Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Ancaman Mematikan


__ADS_3

“Amora, jangan mendekat!!” teriak Bara namun Amora tak menggubrisnya. Ia memeluk Bara dan membiarkan pukulan demi pukulan itu kini mengarah kepadanya. Bara menangis melihat Amora kesakitan menerima pukulan itu. Walau Bara sendiri sudah babak belur tapi ia masih kuat menerima siksaan tersebut. Berbeda dengan Amora yang langsung terkapar tak berdaya yang mencoba menolongnya.


“Kenapa kau melakukan ini?!” ucap Bara sambil berlinang air mata. Hatinya lebih sakit menyaksikan orang yang disayanginya terluka.


“Karena aku… men..cintai..mu..” ucap Amora dengan tersendat sebelum ia jatuh tak berdaya.


Sementara itu Barda tengah menikmati tontonan yang ada di hadapannya. Menyaksikan sepasang kekasih yang tengah dipukuli oleh para pengawalnya. Bara dan Amora terlihat saling melindungi dan membuat Barda makin senang dengan pemandangan itu.


“Menarik sekali mereka berdua.” gumam Barda menyaksikan Bara yang hampir tak berdaya melihat kekasih hatinya terkapar karena sudah babak belur.


Lagi-lagi ini semua tentang cinta dan perasaan. Dua hal yang ingin sekali Barda hindari sejak dulu. Sebelum semua ambisinya untuk menghancurkan Arman datang. Tapi kini semuanya terlihat memuakkan baginya. Apalagi dengan kata cinta yang membuatnya jijik jika mendengar satu kata itu.


Flashback On


“Arman, aku mohon tolong bantu aku. Aku hampir bangkrut karena wakil direktur sialan itu menipuku. Kau kan tau kalau aku benar-benar mempercayainya tapi ternyata dia berkhianat. Maaf karena saat itu aku tak percaya perkataanmu kalau dia ternyata tak baik.” pinta Barda mendesak Arman.


“Ini salahmu karena tak percaya perkataanku saat itu. Kau malah lebih percaya padanya dibanding aku, teman dekatmu sendiri. Kita sudah berteman lama tapi hanya karena dia, kau goyah begitu saja. Maka dari itu, terimalah akibatnya. Aku tak bisa membantumu,”


“Tunggu, Arman!” Barda menarik Arman agar ia tak pergi meninggalkannya. Kemudian ia berjongkok dan berlutut di hadapan Arman.


“Aku mohon tolong aku, Arman. Aku tak punya siapa-siapa lagi. Cuma kamu yang bisa bantu aku,”

__ADS_1


“Maaf Barda, aku tak bisa menolong mu. Itu semua adalah akibat dari kesalahanmu sendiri. Jadi jangan ganggu hidupku. Kita sudah berbeda.” Arman berbalik dan hendak pergi meninggalkan Barda.


“Aku akan hancurkan hidupmu jika kau pergi selangkah saja. Akan aku pastikan kau merasakan apa yang telah kau lakukan padaku saat ini. Kau ingat, Mona menjadi calon istrimu berkat usahaku!” Arman yang mendengarnya berhenti melangkah dan berbalik melihat Barda yang masih dalam posisi berlutut.


Wajah Barda berubah seketika menjadi merah padam. Ia benar-benar marah dengan keadaan dan perlakuan Arman yang seperti sedang meremehkannya. Padahal selama ini ia selalu membantunya entah urusan bisnis ataupun urusan cinta. Bahkan berkatnya, Arman bisa mendapatkan perempuan secantik Mona.


“Setelah melihatmu seperti ini, sebaiknya kita berhenti saja sampai disini. Jangan tampakkan wajahmu di hadapanku lagi. Aku sudah muak dengan semua kelakuanmu. Pergilah.” ucap Arman membuat luka di hati Barda makin dalam. Arman pun berbalik dan melangkah meninggalkannya karena saat ini acara pernikahannya akan segera dimulai.


Flashback Off


“Aku jadi semakin ingin menguji mereka berdua.” ucap Barda dengan seringai licik saat melihat ke arah Bara dan Amora. Sebuah ide yang cukup gila hinggap di kepalanya.


“Bagaimana rasanya jika Bara melihat kekasihnya hancur di depan kedua matanya?” gumam Barda membayangkan kehancuran Amora versi dirinya dan disaksikan langsung oleh Bara. Kehancuran melihat kesucian Amora yang harus direnggut dengan cara yang tragis sepertinya akan menyenangkan, pikir Barda kejam.


