Bara yang berada di dalam toilet, tengah berusaha menghubungi Amora. Namun sayangnya panggilan tersebut tak diangkat sama sekali. Ia ingin sekali mengetahui kondisinya saat ini.
Beberapa kali ia terus menghubungi Amora, namun sudah beberapa kali juga tak diangkatnya. Ia pun tak menyerah. Sekali lagi dicobanya menghubungi Amora. Dan kali ini panggilannya diangkat.
"Amora?" tanya Bara dengan nada cemas dan khawatir. Namun tak ada jawaban yang terdengar dari seberang. Hening. Tak ada yang menyahut. Bara yang instingnya tajam menangkap satu keanehan. Ini pasti bukan Amora.
"Siapa ini?" tanya Bara mengetahui orang yang mengangkat panggilannya pasti bukanlah Amora.
"Gue pacar barunya." jawab seorang lelaki di sambungan. Rahang Bara mengeras, tangannya mengepal. Namun ia mencoba untuk tetap tenang.
"Amora. Apa dia baik-baik saja?" tanya Bara dengan nada tetap tenang.
__ADS_1
"Dia aman sama gue." ucapnya dan panggilan pun langsung diputus seketika.
***