Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Duri


__ADS_3

“Amora?!” Bryan terkejut melihat foto tersebut.


“Kamu mengenalnya?”


“Dia mantan kekasihku. Tentu saja aku mengenalnya,” Bryan seolah teringat dengan perkataan ayahnya tempo hari lalu saat dia sedang menguping.


Beliau mengatakan bahwa ada perempuan yang harus dia bunuh namun tampaknya rencana tersebut telah gagal. Apakah perempuan itu adalah Amora? Target sang ayah? Ia pun menceritakan hal tersebut pada detektif itu.


“Ini sudah bahaya. Dia adalah saksi kunci. Tak boleh sampai kenapa-napa.” Ucap detektif dengan bimbang dan waspada. Bryan berpikir dengan keras bagaimana caranya agar ia bisa melindungi Amora sementara ia sudah berjanji padanya untuk menghilang dari kehidupan Amora.


“Tenang saja, aku akan berusaha melindunginya.” Ucap Bryan pada akhirnya.


“Tapi sebelum itu aku harus membebaskan anda terlebih dahulu,” sambungnya.


“Tak usah.” Potong detektif. Kening Bryan mengkerut bingung.


“Pergilah sebelum ayahmu kembali.” Titahnya.


“Tapi….” Sebelum menyelesaikan kalimatnya, Bryan berpikir sejenak kemudian mengangguk. Prioritas utama saat ini memang lah Amora.


“Baiklah. Aku akan pergi. Jaga diri anda baik-baik.”


“Tentu saja.” Jawab detektif sambil tersenyum.


Setelah kepergian Bryan, detektif itu mendekati pojok ruang jeruji besi tersebut. Ia menggali tanah dan mengeluarkan sebuah ponsel. Ponsel yang selama ini merekam aksi kejahatan yang menimpa dirinya.


“Dengan ini, semua bukti tak bisa dibantah lagi.” Ucapnya sambil tersenyum puas.


*


Amora sudah siap untuk menemui dosen pembimbingnya dengan membawa proposal yang ada di tangannya. Ia berdoa dalam hati semoga tidak banyak revisi agar Amora bisa lanjut ke penelitian. Pintu itu pun diketuknya.


“Permisi, Pak. Saya mau menyerahkan hasil proposal saya.” Ucap Amora.

__ADS_1


“Iya silahkan.” Jawaban dosen tersebut membuat Amora gugup. Karena ia tiba-tiba teringat belum merapihkan tulisannya. Setelah menyerahkan dokumen tersebut, suasana di ruangan hening. Hanya terlihat sang dosen sedang memeriksa hasil proposal Amora.


“Dilihat dari isinya kayaknya kamu memang sudah yakin untuk melakukan penelitian ini. Cukup bagus. Kamu bisa langsung mengajukan sidang proposal hari ini.” Mata Amora membulat tak percaya.


“Beneran, Pak?”


“Tentu saja. Kamu sudah benar dalam penyusunannya. Latar belakangnya juga sangat sinkron dengan isi yang akan dibahas. Kesalahan kamu mungkin dari beberapa tulisan yang typo. Perbaiki itu saja.”


“Baik, Pak. Terimakasih banyak,” Jawab Amora dengan wajah antusias.


Bagaimana tidak, kebanyakan para mahasiswa mengerjakan proposalnya memakan waktu lama dan terkadang isinya malah masih salah dan banyak revisi. Tapi Amora bisa menyelesaikannya dalam satu hari dan tanpa revisi yang berarti. Tentu saja hal itu membuatnya semakin bersemangat.


“Cie yang besok mau sidang proposal. Cepet banget sih lo. Gue jadi pengen ngejar lo kan.” Ujar Satria menghampiri Amora yang tengah duduk di taman tempat nongkrong para mahasiswa.


“Maksud lo ngejar apaan?” kening Amora mengernyit. Dan tak lama Satria mengeluarkan selembar kertas bertuliskan ‘Permohonan Pengajuan Sidang Proposal’.


“Anjir lo mau sidang proposal juga?” kini Satria menjawabnya dengan tersenyum bangga. Namun tak lama Satria langsung diserang oleh Amora dengan pukulan yang bertubi-tubi.


“Sejak kapan elo ngerjainnya?” tanya Amora setelah puas memukul Satria.


“Sejak kemarin. Pas gue liat lo ngerjain proposal. Gue juga langsung bikin beberapa judul ke pembimbing. Kebetulan disetujui, langsung aja deh gue gas semaleman buat beresinnya.” Jelas Satria.


