Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Dalam Suasana Duka


__ADS_3

Jenazah Anne dan Gavin pun telah selesai dimakamkan di tempat pemakaman umum terdekat. Amora didampingi Bryan untuk melihat prosesi pemakaman kedua orang tuanya itu hingga selesai. Mata Amora sudah bengkak karena menangis. Air matanya tak henti mengalir karena harus berpisah dengan orangtua yang sangat ia sayangi.


Disaat yang bersamaan, Amora ditinggal oleh Bara entah kemana dan entah kapan ia akan kembali. Kali ini ia juga ditinggalkan oleh kedua orang tuanya yang tak akan pernah kembali. Begitu hancur dan sakitnya hati Amora. Ia tak tahu harus bagaimana menjalani hidupnya kini.


Bryan mengelus bahu Amora pelan, mencoba menguatkannya. Hatinya pun teriris sakit ketika melihat Amora yang terus menangis.


"Sabar ya, ada gue disini." ucap Bryan dan mampu membuat Amora langsung menatapnya.


"E..elo.. jan..janji gak a..akan ninggalin g..gue kan?" ucap Amora terbata-bata dengan lelehan air mata.


"Gue gak akan kemana-mana." ucap Bryan tepat di manik mata Amora. Amora pun tersenyum melihat kejujuran di mata Bryan.


Namun tanpa mereka sadari, di dalam sebuah mobil tak jauh dari tempat pemakaman, seorang laki-laki tengah memperhatikan mereka, khususnya Amora.


"Yang tersisa tinggal anak perempuannya. Apa aku harus membunuhnya juga?" tanya laki-laki itu dengan seringai seramnya.


"Tidak perlu. Dia bukan ancaman untuk kita. Jangan buat kegaduhan, karena hal itu justru akan menimbulkan kecurigaan." jawab seseorang yang tampak memiliki kekuasaan.


"Sebaiknya kita pergi. Sudah tak ada lagi yang harus kita lakukan. Polisi juga tampaknya sudah aman. Dasar bodoh. Mereka menganggap kecelakaan itu adalah kecelakaan tunggal."


"Mungkin kita terlalu pintar mengelabui tempat kejadian." kedua laki-laki itu pun tertawa menyeringai merasa sudah berhasil menjalankan misi mereka dengan sempurna.


*


Pemakaman pun telah selesai dan kini Amora beserta para sahabatnya serta Bryan kembali ke rumah Amora. Fani, Fio dan Della membantu Amora menyambut para tamu yang berdatangan untuk sekedar mengucapkan belasungkawa pada Amora.


Banyak para pejabat, para pengusaha, bahkan dari kalangan orang-orang terkenal saling berdatangan. Begitupun karangan bunga dengan kata-kata belasungkawa menghiasi hampir setiap sudut rumah Amora. Suasana rumah yang luas dan sepi kini berubah menjadi ramai di setiap sudutnya.


"Ra, gue kesana dulu yah." ucap Bryan ketika melihat kedua orang tuanya datang. Ia bahkan bingung karena tidak tahu apa hubungan kedua orang tuanya dengan kedua orang tua Amora sehingga mengharuskan mereka datang kesini.


"Fan, aku lelah." ucap Amora.


"Mau istirahat aja?" tawar Fani. Della dan Fio melihat Amora tampak kelelahan.


"Kita ke kamar kamu aja yuk," ajak Fio dan langsung dibantu Della untuk memegangi Amora yang tampak lemas.


Mereka pun membantu Amora berjalan menuju kamarnya. Setelah di dalam kamar, Amora langsung membaringkan tubuhnya. Raga dan badannya sangat lelah. Ia ingin sekali memejamkan kedua matanya. Namun ia melihat ke arah Fani, Fio dan Della yang sorot matanya tampak sangat mengkhawatirkan dirinya.


"Teman-teman," Dan tanpa aba-aba mereka berempat saling berpelukan. Tangis mereka pecah di dalam kamar tersebut. Pelukan dari para sahabatnya itu membuat Amora sedikit bersemangat kembali untuk menjalani hidupnya yang hampir putus asa ini. Ia sangat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka.


*

__ADS_1


Bryan menghampiri kedua orang tuanya yang datang ke rumah Amora dalam rangka memberikan ucapan belasungkawa.


"Mah? Pah? Kalian kenapa bisa kesini?" tanya Bryan membuat kedua orang tuanya terkejut.


"Papah ini rekan bisnis perusahaan Maurine. Jadi sudah sepantasnya kami datang kemari untuk berbela sungkawa." jawab sang ayah. Bryan hanya manggut-manggut mendengarnya.


"Lalu, kamu ngapain ada disini?" tanya sang ayah balik.


