Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Kelabu yang Membuat Bisu


__ADS_3

Amora mengajak semua teman-temannya makan di salah satu restoran mewah bintang lima. Mereka saling mencurahkan rasa rindunya karena terpisah oleh kampus yang berbeda. Apalagi saat ini adalah momen yang paling sibuk karena mendekati wisuda.


“Oh ya, Ra. Ini ada hadiah dari kami. Selamat ya atas sidang proposalnya.” Amora meraih kotak persegi panjang yang disodorkan Fio.


“Wah thank you ya, Guys. Aku gak nyangka kalian bisa tahu aku lagi sidang. Makasih juga udah kesini.” Ucap Amora merasa senang.


Mereka pun mengobrol banyak hal mengenai hal-hal yang sudah dilewatkan. Fio dan Deri kini hubungannya makin romantis, sementara Della dan Bondan harus kandas karena orang ketiga. Sedangkan Fani dan Yuda, mereka melakukan hubungan jarak jauh.


“Kalau kamu sama Bryan gimana, Ra?” tanya Fani.


“Aku.. udah putus sama dia,”


“Kok bisa?” tanya Fio terkejut. Padahal menurutnya Bryan cukup tampan dan sangat baik terhadapnya selama ini.


Rasanya Amora sulit menjelaskan semua ini. Bahwa hatinya masih bertahta untuk satu nama. Dan itu bukanlah Bryan.


“Aku hanya akan menyakiti hatinya saja jika meneruskan hubungan ini.” Ucap Amora dengan rasa bersalah.


“Apa kamu masih berharap dengan seseorang?” pertanyaan Fani membuat Amora sedikit terkejut. Karena sepertinya perkataan Fani sangat tepat untuknya. Dan mereka pun bisa menebak siapa yang dimaksud Fani. Bara Atmanaja, sang penerus Atmanaja Group.


“Tak usah memaksakan hati, Ra. Kami akan dukung pilihan kamu kok,” jawab Della sambil menyemangati Amora.


“Tapi, Ra. Bukannya kak Bara udah pergi gitu aja? Apalagi sekarang gak ada kabar sama sekali.” Lagi-lagi perkataan Fio ada benarnya juga. Namun entah kenapa Amora masih sulit melupakannya. Dan ia merasa sosok Bara selalu hadir didekatnya. Atau memang ini hanyalah keinginan kuatnya saja yang membuatnya berpikiran seperti itu.


“Sudah sudah. Kita gak usah bahas tentang cinta dulu deh. Gimana kalau kita bersenang-senang saja hari ini untuk merayakan suksesnya sidang Amora?” usul Fani dan semuanya langsung serentak mengatakan setuju.


Fani sangat mengerti dengan perasaan Amora saat ini. Walau terpisah jarak, tak kan ada yang mampu memisahkan cinta mereka. Begitu pun dengan dirinya yang kini tengah menjalin hubungan jarak jauh dengan Yuda. Semoga penantian mereka tak kan mengecewakan, batinnya.

__ADS_1


*


“Jadi apa yang ingin kau tanyakan?” tanya William.


“Apa ada orang yang menghubungi dan meminta bantuanmu untuk menghancurkan keluargaku dan bisnisku?” tutur Arman.


“Sebenarnya aku tak terlalu tertarik dengan urusan bisnismu. Tapi ada satu orang yang menginginkan kau hancur.”


“Siapa?” tanya Arman mulai tak sabar.


“Teman lamamu. Barda,” Arman terkejut mendengar satu nama tersebut.


“Tidak mungkin,”


“Sepertinya kejadian waktu itu membuatnya terpuruk dan ingin balas dendam. Kau ingat waktu ia meminta tolong saat acara pernikahanmu? Dan saat itu lah jiwanya sedang terpuruk. Aku yakin ia ingin balas dendam padamu.” Tutur William.


Seketika ingatan masa lalu saat pernikahan Arman muncul. Kejadian yang membuatnya dilema. Disisi lain ia ingin sekali membantu Barda yang sedang terpuruk dan hanya mengandalkannya saja sebagai teman terdekatnya. Namun disisi lain acara pernikahannya tidak mungkin harus batal begitu saja.