“Wah gila yah. Elo dari dulu emang saingan gue sih. Pantes aja gue liat ada lingkar item di mata lo. Keliatan udah begadang.”


“Lah emang elo enggak?” tanya Satria dan refleks Amora mengambil cermin mininya.


“Oh iya gue juga ada lingkar itemnya nih.” Ucap Amora sambil menertawai dirinya.


“Kita udah keliatan kayak pasangan panda tau gak sih?” kata-kata itu memecah tawa keduanya baik Amora maupun Satria.


Orang-orang yang menyaksikan mereka menduga bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang tengah bercanda. Namun tidak bagi para pengawal yang mengawasi Amora. Dari jauh, Bara mendengar bahwa Amora tengah bercanda dengan seorang laki-laki. Memang tak kan ada laki-laki yang suka mendengar orang yang disayangnya bersama dengan orang lain.


Namun sudah lama Bara mengetahui itu. Bahkan hal ini tidak terlalu menyakitkan dibanding mendengar kabar saat Amora menjadi kekasih Bryan. Sempat patah hati dan frustasi hingga tak mempekerjakan lagi para pengawalnya untuk mengawasi Amora. Karena ia yakin Bryan mampu menjaganya.

__ADS_1


Namun setelah ia mendengar kabar tentang kesehatan mental Amora terganggu dan tampak ia tak bahagia dengan hubungannya itu, Bara pun menugaskan kembali para pengawalnya untuk menjaga dan mengawasi Amora. Hingga kini hal yang membuatnya cemburu sama sekali tak menggoyahkan hatinya. Karena ia yakin bahwa Amora akan menjadi miliknya seutuhnya setelah semua misi ini usai.


*


Bryan menemui sang ayah. Ia tak bisa membiarkan orang yang ia sayang harus terancam kehidupannya karena ayahnya sendiri.


“Apa Papah ada di dalam?” tanya Bryan pada pengawal yang menjaga ruangannya. Hening sejenak.


“Beliau ada di dalam. Silahkan,” ucap pengawal tersebut sambil membukakan pintu ruangan.


“Perusahaannya kini sudah kembali bangkit bahkan sudah mulai mengembangkannya. Apa yang harus saya lakukan?”


“Tunggu aba-aba dariku. Kita selesaikan satu persatu dengan melenyapkan duri itu dulu.”


Percakapan antara ayahnya dan seseorang yang Bryan kenal dengan julukan bos Yus sedikit tertangkap oleh pendengarannya. Ternyata masalah ini tidak sesederhana itu, pikir Bryan.


“Eh, Nak? Tumben kamu ke ruang Papah? Ayo sini,” ucap sang ayah ketika melihat kedatangan Bryan. Ekspresinya seketika berubah. Wajahnya yang tampak kejam seketika menjadi sumringah dan tampak senang menyambut anaknya.


Bos Yus pun ijin meninggalkan ruangan tersebut. Sangat mencurigakan sekali dia, pikir Bryan. Padahal perusahaannya itu terbilang kecil dan hanya bergantung pada beberapa investor saja. Mungkin karena hal ini bos Yus mendekati ayahnya untuk mendapatkan suntikan dana.


“Ada apa, Nak? Kamu tidak mengurus klienmu?”


“Klienku sudah diurus oleh asistenku. Ada yang ingin Bryan tanyakan.”


“Silahkan, Nak.” Jawab sang ayah sambil duduk di kursinya.


Namun Bryan tampak ragu untuk menanyakannya. Kemana sikap ayahnya yang kejam saat memerintahkan untuk menyiksa detektif itu? Wajah yang menakutkan dan bisa membuat siapa saja yang melihatnya gemetar. Tapi kini ayahnya memasang wajah yang penuh kasih. Bahkan Bryan seolah hanya bermimpi saat melihat wajah menyeramkan dan menakutkan sang ayah.


“Apa yang sedang Papah lakukan dengan bos Yus? Siapa yang akan Papah bunuh?” pertanyaan itu membuat sang ayah tertawa. Bahkan tawanya sampai menggema di seluruh ruangan. Degh! Perubahan raut wajahnya membuat Bryan bergidik. Setelah menghentikan tawanya, ia pun berjalan mendekati Bryan.


“Jangan jadi batu sandungan untukku, Nak. Karena aku tak akan segan menyingkirkan batu itu dengan tanganku sendiri,” bisik sang ayah tepat di telinga Bryan. Barda pergi meninggalkan anaknya yang kini diam mematung.


***

__ADS_1


__ADS_2