"Bryan kan teman anaknya, namanya Amora." jawab Bryan.


"Kalian berteman? Tidak mungkin. Kamu sama dia itu beda sekolah. Kok bisa sampai berteman?"


"Kan pesona Bryan itu sudah sampai keluar sekolah. Jadi sudah tak aneh banyak yang mau berteman denganku." ucap Bryan mengangkat dagunya.


Sang ayah hanya menggeleng kepalanya memahami betul watak sang anak yang sangat narsistik seperti dirinya waktu remaja. Tampak jelas bahwa Bryan lah yang terlihat lebih dahulu mendekati Amora, bukan malah sebaliknya.


"Sudah, sudah. Lebih baik kita kesana, Pah. Ada Indera disana." tunjuk sang Ibu membawanya menemui Indera yang merupakan paman Amora. Bryan hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua orang tuanya itu. Ia pun langsung kembali mencari keberadaan Amora.


Setelah sampai di kamar Amora, ia melihat mereka berempat tengah berpelukan seolah saling menguatkan. Ia terharu karena Amora memiliki banyak teman yang sangat menyayanginya.


Tak lama Amora sudah terlelap dengan ekspresi wajah yang kelelahan. Semua bebannya seolah hilang ketika ia tertidur.


"Dia sudah tidur?"


"Dia baru aja tidur." bisiknya dengan suara pelan.


"Syukurlah kalau gitu," ucap Bryan dengan nada pelan, lega mendengarnya.


"Sebaiknya biarkan dia istirahat. Kita keluar dulu jangan sampai mengganggunya." usul Bryan dan langsung disetujui oleh Fani, Fio dan Della.


*


Deri, Yuda dan Bondan yang baru mengetahui kabar kematian kedua orang tua Amora langsung bergegas ke rumahnya.


"Si Bara udah coba dihubungi lagi?" tanya Yuda pada Deri.


"Udah gue telpon berkali-kali tapi kagak nyambung mulu." jawab Deri.


"Ya udah lebih baik kita lihat kondisi Amora dulu aja." usul Bondan. Dan mereka bertiga pun mencari keberadaan Amora di rumah yang luas itu. Tanpa diduga ia melihat paman Amora yang bernama Indera tengah mengobrol dengan beberapa kenalannya.


"Permisi, Paman. Amora nya dimana yah?" tanya Yuda menyela.

__ADS_1


"Oh, kalian. Tadi dia ada di dalam sama teman-teman perempuannya. Masuk saja."


"Terimakasih, Paman." ucap Yuda.


Mereka pun masuk ke dalam rumah dan melihat Fani, Fio juga Della tengah menuruni anak tangga. Rahang Yuda langsung mengeras ketika melihat sosok Bryan bersama mereka sedang menuruni tangga juga.


Tanpa aba-aba Yuda berlari ke arah Bryan menariknya turun dan langsung memberikan bogem mentah tepat di rahangnya.


"Aaa!" teriakan para perempuan membuat seisi rumah menatap ke arah mereka berdua.


"Arg!" Bryan meringis merasakan perih di sudut bibirnya. Ia pun langsung membalas Yuda dengan memberikan pukulan tepat di ulu hatinya. Ringisan itu kembali terdengar kali ini dari mulut Yuda.


"Gue salah apa, Bro?" tanya Bryan tak terima.


"Sejak awal elo udah salah!" teriak Yuda hendak memukul Bryan kembali namun ditahan oleh Deri.


"Hentikan!" teriak Indera, paman Amora. Semuanya langsung menatap ke asal suara. Sang paman memberikan kode pada beberapa bodyguard nya mengarahkan semuanya untuk ke ruang keluarga.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Indera memulai pembicaraan ketika semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga. Namun tak ada yang berani menjawabnya.


"Kalian tahu suasana saat ini sedang apa? Dan kalian malah membuat keributan? Kalian sadar tidak? Apa yang sudah kalian lakukan ini salah?" tutur Indera.


"Maaf, Paman. Saya salah." ucap Yuda menunduk. Bryan pun tak mengangkat kepalanya dan hanya menunduk.


"Kamu." tunjuk Indera pada Bryan.


"Kamu siapa?"


"Saya Bryan, Paman." ucapnya sedikit menunduk.


"Apa kau anak Barda dan Nadin?"


"Iya, mereka orang tua saya." jawab Bryan.


Setelah menyadari hal itu, Indera langsung membiarkan Bryan pergi.


"Jangan terlalu keras padanya." ucap Indera pada Yuda.


"Dia adalah anak dari teman dekat kedua orang tua Amora."


Namun Yuda yang mendengar fakta itu malah semakin membenci sosok Bryan.

__ADS_1


***


__ADS_2