“Tenang saja, aku sudah bilang tak mau membantunya. Tapi kau harus tetap berhati-hati padanya. Karena aku yakin saat ini ia sangat berambisi untuk menghancurkanmu.”


“Aku tak menyangka akan menjadi seperti ini,” ucap Arman dengan penuh penyesalan.


Sementara itu Bara yang menguping pembicaraan tersebut dari luar langsung bergegas pergi menemui Paul. Dengan wajah kebingungan, Paul hanya menuruti Bara yang menyuruhnya duduk di samping karena ingin membawa mobilnya sendiri.


Mobil itu pun melaju dengan kencang. Setelah Bara mengetahui kebenaran tentang orang yang selama ini menginginkan keluarganya hancur ternyata adalah ayah dari Bryan, ia harus segera menemuinya. Ya, dia harus segera menemui laki-laki itu. Bryan, mantan dari Amora sekaligus anak dari orang yang selama ini hampir merenggut nyawa ibunya.


“Apa yang terjadi?” tanya Paul hati-hati karena melihat emosi di wajah Bara.

__ADS_1


“Aku sudah tahu semuanya. Orang yang hampir membunuh ibuku dan juga hampir mencelakai Amora.” Jawabnya masih dengan menatap ke arah depan fokus mengemudi. Bara sangat terlihat tengah menahan emosi.


Sementara itu, Bryan yang tengah mengawasi Amora dari kejauhan melihat sebuah mobil melintas di hadapannya kemudian berhenti. Ia terkejut saat mengetahui Bara keluar dari dalam mobil tersebut.


“Ada hal yang perlu kita bicarakan.” Ucap Bara setelah menghampiri Bryan. Bryan yang terkejut itu pun hanya bisa mengangguk. Dari raut wajahnya seperti ada hal penting dan mendesak yang melibatkannya. Maka dari itu hanya lewat sorot mata saja Bryan mampu menerjemahkan maksud Bara.


Setelah sampai di suatu restoran mewah, Bara sengaja memesan ruangan VVIP agar pembicaraannya tidak ada yang mengganggu. Sementara itu ia menyuruh Paul untuk berjaga di luar ruangan untuk menghindari hal-hal yang tak terduga.


“Sebelumnya terimakasih karena sudah menjaga Amora selama ini.” Ucap Bara memulai pembicaraan setelah merasa ruangan tersebut aman dari penyadapan.


“Langsung saja ke inti masalah.” Jawab Bryan. Walau ia benci dengan sosok Bara yang telah lebih dahulu mencuri hati Amora. Namun ia harus tetap menghormati orang yang dicintai Amora.


“Ayahmu. Kau tahu apa yang sedang direncanakannya?” pertanyaan Bara berhasil membuat Bryan terkejut. Sementara itu Bara sedang memastikan Bryan ada dipihak siapa. Karena keberpihakkannya akan mempengaruhi jalan rencananya. Bryan mengambil nafas dan menghembuskannya.


“Aku tahu bahwa ayahku adalah orang yang hampir membunuh ibumu. Aku juga tahu bahwa dia sedang merencanakan untuk membunuhnya. Membunuh Amora.” Ucapan Bryan kini membuat Bara terkejut.


“Lalu apa? Kau hanya diam saja?” tanya Bara mulai kesal. Ia juga tahu bahwa Bryan masih menyimpan rasa terhadap Amora. Tapi kenapa dia hanya berdiam diri melihat rencana ayahnya itu?


“Ada seorang detektif yang tengah menyelidiki ayahku. Tapi dia sekarang sedang disiksa di ruang bawah tanah.”


“Jadi kau takut padanya?” tanya Bara memotongnya.


“Bukan itu. Sepertinya dia memiliki informasi yang lebih dalam tentang ayahku.” Tutur Bryan.


“Baguslah. Kamu jadi tahu sekarang apa tugasmu. Membebaskan detektif itu.”


“Aku sudah mencoba menawarkan diri untuk membantunya. Tapi dia menolak.” Jawab Bryan menjelaskan.

__ADS_1


Kini Bara tampak bingung. Tidak mungkin seorang detektif bertindak gegabah. Justru sebaliknya, detektif itu sangat berambisius untuk memecahkan kasus yang sedang ditanganinya. Pasti ada tujuan lain mengapa ia masih bertahan disana.


***


__ADS_2