Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Pergerakkan


__ADS_3

Bara dan Arman sedang berada di dalam sebuah restoran papan atas. Tak ada orang sembarangan yang bisa memasuki restoran tersebut. Namun ternyata setelah disana, mereka tetap diikuti oleh pria berhoodie.


"Makan dulu." perintah Arman pada anaknya itu. Bara mengerutkan dahinya, bingung kenapa ia malah dibawa ke tempat ini, padahal sebelumnya Arman mengatakan akan pergi ke tempat persembunyiannya.


Namun walaupun begitu, Bara hanya bisa mengikuti perintah ayahnya itu. Ia pun memakan makanan yang sudah tersedia di hadapannya.


"Lihatlah ke arah jam dua kamu. Ada seorang pria yang terus memperhatikan kita." ucap Arman namun matanya tetap fokus pada makanan yang sedang disantapnya.


"Bara lihat, Pah." jawab Bara memperhatikan pria berhoodie yang sebelumnya ia lihat di bandara. Bara pun tetap fokus pada makanan, mencoba membuat pengalihan.


"Apa yang akan kita lakukan, Pah? Apa perlu pengawal kita menangkap orang itu?" tanya Bara mencoba memberi saran.


"Itu akan sangat berbahaya. Orang awam pun akan tahu kalau kita dikelilingi banyak pengawal, tapi orang itu seakan tak takut untuk terus berada di dekat kita. Tampaknya dia adalah umpan untuk memecah belah kita." tutur Arman.


Bara mengangguk paham mendengar penuturan yang Arman jelaskan.


"Kamu harus tahu, Nak. Dunia bisnis itu sangat kotor dan penuh dengan persaingan. Jika kamu ingin terus maju dan berkembang, sebisa mungkin jangan sampai menunjukkan kelemahanmu."


"Maksudnya?" tanya Bara bingung apa yang dimaksud dengan kelemahan itu.


"Orang yang kamu sayang." jawab Arman tepat di manik mata Bara. Seketika jantung Bara langsung berdebar tak karuan.


Wajah Amora tiba-tiba terbayang di pikirannya. Hati Bara rasanya ingin berteriak seolah mampu menepis apa yang baru saja Arman ucapkan.


"Sebisa mungkin kita tak boleh menunjukkan kelemahan kita pada siapapun terutama perusahaan pesaing." ucap Arman.


"Bagaimana dengan Mamah?" tanya Bara. Tak mungkin papahnya itu akan membiarkan Mamahnya berada dalam bahaya.


Arman langsung menunjukkan ponselnya dan membuka satu aplikasi yang selama ini selalu dipasang bersama di ponsel Mona, ibu kandung Bara.


"Kami berdua memasang aplikasi ini bersama. Awalnya kami berdua hanya iseng memakainya. Tapi ternyata aplikasi ini bisa sangat berguna di situasi seperti saat ini."


"Jadi papah tahu dimana lokasi mamah berada?" tanya Bara memastikan.


"Tentu saja." ucap Arman tersenyum mantap. Hal itu membuat Bara tenang mendengarnya.

__ADS_1


"Lalu kenapa kita tidak langsung kesana?"


"Untuk saat ini kita tidak boleh tergesa-gesa. Pertama-tama kita harus memancing orang itu agar tidak mengikuti pergerakan kita." ucap Arman sambil melirik pria berhoodie yang selalu memperhatikan mereka.


"Bara punya ide." ucap Bara mendapat suatu ide yang bisa mengalihkan perhatian pria itu dan membuat Arman agar bisa segera menyelamatkan Mona.


*


Udara sejuk pegunungan mulai menyentuh pori-pori kulitnya. Angin sejuk itu menerpa wajah Amora dengan lembut.


"Wah, rasanya segar sekali yah." ucap Amora setelah turun dari mobil dan langsung melihat-lihat ke arah bukit di sekitarnya.


Pemandangan alam yang indah membuat mata siapapun akan enggan untuk berpaling dari menatapnya.


"Wah berasa baru kemarin kesini, tapi pemandangannya terasa sangat berbeda yah." ucap Fio.


"Iya, soalnya kan ada gue. Jadi suasana disini makin indah dan berseri." ucap Deri dan langsung disenggol Bondan.


"Modus terus, lo!" bentaknya. Mereka berdua memang selalu berhasil menciptakan suasana tawa ceria.


