
(Flashback Off)
Amora mengerjapkan kedua matanya. Pandangannya buram, namun secara perlahan-lahan ia mulai bisa melihat dengan jelas ke sekelilingnya. Ia melihat wajah bahagia dari para sahabatnya menghiasi wajah mereka. Amora baru sadar bahwa ia sedang berada di suatu ruangan serba putih dengan bau obat menusuk hidungnya. Lengannya pun di infus dan ia sudah mengenakan pakaian rumah sakit.
“Kenapa aku ada di sini?” tanya Amora. Ia merasa sedang tertidur di dalam kamarnya. Tapi kenapa ia bisa ada di rumah sakit? Apa ini mimpi? Tapi semuanya tampak sangat nyata. Lengannya yang berdenyut kesakitan membuat Amora yakin bahwa ini bukanlah mimpi.
“Kemarin kamu gak bangun sama sekali ketika kami datang ke rumah kamu. Bi Siti bilang kalau kamu belum makan sama sekali dari pagi dan demam kamu sudah hampir 40 derajat. Makanya kamu langsung dilarikan ke rumah sakit karena demamnya tinggi banget.” Jelas Fani.
“Apa yang terjadi, Ra?” tanya Fio dan langsung mendapat senggolan ringan di bahunya, kode untuk membuatnya tidak menanyakan hal itu dulu.
“Untuk sekarang, kamu banyak istirahat dulu yah.” Ucap Fani dan mendapat anggukan Della. Tak lama seorang dokter mendatangi ruangannya.
“Saya cek dulu kondisinya yah,”
“Oh, silahkan, Dok,”
Tak lama Deri, Bondan dan Yuda membuka pintu kamar VVIP itu. Dan diakhir, Amora melihat Bryan juga datang untuk menengoknya dengan membawa sekeranjang buah-buahan.
“Kondisinya sudah stabil. Besok kamu sudah boleh pulang,” ucap dokter Nadia pada Amora. Dokter Nadia memang sudah dari dulu menjadi dokter pribadi untuk keluarganya.
“Baik, terimakasih, Dok.” Ucap Amora masih dengan nada lemah. Malam ini rasanya ia cukup bahagia ditemani oleh para sahabatnya dan juga teman-teman dekat Bara. Terkadang Amora menatap ponselnya cukup lama berharap ada pesan masuk dari Bara.
Mereka bercakap-cakap untuk membuat suasana terasa hangat dan nyaman. Tak ada yang mengetahui bagaimana Amora bisa menjadi seperti itu. Bi Siti pun tak dapat menjelaskan apa-apa dan selalu berusaha menghindar. Seolah ia pun segan untuk menceritakan kejadian saat ia ditelpon oleh majikannya itu.
Malam pun semakin larut. Fani, Fio dan Della berpamitan untuk pulang, begitupun dengan Yuda, Bondan dan Deri.
“Kita mau ijin pulang juga, mau nganterin para cewek dulu. Kasian udah malem.” Ucap Deri.
“Bilang aja mau modus,” sergah Yuda.
“Elo juga sama aja.” Deri membantah.
“Udah, udah. Semua cowok sama aja,” tutur Bondan dengan gemulai.
“Jijik gue lihat lo,” Deri meringis melihat kawannya. Gelak tawa mewarnai acara pamitan mereka.
“Kita balik dulu ya, Ra,” pamit Fani.
“Kalau butuh bantuan jangan sungkan,”
“Besok kita kesini lagi ya, buat bantuin kamu siap-siap pulang.”
__ADS_1
“Makasih ya teman-teman.” Dan pelukan itu mengakhiri acara pamitan mereka.
“Jangan macem-macem!” ancam Yuda pada Bryan ketika melewatinya.
“Gue gak akan ingkar janji,” jawab Bryan dengan tatapan tegas.
“Oke, kalau gitu kita balik dulu.” Ucap Yuda kemudian berlalu.
Suasana di dalam kamar rawat Amora mulai hening setelah kepergian mereka. Hanya tersisa Bryan dan Amora. Bryan mendekati Amora yang sedang mencoba mengambil air.
“Biar gue yang ambilin.” Ucapnya melihat Amora tengah kesusahan untuk mengambilnya. Bryan pun menyodorkan segelas air putih padanya.
Rasanya Amora memiliki banyak sekali pertanyaan yang ingin ia utarakan pada Bryan.
“Thank’s.” ucap Amora tulus dan menyerahkan kembali gelas tersebut.
“Gimana kondisinya? Udah mendingan?” tanya Bryan. Amora mengerutkan keningnya merasa aneh karena baru kali ini ia melihat Bryan bicara dengan sangat lembut dan hati-hati.