“Lepaskan dia!” teriak Bara. Ia sudah tak tahan lagi melihatnya. Entah apa yang akan dilakukannya pada Amora. Tubuh Bara pun sudah mulai lemah akibat pukulan dan tendangan yang tak ada hentinya.


Barda mendekati Amora yang tengah terbaring di sofa panjang itu dan mengelus wajahnya dengan lembut. Seringai itu tercetak jelas di bibirnya, seolah sengaja agar Bara melihatnya saat ini. Tentu saja wajah Bara memerah menahan amarah.


“Jauhkan tanganmu darinya,” ancam Bara dengan nada tertahan. Rasanya ingin sekali mematahkan tangan yang menyentuh wajah kekasihnya itu.


“Kau akan menyesal jika tak mendengarkan aku,” ucap Bara dengan tatapan tajam dan mematikan. Ia sudah cukup bersabar menghadapi ini semua, tapi tidak jika kekasihnya disentuh.

__ADS_1


Barda makin sumringah melihat ekspresi Bara. Sangat menyenangkan sekali mempermainkan dua sejoli yang sedang dilanda asmara. Walau tanpa ia ketahui bahwa cinta yang bersemi diantara Bara dan Amora sudah sangat kuat, tak bisa terpisahkan. Bara tak akan memperdulikan apapun lagi jika menyangkut keselamatan dan keamanan kekasihnya apalagi kesuciannya.


Tak lama Barda merogoh kantung celananya dan mengeluarkan senjata api dari dalamnya. Sontak hal itu membuat Bara terkejut. Seribu serangan pisau bisa saja dihadapi olehnya, tapi berbeda dengan senjata api, Bara tentu tak mampu menghadapinya. Mau bagaimana pun, benda itu akan melesat dengan kecepatan tinggi menembus ke jantung jika pelatuknya ditarik.


“Apalagi yang kau inginkan?” tanya Bara mulai pasrah kembali. Ia benar-benar frustasi saat ini.


“Aku tak ingin apa-apa. Hanya ingin kau diam disana dan menyaksikan apa yang akan terjadi setelah ini,” ucap Barda dengan seringai liciknya.


Semua pengawal kembali ke tempat semula. Kini Bara sudah terlepas dari pukulan dan tendangan yang menyiksanya. Namun setelah itu ia diseret untuk duduk di tengah-tengah ruangan menghadap ke arah depan. Dimana posisi Barda masih ada di samping Amora yang sedang berbaring tak berdaya. Setelah memastikan ikatan Bara sudah terlilit dengan baik di atas kursi, Barda pun memulai aksinya.


“Setubuhi dia.” perintah Barda pada anak buahnya yang paling dekat. Ia sengaja memerintahkan anak buahnya yang itu karena usianya diperkirakan seumuran dengan Bara. Sensasi nya tentu sangat berbeda dibanding ia harus menyuruh anak buahnya yang sudah berumur.


Dengan pandangan penuh ragu, laki-laki yang disuruh oleh Barda tersebut tampak segan melakukan perintahnya yang satu ini. Ia ragu untuk melakukannya dan hanya diam mematung. Alasannya karena ia masih memiliki hati untuk tidak melakukan hal bejat itu. Ia mengikuti Barda pun karena kedua orang tuanya mempunyai hutang dan dia menjadi jaminannya.


“Apa yang kau tunggu?! Cepat lakukan!” teriak Barda membuat laki-laki itu dengan cepat menghampiri Amora. Ia kembali menatap ke arah Bara yang kini menatapnya dengan tatapan yang sangat mematikan. Matanya merah membuat nyalinya ciut seketika. Namun Barda kali ini mengancamnya akan mencelakai kedua orang tuanya jika tak mau menuruti perintahnya.


Bara pun tak mampu bergerak karena sekalinya ia bergerak, ia takut dengan pistol yang ditodongkan Barda tepat di kepala Amora. Ia tak mau gegabah dan hanya menatap tajam laki-laki yang hendak menyentuh Amora. Jika ia berani membuka sehelai kain saja pakaian Amora, Bara tak mau berdiam berdiri lagi. Ia akan lawan meskipun harus mempertaruhkan nyawanya.


Dengan berat hati laki-laki itu pun mendekatkan wajahnya ke arah wajah Amora mencoba menciumnya. Entah nantinya akan dibunuh oleh Bara atau dibunuh oleh Barda, itu sama saja baginya. Namun belum sempat ia mendaratkan bibirnya di bibir Amora, terdengar suara ribut yang berasal dari luar.


“Hentikan semua ini!” teriak seseorang yang baru datang ke ruangan tersebut. Barda sontak terkejut melihat siapa yang tiba-tiba saja datang kemari.

__ADS_1


***


__ADS_2