"Sudah, ayo kita segera bawa barang-barang dan mulai berkemas." ucap Yuda dengan nada sok cool nya. Fani yang melihatnya hanya menggeleng-geleng kepala.


Kali ini sepertinya Yuda sudah mendapatkan kembali harga dirinya yang sebelumnya sempat turun kasta. Namun dari sudut matanya, Yuda tak pernah memalingkan perhatiannya dari Fani.


Amora yang menyadari hal itu langsung menyenggol bahu Fani.


"Kayaknya ada yang naksir kamu tuh." ucap Amora. Fani yang mendengarnya hanya mengerlingkan matanya.


"Ogah banget deh kalau sama cowok yang satu itu." jawab Fani.


Amora hanya tersenyum melihat ekspresi kawannya itu. Jangan-jangan Fani juga naksir Yuda namun malu untuk mengakuinya. Tapi Amora tak mau ikut campur untuk masalah mereka, ia cukup jadi penonton dan pendukungnya saja.


Kesunyian tiba-tiba menghampiri Amora. Ia terus melihat ponselnya berharap ada notifikasi pesan masuk. Malah lebih bagus lagi jika notifikasi panggilan yang masuk. Tapi tampaknya Bara belum membaca pesan yang dikirim Amora. Hal itu membuat Amora sedih. Kemudian ia jadi over thinking terhadapnya.


*

__ADS_1


"Ide apa?" tanya Arman bingung.


"Bara yang akan mencoba mengalihkan perhatiannya." usul Bara dengan sorot mata penuh keyakinan.


"Jangan, itu sangat berbahaya. Kita tak tahu senjata apa yang akan digunakannya." sergah Arman dengan wajah khawatir. Ia tak mau terjadi sesuatu pada anak semata wayangnya itu.


"Jangan jadikan Bara sebagai kelemahanmu, Pah. Tapi jadikan Bara sebagai kekuatanmu." ucap Bara dengan nada final. Walaupun sempat ditahan, akhirnya Arman mengijinkan Bara beraksi.


Bara berdiri dan mulai berjalan mendekati pria berhoodie yang sedari di bandara terus mengawasinya. Pria itu duduk dengan menunduk seolah ingin menyembunyikan wajahnya.


"Halo," ucap Bara sambil duduk di hadapannya. Namun pria tersebut hanya diam tak menggubris sapaannya. Bara lanjut melakukan cara lain.


"Jangan pernah ganggu keluarga gue." bisik Bara tepat di hadapannya. Pria itu langsung menatap tajam mata Bara.


Bara tersenyum melihat respon balik darinya.


"Tenang aja, gue cuma mau ngajak kenalan sama elo. Karena dari tadi kayaknya elo ngikutin gue terus. Apa jangan-jangan..." Bara sengaja menggantung perkataannya pura-pura terkejut.


"Jangan-jangan elo naksir gue, terus mau minta ijin bokap gue yah?" ujar Bara dengan ekspresi yang dibuat-buat.


Pria itu hanya mendengus sinis mendengar penuturan Bara. Bara yang mengetahui bahwa pengalihannya berhasil, memberikan kode pada Arman untuk segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Arman mengangguk mengikuti kode yang diberikan Bara dan pergi secara perlahan.


Bara langsung berdiri dan mencoba mendekati pria berhoodie tersebut, menghalangi kepergian Arman. Sementara pria itu malah bergidik ngeri menyadari Bara malah terlihat mendekati dirinya.


Setelah Arman sudah dipastikan pergi dari tempat tersebut, Bara duduk kembali dan menatap pria di hadapannya.


"Siapa yang nyuruh elo?" tanya Bara tajam.


"Bukan urusan elo!" jawab pria itu sinis.


"Ini akan jadi urusan gue, jika sudah melibatkan keluarga gue." tantang Bara.


Pria tersebut seakan teringat sesuatu kemudian melihat ke arah dimana Arman duduk. Ketika pria itu sudah tidak menemukan keberadaan Arman, ia langsung sadar bahwa ternyata dari tadi ia telah ditipu dan dialihkan perhatiannya oleh orang yang ada di hadapannya ini.


"Kurang ajar!" teriaknya tertahan membuat Bara tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"Elo akan mati di tangan gue!" teriaknya dengan sorot mata membunuh.


***


__ADS_2