“Iya, gue udah mendingan kok.” Jawab Amora.
“Sebenernya ada yang mau gue omongin.” Ucap Bryan tepat di manik mata Amora.
“Gue mau minta maaf.” Bryan menunduk.
“Enggak! Jangan pernah lakuin itu!” bentak Amora. Kali ini ia tak mau kehilangan siapapun lagi. Bryan dan semua teman-teman yang ada dalam kehidupan Amora tak akan diijinkannya untuk pergi. Tak boleh ada satu pun yang meninggalkannya. Hatinya sudah sangat sakit karena harus terpisah jauh dengan Bara.
“Elo udah gue anggap temen gue sendiri sama kayak yang lainnya. Untuk apa gue nyuruh elo pergi dan menghilang dari hidup gue? Gak! Gue gak akan ijinin siapapun pergi dari hidup gue!” mata Amora mulai berkaca-kaca saat mengatakannya. Bryan terkejut saat melihat Amora hendak menangis. Ia langsung berdiri dan mengusap-usap bahunya mencoba menenangkan Amora.
“Maaf.” Hanya itu yang mampu Bryan katakan. Ia sudah merasa cukup senang karena dirinya tak jadi menghilang dari kehidupan Amora. Karena hal itu juga sangat berat untuknya.
“Mau gue kupasin buah?” tawar Bryan dan langsung mendapat anggukan dari Amora.
Malam itu Amora seolah mendapat kekuatan kembali untuk bangkit dari keterpurukannya dari rasa kehilangan. Ia sadar bahwa dirinya masih memiliki banyak teman yang sangat menyayanginya. Bryan adalah teman baru baginya, walau mungkin ia akan sedikit kesulitan untuk berbaur dengan teman-temannya, tapi ia rasa itu bukan masalah besar untuknya.
“Jadi gue udah dimaafin nih?” tanya Bryan sambil menyodorkan potongan buah.
“Iya,” ucap Amora sambil melahap buah yang disodorkan oleh Bryan.
“Syukurlah kalau gituh.” Ucapnya sambil menyunggingkan sebuah senyuman.
“Ngapa lo kayak yang seneng banget gitu?” tanya Amora melihat perubahan raut wajah Bryan.
__ADS_1
“Gue seneng karena elo gak marah sama gue.” Ucapnya sumringah.
“Seseneng itu?”
“Iyalah.” Amora malah tertawa mendengarnya. Padahal Bryan sudah sangat jelas menunjukkan perasaannya, namun Amora sama sekali tak memiliki perasaan apapun padanya.
Tak lama pintu kamar dibuka dan ternyata bi Siti datang menemuinya.
“Maaf ya, Neng. Tadi bibi jagain para servis rumah sama halaman jadi baru beres siapin masakan.” Ucap bi Siti yang langsung mengeluarkan tupperware berisi makanan.
“Gak papa, Bi. Amora udah makan buah kok.”
“Malem, Bi.” Sapa Bryan.
“Oh, kamu laki-laki yang waktu itu ke rumah ya?”
“Iya, Bi.” Ucap Bryan mengangguk sopan. Amora langsung disuapi makan oleh bi Siti karena ia memang tidak ada larangan makan dari luar.
Tak lama Bryan berpamitan untuk pulang, karena melihat Amora yang mulai mengantuk setelah makan dan minum obat.
“Kalau gitu, gue pamit pulang dulu ya, Ra. Cepet sembuh lo.”
“Iya, sana gih.”
“Saya pamit dulu ya, Bi.”
“Iya, hati-hati di jalan ya.”
Setelah pamitan, suasana ruangan itu mulai hening kembali.
“Bi, Amora pengen cerita.”
“Cerita apa, Neng?” tanya bi Siti mulai serius.
“Amora mimpi bunda sama ayah pamitan. Mereka memakai pakaian serba putih, terus langsung pergi ke atas langit. Itu tandanya apa ya, Bi?”
Penjelasan Amora langsung membuat bi Siti gelisah, jantungnya pun berdetak dengan cepat. Karena panik, bi Siti tak sengaja menyenggol gelas yang ada di meja dekat dengannya.
Prang!
Pertanda apa ini? Mengapa hatinya jadi tak enak begini? Semoga tak ada sesuatu yang buruk terjadi pada kedua majikannya itu. Bahkan kejadian waktu ditelpon itu tak berani bi Siti katakan pada Amora, mengingat kondisi Amora yang masih belum pulih seutuhnya.
__ADS_1
***